VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Terpenjara


__ADS_3

Chandra di bawa ke kantor polisi, dan dia dimasukkan ke dalam sel tahanan yang ada di kantor kepolisian.


Chandra duduk di tepi ranjang, wajahnya masih menyimpan dendam dan amarah yang membara, dia masih tak bisa menerima kegagalannya membunuh Samsudin.


"Mudah mudahan Gavlin bisa membunuh Samsudin dan juga Binsar." Gumam Chandra, bicara pada dirinya sendiri di dalam sel tahanan.


---


Andre menemui Samuel di ruang kerja kejaksaan, Andre datang untuk memberi kabar penangkapan Chandra.


"Gila, Chandra sudah berfikir gak waras, kenapa dia nekat melakukan hal itu?" ujar Samuel, dengan raut wajah yang menunjukkan kekesalan dan kekecewaan pada Chandra yang sudah bertindak gegabah menurutnya.


"Chandra kecewa dengan hasil persidangan, sepertinya dia sudah tau kalo Samsudin akan bebas, karena itu, dia merencanakan semuanya, dia sengaja datang ke pengadilan untuk membunuh Samsudin." ujar Andre, menjelaskan.


"Ya, kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata, gak mudah menghadapi organisasi Inside, Binsar sudah menguasai semuanya, semua pejabat di negara ini tunduk dan takut padanya, sehingga, mudah baginya untuk memutar balikkan hukum di negara ini, guna menyelamatkan anak buahnya, para anggota Inside." ujar Samuel.


"Ya, sepertinya kita harus bekerja keras untuk menangkap Binsar dan kaki tangannya, agar para pejabat yang sudah kita tangkap tidak dibebaskan begitu saja." ujar Andre dengan wajah seriusnya.


"Lantas, bagaimana dengan Samsudin?" tanya Samuel.


"Lengan tangannya terluka , tembakan Chandra meleset dan mengenai lengan tangannya, jika tidak meleset, bisa saja Samsudin mati saat itu juga ditangan Chandra." jelas Andre dengan serius.


Samuel terdiam, dia menghela nafasnya dengan berat, dia lantas menatap lekat wajah Andre yang berdiri dihadapannya saat ini.


"Bagaimana dengan ketiga hakim yang di bunuh?" tanya Samuel lagi pada Andre.


"Sudah di bawa ke kamar jenazah, melihat dari kematiannya, tidak salah lagi, Gavlin lah pelakunya. Ciri cirinya jelas mengarah pada Gavlin, yang biasa membunuh musuhnya dengan menggorok leher." tegas Andre, memberi penjelasan pada Samuel.


"Apa gak ada yang tau, kalo Gavlin juga hadir di persidangan?" tanya Samuel.


"Tidak ! Sepertinya dia datang dengan menyamar, aku sedang menyelidikinya, mencari tau melalui cctv, kami akan cek satu persatu orang orang yang hadir di persidangan, mungkin nanti akan ditemukan Gavlin yang menyamar diantara orang yang hadir di ruang sidang." jelas Andre.


"Baiklah, kabari aku, jika kamu sudah menemukan keberadaan Gavlin." ujar Samuel.


"Ya." Angguk Andre, mengiyakan perkataan Samuel.


"Chandra, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Samuel.


"Dia ada di dalam sel tahanan kepolisian saat ini, menunggu proses selanjutnya." ujar Andre, menjelaskan.


"Baiklah. Tahan dia untuk beberapa hari kedepan, nanti , aku akan memindahkannya ke sel tahanan kejaksaan." ujar Samuel.


"Baiklah." ujar Andre.


"Kalo begitu, aku permisi dulu." ujar Andre.

__ADS_1


"Ya, silahkan." Ujar Samuel.


Lantas, Andre pun bergegas pergi keluar dari dalam ruang kerja Samuel, setelah kepergian Andre, Samuel lalu berjalan dan duduk di kursi kerjanya. Dia diam dan tercenung, memikirkan nasib Chandra yang di penjara akibat berbuat nekat dan gegabah mau membunuh Samsudin.


---


Di sebuah rumah persembunyian, tampak diluar banyak para penjaga keamanan berdiri berjaga jaga, dan di dalam ruangan, ada juga beberapa pengawal yang berdiri menjaga Samsudin.


Samsudin duduk di sofa, dia tengah di obati oleh salah satu dokter pribadinya, Sang Dokter mengambil peluru dari lengan tangan Samsudin, lalu, membalut lukanya dengan perban.


