VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Aku akan Memburumu


__ADS_3

Gavlin mulai tak sabar, sudah beberapa jam dia mengintai dan mengawasi dari atas pohon, tapi Samsudin dan orang suruhannya tak kunjung datang menemui Binsar di rumahnya.


Gavlin lantas menggantung teropong di lehernya, lalu, dengan wajah kesal karena pekerjaannya sia sia mengintai , dia segera turun dari atas pohon.


Gavlin kemudian turun dari atas pohon, setelah kedua kakinya menginjak tanah dan berdiri, dia menatap kesal dan geram ke arah rumah Binsar.


"Sepertinya aku harus cari tau langsung ke rumah Binsar." Gumam hati Gavlin bicara.


Lantas, dia pun berjalan cepat menuju ke arah rumah Binsar, di pinggangnya terselip dua pistol dan satu buah pisau belati.


Gavlin secara sembunyi sembunyi mulai bergerak ke arah rumah Binsar, dia bersembunyi di balik pagar pembatas rumah Binsar, lalu, dari tempatnya dia mengintip ke dalam rumah, dia melihat, banyak para penjaga berdiri memegang senjata ditangannya sedang berjaga jaga di sekitar area halaman rumah.


Seorang Penjaga berjalan ke arah pintu pagar rumah Binsar, Gavlin bersembunyi, agar dia tidak diketahui keberadaannya, seorang Penjaga keluar dan berdiri di depan pintu pagar rumah, dia melihat ke arah jalanan sambil memegang senapannya, dia tengah mengawasi sekitar jalanan di dekat rumah Binsar.


Tiba tiba saja, Penjaga itu disergap, dengan gerak cepat, Gavlin mencengkram leher dan menutup mulut sang penjaga, lalu, Gavlin cepat menyeretnya, membawa ketempat persembunyiannya.


Sang Penjaga gelagapan, dia berusaha meronta ronta untuk melepaskan diri dari cengkraman Gavlin, namun, cengkraman tangan Gavlin sangat kuat mencekik lehernya, dia tak bisa melepaskannya, dan senapan ditangannya terlepas lalu jatuh di tanah.


"Jawab pertanyaanku dengan benar, kalo kamu gak mau mati!" bisik Gavlin di telinga si Penjaga, dengan nada suara penegasan.


Sang Penjaga mengangguk angguk, dia mengiyakan perkataan Gavlin dengan wajah ketakutan, takut di bunuh Gavlin.


"Apa Samsudin dan anak buahnya sering datang ke rumah Binsar?" tanya Gavlin, menatap serius wajah Penjaga yang di cengkramnya itu.


"Nggak pernah, pak Samsudin sudah lama gak pernah bertemu pak Binsar, beliau gak pernah datang ke rumah pak Binsar." ujar Sang Penjaga, berusaha untuk jujur memberi penjelasan pada Gavlin.


"Apa mereka gak pernah lagi saling berhubungan ?" tanya Gavlin .


"Saya nggak tau, yang jelas, pak Samsudin bersembunyi di suatu tempat, sejak dia di serang dan mau di bunuh di depan pengadilan, Pak Binsar menempatkannya di rumah persembunyian." ungkap Penjaga dengan wajah ketakutan.


"Kamu tau dimana rumah persembunyiannya?" tanya Gavlin lagi dengan nada suara sedikit keras.


"Saya gak tau, saya cuma penjaga biasa." ucap Penjaga semakin takut.


"Apa Binsar ada di rumahnya sekarang?" ujar Gavlin, bertanya dengan menatap tajam wajah Penjaga yang berada dalam cengkraman tangannya itu.


"Pak Binsar sudah dua minggu ini nggak ada dirumah, Beliau sudah pergi ke luar negeri." tegas Penjaga.


"Keluar negri?" Gavlin tersentak kaget.


"Iya. Beliau ke Perancis." Angguk Penjaga.


"Perancis?!" Ujar Gavlin.


Untuk sesaat Gavlin diam, dia tampak sedang memikirkan sesuatu hal setelah mengetahui ke negara mana Binsar pergi.


Gavlin pun sangat geram dan marah mendengar penjelasan Penjaga tersebut, dia merasa terkecoh dengan Binsar yang ternyata diam diam pergi ke luar negeri. Tak ada yang mengetahui keberangkatannya, kepergian Binsar menghilang ke luar negeri tidak diketahui pihak ke polisian dan juga pihak kejaksaan, mereka kecolongan dengan melarikan dirinya Binsar ke luar negeri.


