VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Mengamuk


__ADS_3

Gavlin dan Maya turun dari motor, Maya memandangi area lokasi, Maya kagum dan terpesona memandangi panorama alam lokasi tersebut.


"Tempat apa ini Vlin?" Tanya Maya.


Maya bertanya, sebab, sama sekali dia selama ini belum pernah datang kelokasi tersebut.


"Restoran, namanya Twin House, kita makan di sini sekarang." Ujar Gavlin tersenyum.


"Oh." Ujar Maya.


Maya masih terpesona dengan suasana di sekitar lokasi restoran tersebut.


Maya melihat nama restoran terpajang " Twin House ".


"Tempatnya bagus Vlin, restorannya mungil, tapi tamannya hijau, bagus, asri." Ujar Maya tersenyum.


"Aku baru tau ada restoran bernuansa alam begini di kawasan ini." Ujar Maya senang.


"Ya, karena memang tempatnya tersembunyi di dalam gang di kawasan ini." Ujar Gavlin tersenyum.


"Iya, tadi aku mikir, kamu mau bawa aku kemana, kok masuk masuk gang gang gitu tadi. Gak taunya ke restoran ini." Ujar Maya senang.


Gavlin hanya tersenyum memandangi wajah Maya yang tampak senang di bawanya kerestoran tersebut.


"Ayo kita masuk." Ajak Gavlin.


"Ayo Vlin." Jawab Maya.


Mereka berdua lantas masuk ke dalam restoran tersebut.


Gavlin memilih tempat di area luar, dia mengajak Maya duduk lesehan.


Suasana dan pemandangan indah di area luar itu menarik perhatian Maya, dia pun tampak sangat menikmati suasana tersebut.


Maya melihat, di beberapa sisi area itu dihiasi dengan balon dan lampu gantung, plus tatanan meja pendek untuk duduk lesehan yang nyaman. Pepohonan yang tinggi juga ikut membuat suasana jadi intimate.


"Kamu pernah ke sini Vlin?" Tanya Maya.


"Pernah, ngantar Bramantio, waktu aku masih jadi supirnya." Ujar Gavlin tersenyum.


"Oh, Pantesan kamu tau." Ujar Maya.


"Menu makanannya apa di restoran ini Vlin?" Tanya Maya penasaran.


"Menu Western ( makanan eropa ), ada juga sih menu makanan Indonesia." Ujar Gavlin tersenyum.


"Oh gitu. Sejuk tempatnya Vlin, pemandangannya juga hijau di sekitarnya. Ujar Maya senang.


"Iya, makanya aku ajak kamu ke sini, karena aku tau, kamu pasti menyukainya." Ujar Gavlin tersenyum senang pada Maya.


Maya tampak senang, wajahnya cerah, dia tampak sangat bahagia sekali karena di bawa Gavlin ke tempat yang nyaman tersebut.


Lalu, mereka berdua pun memesan makanan.


---


Di ruang kerjanya, Gatot tampak sedang mencoret coret di lembaran kertas kosong.


Wajahnya tampak serius dan berfikir keras.


Di kertas itu dia menulis nama nama Mike, Samsul dan Jauhari, dia membuat garis penghubung antara ke tiga nama tersebut dengan kampung Rawas.


Di mana rumah rumah seluruh warga kampung Rawas hangus terbakar, dan seluruh warga kampung Rawas mati di bunuh.


Lalu dia menarik garis dari nama ke tiga korban pembunuhan tersebut ke pada nama Bramantio, lalu dia memberikan tanda plus (+) dan menuliskan nama Wijaya di samping nama Bramantio.


Selain itu, di bawah nama Bramantio dan Wijaya, dia menarik garis lurus pendek ke bawah, dan memberi sebuah nama, Guntur dan Samsuri.


Lalu dia menarik garis ke kiri atas dari nama Bramantio, lalu menulis sebuah nama, Guntur, dan nama nama warga warga kampung Rawas yang ditemukan mati terbunuh.


Lantas Gatot melingkari ke seluruhannya, kemudian, di bagian paling atas lingkaran, dia memberi sebuah nama, Yanto.


Lalu dia menarik garis lurus ke samping nama Yanto, menuliskan nama Sanusi dan istrinya, lalu nama Jafar.


Khusus Jafar, dia memberi tanda tanya, sebab, hingga saat ini dia tidak mengetahui keberadaan Jafar, Dalang pembunuhan istri Sanusi.


