
Indri dan Gavlin masih terus berciuman dengan hangat dan mesra, tangan Gavlin bergerak dan hendak membuka kancing baju Indri, dengan tangannya, Indri menahan tangan Gavlin, agar tidak membuka kancing bajunya.
Indri lantas melepaskan bibirnya dari bibir Gavlin, dia berdiri dihadapan Gavlin dengan tatapan mata sendunya.
"Maaf, Vlin. Jangan lakukan." ujar Indri, dengan suaranya yang lembut.
"Aku gak mau, kita berbuat diluar batas dan lebih jauh. Aku gak bisa, Vlin." ucap Indri.
"Aku hanya mau berhubungan badan, hanya jika sudah menikah, Maaf, mohon mengerti, Vlin." ujar Indri, menatap lembut wajah Gavlin.
"Maafkan aku In, aku yang salah, aku khilaf." ujar Gavlin, merasa tak enak hati.
"Jujur, aku menyukaimu dari kamu masih koma, dan aku, aku mencintaimu, Vlin." ungkap Indri, bersungguh sungguh.
"Tapi, bukan berarti, aku harus menyerahkan tubuhku, merusak kehormatanku sebelum menikah, aku gak bisa berbuat hal itu, Maafkan aku." tegas Indri.
"Ya, aku paham In. Sekali lagi, aku minta maaf padamu." ujar Gavlin, bersungguh sungguh.
Gavlin lantas terdiam sesaat, dia menatap lembut wajah cantik Indri yang tersenyum padanya, Gavlin semakin mengagumi dan sayang pada Indri.
Indri gadis yang sangat berbeda, tidak seperti pacar pacar Gavlin sebelumnya seperti Linda dan Maya. Mereka mencintai Gavlin sepenuh hati, dan mereka juga rela menyerahkan tubuh dan kehormatannya yang paling berharga pada Gavlin. Karena cinta, mereka rela tidur dengan Gavlin, bahkan rela kehilangan perawannya seperti Maya.
Namun, tidak bagi Indri, dia tetap menjaga kesucian dirinya sebagai wanita, walaupun dia sangat mencintai Gavlin, dia tak mau begitu saja menyerahkan tubuhnya, dia tetap menjaga kehormatannya, dia akan memberikannya pada suaminya yang sah, nantinya jika dia menikah.
Gavlin sadar, bahwa Indri, gadis sederhana dan terlihat polos, punya pendirian yang sangat kuat, dan sebagai wanita, dia benar benar menjaga kehormatan dan harga dirinya. Gavlin jadi malu pada dirinya sendiri, karena menganggap Indri sama seperti Maya ataupun Linda.
"Kamu marah sama aku, In?" tanya Gavlin serius menatap Indri.
"Nggak, Vlin. Aku gak marah." ujar Indri tersenyum.
"Maafkan aku sekali lagi, aku gak bermaksud merendahkanmu, dan aku gak akan melakukan hal buruk itu lagi padamu, aku janji." ujar Gavlin, dengan wajah serius dan bersungguh sungguh.
"Iya, Vlin." jawab Indri, tersenyum.
---
Keesokan harinya, Gavlin tampak bersiap siap untuk pergi dari rumah Sarono. Satu tas besar dan panjang sudah di taruhnya di atas motornya dan di ikat kuat di jok belakang motor. Dan yang satu tas lagi di panggul Gavlin.
Gavlin berpamitan pada Sarono dan Indri yang mengantarkannya sampai di halaman rumah . Gavlin bersalaman dengan Sarono.
"Terima kasih atas kebaikan Bapak yang menerima saya tinggal disini." ujar Gavlin bersungguh sungguh.
"Sama sama Nak Gavlin." ujar Sarono, tersenyum ramah.
"Semoga, apa yang kamu harapkan terlaksana semua, dan semua yang akan kamu jalani, tuntas." tegas Sarono.
"Ya, Pak." ujar Gavlin, tersenyum.
Lalu, Gavlin menoleh pada Indri yang berdiri diam disamping Sarono, wajah Indri terlihat murung, dia bersedih , baru saja dia mengutarakan cintanya pada Gavlin, kini, Gavlin pergi meninggalkannya.
"In, aku pergi ya. Terima kasih untuk semuanya." ujar Gavlin, tersenyum lembut menatap wajah sedih Indri.
"Apa kamu gak akan kembali ke sini lagi?" tanya Indri getir.
"Belum tau, In. Aku gak bisa janji sama kamu, karena, aku gak tau, kapan aku bisa menuntaskan balas dendamku." ujar Gavlin, dengan wajahnya yang serius.
"Artinya, aku gak akan bertemu kamu lagi?" ujar Indri, lirih dengan wajah sedihnya.