Gavlin menggeretakkan giginya, dia terlihat sangat geram, tatapan kedua mata Gavlin jauh kedepan, tangannya semakin kuat mencengkram leher sang Penjaga, tiba tiba, Gavlin dengan cepat mematahkan leher Penjaga tersebut.

__ADS_1


Penjaga itu pun mati seketika, Gavlin lantas membuang tubuhnya ke tanah, wajahnya sangat marah sekali pada Binsar yang telah melarikan diri dengan diam diam ke luar negeri.


"Keparat kamu Binsar !!" ujar Gavlin, geram dan marah.


"Kamu kira, kamu bisa selamat? Ke negara mana pun kamu pergi dan bersembunyi, aku akan tetap mengejarmu, aku akan memburumu ,sekali pun kamu bersembunyi di dalam neraka !!" tegas Gavlin marah.


"Tunggu saja, aku akan memburumu sampai ke perancis nanti !!" ungkapnya.


Gavlin lantas berbalik badan, karena orang yang di incarnya tak ada dirumah itu, dan Binsar sudah menghilang, pergi keluar negeri, Gavlin pun kembali ke mobilnya.


Dengan wajah penuh amarah membara dalam dirinya Gavlin masuk ke dalam mobilnya, setelah menyalakan mesin mobil, dia lantas mengemudikan mobilnya, mobil Gavlin segera meluncur pergi meninggalkan tempat tersebut.


---


Keesokan harinya, dengan menyamar, Gavlin kembali datang mengunjungi Wicaksono di dalam rumah tahanan. Mereka berdua bertemu di ruang pertemuan pengunjung dan napi.


Wicaksono duduk di kursi dan tersenyum memandang wajah Gavlin yang juga duduk di kursinya, di hadapannya, ditengah mereka ada kaca besar dan lebar sebagai pembatas dan penghalang, komunikasi mereka melalui lubang lubang yang ada di kaca tersebut.


"Aku belum menemukan keberadaan orang suruhan Samsudin, dan aku juga belum mengetahui persembunyian Samsudin, Pak." ujar Gavlin menjelaskan.


"Binsar juga ternyata sudah melarikan diri, dia diam diam berangkat ke luar negeri, tujuannya negara Perancis." tegas Gavlin.


Wicaksono diam mendengar penjelasan dari Gavlin, Wicaksono tampak tenang dan santai, dia menatap wajah Gavlin.


"Bapak udah tau siapa orang suruhan Samsudin yang membayar para napi untuk membunuh Chandra." ungkap Wicaksono tersenyum menatap wajah Gavlin.


"Benarkah, Pak?" ujar Gavlin tersentak kaget dan senang.


"Namun, Napi itu langsung menolaknya, dia gak mau melakukan tugas tersebut, napi itu malah mengusir orang suruhan Samsudin." tegas Wicaksono.


"Napi yang menolak itu salah satu jawara dulunya di luaran, hanya sekarang lebih memilih mengasingkan diri dan menyendiri." jelas Wicaksono.


"Dia tau, saat Chandra mau di bunuh, dan dia tau, kalo Chandra satu sel dengan Bapak, lalu, dia yang datang menemui Bapak, lalu cerita, kalo dia pernah ditawari pekerjaan membunuh Chandra." jelas Wicaksono.


Gavlin diam mendengarkan semua penjelasan Wicaksono tersebut, dia menatap wajah Wicaksono dengan serius.


"Siapa nama orang itu, Pak?" tanya Gavlin, menatap wajah Wicaksono.


"Jalal. Kata Napi itu, namanya Jalal." ujar Wicaksono, memberi tahu Gavlin.


Gavlin lantas mengangguk angguk, dia mencoba mengingat ingat nama yang disebutkan Wicaksono agar tak lupa.


"Napi itu kenal dengan Jalal, dan dia juga tau, dimana Jalal biasanya nongkrong dan berkumpul dengan genknya. Jalal itu anggota pembunuh bayaran juga." jelas Wicaksono.


"Jalal bergabung dengan kelompok pembunuh bayaran, yang anggotanya terdiri dari mantan mantan tentara. Napi itu yang bilang ke Bapak." tegas Wicaksono, menjelaskan pada Gavlin.


"Oh, begitu." ujar Gavlin mengangguk mengerti dan paham dengan penjelasan Wicaksono.


"Kamu bisa cari Jalal di belakang pasar Taji, di belakang pasar itu markas mereka." ungkap Wicaksono.

__ADS_1


"Baik, Pak. Terima kasih infonya, saya akan segera memburu Jalal." ujar Gavlin menegaskan.


