
Chandra terlihat sedang berjalan menuju ke ruang sel tahanannya, dan di belakangnya, terlihat Wicaksono juga berjalan santai mengikutinya, lalu, di susul oleh Gentong dan Pijar yang berlari lari kecil, mengejar dan menyusul Chandra serta Wicaksono.
Para Narapidana yang mengetahui perkelahian Wicaksono menutup mulut, tak ada diantara mereka yang berani mengadu dan melaporkan perkelahian itu, mereka semuanya sangat takut dengan Wicaksono, yang menguasai seluruh rumah tahanan dan menjadi orang nomor satu dalam rumah tahanan tersebut.
Para Sipir penjara kaget dan heran, saat melihat mayat pria bertubuh kekar di dalam ruang pemandian. Mereka bertambah bingung, karena, tak ada satu pun dari para narapidana yang mau memberitahu siapa pelaku yang telah membunuh pria tersebut didalam ruang pemandian.
Karena tak ada cctv, jadi para Sipir penjara tak bisa melihat siapa pelakunya.
Dengan aksi diamnya seluruh narapidana yang ada dalam rumah tahanan, membuat Wicaksono aman dan terbebas dari hukuman.
Sebab, jika Sipir penjara tahu, Wicaksono yang membunuhnya, pastilah Wicaksono akan di hukum dan ditempatkan di dalam sel gelap dan pengap serta lembab tanpa udara, dan berada dibawah tanah rumah tahanan itu.
Dengan santai Wicaksono masuk ke dalam selnya, dia mengikuti Chandra yang sudah lebih dulu masuk ke dalam sel, lalu, beberapa saat kemudian Gentong dan Pijar menyusul.
Setelah mereka semua masuk ke dalam sel tahanan, Sipir penjara segera mengunci pintu sel tahanan, lalu pergi meninggalkan para narapidana.
Wicaksono mendekati Chandra yang duduk di lantai bagian pojok sel tahanan, dia duduk di lantai juga, disamping Chandra.
"Terima kasih, udah menyelamatkan aku, Pak." ujar Chandra pada Wicaksono.
"Ya. Aku sudah ingatkan kamu, agar berhati hati dimana pun kamu berada, karena aku tau, pasti, diantara narapidana disini ada yang dibayar untuk membunuhmu." jelas Wicaksono.
"Bapak kenapa bisa menolongku tadi?" tanya Chandra.
"Aku liat gelagat orang itu mencurigakan, dia terus berdiri diam memperhatikanmu yang sedang mandi, dia gak melakukan apa apa, gak juga mandi." ujar Wicaksono.
"Gerak geriknya mencurigakan, apalagi aku liat dia mulai mendekatimu sambil memegang pisau ditangannya, langsung aja aku menghampirinya, menangkap tangannya lalu menghajarnya habis habisan." tegas Wicaksono menjelaskan.
"Ya, Kalo gak ada Bapak tadi, mungkin saya sudah mati dibunuh." ujar Chandra.
"Mulai sekarang, kamu harus lebih hati hati lagi, aku yakin, masih akan ada narapidana lainnya yang mengincarmu, mereka gak akan berhenti sebelum kamu mati, mereka akan terus membayar narapidana disini dan menyuruhnya menghabisimu." jelas Wicaksono, dengan wajahnya yang serius, menatap Chandra.
"Ya, Pak." Angguk Chandra.
"Sekarang, tidurlah, besok kita bakal kerja bakti mencabuti rumput di sekitar area halaman rumah tahanan ini, dan aku minta, kamu berhati hati saat bekerja besok." ujar Wicaksono mengingatkan Chandra.
"Ya, aku akan lebih berhati hati besok." ucap Chandra, menatap wajah Wicaksono.
Wicaksono lalu memejamkan kedua matanya, mencoba untuk tidur, Chandra menghela nafasnya, dia bersyukur masih hidup dan ditolong Wicaksono, dia tak menyangka, Wicaksono yang sempat disalah pahami dan dia curigai mau menolong dan menyelamatkan nyawanya.
---
Di rumah persembunyian Samsudin, tampak Samsudin sedang bertemu dengan pengawal pribadinya.
Wajah Samsudin terlihat marah saat mendengar penjelasan Jalal, pengawal pribadinya yang mengabarkan bahwa narapidana yang dibayar membunuh Chandra malah mati dibunuh, dan Chandra masih dalam keadaan baik baik saja.
