
Mobil Sedan mungil Pink milik Maya masuk ke pekarangan halaman rumahnya. Mobil lantas berhenti di halaman rumah. Maya lantas segera keluar dari dalam mobilnya, lalu, dia berjalan ke samping mobilnya.
Maya kemudian membuka pintu depan mobil, lalu, dia membantu Gatot untuk keluar dari dalam mobil.
Gatot sudah dibolehkan pulang oleh Dokter yang menangani sakitnya selama di rumah sakit, itu sebabnya, Maya membawa Gatot pulang.
Dengan di papah Maya, Gatot pun berjalan pelan bersama Maya, masuk ke dalam rumahnya.
Maya membantu Ayahnya duduk di sofa ruang keluarga rumahnya, Gatot tampak masih lemah, dia terlihat berhati hati saat duduk, karena dia takut, walau pun sudah mengering, bekas jahitan luka tikaman pisau di perutnya robek.
"Maya ambilkan air minum buat Ayah, ya?" Ujar Maya.
Gatot mengangguk lemah, dia mengiyakan. Lantas, Maya pun bergegas pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum buat Ayahnya.
Gatot bersandar di sofa, wajahnya tampak lega, karena dia sudah kembali kerumahnya. Tak berapa lama, Maya datang sambil membawa gelas berisi air minum.
"Minum, Yah." ujar Maya.
Maya memberikan gelas berisi air minum pada Ayahnya. Gatot mengambil gelas dari tangan Maya, lalu, dia pun segera menghabiskan air yang ada di dalam gelas.
Gatot kemudian memberikan gelas kosong pada Maya, Maya menerimanya, di letakkannya gelas kosong di atas meja.
Ayah mau istirahat di kamar?" tanya Maya.
"Nggak ah, jenuh May. Di kamar lagi kamar lagi. Berminggu minggu Ayah ngeringkuk di kamar rumah sakit, masa sekarang, baru pulang, udah mau di kurung di kamar." ujar Gatot cemberut.
"Bukan di kurung, Yah. Kan biar Ayah istirahat. Pasti Ayah capek, habis perjalanan jauh dari rumah sakit ke rumah." ujar Maya tersenyum.
"Cuma setengah jam. Ayah gak capek, Ayah mau nyantai aja di sini, May." ujar Gatot.
"Ya, udah , iya. Maya gak maksa." ujar Maya tersenyum senang.
"Maya tinggal dulu, ya Yah. Mau ambil pakaian kotor di mobil, Mau Maya cuci." ujarnya tersenyum.
"Ya." Angguk Gatot lemah.
Maya lantas segera pergi keluar dari dalam rumahnya, meninggalkan Gatot sendirian duduk di sofa, ruang keluarga.
---
"Praaaanggg".
Kaca tv hancur berantakan, karena terkena remote control yang di lempar Sutoyo.
Di Sofanya, tampak wajah Sutoyo sangat marah sekali, dia baru saja mendengar berita di televisi, yang mengabarkan tentang kematian seorang Pengusaha besar dan Sukses serta kaya raya, pemilik restoran mewah.
Dan Sutoyo kenal dengan orang yang di maksud si pembaca berita, ya. Dia adalah Joko Sambodo. Pembawa berita di tv mengabarkan tentang kematian Joko Sambodo yang sangat mengenaskan.
Dari tv, Sutoyo tahu, jika Joko mati, karena mobilnya meledak di jalanan dan Joko ikut terbakar di dalam mobil.
"Bedebaaah !! Ini gak bisa di biarkan!! Kayaknya benar kata si Bram !! Anaknya Sanusi mau membalas dendam!!" Ujarnya marah.
"Satu persatu teman teman baikku mati di bunuh, dan pasti pelakunya Yanto, anak Sanusi, seperti yang di bilang Bram padaku!!" Lanjutnya lagi, bicara pada dirinya sendiri.
"Baiklah, Yanto ! Kamu mau menantangku!! Kamu akan ku ringkus, dan ku jebloskan ke penjara!! Kamu akan membusuk di dalam penjara, seperti Bapakmu dulu!!" teriak Sutoyo, mengamuk marah.
Wajah Sutoyo tampak sangat marah pada Yanto, dia tahu, bahwa yang membunuh Joko Sambodo adalah Yanto.
Dan Sutoyo tahu, kematian Joko itu di rekayasa, bukan karena kecelakaan biasa, dan Sutoyo tak bisa menerima kenyataan itu.
Selama ini dia memang masih diam, dan tidak menanggapi aduan Bramantio dengan serius, tapi, setelah kematian Joko, Sahabat baiknya, dia pun menjadi murka.
Sutoyo mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, lalu, dia pun menelpon seseorang.
