
Di bagian sisi lain dalam Bandara, terlihat Samsudin dan Istrinya di bawa empat pengawalnya ke sebuah ruangan lain yang ada di bandara, Samuel dan timnya terus berlari mengejar mereka.
Samuel terlihat tak ingin Samsudin berhasil melarikan diri, dia memberi isyarat pada tim nya agar cepat mengejar Samsudin dan istrinya yang sudah di bawa menjauh oleh empat orang yang mengawal Samsudin.
"Cepat, kejar mereka, jangan sampai lolos!!" ujar Samuel, berteriak, memberi komando pada timnya.
Timnya yang berjumlah 8 orang itu pun mengangguk mengiyakan perkataan Samuel, lalu, mereka bergerak cepat untuk mengejar Samsudin, mereka berlari ke arah Samsudin berbelok dan masuk ke sebuah ruangan.
Di sebuah ruangan, tampak wajah Samsudin dan juga istrinya tegang dan penuh rasa khawatir, Istri Samsudin terlihat panik dan sangat ketakutan sekali. Mereka berhenti sejenak bersembunyi dalam ruangan.
"Sebenarnya ada apa? Siapa yang mengejarku?!" tanya Samsudin, dengan wajah cemas menatap para pengawal yang membawanya lari.
"Ada banyak polisi di sekitar bandara, Pak. Kalo kami gak membawa Bapak pergi, Bapak akan tertangkap!" jelas seorang Pengawal.
"Gila, ini benar benar gila !! Sudah mau naik pesawatpun masih aja ada hambatannya!!" ujar Samsudin, kesal dan marah.
"Pah, bagaimana ini? Bagaimana nasib kita?!" tanya Istri Samsudin, dengan wajah ketakutan.
"Sudah , kamu tenang aja!!" bentak Samsudin, marah pada Istrinya yang panik dan ketakutan itu.
"Kenapa kalian gak membawa kami langsung ke dalam pesawat, kan lebih aman disana, dari pada lari lari gak jelas begini!!" tegas Samsudin, dengan wajah marahnya.
"Pesawat di pending, Pak. Saya liat tadi di layar monitor ada pengumuman, bahwa keberangkatan pesawat Bapak di tunda , sampai batas yang belum ditetapkan lagi!!" tegas seorang Pengawal menjelaskan pada Samsudin.
"Siaaall!! Berarti pihak polisi sudah memblokir pesawat buat berangkat?!" ujar Samsudin geram.
"Ya, sepertinya begitu, Pak." Jawab seorang Pengawal.
"Lantas, kalian mau bawa aku dan istriku kemana?!" ujar Samsudin bertanya, dengan menatap tajam wajah pengawal yang berdiri dihadapannya.
"Untuk sementara waktu, kami akan membawa Bapak pulang, kita tunda keberangkatan Bapak, sampai nanti ada kabar baru dari pak Binsar." jelas sang Pengawal.
"Kalo begitu, bawa aku ke tempat pak Binsar, aku mau ketemu dan bicara dengan beliau!" tegas Samsudin, dengan wajah tegang dan seriusnya.
"Baik, Pak. Kami akan mengantar Bapak ke tempat ketua Inside!" tegas sang Pengawal.
"Ayo, Pak. Kita lari lagi, cepat!!" Ajak Sang Pengawal.
Samsudin mengangguk mengiyakan, lalu, bersama istrinya dia pun ikut berlari bersama ke empat orang yang mengawalnya saat ini.
Saat mereka berlari dan berbelok ke sebuah koridor untuk menuju ke halaman parkir, tiba tiba saja Gavlin muncul, Gavlin berdiri tidak jauh dari mereka sambil mengarahkan senapan mesinnya pada Samsudin beserta istri dan para pengawalnya.
Langkah Samsudin beserta para pengawalnya dan juga istrinya terhenti, mereka kaget melihat dikejauhan Gavlin sudah berdiri tegak menghadang mereka dengan senapan mesinnya.
"Siapa dia, Pah?" tanya Istri Samsudin, dengan raut wajah yang penuh ketakutan.
"Dia Gavlin, dia pasti mau membunuhku!" ujar Samsudin, dengan wajah tegang dan seriusnya.
"Membunuhmu?! Aduh, bagaimana ini, masa kalian berempat gak bisa mengatasi orang itu?!" ujar Istri Samsudin semakin panik.
"Cepat halangi orang itu, bunuh dia, dan lindungi suamiku, cepat!! Jangan diam saja!!" bentak Istri Samsudin semakin panik dan ketakutan.
"Ya, baik, bu. Bapak dan Ibu mundur kebelakang dan bersembunyilah, kami akan mengatasinya." ujar sang Pengawal yang menjadi pemimpin melindungi Samsudin dan istrinya saat ini.
Lantas ke empat pengawal Samsudin cepat mengambil pistol mereka masing masing. Gavlin tersenyum sinis melihat mereka yang bersiap siap memegang pistolnya.
"Apa kabar Samsudin?! Kali ini kamu gak bakalan selamat dariku!! Kamu harus mati ditanganku!!" teriak Gavlin sekeras kerasnya pada Samsudin.