"Bedebaaah !! Kamu harus mencari narapidana lainnya buat bunuh Chandra !! Saya gak mau tau, kamu harus bisa membunuh Chandra di dalam tahanan itu!" ujar Samsudin, penuh kemarahan.
"Dan saya juga gak mau tau, siapa yang menolong Chandra dalam tahanan itu, jika ada yang membantu dia, habisi juga orang itu!!" tegas Samsudin memberi perintah pada Jalal, Pengawal pribadinya itu.
"Baik, Pak. Akan saya cari lagi narapidana yang mau membunuh Chandra." ujar Jalal.
"Bilang sama narapidana itu, jika dia berhasil membunuh Chandra, dia bukan saja mendapatkan bonus uang ratusan juta, tapi masa tahanannya akan saya kurangi!!" ujar Samsudin.
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan semua yang Bapak katakan ini." ujar Jalal.
__ADS_1
"Ya, sudah sana, tinggalkan saya." ujar Samsudin.
Jalal mengangguk memberi hormat, lalu dia pergi meninggalkan Samsudin yang terlihat sangat marah sekali karena Chandra masih hidup, dan pengawalnya gagal membunuh Chandra.
---
Keesokan harinya, para narapidana tengah menjalani kerja bakti, membersihkan rumput yang ada di sekitar area halaman rumah tahanan.
Chandra berkumpul bersama dengan Wicaksono dan juga Gentong serta Pijar, mereka tidak mau saling berjauhan.
Sambil bekerja, mata Wicaksono mengawasi sekitarnya, sesekali dia melihat gerak gerik para narapidana, dia mencari sosok narapidana yang mencurigakan.
Namun, Wicaksono tak melihat, diantara narapidana ada yang mencurigakan, karena merasa aman, lalu dia pun kembali bekerja.
Beberapa menit kemudian, tiba tiba saja Pijar berteriak sekeras kerasnya sambil berlari dan menerjang seorang narapidana yang tengah berdiri di belakang Chandra.
Pijar mengamuk, dia menerjang narapidana, narapidana geram dan marah, dia yang memegang pisau ditangannya langsung menyerang Pijar.
Melihat perkelahian antara Pijar dan narapidana, Wicaksono dengan wajah penuh amarah langsung berjalan cepat menghampiri narapidana yang sedang menyerang Pijar.
Pijar tiba tiba berteriak dan berlari menerjang narapidana, karena dia melihat, narapidana itu memegang pisau dan berjalan mendekati Chandra dan akan menyerangnya.
Chandra tersentak kaget mendengar teriakan Pijar, lalu, dia cepat berbalik badan, Chandra melihat seorang narapidana berdiri dibelakangnya, dan akan menghujamkan pisau pada Chandra.
Pijar langsung menerjang dan menendang narapidana hingga terjajar jajar dan hampir terjatuh. Chandra kaget, melihat Pijar datang langsung menyerang narapidana yang mencoba mau membunuhnya itu.
Pijar langsung menyerang, karena dia mencegah, agar narapidana tak membunuh Chandra. Dalam kondisi stress, tapi ternyata Pijar tahu juga, siapa orang yang mencurigakan, dan diam diam ternyata dia juga menyimak obrolan Chandra dan Wicaksono dalam sel tahanan, karèna Wicaksono pernah menolong Chandra, lalu, dia pun menolong Chandra juga, karena merasa, Chandra teman satu selnya.
Pijar lalu menyerang Sang narapidana, memberinya pukulan dan tendangan.
Wicaksono datang, dia langsung menendang narapidana, lalu, dia pun menyerang dan memukuli narapidana dengan membabi buta.
Pijar terdiam berdiri ditempatnya, dia kaget melihat Wicaksono yang tiba tiba datang dan menghajar sang narapidana. Chandra juga terdiam berdiri, Gentong mendampinginya, mengamankan Chandra.
Wicaksono terus menghajar narapidana hingga terjatuh ke tanah, tak puas hanya sampai di situ, Wicaksono lantas mencekik leher narapidana, lalu, dia mengambil pisau yang tergeletak di tanah, disamping sang narapidana yang mau membunuh Chandra itu.
Wicaksono akan menghujamkan pisau ditangannya, saat tangannya bergerak hendak menusuk perut narapidana, para sipir penjara datang menghampirinya.
"Berhentiii!!" Bentak Sipir Penjara, berdiri di belakang Wicaksono.
