VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Terhina, karena di Lecehkan


__ADS_3

Gavlin kembali ke rumahnya yang sudah hancur berantakan karena dia sengaja meledakkannya waktu itu, namun, Gavlin masuk ke ruang bawah tanahnya, dengan masuk melalui jalan rahasia yang ada dijalanan samping rumahnya.


Di dalam kamar khusus menyimpan senjata senjatanya, Tampak Gavlin menghempaskan tubuhnya di kursi. Wajahnya tampak geram dan marah, karena dia gagal membunuh Ronald.


"Kepaaaraat!! Kenapa manusia biadab itu bisa menghilang? Padahal dia terluka parah dan banyak mengeluarkan darah!" ujar Gavlin geram dan marah.


"Kemana Setan itu pergi menghilang, aku yakin, dia pasti bersembunyi disuatu tempat saat aku mengejarnya!" tegas Gavlin.


Gavlin tampak berfikir keras, kemana larinya Ronald saat dia mengejarnya. Gavlin benar benar geram, karena dia menyia nyiakan kesempatan membunuh Ronald.


---


Ronald masuk ke dalam rumah bangunan belandanya, wajahnya tampak tegang dan marah, balutan perban masih ada di bahunya yang tertembak.


Dengan langkah cepat, dia masuk ke dalam rumahnya, dia lantas mengunci pintu rumah dan menutup seluruh jendela jendela rumahnya.


Ronald lalu bergegas jalan dan masuk ke dalam kamarnya, dia lantas duduk di kursi meja, kemudian dia menyalakan laptopnya yang ada di meja.


Dari laptop, dia membuka menu layar cctv. Ternyata, Ronald memasang cctv di dalam dan luar rumahnya.


"Siapa kamu kutu busuk!" ujar Ronald geram dan marah.


Dia lantas memperhatikan layar monitor laptopnya, dia menonton rekaman cctv nya dari layar laptop.


Dari kamera cctv di luar jalanan tampak lengang, tidak ada siapa siapa.


Namun, dari rekaman cctv terlihat, ada sekelebat seperti cahaya melesat ke arah jendela rumahnya. Ronald mengulang tayangan gambar rekaman cctv itu.


Dia memperlambat gerakannya, akhirnya dia tahu, bahwa kelebatan seperti cahaya itu adalah peluru yang ditembakkan ke arah dia saat dirinya bersembunyi dibawah jendela rumahnya.


Lalu, dia kembali melihat rekaman cctv tersebut, tak berapa lama, tampak dari rekaman cctv, sosok seorang pria muda memegang senapan laras panjang berjalan ke arah rumahnya.


Ronald geram melihat sosok tersebut, dia belum bisa melihat dengan jelas wajah sosok pria muda tersebut.


Lalu, Ronald melihat rekaman cctv dari dalam rumahnya, dia melihat sosok pemuda itu masuk dan berdiri di dalam ruangan rumahnya.


Ronald lantas menghentikan gambar tersebut, dia lantas memperbesar wajah sosok pria muda itu dalam rekaman cctv.


"Bedebaaaah, ternyata kamu Gavliiin!!" teriak Ronald marah.


Dia pun mengenali sosok pria muda yang telah menembaknya itu sebagai Gavlin. Ronald pun tampak sangat marah, tatapan matanya tajam melihat gambar wajah Gavlin di layar laptopnya.


"Kamu nyatakan perang denganku, Gavliiin!! Kamu udah datangi rumahku!! Sekarang, akan ku datangi kamu!!" tegas Ronald, dengan penuh amarah yang membara.


Ronald lantas mematikan laptopnya, kemudian, dia mengambil pistol dari dalam laci meja. Kemudian, dia bergegas keluar dari dalam kamarnya.


Ronald pun pergi dari rumahnya untuk mengejar dan mencari Gavlin, dia ingin membalas perbuatan Gavlin.


Ronald masuk ke dalam mobilnya yang dia parkir di halaman parkir rumahnya, lalu, dia menyalakan mesin mobilnya.


Ronald diam sesaat, dia tampak berfikir sejenak, lalu, terlihat dia menyeringai jahat.


"Maya pasti diam diam ngikuti aku! Anak Gatot itu benar benar gak takut padaku, dia pasti tau rumahku, dan bilang ke si Gavlin, makanya Gavlin bisa tau rumahku!" ujar Ronald geram dan marah.