Samsudin pun tercekat, dia takut mendengar perkataan Gavlin yang akan membunuhnya, Istrinya terus memegangi tangan Samsudin, dia sangat panik dan ketakutan sekali melihat Gavlin yang memegang senapan mesin ditangannya.
__ADS_1
"Gimana ini, Pah? Aku gak mau kita mati di bunuh dia!! Ayo, Pah, kita lari!! Ayo cepat!!" ujar Istri Samsudin panik dan ketakutan.
"Kamu diam dulu!! Kalo kamu terus panik, aku gak bisa berfikir jernih!!" bentak Samsudin marah pada istrinya.
Mendengar bentakan Samsudin padanya, istri Samsudin langsung terdiam berdiri di samping Samsudin, tubuhnya gemetar menahan ketakutan.
Ke empat orang yang mengawal Samsudin lantas melepaskan tembakan ke arah Gavlin, Gavlin pun membalasnya, dia langsung menembakkan senapan mesinnya pada ke empat pengawal.
Melihat Gavlin menembakkan senapan mesinnya, Samsudin dan istri segera berlari dan bersembunyi di balik tembok, mereka lari menghindar, agar tak terkena tembakan Gavlin.
Ke empat orang yang mengawal Gavlin tertembak oleh senapan mesin Gavlin, dengan mudah, Gavlin membunuh mereka berempat, karena dia menggunakan senapan mesin menghadapi para pengawal, yang hanya berbekal pistol saja ditangannya.
Melihat ke empat pengawalnya mati terbunuh, Samsudin mulai gemetar ketakutan, dia tak mampu untuk berdiri dan berlari, dengkulnya lemas seketika, Istrinya yang bersembunyi disampingnya terus menutup kedua mata dan kedua telinganya, dia takut mendengar suara tembakan dari senapan Gavlin.
Di sisi lain, Andre dan Masto yang tengah membawa Muhtadin yang di borgol kaget mendengar suara tembakan senapan mesin, Andre menghentikan langkahnya.
"Ada tembakan dari arah sana!! Kamu bawa dia, Saya akan melihat ke tempat kejadian sana!!" tegas Andre pada Masto.
"Baik, Pak." jawab Masto, mengangguk hormat.
Andre lantas bergegas pergi meninggalkan Masto yang lantas membawa Muhtadin kembali. Mereka berjalan berdua menyusuri lorong koridor bandara.
Andre yang berlari cepat ke arah suara tembakan berpapasan dengan 4 anak buahnya yang juga lari ke arah suara tembakan, mereka lalu berkumpul.
"Cepat ikut saya!!" ujar Andre, dengan wajah serius memberi perintah pada tim nya.
"Para pasukannya yang berjumlah empat orang itu pun mengangguk mengiyakan, mereka cepat berlari mengikuti Andre yang sudah berlari lebih dulu di depan mereka.
Di ruangan tempat Samsudin bersembunyi, Gavlin terlihat tersenyum sinis, dia lalu melangkahkan kakinya, berjalan dengan santainya mendekati Samsudin.
"Keluarlah dari persembunyianmu Samsudin, dan menyerahlah!" hardik Gavlin, sambil terus berjalan ke arah Samsudin yang bersembunyi bersama istrinya di balik tembok.
"Sudah gak ada orang yang akan menyelamatkanmu, gak ada gunanya kamu sembunyi di balik tembok itu, keluarlah Samsudin!!" bentak Gavlin.
"Jika kamu keluar dan menyerahkan dirimu, aku gak akan menembakmu." ujar Gavlin, dengan sikap dinginnya berdiri sambil mengarahkan senapan mesinnya pada Samsudin yang sembunyi di balik tembok.
"Benarkah? Kalo aku menyerah, kamu gak akan membunuhku?!" tanya Samsudin, penuh rasa takutnya.
"Gak usah banyak tanya, cepatlah keluar dari situ, sebelum aku berubah pikiran!!" ujar Gavlin,menahan geramnya.
Samsudin terdiam, untuk sesaat dia berfikir, dia menoleh pada istrinya yang gemetar ketakutan disampingnya.
"Jangan keluar, Pah, dia pasti akan membunuhmu, diam saja di sini!!" Bisik Istri Samsudin dengan wajahnya yang penuh rasa takut.
"Gak apa apa, kamu gak usah takut, aku baik baik aja." ujar Samsudin.
"Tapi Pah..." ucap Istri Samsudin.
"Sudah, kamu diam saja di sini, dan jangan keluar!" ujar Samsudin, mencoba untuk menenangkan diri istrinya yang panik dan sangat ketakutan itu.
"Cepatlah Samsudin, sudah gak ada waktu lagi bagiku menunggumu!!" bentak Gavlin mulai marah.
"Kamu mau keluar atau tidak?!!" teriak Gavlin, meluapkan kekesalannya.
"B...Baik...Baik. Aku keluar sekarang, tapi kamu janji, jangan bunuh aku!!" ujar Samsudin, dengan wajah penuh ketakutan.
"Gak usah banyak bacot!! Keluar aja sekarang!!" Bentak Gavlin.