Mendengar teriakan sipir penjara, Wicaksono tak jadi menikamkan pisau keperut narapidana yang sudah tak berdaya di tanah.
Wicaksono melepaskan cekikannya di leher narapidana, dia lalu berdiri dan menghadap pada Sipir Penjara.
Dengan sikap tenang dan santainya, Wicaksono memberikan pisau yang ada ditangannya, Sipir penjara mengambil pisau dari tangan Wicaksono.
"Dia mau membunuh teman selku." ujar Wicaksono, berjalan meninggalkan Sipir penjara begitu saja.
"Bawa orang ini, masukkan dia kedalam sel bawah tanah dan tertutup, tempatkan dia dalam penjara khusus, penjara dalam air!!" tegas Sipir Penjara pada anak buahnya.
"Siap!" Jawab anak buah sipir penjara.
Lalu, mereka membawa sang narapidana yang sudah tak berdaya itu, sekali lagi, Samsudin dan Jalal gagal membunuh Chandra.
__ADS_1
Ternyata Chandra di lindungi teman teman satu selnya. Mereka diam diam menjaga Chandra, agar tak terbunuh.
Wicaksono mendekati Pijar dan juga Chandra serta Gentong , dia menatap wajah Pijar.
"Kamu gak kenapa napa?" tanya Wicaksono pada Pijar.
"Gak bos." jawab Pijar, menggeleng gelengkan kepalanya.
"Dan kamu Chandra, bagaimana denganmu?" tanya Wicaksono.
"Aku baik baik saja." ujar Chandra.
"Pijar, terima kasih ya, karena udah nolong aku." ujar Chandra, menatap wajah Pijar.
Pijar menganguk anggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Chandra yang berterima kasih kepadanya, Gentong tersenyum senang, dia bangga pada Pijar yang sudah menyelamatkan nyawa Chandra.
"Kamu hebat Pijar!" ujar Gentong, mengacungkan jempolnya pada Pjjar.
Pijar hanya tersenyum senyum saja mendengar pujian Gentong, Wicaksono menatap lekat wajah Chandra.
"Aku kan sudah ingatkan kamu, hati hati, banyak yang mengincarmu disini, tapi, lagi lagi kamu lengah!" ujar Wicaksono.
"Kalo gak ada Pijar, mungkin kali ini kamu mati dibunuh!" tegas Wicaksono.
"Ya, Pak. Aku minta maaf, memang aku lengah." ujar Chandra mengakui kesalahannya.
"Ya sudah, lebih berhati hati lagi, kalo nggak, pas kami jauh darimu bisa saja kamu terbunuh, karena kami gak bisa menolongmu!" tegas Wicaksono.
"Ya, Pak. Aku paham." ucap Chandra, penuh rasa bersalah.
Chandra menyadari dan mengakui kalau memang dirinya lengah dan lalai, sehingga tak berhati hati dan mudah di serang.
Dalam hatinya juga Chandra bersyukur, karena teman teman satu selnya sangat baik padanya, dan mau menyelamatkan nyawanya.
---
Sekali lagi, Samsudin mengamuk, karena mendapat kabar bahwa orang bayaran Jalal gagal lagi membunuh Chandra.
"Siaalaaaan !! Masa cuma bunuh satu orang kayak Chandra aja gak ada yang bisa? Padahal narapidana , pembunuh pembunuh sadis yang kamu bayar, tapi malah gagal!!" ujar Samsudin penuh amarah.
"Maaf Pak." ujar Jalal.
"Untuk menebus kegagalan ini biar saya saja yang turun langsung membunuh Chandra." ujar Jalal.
"Dengan cara apa kamu membunuhnya? Kamu di luar, sementara Chandra didalam rumah tahanan!!" bentak Samsudin penuh amarah.
"Saya akan mencari cara untuk bisa membunuh Chandra, Pak." ujar Jalal.
"Ah sudahlah, pergi sana, tinggalkan saya!! Pusing dengar omonganmu yang gak jelas itu!!" Hardik Samsudin marah pada Jalal.
"Baik, Pak. Saya permisi." ujar Jalal, memberi hormat pada Samsudin.
Samsudin diam saja dan membuang muka, dia tak mau melihat Jalal, dia kecewa dan marah pada Jalal, karena gagal menjalankan tugas darinya.
Jalal berjalan keluar dari dalam ruangan, meninggalkan Samsudin yang masih memendam amarahnya.
__ADS_1