"Dimana kamu?" tanya Sutoyo, di telepon.
"Besok, kamu dan Rasid temui saya di kantor, pagi! Ada yang mau saya tugaskan buat kalian berdua!!" Ujar Sutoyo, dengan wajah tegang dan serius, di telepon.
Lalu, dia pun menutup teleponnya, lalu, di simpannya ponsel kembali kedalam kantong celananya.
Wajahnya menyeringai geram, dia tampak menahan amarahnya.
---
Keesokan paginya, tampak Gatot tengah bersiap siap pergi, dia sudah berpakaian rapi, siap untuk kembali bertugas di lapangan.
Maya heran melihat Ayahnya sudah rapi, dia pun segera menghampiri Ayahnya.
"Ayah mau kemana?!!" tanya Maya, heran.
"Kerja, May. Ayah mau bertugas lagi di lapangan." ujar Gatot.
"Tapi kan Ayah baru sembuh, belum pulih benar! Dokter izinin Ayah pulang kerumah, dengan syarat, Ayah tetap harus istirahat yang cukup di rumah!" tegas Maya, menjelaskan.
"Ayah baru boleh kerja lagi, kalo Ayah udah benar benar pulih dan sehat !" lanjut Maya, menegaskan.
"Ayah udah sehat, May. Udah kuat kerja!" ujar Gatot, bersungguh sungguh dan serius.
__ADS_1
"May, udah berapa minggu Ayah cuti kerja. Ayah gak bisa berlama lama gak masuk kerja, May. Kasus kasus yang Ayah tangani banyak terbengkalai!" Ungkap Gatot, dengan serius.
"Ayah harus kembali bertugas, agar kasus kasus yang Ayah tangani bisa cepat terungkap!! Ayah juga mau mengungkap kejahatan Bram yang udah membunuh orang tua Yanto !" tegas Gatot, dengan serius.
Maya pun terdiam mendengar penjelasan Ayahnya, dia tak bisa mencegah keinginan dan tekat kuat Ayahnya, untuk mulai bekerja kembali.
"Ya, udah. Kalo Ayah merasa udah sehat dan kuat. Ayah boleh kerja. Tapi, Ayah harus hari hati, jangan banyak bergerak, apalagi lari lari." ujar Maya, mengingatkan Ayahnya.
"Iya, May. Ayah akan hati hati." ujar Gatot tersenyum senang.
Akhirnya, Maya pun mengalah pada Ayahnya, yang sangat keras hati, untuk kembali bekerja dan bertugas di lapangan sebagai penyidik kepolisian.
"Ayah berangkat dulu, ya." ujar Gatot, tersenyum senang.
"Iya, hati hati di jalan, Yah." ujar Maya tersenyum.
Gatot mengangguk, mengiyakan, lantas, dia pun segera berjalan keluar, dari dalam rumahnya, Maya tidak mengikuti Ayahnya keluar rumah, dia berjalan masuk ke dalam kamarnya, untuk bersiap siap berangkat kerja juga.
---
Pagi hari, di ruang kantor Sutoyo, tampak Gunadi dan Rasid berdiri di hadapan Sutoyo, Wajah Sutoyo tampak tegang dan menahan amarahnya.
"Ada serpihan pecahan bom rakitan di mobil Joko, Pak. Dan, kematian Joko, ditetapkan sebagai pembunuhan berencana!" Ujar Gunadi, memberi laporan.
"Anak buah saya sedang mencari tau pelakunya, Pak." jelas Rasid.
"Benar dugaanku !! Joko sengaja di bunuh !!" Bathin Sutoyo berkata
Lalu, Sutoyo menatap tajam wajah Gunadi dan Rasid yang berdiri dihadapannya.
"Kalian berdua saya tugaskan mulai saat ini mengawasi pergerakan Teguh, dan jika Gatot nanti sudah kembali bekerja, kalian awasi Gatot juga!" Tegas Sutoyo.
"Ingat, jangan biarkan mereka berdua mendekati Bramantio dan Jafar, juga Saya !! Kalian harus bisa mencegah tindakan Gatot dan Teguh, untuk menangkap Bramantio!!" Jelas Sutoyo, dengan tegasnya.
"Baik, Pak." ujar Gunadi dan Rasid bersamaan.
"Saya akan menempatkan kalian berdua masuk ke dalam tim Gatot nantinya!" Tegas Sutoyo.
"Dengan melibatkan kalian di dalam penyelidikan Gatot dan Teguh, kalian akan bebas mencari tau, apa saja yang mereka kerjakan dan cari!" lanjut Sutoyo, menjelaskan.
"Siap, Pak!!" Jawab Rasid dan Gunadi, memberi hormat.
"Kalian ikut saya sekarang!" tegas Sutoyo.
