
Wijaya tampak sedang menerima telepon dari seseorang yang tak dia kenal. Wajah Wijaya tampak tegang dan menahan marah di telepon.
"Kamu jangan main main denganku!!" Bentak Wijaya ditelepon.
"Ini serius Wijaya. Jika kamu mau tau kebenaran tentang kematian anakmu Linda, datanglah ke taman kota malam ini, aku akan memberitahu semuanya padamu!" Ujar Seseorang dari seberang telepon.
"Apa maksudmu?! Kenapa gak bilang saja langsung di telpon ini!" Bentak wijaya marah di telpon.
"Aku mau, kamu datang menemuiku Wijaya ! Dan jika kamu datang, kamu akan tau, siapa pembunuh anakmu !" Ujar Seseorang bicara ditelepon.
"Baik, jam berapa kamu mau kita bertemu?" Tanya Wijaya di telepon.
"Aku tunggu jam 9 malam, datanglah sendirian." Ujar Seseorang dari seberang telepon.
Lalu Si Penelpon misterius mematikan ponselnya.
"Hallo...?!! Hallo !!" Bentak Wijaya di telepon.
Namun telepon sudah terputus, Wijaya mencoba menelpon lagi, tapi telepon tersebut sudah tak dapat dihubungi.
Wijaya meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya, wajahnya tampak kesal dan menahan marah.
Dia pun berfikir, apa maksud dari si penelpon misterius yang mengatakan kebenaran tentang kematian anaknya.
Rasa ingin tahunya pun muncul, dia ingin mengungkap kebenaran atas kematian anaknya, sebab, sebenarnya dia juga merasa janggal dengan kematian anaknya yang di nyatakan mati karena kecelakaan.
Wijaya pun mempersiapkan dirinya untuk bertemu si Penelpon misterius malam nanti, agar dia mendapatkan titik terang yang sebenarnya atas kematian anaknya, Linda.
---
Gatot sedang mundar mandir berdiri didepan rumah Gavlin, wajahnya tampak tegang.
Gatot sengaja datang kerumah Gavlin untuk bertemu Gavlin dan memberi peringatan pada Gavlin.
Gavlin yang baru pulang kaget melihat ada mobil parkir di depan rumahnya, mobil itu parkir di pinggir trotoar jalanan.
Gavlin masuk ke halaman rumahnya, dia pun tersenyum kecil saat melihat Gatot berdiri mundar mandir di teras rumahnya.
"Apa tujuan Om datang kerumahku?" Tanya Gavlin santai dan cuek.
Gavlin menghampiri Gatot. Melihat Gavlin, Gatot pun mendekatinya. Mereka lantas saling berhadapan.
"Aku minta padamu, tinggalkan Maya." Ujar Gatot.
"Maaf Om, aku gak bisa." Ujar Gavlin dengan sikap tenang dan santainya.
"Apa kamu gak sadar, kalo kamu sedang menjerumuskan Maya dalam lubang bahaya?" Ujar Gatot kesal.
"Selama aku hidup, Maya aku jamin aman." Ujar Gavlin tenang.
"Bagaimana bisa aman jika kamu tetap mau balas dendam ?" Ujar Gatot kesal.
"Itu urusanku !" Jawab Gavlin menegaskan.
"Jika kamu ingin tetap bersama Maya, lupakan balas dendammu Yanto !" Bentak Gatot.
"Aku udah bilang sama Om, jangan ikut campur urusanku ! Jangan coba coba menghentikanku untuk membalas dendam !" Bentak Gavlin.
Gavlin pun mulai marah pada Gatot, dia marah sebab Gatot terus menerus memintanya agar tidak membalas dendam.
"Balas dendam memang dapat memuaskan hatimu, tapi itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik." Ujar Gatot.
"Orang lemah, balas dendam. Orang kuat, memaafkan. Orang cerdas, mengabaikannya." Ujar Gatot.
"Memaafkan kata Om? Aku harus memaafkan orang yang udah memfitnah Bapakku dan membuat bapakku bunuh diri karena gak kuat menanggung rasa malu?! Bentak Gavlin.
"lantas, aku harus juga mengabaikan orang yang sudah membunuh ibuku dan orang orang yang sudah membakar rumahku dan membuatku sengsara !!" Bentak Gavlin.
"Aku gak akan pernah memaafkan mereka !!" Bentak Gavlin penuh emosi marah.
Tatapan matanya tajam, dia menahan amarahnya pada Gatot.