"Gak tau In. Tapi, jika semuanya sudah beres, dan aku masih hidup, aku pasti akan datang menemui kamu, juga Bapak." ujar Gavlin tersenyum.
Gavlin berusaha meyakinkan Indri, agar dia tak bersedih, namun, Indri malah menangis karena sedih.
__ADS_1
"Mengapa kamu harus bilang kalo kamu masih hidup? Seolah kamu tau, kamu akan mati, Vlin?" ujar Indri, menangis sedih.
Gavlin tersenyum, dia melirik Sarono yang terdiam melihat Indri menangis, Gavlin memegang kedua bahu Indri, lantas, dia memegang dagu Indri, Gavlin mengangkat kepala Indri, lalu, dia menatap lembut wajah Indri.
"In, aku gak tau apa yang terjadi padaku nantinya, aku hanya mengatakan padamu, jika aku gak datang menemuimu hingga waktu yang sangat lama, artinya aku mati." jelas Gavlin, bersungguh sungguh.
Indri pun menangis lagi mendengar perkataan Gavlin, Gavlin tersenyum dengan lembut, dia menghapus air mata Indri.
"Berharap dan berdoalah untukku, agar aku tetap hidup, dan kita bisa bertemu lagi nantinya." ucap Fachri, tersenyum lembut penuh kasih sayang pada Indri.
"Ya." Angguk Indri lemah, sambil mengusap air mata di pipinya.
"Aku pergi ya. Jaga dirimu baik baik. Dan ingat ! Kamu harus bisa buktikan, bahwa dirimu akan menjadi orang yang sukses, buatlah desain gaun pengantinmu sebagus mungkin, aku yakin, kamu sukses nantinya, karena kamu berbakat menjadi desainer hebat!" ujar Gavlin serius dan bersungguh sungguh.
"Ya, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Terima kasih." ucap Indri lirih dan getir.
Gavlin tersenyum, lantas, dia melepaskan tangannya dari kedua bahu Indri, dia lalu berbalik badan, Gavlin berjalan menuju motornya dengan memanggul tas besar dan panjang di pundaknya.
Gavlin lantas naik ke atas motornya, dia lalu memakai helmnya, Gavlin merapikan tas besar yang di panggulnya, diletakkannya ke jok belakang.
Sarono dan Indri berdiri di depan teras rumah, mereka berdua menunggu Gavlin pergi.
Motor menyala, lalu, Gavlin pun segera menjalankan motor sportnya.
Dengan mengendarai motornya, Gavlin pergi meninggalkan rumah Sarono, Indri kembali menangis, air matanya menetes di pipinya.
Sarono melihat Indri, dia tahu anaknya sedih dan berat di tinggal pergi Gavlin, Sarono lantas merangkul tubuh Indri.
"Sudah, jangan menangis lagi, Bapak yakin, Gavlin baik baik saja, dan dia akan kembali ke sini lagi." ujar Sarono, tersenyum menenangkan Indri yang bersedih.
Indri menghapus air matanya, lalu, dia menarik nafasnya dalam dalam, ditenangkannya dirinya, agar tidak terus larut dalam kesedihannya.
"Kita kedalam yuk." Ajak Sarono lembut.
Lantas, Sarono dan Indri pun berjalan bersama, Sarono masih merangkul tubuh Indri, mereka berdua lantas masuk ke dalam rumah bilik kayu mereka.
---
Richard ditemani Andre bertemu dengan seorang petugas Forensik yang menangani autopsi mayat Gatot dan Maya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Richard, dengan wajah serius dan penasaran.
"Dari peluru yang ditemukan di tubuh Gatot dan Maya, sepertinya dia di tembak dengan pistol rakitan." jelas petugas ahli forensik.
"Hmm...apa ada jejak pelaku di tubuh kedua korban?" tanya Richard.
"Tidak ditemukan sidik jari siapapun di tubuh korban." tegas petugas Forensik.
"Artinya, tidak bisa diketahui siapa yang membunuh Gatot dan Maya?" tanya Richard serius.
"Ya, sepertinya begitu." ucap Petugas ahli Forensik.
"Tapi, kami menemukan jejak orang lain disekitar lokasi pembunuhan." jelas petugas ahli forensik.
"Jejak siapa?" Tanya Andre.
"Darah yang kami temukan, itu DNA Jafar !" tegas Petugas ahli forensik.
"Kamu yakin, DNA itu milik Jafar?" tanya Richard menatap wajah Petugas ahli Forensik.
"Saya yakin!" tegas Petugas ahli Forensik.
__ADS_1
"Baiklah, saat ini kita sudah mendapatkan tersangka. Kerja bagus!" Puji Richard pada petugas ahli Forensik.