Gunadi dan Rasid mengangguk, lalu, mereka berdua segera berjalan, mengikuti Sutoyo yang sudah berjalan terlebih dulu keluar dari dalam kantornya.
---
Gatot tampak tersenyum senang, dia pun bersalaman dengan rekan rekan polisinya. Lalu, Teguh tampak menghampiri Gatot, Teguh sangat senang, karena Gatot sudah kembali kerja dan sehat.
"Senang, melihat Bapak kembali bekerja!" ujar Teguh, dengan tersenyum senang.
Teguh pun memeluk tubuh Gatot, Gatot membalas pelukan Teguh, untuk sesaat, mereka berdua berpelukan.
Kemudian, Gatot melepaskan pelukan Teguh dari tubuhnya, dengan serius, Gatot menatap wajah Teguh.
"Sejauh mana kamu menyelidiki kasus pembunuhan kita?!" tanya Gatot, dengan wajah seriusnya.
"Masih belum menemukan titik terang, Pak. tapi..." ujar Teguh, ragu.
"Tapi apa?" tanya Gatot, heran.
Teguh pun menarik tangan Gatot, mereka lantas berdiri di pojokan ruangan, tempat yang sepi.
Melihat Gatot dan Teguh menyingkir ke pojokan ruangan, rekan rekan polisi pun membubarkan diri, dan mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing masing, lantas, Teguh pun berbisik di telinga Gatot.
"Gavlin berhasil membunuh Joko Sambodo, Pak. Dia meledak bersama mobilnya di jalan." bisik Teguh, pelan.
Wajah Gatot tampak tersenyum puas, dia senang, karena Gavlin berhasil membunuh Joko Sambodo, salah satu pelaku yang meracuni Bapak Gavlin hingga mati di dalam penjara.
"Apa saja yang kalian kerjakan selama ini !! Kenapa menangkap hanya satu orang saja sampai saat ini kalian gak becus!!" Bentak Sutoyo marah.
Gatot dan Teguh kaget, karena tiba tiba Sutoyo, Kepala Kepolisian datang dan marah marah menghampiri mereka berdua.
"Apa aja yang kamu lakukan Gatot?!!" Bentak Sutoyo.
"Maaf, Pak. Pak Gatot baru sembuh dari sakitnya." jelas Teguh, membela Gatot.
"Perduli setan!! Seharusnya !! Kamu jangan berlama lama bersantai dirumah sakit!! Kamu ini petugas Polisi !! Ada kasus yang wajib cepat kamu ungkap!! Karena seluruh warga dan media menunggu hasil kerja kita!!" Bentak Sutoyo.
"Kalo kalian gak bisa juga menangkap pelaku pembunuhan itu!! Harkat martabat dan nama baik kepolisian akan jelek dan cacat!! Hilang kepercayaan orang orang pada Polisi nanti!!" Bentak Sutoyo marah.
Gatot hanya diam, wajahnya tampak geram dan menahan amarahnya, Gatot sangat membenci Sutoyo, karena selama ini, Gatot tahu, permainan kotor Sutoyo dan juga segala macam kejahatan tersembunyi Sutoyo.
Gatot hanya menunggu waktu saja, untuk mengungkap semuanya, dan memenjarakan Sutoyo, membuatnya terhina di depan umum.
"Karena kalian gak becus mengungkap kasus pembunuhan yang selama ini terjadi, dan baru saja terjadi lagi kasus pembunuhan pengusaha restoran, aku akan menugaskan dua polisi dari divisi anti ******* untuk membantu kalian berdua!!" Tegas Sutoyo.
__ADS_1
Gatot menundukkan kepalanya, dia tersenyum sinis, dia tahu, itu hanya permainan Sutoyo saja. Namun, Gatot tak menolak, apalagi membantahnya.
Teguh juga memilih diam, dia juga benci sama Sutoyo, setelah dia mengetahui sepak terjang Sutoyo selama ini dari Gatot, saat Gatot cerita padanya di rumah sakit.
"Terserah anda, di sini, anda kan bosnya, anda berhak menentukan apapun juga!" tegas Gatot dengan sinis.
Sutoyo tampak geram mendengar perkataan Gatot, tapi dia menahan diri, untuk tidak menyerang dan memukul Gatot, dia sadar diri, bahwa dia Kepala Polisi.
Dia tak ingin dipermalukan dan di pandang rendah oleh anak buahnya, karena memukul Gatot.
"Gunadi, Rasid, kemari kalian!" Panggil Sutoyo, berteriak.
Tak lama kemudian, datanglah Rasid dan Gunadi, mereka berdua berdiri di samping Sutoyo.