"Aku yakin, Gavlin dan Maya bersekongkol untuk menyerangku, okay, kalo itu mau kalian berdua, akan ku datangi pacarmu, Vlin!" ujar Ronald menyeringai jahat.

__ADS_1


Lalu, Ronald pun segera menjalankan mobilnya, kemudian, mobil berjalan keluar garasi, meluncur ke jalan raya dan melaju dengan kecepatan tinggi.


---


Gavlin memasukkan senjata senjata yang dia perlukan ke dalam bagasi mobilnya, ada juga beberapa bom granat yang dia bawa. Gavlin mempersiapkan diri untuk aksi balas dendam selanjutnya.


Setelah dirasanya cukup dan semua sudah dibawa, dia pun menutup pintu bagasi mobil, alu, dia segera masuk ke dalam mobilnya.


Beberapa saat kemudian, mobil pun meluncur keluar dari dalam garasi mobil ruang bawah tanah, melaju menembus jalanan yang ada di samping rumahnya yang sudah hancur berkeping keping.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi dijalan raya, didalam mobilnya, tampak wajah Gavlin serius menyetir mobil, wajahnya terlihat menyimpan kemarahan yang begitu besar saat ini.


Di dalam rumahnya, Maya terlihat bersiap siap untuk pergi kerumah sakit guna mengunjungi Ayahnya yang sedang di rawat di rumah sakit.


Dia bergegas keluar dari dalam rumahnya, Maya lantas mengunci pintu rumahnya, kemudian, dia pun berjalan ke garasi mobilnya.


Datang mobil Ronald, yang langsung masuk ke pekarangan halaman rumah Maya, Ronald memang sebelumnya sudah tahu tempat tinggal Gatot dan Maya.


Karena itu, Ronald mudah mendatangi Maya, Maya tak jadi masuk ke dalam mobilnya, dia heran, melihat mobil datang ke rumahnya.


Saat Ronald keluar dari dalam mobilnya, mata Maya pun terbelalak lebar, dia pun kaget dan panik melihat Ronald datang kerumahnya.


"Ronaaald?!" teriaknya spontan histeris.


Ronald melihat ke arah Maya yang berdiri di garasi rumahnya, Ronald pun tersenyum menyeringai licik. Dia lantas menutup pintu mobilnya.


Maya terlihat takut, dia gemetaran ketakutan, Ronald dengan cuek berjalan mendekati Maya. Maya pun berusaha menghindar.


"Jangan mendekat ! Atau aku akan teriak sekencang kencangnya!!" ujar Maya dengan suaranya yang lantang dan marah.


"Silahkan aja cantik, teriaklah sekeras kerasnya! Aku gak perduli!!" ujar Ronald, tertawa sinis.


Ronald berhasil menangkap tubuh Maya, dia lantas mendekap erat tubuh Maya, Maya pun meronta ronta.


"Lepaskan !! Lepaaaassskkaaaan !! Biadab kamu Ronnnaaaalllddd!!" Teriak Maya, sambil meronta ronta.


Maya berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Ronald, namun, tenaganya tak mampu melawan tenaga Ronald.


Dengan wajah bengis dan menyeramkan, Ronald terus mendekap erat tubuh Maya, lalu, dia membawa tubuh Maya menuju rumah Maya.


Dengan sekuat tenaga, sambil tetap mendekap dan mencengkram tubuh Maya, Ronald menendang pintu rumah. Pintu rumah pun terbuka.


Ronald dengan bengis membawa masuk Maya ke dalam rumah, Maya terus meronta ronta, sambil ketakutan.


"Toooloooonggg...Toooolllooongg!!" teriak Maya, histeris.


Namun, tak ada satu orang pun yang datang menolong Maya. Ronald membawa Maya masuk ke dalam kamar Gatot.


Lalu, Ronald melemparkan tubuh Maya dengan kasar ke atas kasur. kemudian, dengan cepat, Ronald mencabut pistol dari pinggangnya, dan mengarahkan pistolnya pada Maya.


"Jangan coba coba melarikan diri, kalo gak mau aku tembak!!" ujar Ronald menyeringai jahat.


Di atas kasur, Maya yang terlentang terlihat semakin takut melihat Ronald yang mengeringai menyeramkan itu.


"Mau apa kamu?!!" Bentak Maya marah.

__ADS_1


"Aku akan memberi hadiah kecil buat Gavlin ! Sambil menunggunya datang ke sini! Aku ingin bermain main sedikit denganmu!" ujar Ronald, menyeringai penuh nafsu.