__ADS_1
Gatot menarik nafasnya dalam dalam.
"Jangan buang waktu untuk membenci dan balas dendam Yanto. Setiap orang yang menyakiti pada akhirnya akan menerima karmanya sendiri." Ucap Gatot.
"Karma mereka datang melalui tanganku !!" Bentak Gavlin marah.
"Aku bisa baik buat orang yang baik, dan bisa lebih jahat buat orang yang lebih jahat." Lanjut Gavlin penuh amarah.
"Ingatlah, bahwa balas dendam adalah bukan hanya menyakiti orang yang kamu benci, tapi juga menyakiti semua orang, bahkan dirimu sendiri." Ujar Gatot.
Gatot berusaha mengingatkan Gavlin dan menasehatinya agar tidak berkeras hati untuk membalas dendam.
"Jangan menguji monster dalam diriku Om !" Bentak Gavlin.
Mata Gavlin memerah, dia sangat marah saat ini pada Gatot.
"Jika kamu berkeras untuk tetap membalas dendam, dengan berat hati, kamu akan berhadapan denganku, aku akan menghalangimu berbuat kejahatan." Ujar Gatot.
"Aku menyukaimu Om, tapi mendengar semua ucapanmu itu, aku jadi ingin membunuhmu !" Ujar Gavlin geram.
"Silahkan Yanto ! Aku siap menghadapimu." Ujar Gatot tersenyum.
"Aku hanya tak ingin melihat Maya bersedih karena dia tau, pria yang sangat di cintainya ternyata pembunuh !" Ujar Gatot sinis.
"Jangan bawa bawa nama Maya dalam hal ini !" Bentak Gavlin marah.
"Kamu Ingat Yanto? Siapa Maya? Dia anak yang hidup sebatang kara, bapaknya mati karena over dosis, ibunya bunuh diri karena stress di kejar hutang sama rentenir." Ujar Gatot.
"Dan Bapakmu lah yang menolong Maya, Bapakmu yang membawa Maya untuk tinggal bersama kalian, karena itu Maya tinggal dirumahmu dulu!" Ujar Gatot.
Gavlin terdiam, dia tak tahu sebelumnya tentang Maya, dan tentang kedua orang tua Maya.
"Dari mana Om tau?" Ujar Gavlin meredakan amarahnya.
"Aku Polisi Yanto, mudah bagiku mencari tau tentang semua itu." Ujar Gatot tersenyum.
"Lupakanlah dendammu, demi Maya." Ujar Gatot.
"Kenapa kamu ketawa ?!" Tanya Gatot heran.
"Oh, Maaf Om, Maafkan tawaku. Aku punya kelainan." Ujar Gavlin tertawa kecil.
Gavlin berusaha menahan tawanya, Gatot tampak kesal melihat sikap Gavlin yang mentertawakan dirinya.
"Jangan salahkan aku, jika aku harus membunuhmu untuk menghentikan tindakanmu nanti." Ujar Gatot mengancam.
"Silahkan Om, jika kamu bisa, bunuh aku ! Dan aku gak akan membunuhmu. Aku hanya akan menyakitimu dengan sangat buruk!" Ujar Gavlin geram.
Matanya melotot menatap geram wajah Gatot yang tampak kesal tersebut.
"Aku bahagia bertemu kembali dengan Maya, gadis yang sangat aku cintai selama hidupku, dan aku belum pernah bahagia semenit pun selama hidup." Ungkap Gavlin.
"Jadi, jangan usik kebahagiaanku dengan menyuruhku menjauh dari Maya!" Bentak Gavlin.
"Kamu gak akan pernah berhasil membalas dendam Yanto ! Sebelum kamu membalas dendam, musuh musuhmu sudah menghancurkanmu lebih dulu !" Ujar Gatot kesal dan marah.
"Para bedebah itu sejak dulu sudah menghancurkanku begitu parah ! Karena itu, aku gak bisa mereka hancurkan lagi !!" Bentak Gavlin penuh amarah.
"Jangan menjadi monster Yanto." Ujar Gatot.
Lantas Gatot pun pergi meninggalkan Gavlin yang tersenyum sinis memandangi kepergian Gatot.
"Ya Om, aku menyadari kalo didalam diriku ada monster, dia selalu berteriak di dalam kepalaku, agar aku segera membunuh para bedebah itu !" Gumam Gavlin bicara dengan dirinya sendiri.