"Vlin. Sebaiknya kamu berhati hati dengan Jalal, dia anggota pembunuh bayaran, yang sangat profesional, dia sengaja di bayar menjadi pengawal pribadi Samsudin karena kehebatannya. Jangan sampai kamu kalah dengannya." ujar Wicaksono menegaskan pada Gavlin.


"Ya, Pak. Saya akan berhati hati pada Jalal, dan juga teman temannya." tegas Gavlin.


"Apa Bapak juga tau keberadaan Samsudin?" tanya Gavlin menatap wajah Wicaksono yang terlihat serius itu.


"Bapak nggak tau. Kamu mungkin bisa mengorek keterangan dari Jalal setelah kamu meringkus Jalal, mungkin Jalal akan memberitahu dimana Samsudin berada." ungkap Wicaksono pada Gavlin.


Gavlin diam sesaat, dia lantas memikirkan sesuatu hal, lalu, dia pun menatap wajah Wicaksono yang tersenyum memandangnya.


"Oh ya Pak. Bagaimana dengan Chandra? Apa Bapak udah kasih tau dia, kalo Bapak mengenalku?" ujar Gavlin bertanya.


"Sudah, Chandra sudah tau kedekatan kita, dia juga tau, kalo kamu yang meminta Bapak buat melindunginya dari usaha pembunuhan yang di lakukan Samsudin dan orang suruhannya." jelas Wicaksono pada Gavlin.


"Chandra tampak senang, mengetahui kalo orang yang aku maksud adalah kamu. Sepertinya, dia memang baik, dan cocok menjadi sahabatmu, Vlin." ungkap Wicaksono tersenyum.


"Iya, Pak. Saat aku pertama ketemu Chandra, aku liat dia orang baik, hanya, dari raut wajahnya, terlihat kalo dia menyimpan dendam dan kekecewaan, sama sepertiku, itu mungkin yang membuat kami cocok." tegas Gavlin tersenyum.


"Ya."Angguk Wicaksono tersenyum.


"Bapak hutang janji sama Chandra." ujar Wicaksono.


"Janji apa, Pak?" tanya Gavlin, menatap serius wajah Wicaksono.


Gavlin ingin tahu, apa yang di sampaikan Wicaksono sehingga dia punya hutang janji pada Chandra.


"Bapak janji, akan menceritakan kisah awal pertemuan kita berdua dulu, bagaimana Bapak bisa kenal kamu dan sangat dekat hubungan kita." ujar Wicaksono.


"Oh." ujar Gavlin mengerti.


"Chandra mendesak Bapak, memaksa agar Bapak langsung cerita, tapi Bapak sengaja menundanya, mencari waktu yang tepat, suasana tenang, agar enak ceritanya." ungkap Wicaksono tersenyum.


"Iya, Pak. Jelaskan saja pada Chandra, agar dia tau kebenaran semuanya." ujar Gavlin tersenyum.


"Baiklah, Pak. Saya pamit dulu ya. ujar Gavlin.


"Iya, Vlin." jawab Wicaksono mengangguk dan tersenyum.


"Oh ya, salam buat Chandra, bilang padanya, jangan khawatir, dia gak akan lama di rumah tahanan ini, nanti, aku akan berusaha untuk mengeluarkan dia dan juga Bapak. Tunggu saja saatnya." ujar Gavlin menjelaskan pada Wicaksono.


"Ya, akan Bapak sampaikan salam kamu pada Chandra nanti." ujar Wicaksono tersenyum.


"Vlin, berhati hatilah di luar sana, ingat , jangan ceroboh dan jangan kamu sampai bertindak gegabah saat menjalani aksimu." ujar Wicaksono, mengingatkan Gavlin.


"Iya, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan, saya akan lebih hati hati lagi kedepannya." ujar Gavlin mengangguk.


"Baiklah, saya pamit, Jaga diri dan kesehatan Bapak, nanti saya ke sini lagi." ucap Gavlin tersenyum.

__ADS_1


"Ya, Vlin." Angguk Wicaksono, tersenyum memandang wajah Gavlin.


Gavlin lantas berdiri dari duduknya di kursi, begitu juga dengan Wicaksono, lalu, Gavlin berbalik badan dan segera pergi dari ruang pertemuan, lalu, Wicaksono juga berbalik badan, dia berjalan, Petugas Jaga cepat membukakan pintu, lalu, Wicaksono keluar dari dalam ruang pertemuan, di ikuti Petugas Jaga yang mendampinginya selama dia bertemu dan bicara dengan Gavlin tadi.


__ADS_2