Samsudin tampak masih menunjukkan amarahnya pada Chandra yang sudah berani melukai dan ingin membunuhnya , dia masih tak bisa menerima perbuatan lancang Chandra kepadanya.


"Selidiki, ditahan di mana Chandra saat ini juga !" ujar Samsudin, memberi perintah pada para pengawalnya.


"Maaf, Pak. Menurut informasi yang saya terima, saat ini Chandra masih ditahan di kantor kepolisian, belum di pindahkan ke tahanan kejaksaan, atau tahanan khusus penjahat kelas berat." jelas salah satu pengawal pribadinya.


Samsudin terdiam, dia tampak sedang memikirkan sesuatu hal saat ini, lalu, beberapa saat kemudian, Samsudin menoleh dan menatap tajam wajah Pengawalnya yang berdiri di sampingnya.


"Apa ada orang bayaran kita yang bisa disuruh membunuh Chandra di dalam penjara nantinya?!" tanya Samsudin, menatap serius pengawalnya yang berdiri disampingnya.


"Kalo Bapak mau membunuh Chandra saat dalam penjara, saya bisa mengaturnya, saya akan membayar salah seorang tahanan di sana untuk membunuh Chandra." jelas Pengawal Pribadi Samsudin.


"Okay, kamu atur semuanya, buat dengan rapi, dan jangan sampai ada yang tau, kalo nanti Chandra sengaja mati di bunuh dalam penjara." ujar Samsudin, mengingatkan pengawalnya.


Samsudin mengangguk mengiyakan, dia tersenyum licik, tampak raut wajahnya masih menyiratkan amarah yang meluap luap saat ini terhadap Chandra, dan dia menginginkan kematian Chandra saat ini.


---


Sementara itu, Gavlin yang masih tinggal menumpang di rumah bilik pak Sarono tampak duduk diam tercenung di sofa ruang tengah.


Gavlin memandangi kedua manekin milik Indri, yang dibelinya waktu itu , tiba tiba saja terlintas dalam benaknya wajah Chandra. Dia teringat, saat saat dimana Chandra ditangkap dan di borgol oleh Andre dan timnya dihalaman depan gedung pengadilan tinggi negeri.


"Harus bagaimana aku menolongmu, Chan? Kamu pasti sudah di tahan saat ini." ujar Gavlin, lirih dan getir.


Gavlin tampak sangat memikirkan keadaan Chandra yang ditangkap dan ditahan, dia tak menyangka, Chandra bisa berbuat nekat dan gegabah seperti itu.


"Apa yang akan kamu lakukan di dalam penjara , Chan? Apa kamu gak sadar, jika kamu dipenjara, kamu gak akan bisa lagi membalas dendam pada Samsudin dan Binsar." ujar Gavlin, bicara pada dirinya sendiri.


Gavlin lantas menghela nafasnya, dia tampak terdiam untuk sesaat, lalu, tiba tiba saja dia teringat akan sesuatu hal.


Cepat Gavlin bangun dan berdiri dari duduknya di sofa, lalu, dia bergegas jalan dan masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Gavlin cepat berjalan ke arah meja rias yang ada di dalam kamar, dia lalu membuka laci meja rias, Gavlin kemudian mengambil sebuah Flash disk yang disimpannya dalam kotak kecil, di laci meja rias.


Gavlin memegang Flash disk ditangannya, dan menutup laci meja rias. Kemudian, dia melangkahkan kakinya, berjalan ke arah ranjang.

__ADS_1


Gavlin lantas duduk di tepi ranjang, dia memegang flash disk, diangkatnya tangannya yang memegang flash disk, flash disk itu berisi bukti bukti obrolan Binsar dan para pejabat saat merencanakan tindak kejahatannya, selain itu, dalam flash disk tersebut ada juga rencana Binsar yang memerintahkan Samsudin untuk membunuh Sanusi dan juga Syamsul Bahri, orang tua dari Gavlin dan juga Chandra.


Gavlin mengamati flash disk yang dia pegang itu, wajahnya tampak tegang dan serius memperhatikan flash disk tersebut.


"Apa sudah waktunya buatku, menggunakan cara lain untuk mengungkap kejahatan Binsar dan organisasi Inside?!" Ujarnya berfikir keras sambil mengamati Flash disk ditangannya.