"Kamu Andre, cepat kerahkan pasukanmu untuk memburu Jafar, kejar dan tangkap dia ! Jangan sampai lolos !" tegas Richard, memberi perintah.
"Siap, Laksanakan!" jawab Andre, memberi hormat pada Richard.
Richard lantas pergi dari ruang autopsi, Andre mengikutinya, Petugas ahli Forensik tinggal sendiri di dalam ruangan itu.
Richard dan Andre berjalan di lorong perkantoran gedung kepolisian, wajah Richard tampak geram dan marah.
"Kamu grebek rumah Herman, Jack dan Peter, cari dalam rumah, dan geledah seluruh ruangannya ! Saya yakin, Jafar datang menemui salah satu diantara mereka untuk minta perlindungan!" tegas Richard memberi perintah.
"Baik, akan saya kerjakan!" ujar Andre.
Mereka berdua terus berjalan menyusuri lorong gedung kantor kepolisian. Lalu, Richard dan Andre berpisah di koridor, Andre berjalan dan belok ke arah ruang kerjanya, dan Richard ke arah lainnya, menuju ruang kerjanya.
Richard lalu masuk ke dalam ruang kantornya, dia berjalan menuju meja kerjanya.
Dengan wajah kesal menahan amarahnya, dia lantas menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.
Baru saja dia duduk di kursinya, telepon yang ada dalam ruangannya berbunyi, Richard dengan kesal mengambil gagang telepon yang ada di atas meja kerjanya.
"Hallo, dengan siapa ini?!" tanya Richard dengan nada kesal ditelepon.
"Apa kabar Richard?" terdengar suara berat dari seberang telepon.
Richard kaget mendengar suara yang berat di telepon, dia berfikir, mencoba mengingat ingat suara siapa itu.
"Kamu tau siapa aku?" tanya si penelpon dari seberang telepon.
Richard semakin geram dan marah mendengar perkataan orang yang menelpon dirinya.
"Hei !! Jangan main main sama Kapolri ya!!" bentak Richard melampiaskan amarahnya.
"Jangan bangga dengan jabatanmu Richard, lagi pula, jabatan itu kamu dapat dengan mengorbankan nyawa banyak orang yang kamu khianati kepercayaannya!" ungkap si penelpon.
"Kurang ajaaaar!! Siapa kamu!! Berani beraninya merendahkanku!!" bentak Richard, berteriak keras dalam ruang kerjanya.
"Kamu gak kenal suaraku Richard? Sayang sekali, padahal sebelumnya, kita sering bicara bersama!" ucap si penelpon, dari seberang telepon.
"Setaaaan !! Jangan bertele tele, bilang saja, siapa kamu dan apa maumu!!" bentak Richard , penuh emosi marah.
"Oh, ya. Kamu gak perlu mencari Jafar, sampai kapanpun kalian gak akan bisa menemui Jafar, karena dia sudah mati ! Dan tubuhnya lenyap dari muka bumi ini !! Satu tulangpun gak akan bisa kalian temukan lagi!!" tegas si penelpon.
"Bedebaaaaahhh !! Siapaaaaa kaaaammmuuu !!" teriak Richard, penuh emosi marah.
Dia sudah tak tahan lagi menahan amarahnya yang sudah memuncak dan sampai di ubun ubun kepalanya, Richard pun berteriak sekeras kerasnya, suaranya menggelegar dalam ruang kerjanya, dia tampak sangat marah sekali pada si Penelpon.
"Aku Gavlin. Aku bangkit dari kubur !" tegas si penelpon.
Richard syok, dia terbelalak kaget, Richard tak menyangka Gavlin yang menelpon dia. Richard pun semakin marah pada Gavlin.
"Hei anak setaaan !! Dimana kamu!! Apa kamu yang membunuh Gatot dan Maya?!" Hardik Richard marah.
"Kamu salah orang Richard, Jafar yang membunuh Gatot dan Maya, lalu, aku yang membunuh Jafar, dan melenyapkan tubuh Jafar dari muka bumi!!" tegas Gavlin dari seberang telepon.
"Berhati hatilah Richard, jaga dan lindungi dirimu dan keluargamu, karena, aku akan datang secara tiba tiba, aku akan membunuhmu!" tegas Gavlin dari seberang telepon.
Gavlin lantas menutup teleponnya, Richard tampak semakin marah, dia pun mengamuk.
"Kepaaaaraaaaatttt kaaaamuuuu Gaaaavvvvlllliiiiinnnn!!" teriak Richard melampiaskan emosi amarahnya.
__ADS_1
Richard mengamuk, dia melemparkan gagang telepon yang di pegangnya, telepon pun terlempar dan jatuh kelantai, lalu hancur berantakan, Richard tampak sangat geram dan marah sekali pada Gavlin yang sudah mengancamnya.