Gatot lantas meletakkan pulpennya di atas meja, Teguh datang dan berdiri di samping Gatot.


Teguh melihat coretan coretan tangan Gatot, dia membaca nama nama yang tertulis di kertas tersebut.


"Bagaimana ?" Tanya Gatot.


"Menurut Dokter bedah mayat, senjata yang di gunakan membunuh dan memotong bagian tubuh korban Jauhari sama dengan korban Samsul." Ujar Teguh.


"Sudah ku duga ! Oke, kamu selidiki terus, cepat temukan pelaku tersebut, dan cari tau, apa motif pembunuhannya." Ujar Gatot.


"Siap Komandan." Ujar Teguh memberi hormat.


Teguh lantas pergi, sebelum pergi dia melirik pada lembaran kertas, dia membaca nama nama yang di tulis Gatot.


Teguh lantas pergi meninggalkan Gatot yang terlihat masih berfikir keras memikirkan kasus pembunuhan yang telah terjadi.


---


Maya dan Gavlin selesai makan, mereka berdua tampak sangat menikmati makanan restoran tersebut.


Wajah Maya bercahaya, dia tampak senang dan bahagia, Gavlin tersenyum memandangi wajah cantik Maya.


Dengan lembut, Gavlin menghapus butiran keringat di dahi Maya. Maya pun tersenyum senang.


Gavlin dan Maya untuk sesaat saling memandang, tatapan mata mereka penuh cinta.


"May, denganmu, hatiku telah menemukan ritmenya." Ujar Gavlin tersenyum senang.


"Jujur Vlin, aku selalu ingin bersama kamu, saat aku bersamamu, satu jam terasa satu detik. Tapi saat aku jauh darimu, satu hari terasa satu tahun." Ucap Maya tersenyum penuh cinta.


"Kalo kamu membutuhkanku, hubungi aku di mana pun kamu berada, tidak peduli seberapa jauh. Kamu jangan khawatir, aku pasti datang May." Ujar Gavlin tersenyum senang.


"Iya Vlin." Jawab Maya tersenyum.


"Cinta itu seperti angin May. Kamu gak bisa melihatnya, tapi kamu bisa merasakannya." Ujar Gavlin tersenyum.


"Vlin, Kamu membuatku bahagia lewat cara yang orang lain gak bisa." Ucap Maya tersenyum.


"Selama kamu bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu." Ucap Gavlin tersenyum.


"Aku gak tau di mana aku berdiri denganmu. Dan aku gak tau apa maksudku bagimu. Yang aku tau adalah setiap kali aku memikirkan dirimu, aku ingin selalu bersamamu." Ucap Maya tersenyum penuh cinta di hatinya.


"Aku melihatmu dan melihat sisa hidupku di depan mataku." Ucap Gavlin tersenyum.

__ADS_1


"Kamu mencuri hatiku, tapi aku akan membiarkanmu menyimpannya." Ucap Maya tersenyum.


"Aku mencintaimu May, dan aku gak ingin kehilanganmu lagi, karena hidupku menjadi lebih baik sejak aku menemukanmu kembali." Ungkap Gavlin penuh kebahagiaan dihatinya.


"Sekarang, aku sudah memilikimu vlin, dan aku gak membutuhkan apa-apa lagi." Ucap Maya.


"Aku pun merasakan hal yang sama denganmu May, Aku lebih menjadi diriku saat bersamamu." Ungkap Gavlin senang.


"Aku jatuh hati kepadamu setiap hari Vlin." Ujar Maya tersenyum bahagia.


"Ketika aku mengikuti kata hati, itu membawa diriku kepadamu. Bersama dirimu adalah tempat terbaikku." Ucap Maya tersenyum bahagia.


"Kamu adalah tempat bahagiaku May. Aku butuh kamu seperti jantung butuh detak." Ungkap Gavlin.


"Aku mencintaimu, tanpa awal, tanpa akhir. Aku mencintaimu karena kamu telah menjadi organ yang sangat dibutuhkan dalam tubuhku.Tanpa rasa takut. Tanpa harapan." Ucap Gavlin.


" Aku gak menginginkan imbalan, kecuali bahwa kamu mengizinkan aku untuk menjaga kamu di sini di hatiku, agar aku selalu tahu kekuatan kamu, mata kamu, dan roh kamu yang memberikanku kebebasan dan membiarkanku terbang." Lanjut Gavlin.


"Kamu adalah satu-satunya gadis yang membuatku mempertaruhkan segalanya untuk masa depan yang berharga May." Lanjutnya lagi.