Gavlin lalu masuk ke dalam rumahnya.
---
Malam itu, Wijaya pun memenuhi janjinya pada Penelpon misterius, dia tepat waktu datang ke taman kota.
Dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, depan pintu masuk taman kota.
__ADS_1
Mata Wijaya menyusuri seluruh tempat, dia mencari keberadaan si Penelpon misterius.
"Selamat datang Wijaya !" Ujar Pria Misterius.
"Wijaya kaget, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, dan ke belakang, mencari cari arah suara orang tersebut.
Namun dia tak melihat siapa siapa di situ, hanya suara yang terdengar keras dan bergema.
"Siapa kamu, tunjukkan dirimu, jangan sembunyi dariku !" Teriak Wijaya marah.
"Kamu yang bilang mau ketemu aku disini, kenapa kamu gak tunjukkan batang hidungmu?!" Bentak Wijaya marah.
"Santai Wijaya. Aku memang mau bertemu kamu, tapi bukan berarti pertemuan kita saling tatap muka." Ujar Pria misterius.
Wijaya kesal, sebab hanya suara saja yang dia dengar , tak ada orangnya.
"Jika kamu gak mau perlihatkan dirimu, aku pulang sekarang juga!" Bentak Wijaya.
"Dan kamu gak akan pernah tau siapa yang membunuh anakmu!" Ujar Pria misterius.
"Apa maksudmu? Anakku mati karena kecelakaan, itu kata Polisi ! Apa maksudmu bilang kalo anakku dibunuh?!" Teriak Wijaya penuh amarah.
"Polisi gak bilang kamu, karena mereka belum tau pembunuhnya, mereka hanya tau, bahwa kecelakaan itu pembunuhan terencana, tabrakan itu sudah ada yang atur sebelumnya." Ujar Pria misterius.
Wijaya terhenyak kaget mendengar perkataan Pria misterius, wajah Wijaya semakin marah mengetahui kalau anaknya ternyata di bunuh, dan bukan mati karena kecelakaan biasa.
"Siapa yang membunuh anakku?! Siapaaaa?!!" Teriak Wijaya melampiaskan amarahnya.
"Mike ! Mike anaknya Bramantio yang membunuh Linda !" Ujar Pria misterius.
Wijaya terhenyak kaget mengetahui, kalau Mike yang membunuh anaknya.
Wijaya pun semakin marah, mukanya merah padam karena amarahnya yang meluap dan berapi api.
"Miiiikkkeeee !!" Teriak Wijaya penuh amarah di dadanya.
"Aku akan membunuhmu Mike ! Aku akan membalaskan perbuatanmu!!" Teriak Wijaya penuh emosi amarah.
Wijaya lantas pergi dari taman kota tersebut dengan membawa kemarahan di hatinya.
Pria misterius sengaja tak memberi tahu Wijaya, jika Mike sudah mati terbunuh.
Dia ingin, Wijaya kalap dan mendatangi Bramantio.
Sosok Pria misterius pun turun dari atas pohon yang tinggi dan rindang.
Setelah dia berada ditanah, dia melepaskan mikropon yang ada di bajunya.
Dia sengaja menggunakan mikropon, agar suaranya berubah dan terdengar keras menggema.
Sosok Pria misterius membuka topeng hitamnya, ternyata sosok Pria misterius tersebut adalah Yanto.
Ya, dia Yanto dengan rambutnya yang gondrong, berkumis dan berjenggot tebal.
Yanto tersenyum sinis melihat kepergian Wijaya yang penuh amarah itu.
Dia tahu, Wijaya pasti akan mendatangi Bramantio untuk menuntut balas atas kematian Linda, putri tersayangnya.
Yanto atau Gavlin sengaja memberitahu Wijaya tentang kematian Linda dan pembunuh Linda, agar Wijaya murka.
Dia sengaja mengadu domba Wijaya dan Bramantio, agar mereka berdua saling baku hantam dan saling bunuh.
Yanto menyeringai buas, matanya tajam menatap jauh ke depan, wajahnya memerah menahan amarahnya.
Dadanya bergemuruh karena emosi amarahnya yang sudah meluap luap.
Yanto pun lantas pergi meninggalkan taman kota tersebut.
Dia kembali kerumahnya, dengan senyum kemenangan.
Ya, dia merasa dirinya menang, sebab berhasil menghasut dan memperdaya Wijaya, agar membalas dendam terhadap Bramantio.
__ADS_1