Mendengar perkataan Ronald, Maya semakin takut dan marah, dia semakin jijik pada Ronald yang menyeringai licik dan tersenyum genit padanya.


Ronald menatap tubuh Maya yang terlentang di atas kasur, sorot matanya penuh nafsu pada Maya.


"Aku ingin menikmati tubuhmu, sebagai ganti, Gavlin yang telah menembakku!" ujar Ronald tersenyum sinis.


"Kamu jangan kurang ajar Ronald!! Jangan berani menyentuh tubuhku!! Gavlin akan membunuhmu!!" teriak Maya penuh amarah.


"Silahkan, aku memang menunggu dia datang membunuhku!" jelas Ronald tersenyum penuh nafsu.


"Tapi, sebelum itu terjadi, aku ingin melampiaskan nafsuku dulu padamu, sudah lama aku mengincarmu, cantik." ujar Ronald, tersenyum genit.


Maya pun semakin takut, melihat wajah Ronald yang sudah dipenuhi dengan nafsunya. Maya pun menangisi dirinya.


Ronald berdiri di tepi ranjang, dia tampak bersiap siap, Ronald pun melepaskan ikat pinggangnya, melihat itu, Maya semakin takut.


Dia tak ingin di perkosa Ronald, dengan ketakutan, Maya pun kembali berteriak, meminta tolong.


"Toooollllooonnnggg...!! Tooolllooonggg!!" teriak Maya, penuh rasa takut.


Ronald tak perduli, dia terus membuka ikat pinggangnya dengan santai, lalu, dia pun membuka celana panjangnya, Maya membuang mukanya, dia tak mau melihat Ronald yang sangat menjijikkan itu.


Lalu, Ronald pun menurunkan ****** ********, Maya terus membuang mukanya, tak mau melihat, Ronald menyeringai penuh nafsu menatap Maya.


"Mendekatlah, dan masukkan ke mulutmu." ujar Ronald, tersenyum penuh nafsu.


Maya tak menanggapi perkataan Ronald, dia terus memejamkan mata dan membuang wajahnya, tak mau melihat Ronald yang berdiri dengan setengah telanjang.


Melihat Maya tidak menuruti keinginan dia, Ronald pun geram, dengan cepat, Ronald menarik rambut Maya dan menyeretnya agar mendekat pada dirinya.


Dengan paksa, Ronald mendekatkan wajah dan mulut Maya ke dirinya yang berdiri setengah telanjang. Maya yang rambutnya ditarik paksa, meringis kesakitan.


Maya terus memejamkan matanya, tak mau melihat, Maya menangis, meratapi nasibnya, yang sedang mengalami pelecehan oleh Ronald. Maya merasa dirinya terhina karena dilecehkan Ronald.


Walau dipaksa Ronald dan rambutnya di tarik kuat, Maya tetap tak bergeming dan tidak mau melakukan apa yang di minta Ronald.


Dengan sekuat tenaganya, Maya berusaha meronta melawan Ronald.


"Cepaaat, masukkan ke mulutmu!! Beri aku kenikmataaan !!" Bentak Ronald marah.


"Atau, kamu mau aku tembak!!" Ancam Ronald.


Ronald mengarahkan pistolnya ke kepala Maya, Maya pun semakin ke takutan, melihat Pistol menempel di kepalanya.


Maya tampak menangis, matanya terus terpejam, dia tak mau melihat, Maya benar benar tersinggung, karena sudah di lecehkan Ronald.


Di luar rumah, Mobil Gavlin masuk ke halaman rumah Maya, mobilnya berhenti di belakang mobil Ronald.


Dari dalam mobilnya, dia melihat mobil tersebut, Gavlin tampak heran, sebab, dia tak mengenali mobil tersebut.


"Mobil siapa itu?" Ujar Gavlin, heran, dari dalam mobilnya.


Gavlin pun lantas segera turun dari dalam mobilnya, lalu, dia menutup pintu mobilnya. Gavlin pun kemudian berjalan dan mendekati mobil yang parkir di halaman rumah Maya.

__ADS_1


Gavlin mengamati mobil tersebut, wajahnya tampak heran, Gavlin merasa asing dengan mobil tersebut, dia pun lantas mencoba untuk mengintip ke dalam mobil tersebut.


Gavlin ingin tahu, milik siapa mobil tersebut, dan mengapa mobil tersebut ada di rumah Maya dan Gatot. Wajah Gavlin tampak penasaran.


__ADS_2