"Aku mencintai kamu Vlin, dan itulah awal dan akhir dari segalanya."Ungkap Maya.


"Aku gak mau kita berpisah Vlin." Ucap Maya.


"Iya May, Perpisahan hanya berlaku untuk mereka yang mencintai lewat mata. Karena untuk kita yang mencintai dengan hati dan jiwa, gak akan ada yang namanya perpisahan." Ucap Gavlin tersenyum.


"Kamu adalah doaku yang telah menjadi nyata May." Ungkap Gavlin.


"Aku mengibaratkan cinta itu bunga Vlin, untuk itu aku merawatnya, menyiraminya, agar cinta itu terus tumbuh dan mekar di hatiku." Ucap Maya tersenyum bahagia.


"Aku bukanlah orang yang seperti dulu sejak bertemu denganmu May. Hari terasa lebih lama. Malam terasa lebih dingin." Ungkap Gavlin.


"Dan kamu selalu mendapat tempat istimewa di hatiku. Aku sungguh mencintaimu." Ucap Gavlin penuh kebahagiaan dan rasa cinta yang mendalam.


"Vlin, memilikimu adalah hadiah yang paling indah dalam hidupku." Ucap Maya penuh rasa cinta di hatinya.


Gavlin menggenggam erat tangan Maya, Maya pun membalas, dia juga menggenggam erat tangan Gavlin.


Mereka berdua saling melempar senyum, senyum kebahagiaan.


"May, kenapa kamu gak memaanggilku dengan nama Yanto?" Tanya Gavlin tersenyum.


"Aku lebih suka dengan namamu yang sekarang Vlin, lagi pula, aneh rasanya aku manggil kamu Yanto." Ujar Maya.


"Kenapa aneh ?" Tanya Gavlin heran.


"Ya aneh aja, kagok gitu Vlin, soalnya, aku kan kenal sama orang yang bernama Yanto juga, jadi gimana kesannya gitu." Ujar Maya.


"Kalo aku panggil kamu Yanto, seolah aku panggil Yanto temanku itu." Ujar Maya tersenyum.


"Yanto seniman pembuat patung lilin ?" Tanya Gavlin.


"Iya Vlin, aku belum sempat kenali kamu ke dia." Ujar Maya tersenyum.


Gavlin tersenyum memandangi wajah Maya yang terlihat sangat cantik di matanya.


"Itu aku May, Yanto itu aku juga." Bathin Gavlin berkata.


Gavlin terus memandangi wajah Maya yang tersenyum manis padanya.


"Kita pulang yuk Vlin." Ajak Maya tersenyum.


Lantas mereka berdua pun pulang, tak lupa Gavlin membayar makanan mereka berdua.


---


Bramantio tampak sedang menjamu Ronald di sebuah rumah makan mewah bernuansa jepang.


Mereka duduk lesehan, di atas meja pendek, tersedia berbagai macam menu masakan khas Jepang.


Ronald sangat menikmati makanannya, dia menghabisi makanan yang tersaji di atas meja.


Bramantio tersenyum senang melihat Ronald makan dengan lahapnya.


Bramantio memakluminya, sebab selama di dalam penjara, Ronald tak pernah mencicipi makanan enak, lezat dan mahal seperti saat ini.


Ronald menyelesaikan makanannya, dia meneguk habis air minumnya.


"Waah, benar benar lezat makanannya Bang, 15 tahun aku gak nemui makanan senikmat ini." Ujar Ronald senang.


"Kamu mau merasakan hal nikmat lainnya Nald? Rasa yang gurih dan lebih nikmat dari makanan ini?" Tanya Bramantio.


"Apa itu Bang?" Tanya Ronald heran.


"Kamu santai saja, aku sudah menyiapkan menu selanjutnya buat kamu makan." Ujar Bramantio.


"Oh ya? Kenapa gak sekarang aja Bang, aku masih sanggup makannya." Ujar Ronald bersemangat.


"Tenang Nald, makanan ini beda dengan makanan yang baru saja kamu makan." Ujar Bramantio.


"Makanan tersebut bisa membuatmu nikmat, dan makanan itu akan memberikanmu kenikmatan yang tiada lawannya, kamu pasti ke enakan nantinya." Ujar Bramantio tersenyum penuh arti.


"Makanan apa sih Bang, aku jadi makin penasaran." Ujar Ronald.


Wajah Ronald sangat penasaran, dia ingin tahu, makanan apa yang di maksud Bramantio.