Gavlin lantas menghela nafasnya dengan berat, wajahnya tampak serius sekali.


"Ya, sepertinya sudah saatnya aku akan mengungkapnya didepan umum, biar masyarakat langsung yang akan mengadili Binsar dan komplotannya!" ujar Gavlin serius.


Gavlin lantas menyimpan flash disk ke dalam kantong celananya, lalu, dia pun bergegas pergi keluar dari dalam kamarnya.


Gavlin keluar dari dalam rumah bilik pak Sarono, dia masuk ke dalam mobilnya, tak berapa lama, mesin mobil pun menyala, lalu, mobil mulai berjalan.


Gavlin menyetir mobilnya, membawa mobilnya pergi meninggalkan rumah bilik pak Sarono, wajahnya tampak tegang dan sangat serius, ada sesuatu hal saat ini yang tengah dia rencanakan , dia bertekat untuk menyelesaikan dengan cepat misi balas dendamnya.


---


Dua hari kemudian, tampak Chandra dikeluarkan dari dalam sel tahanan kepolisian, di luar sel, sudah menunggu empat petugas kejaksaan yang akan membawa Chandra dan memindahkannya ke tahanan kejaksaan.


Chandra yang diborgol lantas dibawa keluar dari tempat sel tahanan, empat petugas kejaksaan mengikutinya, Chandra dibawa oleh dua petugas kepolisian yang bertindak menjaga sel tahanan.


Di koridor gedung kantor kepolisian, Chandra yang dibawa berpapasan dengan Andre yang saat itu baru saja keluar dari dalam ruang kerjanya.


Dia mendekati Chandra,lalu menatap wajah Chandra, ada rasa prihatin dalam diri Andre melihat keadaan Chandra yang diborgol tersebut.


"Maafkan aku, Chan. Kalo pada akhirnya harus berakhir begini." ucap Andre, penuh rasa penyesalan yang mendalam.


Chandra tersenyum kecut mendengar perkataan Andre, dia diam dan tak menjawab perkataan Andre itu.


"Semoga, kamu bisa menjaga dirimu dalam tahanan kejaksaan nantinya, sebelum kamu di pindahkan ke penjara khusus nantinya." ujar Andre getir.


Sekali lagi, Chandra hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Andre, dan dia tak menanggapi omongan Andre, Chandra sudah sama sekali tak menaruh respect pada Andre, dan dia juga sudah hilang kepercayaan pada Andre dan pihak kepolisian serta kejaksaan, karena gagal meringkus dan menghukum Samsudin.


Ada kekecewaan yang begitu besar dalam diri Chandra atas kinerja kepolisian dan kejaksaan, dia yang menaruh harapan besar kepada mereka, dengan percaya diri memberikan semua berkas berkas bukti kejahatan orang orang yang ada di dalam organisasi Inside, namun, pada akhirnya, semua gagal total, setiap pejabat yang ditangkapi, akhirnya dibebaskan kembali, dan yang fatalnya, terakhir kali, Samsudin dengan mudahnya lolos dari jerat hukum, padahal bukti bukti kuat dan lengkap sudah sangat jelas diungkap, namun, Samsudin tetap saja ditetapkan tidak bersalah.


Chandra kecewa, dia berfikir, andai saja dia seperti awal awal saat menyelidiki kejahatan organisasi Inside, dan tidak bekerjasama dengan pihak kepolisian serta kejaksaan, pastilah dia bisa mengungkap kejahatan Inside.


Dan jika saja lebih awal dia bertemu Gavlin, dan mempercayakan semuanya pada Gavlin, tentu semua akan beres, Gavlin pastinya akan menjalankan misi balas dendamnya lebih baik dari pihak polisi dan kejaksaan.


Namun, semua sudah terjadi, dan kini, tak ada lagi yang diharapkan Chandra pada pihak kepolisian serta kejaksaan, satu satunya harapan dia saat ini, hanyalah pada Gavlin seorang.


Chandra berharap, Gavlin di luar sana, dapat menyelesaikan misi balas dendam dia dan juga Gavlin, agar dia bisa hidup tenang menjalani hukumannya saat mendekam dalam penjara nantinya.


Chandra belum bisa tenang, sebelum dia mengetahui, jika Samsudin dan Binsar serta seluruh anggota Inside sudah dilenyapkan. Dan dia menanti waktu itu tiba nantinya.

__ADS_1


__ADS_2