Dengan penuh rasa amarah, Gavlin akhirnya melepaskan tembakan ke arah lainnya, Samsudin dan istrinya kaget mendengar suara tembakan dari senapan mesin Gavlin.
__ADS_1
Dengan tubuh gemetar ketakutan, akhirnya Samsudin pun menyerah, dia lantas keluar dari persembunyiannya.
Samsudin keluar dan berdiri sambil mengangkat kedua tangannya, tubuhnya gemetaran hebat, karena dia ketakutan di bunuh Gavlin.
Melihat Samsudin yang berdiri dihadapannya dengan gemetar ketakutan, Gavlin pun tersenyum sinis menatap wajahnya.
"Akhirnya, kita bisa bertatap muka dengan jelas kayak sekarang ini Samsudin." ujar Gavlin, dengan sikap dinginnya.
"Sudah lama sekali aku membayangkan pertemuan kita seperti ini, dan sekarang, semua menjadi kenyataan." lanjut Gavlin, tersenyum sinis menatap wajah Samsudin yang ketakutan dan tubuhnya gemetaran.
"Aku menyerah, kamu janji, gak akan membunuhku, kan?" ujar Samsudin, dengan rasa takutnya.
Samsudin tertunduk, sambil tetap mengangkat kedua tangannya, dia tak berani menatap wajah Gavlin yang berdiri dihadapannya dengan memegang senapan mesin.
"Kapan aku janji sama kamu Samsudin?!" ujar Gavlin, menyeringai licik menatap wajah Samsudin.
Samsudin tersentak kaget mendengar ucapan Gavlin, dia tak menyangka, Gavlin mengingkari janjinya.
"Tadi kamu bilang, kalo aku keluar dari persembunyianku dan menyerah, kamu gak akan membunuhku!" tegas Samsudin, mencoba mengingatkan Gavlin.
"Ah, masa aku ngomong itu? Perasaan, aku gak pernah bilang gak akan membunuhmu!" tegas Gavlin, tersenyum sinis menatap wajah Samsudin.
"Kurang ajar!! Kamu sengaja mau membodohiku!!" bentak Samsudin marah.
Dia memberanikan dirinya melawan Gavlin, karena merasa dirinya sudah di bohongi Gavlin, hingga akhirnya dia keluar dari persembunyiannya.
"Gak ada gunanya kamu melawanku Samsudin!! Kamu tetap sembunyi di balik tembok pun aku pasti tetap membunuhmu!! Sama saja, karena nyawamu sudah berada ditanganku saat ini!!" tegas Gavlin, tersenyum sinis.
"Bedebaaaahhh!!" teriak Samsudin, marah.
"Teriaklah Samsudin, dan bersiaplah untuk kematianmu!!" ujar Gavlin.
Gavlin mengarahkan senapan mesinnya pada Samsudin yang berdiri dihadapannya, Samsudin mulai kembali gemetaran dan takut melihat senapan mesin yang mengarah ke dirinya.
Tiba tiba saja, istri Samsudin berlari keluar dari persembunyiannya di balik tembok. Dia langsung menyerang Gavlin.
"Jangan bunuh suamikuuu!! Bunuh saja akuuu!!" teriak istri Samsudin.
Mendapat serangan mendadak dari istri Samsudin yang tiba tiba saja muncul membuat Gavlin kaget.
Dengan refleks dia pun lantas menembakkan senapan mesinnya ke tubuh istri Samsudin.
Istri Samsudin terjerembab di lantai, dan seketika mati, karena terkena tembakan di sekujur tubuhnya, Samsudin tersentak kaget dan syok melihat istrinya terkapar di lantai.
"Tidaaaaakkk!!" teriak Samsudin histeris.
Samsudin langsung berjongkok dan mendekati istrinya, dia menangis sambil mengangkat dan memeluk tubuh istrinya yang sudah tewas di tembak Gavlin.
Gavlin yang berdiri dihadapannya menatap dingin Samsudin yang menangisi mayat istrinya.
"Keparaaat kamuuu !! Mengapa kamu membunuh istrikuuu!!" bentak Samsudin.
Dengan penuh amarah membara dan menangis sedih atas kematian istrinya, Samsudin berdiri dan hendak menyerang Gavlin, Gavlin langsung cepat mengarahkan senapan mesinnya pada Samsudin.
Mendapatkan tubuhnya di todong senapan mesin, Samsudin pun terdiam seketika, berdiri dihadapan Gavlin.
"Hentikan Gavlin !! Jangan bunuh dia!!" bentak Andre berteriak.
Gavlin kaget mendengar suara teriakan Andre, dia tak menyangka Andre muncul secara mendadak di tempatnya saat ini, Samsudin tampak lega, karena melihat ke datangan Andre bersama empat anak buahnya.
__ADS_1
Gavlin tampak geram menatap wajah Samsudin yang berdiri dihadapannya, lalu, dia menoleh pada Andre yang berdiri agak jauh darinya sambil mengarahkan pistol pada Gavlin.
Gavlin diam dan berfikir sesaat ditempatnya.