"Daging hidup." Ucap Bramantio tersenyum.


"Daging hidup? Maksudnya?!" Tanya Ronald semakin heran dan tak mengerti.


"Wanita Nald, Wanita !" Ujar Bramantio.


"Aaahh...hahahaha...kirain aku apa bang Braam." Ujar Ronald tertawa senang.


"Aku udah siapkan 3 wanita di kamar hotelmu, dan kamu bisa menikmati ke tiga wanita itu sesuka hatimu, sepuas puasnya." Ujar Bramantio tertawa.


"Abang tau aja, kalo 15 tahun aku gak pernah mencicipi daging mentah itu." Ujar Ronald tertawa senang.


"Aku nginap di hotel mana Bang?" Tanya Ronald.


"Aku udah siapkan kamar khusus buatmu di Hotel Hera, milikku." Ujar Bramantio tersenyum senang.


"Ohya? Wah, suatu kehormatan buatku bang, abang udah repot repot memberikanku semua fasilitas yang terbaik." Ucap Ronald tersenyum.


"Santai aja Nald." Ujar Bramantio tersenyum senang.


Ronald lantas mau berdiri dan pergi, Bramantio mencegahnya.


"Kamu mau kemana ?!" Tanya Bramantio.

__ADS_1


"Ke Hotel Bang, aku udah gak sabar, gak nahan, mau nyantap 3 wanita itu." Ujar Ronald bersemangat.


Air muka Ronald menunjukkan jika dia saat ini sedang bernafsu, keinginannya untuk bercinta muncul seketika.


Saat Bramantio mengatakan padanya, bahwa dia sudah menyiapkan wanita wanita cantik untuk melayani nafsunya yang sudah 15 tahun tertahan dan tak tersalurkan, Nafsunya pun langsung tinggi.


"Santai dulu Nald, mereka gak kan pergi, tetap nunggu di dalam kamar sampe kamu datang nanti." Ujar Bramantio tersenyum.


"Duduklah lagi. Masih ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Ujar Bramantio tersenyum.


Ronald pun akhirnya duduk kembali ditempatnya tadi. Dia pun menahan keinginannya untuk bercinta.


"Nald, ada kabar yang akan membuatmu syock dan marah." Ujar Bramantio tenang.


"Kabar apa?" Tanya Ronald menatap tajam wajah Bramantio.


"Tentang Samsul dan anggotanya." Ujar Bramantio.


"Bang Samsul? Kenapa dengan dia?" Tanya Ronald heran.


"Ohya, kemana Bang Samsul, kenapa dia gak menjemputku di rumah tahanan pas aku bebas ?" Tanya Ronald.


Dia baru ingat dengan Samsul abangnya, karena dia begitu senang merayakan kebebasannya, dia sampai melupakan Samsul, abang kandungnya sendiri.


Bramantio terdiam, Ronald menatap wajah Bramantio dengan tatapan tajam.


"Dimana bang Samsul ?" Tanya Ronald lagi pada Bramantio.


Bramantio menarik nafasnya dalam dalam, lalu dia pun menatap lekat wajah Ronald.


"Samsul mati Nald, dia di bunuh !" Ujar Bramantio .


"Apa?!! Keparaaaaatttt !!!" Teriak Ronald.


Seketika semua makanan dan piring piring yang ada di atas meja pendek jatuh berantakan di lantai.


Ronald mengamuk, marah, dia membuang semua piring dan makanan di meja.


Bramantio kaget melihat Ronald mengamuk.


"Tenang dulu Nald, dengar penjelasanku dulu." Ujar Bramantio.


Dia berusaha menenangkan Ronald yang sudah mengamuk marah.


"Siapa yang berani membunuh abangku, siapaaa?!!" Teriak Ronald melampiaskan amarahnya.


"Aku belum tau orangnya Nald, Kepala Samsul di penggal, anggotanya di bantai habis." ujar Bramantio.


"Seeeetaaaaannn !!! Berani beraninya dia bunuh abangkuuu!!" Teriak Ronald mengamuk.


Dia pun melemparkan meja pendek hingga hancur berantakan, Bramantio menghindar, agar tak terkena lemparan meja meja tersebut.


"Aku akan mencarinya !! Aku akan mencabik cabiknya, memotong motong tubuhnya, mengiris dagingnya, dan aku akan memakannyaa!!" Teriak Ronald mengamuk.


Bramantio tampak ngeri melihat Ronald mengamuk marah kesetanan, jiwa psikopat Ronald langsung muncul seketika.