"Mulai saat ini, kalian masuk di timnya Gatot, bantu Gatot, menangkap penjahat itu!!" Tegas Sutoyo.
"Siap, Pak!" Jawab Gunadi dan Rasid bersamaan.
"Kacung kacung Sutoyo, yang suka menjilat pantat Sutoyo demi jabatan." Ujar Bathin Gatot.
Gatot tersenyum sinis, dia tak mau bersalaman dengan Gunadi dan Rasid, begitu juga Teguh. Mereka tahu, kalau Gunadi dan Rasid orang dekat dan orang kepercayaan Sutoyo.
"Ingat, dalam tim ini, aku komandannya!! Aku yang menentukan semuanya!! Kalian gak boleh dan gak bisa bertindak tanpa persetujuan dariku!! Tegas Gatot, dengan wajah yang serius.
"Oke." Jawab Rasid cuek.
"Sip, beres." Jawab Gunadi santai.
"Ya, sudah, kalian kembali bekerja, segera ungkap kasus itu!! Lapor ke saya hasilnya!!" Tegas Sutoyo.
Rasid dan Gunadi mengangguk hormat, lalu, Sutoyo pun pergi meninggalkan mereka berempat.
Gatot lantas beranjak pergi, di ikuti Teguh.
"Mau kemana?" tanya Gunadi, heran.
Dia heran, karena Gatot dan Teguh pergi begitu saja, tanpa mengajak dia dan Rasid.
"Kerjalah!!" tegas Gatot, sambil terus berjalan.
Gatot berjalan keluar dari dalam kantornya, di ikuti Teguh, Rasid dan Gunadi pun bergegas pergi, mereka segera mengikuti Gatot dan Teguh.
---
Sutoyo masuk kedalam ruang kantornya, dia lantas duduk di kursi meja kerjanya, wajahnya tampak masih marah.
Sutoyo lantas mengambil ponselnya, lalu, dia pun menghubungi Bramantio.
"Kamu dimana?!" Tanya Sutoyo, bicara di telepon.
"Di hotel, ada apa?!" tanya Bramantio, dari seberang telepon.
"Sebaiknya, kamu tetap bersembunyi, untuk sementara waktu, jangan kemana mana dulu, jika gak ada yang penting!" tegas Sutoyo, di telepon.
"Kenapa rupanya?!" tanya Bramantio, heran, dari seberang telepon.
"Kamu gak dengar berita ?" tanya Sutoyo, di telepon.
"Nggak, aku gak liat tv." Jawab Bramantio, di seberang telepon.
"Joko Sambodo, mantan sipir penjara, sahabat baikku mati di bunuh !!" tegas Sutoyo, dengan wajah serius, ditelepon.
"Apa?!! ujar Bramantio kaget, dari seberang telepon.
"Aku dapat kabar dari anak buahku, mereka menemukan bukti bom rakitan di mobil Joko, aku yakin, Yanto yang meledakkan mobil Joko!!" tegas Sutoyo geram, di telepon.
"Dari mana Yanto tau, tentang Joko? Selama ini, kan, kamu menutup rapat soal keterlibatan Joko membunuh Sanusi!!" tegas Bramantio, dari seberang telepon.
"Apa Wijaya yang membocorkannya?!" Lanjut Bramantio, dari seberang telepon.
"Bukan! Wijaya juga mati di bunuh, dia di tembaki senapan mesin di kantornya, dan kantornya di ledakkan juga!!" Ujar Sutoyo, menegaskan, di telepon.
"Biadaaaab!! Kalo gitu, memang benar, pelakunya Yanto, anaknya Sanusi !!" tegas Bramantio, dari seberang telepon.
"Karena itu, aku menelponmu, memberi tahu, agar kamu hati hati dan bersembunyi!" Ujar Sutoyo, di telepon.
"Aku akan mencari tau soal Yanto, aku yakin, aku pasti menemukan berkas berkas laporan tentang masa lalu Yanto ! Dengan begitu, aku bisa mengungkap siapa Yanti sebenarnya !" tegas Sutoyo, di telepon.
"Ok." ujar Bramantio, dari seberang telepon.
Lalu, Sutoyo pun mematikan ponselnya, lalu, dia meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Wajah Sutoyo tampak sangat marah sekali.
Dia kali ini tak bisa berdiam diri, dia pun berniat, akan keluar dari sarangnya, untuk menghabisi Yanto, anak Sanusi, tersangka utama pembunuh Joko Sambodo dan juga Wijaya.
Sutoyo yakin, semua pembunuhan dan peledakan yang terjadi, atas perbuatan Yanto, dan dia tak bisa berdiam diri saja.
Dia akan meringkus Yanto dan memberinya pelajaran. Sutoyo bertekat, akan membunuh Yanto.
__ADS_1