Dia tak terima Samsul, abangnya mati di bunuh dengan cara kepalanya terputus.


Dia sangat marah, dia ingin membalas dendam, dia ingin menghabisi orang yang telah membunuh abangnya tersebut.


"Bukan hanya Samsul yang di bunuh orang itu, tapi Mike, anakku juga di bunuhnya." Ungkap Bramantio.


"Aaaarrrgggghhhh !! Bodoh...bodooohhh !! Kenapa kalian gak bisa menangkap orang itu !! Kenapa satu orang bisa membantai anggota genk Samsul yang paling ditakuti ?!!" Teriak Ronald mengamuk marah.


"Apa hebatnya orang itu, hingga dia bisa mengalahkan pemimpin Mafia seperti Samsul?!" Bentak Ronald marah.


Bramantio terdiam, dia tak berani mengatakan apapun juga, dia biarkan Ronald mengamuk, sampai Ronald berhenti sendiri.


Ronald lantas keluar dari dalam ruangan kamar makan, Bramantio kaget melihatnya.


"Kamu mau kemana Nald? Tunggu aku !!" Teriak Bramantio.


Ronald tak perduli, dia terus pergi, Bramantio pun lantas segera mengejar Ronald.


Di luar restoran jepang, Bramantio berlari lari mendekati Ronald yang berjalan dengan emosi marahnya.


"Sebaiknya kamu tenang Nald, kita bahas masalah ini, aku akan membantumu mencari pembunuh Samsul." Ucap Bramantio.


"Bantu dengan apa? Sebelumnya aja abang gak bisa menangkap orang itu !! Bagaimana abang bisa membantuku ?!!" Bentak Ronald.


Ronald marah pada Bramantio.


Bramantio pun terdiam.


"Serahkan semuanya padaku, aku pasti akan menemukan bedebah itu!!" Ujar Ronald penuh amarah.


"Iya Nald, Iya." Ujar Bramantio.


"Antar aku Bang." Ujar Ronald masih emosi marah.


"Antar kemana?" Tanya Bramantio heran.


"Ke hotel ! Kemana lagi?! Aku mau melampiaskan amarahku pada wanita wanita itu !!" Ujar Ronald bernafsu.


"Maksudmu? Kamu mau bunuh ketiga wanita yang nungguin kamu di hotel?" Tanya Bramantio kaget.


"Bukan ! Aku mau melampiaskan nafsuku, aku ingin bercinta sepuas puasnya dengan mereka, agar aku bisa meredakan gejolak amarahku!! Aku kalo lagi marah, Libidoku tinggi!!" Ujar Ronald marah.


Bramantio terdiam, dia baru paham maksud Ronald.


Bramantio jadi gugup dan bingung karena Ronald mengamuk dan memarahinya. Sehingga dia tak bisa berfikir jernih.


Dia tak menyangka jika Ronald akan mengamuk seperti tadi, dia pikir, Ronald hanya teriak marah saja.


Karena Ronald mengamuk dan menghancurkan semua barang barang restoran, mau tak mau, Bramantio pun harus membayar kerugian pihak restoran jepang tersebut.


Bramantio pun memberikan sejumlah uang untuk ganti rugi yang telah dirusak dan di hancurkan Ronald.


Kemudian, Bramantio dan Ronald pun pergi dari restoran mewah bernuansa jepang tersebut.


Wajah Ronald tampak masih sangat marah, dia duduk di jok samping Bramantio yang menyetir mobil.


Bramantio diam terus menyetir mobilnya, dia tak mau mengajak Ronald bicara, sebab dia takut, Ronald semakin marah dan mengamuk di dalam mobil.


Mobil Bramantio pun melaju dengan kecepatan tinggi, meluncur di jalan raya, membawa Ronald ke Hotel Hera, Hotel Mewah dan Megah miliknya.


Tatapan mata Ronald tampak tajam, matanya memerah, wajahnya menahan geram, dia menggeretakkan giginya, menandakan jika dia sangat marah.


Ronald benar benar tidak bisa menerim kematian Samsul, Abangnya, dia bertekat, akan mencari dan memburu orang yang telah membunuh abangnya, dan membantai anggota genk Samsul.

__ADS_1


Bramantio diam , walau dia takut melihat kemarahan Ronald, namun hati kecilnya senang, karena dia kini tenang, dengan kemarahan Ronald, itu artinya, Ronald langsung yang akan bertindak menghabisi orang tersebut.


__ADS_2