VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kamera Mini dalam Patung


__ADS_3

Di dalam mobil sedan mewahnya, tampak Yanto sedang mengintai rumah Bramantio.


Dia diam menunggu di dalam mobilnya.


Setengah jam dia bersabar, akhirnya yang dia tunggu muncul juga.


Mobil melaju keluar dari halaman rumah mewah Bramantio, Yanto melihat didalam mobil, Masayu menyetir mobilnya tersebut.


Dengan cepat, Yanto pun segera menjalankan mobilnya. Dia mengikuti mobil Masayu.


Masayu terus menyetir mobilnya, mobilnya melaju menyusuri jalan raya, dia tak tahu sedang di ikuti Yanto dari belakang.


Mobil Yanto terus mengikuti mobil Masayu, wajah Yanto menatap tajam jauh ke depan, pada mobil Masayu.


Saat ini, Yanto sedang mengawasi Masayu, dia menjadikan Masayu sebagai target berikutnya untuk dibunuh.


Yanto bertekat membunuh Masayu, karena Masayu menebar ancaman padanya, Masayu dengan jelas jelas di saksikan Yanto melalui cctv ingin menuntut balas pada Yanto.


Yanto sambil menyetir mobilnya tersenyum menyeringai , dia terus mengikuti Masayu.


Mobil Masayu masuk ke pelataran hotel, lalu melaju menuju halaman depan lobby hotel.


Yanto menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tidak jauh dari hotel tersebut.


Dari dalam mobilnya, Yanto terus mengintai Masayu.


Sesaat kemudian, muncul Jafar keluar dari dalam lobby hotel. Masayu tersenyum manis menyambutnya.


Yanto pun kembali tersenyum menyeringai, melihat Masayu bertemu dengan seorang pria. Yanto menduga, Masayu tengah berselingkuh dibelakang Bramantio.


Yanto sama sekali belum mengenali sosok Jafar tersebut, sebab, jarak antara dia dan Jafar serta Masayu sangat jauh , jadi pandangannya tidak jelas melihat Jafar.


Yanto kernyitkan keningnya, dia berfikir, siapa Pria yang di temui Masayu di hotel.


Jafar masuk ke dalam mobil di ikuti Masayu yang duduk di jok depan, belakang stir mobilnya.


Jafar cipika cipiki dengan Masayu di dalam mobil. Lantas, mobil Masayu pun berjalan, keluar dari halaman hotel.


Yanto bersiap siap, begitu dia melihat mobil Masayu keluar hotel, dia pun langsung menjalankan mobilnya, mengikuti mobil Masayu lagi.


"Kita mau kemana sayang?" Ujar Jafar tersenyum mesra memandang Masayu yang menyetir mobilnya.


"Toko Pakaian, aku mau belikan beberapa setelan pakaian buat kamu." Ujar Masayu tersenyum sambil terus menyetir mobilnya.


"Oke, aku ikut kemana pun kamu bawa aku pergi." Ujar Jafar tersenyum nakal.


Jafar lantas meletakkan tangan kanannya di atas paha Masayu yang memakai rok pendek itu.


Jafar mengelus elus lembut paha Masayu, Masayu gelisah sambil menyetir.


"Ah, jangan gitu Far, aku terangsang jadinya." Ujar Masayu sambil terus menyetir.


"Ya gak apa apa kan, tinggal kamu lampiaskan saja didalam mobil." Ujar Jafar tersenyum genit.


"Ngaco kamu, bisa gak focus aku nyetir mobilnya, lagian, gimana bisa main sambil nyetir mobil, ada ada aja kamu." ujar Masayu tertawa.


"Bisa aja, kalo hanya aku yang bekerja, dan kamu tetap menyetir mobil." Ujar Jafar tersenyum nakal menatap wajah Masayu.


Masayu semakin jengah, karena pahanya terus di elus elus lembut tangan Jafar.


Duduknya mulai gelisah, dia semakin terpancing dengan perlakuan Jafar.


"Udah Far, nanti kita malah kecelakaan." Ujar Masayu.


Jafar tertawa, dia lantas menghentikan perbuatannya, dia mengangkat tangan kanannya dari atas paha Masayu.


Di belakang mereka, mobil Yanto masih terus mengikuti mobil Masayu.


Mobil Masayu masuk ke halaman sebuah Toko Pakaian kelas atas, Toko tersebut sangat mewah.


Setelah dia memarkirkan mobilnya di halaman parkir toko pakaian, Masayu dan Jafar pun keluar dari dalam mobil.


Mobil Yanto masuk ke halaman toko pakaian, dia lantas memarkirkan mobilnya tidak jauh dari parkiran mobil Masayu.


Yanto cepat mengambil ponselnya dari dalam dashboard mobil.


Dia membuka aplikasi kamera yang ada di ponselnya.

__ADS_1


Yanto bersiap siap sambil memegangi ponselnya. Masayu dan Jafar berjalan dari mobilnya menuju teras lobby toko pakaian.


Yanto pun memotret Masayu dan Jafar yang berjalan saling merangkul, masuk ke dalam toko pakaian mewah tersebut.


Lalu, Yanto pun keluar dari dalam mobilnya. Sesaat, dia merapikan topi, kumis dan jenggotnya, dia melihat dirinya sekilas di kaca spion depan mobilnya.


Setelah dia rasa semua sudah aman dan rapi, Yanto pun bergegas masuk ke toko pakaian.


Masayu dan Jafar berjalan dengan masih saling merangkul mesra layaknya sepasang kekasih yang di mabuk asmara.


Yanto berpura pura menjadi pelanggan yang ingin membeli pakaian.


Yanto berpura pura melihat lihat pakaian yang terpajang, sambil matanya melirik pada Masayu dan jafar yang asyik memilih milih pakaian buat Jafar.


Yanto semakin mendekati Masayu dan Jafar, Masayu tak mengenali wajah Yanto, begitu juga Jafar.


Dan Yanto juga belum menyadari, jika Pria yang bersama Masayu adalah Jafar, orang yang selama ini paling dia cari, dia incar dan paling dia buru.


Diam diam, Yanto memotret semua kegiatan yang dilakukan Masayu dan Jafar di toko pakaian tersebut.


---


Ronald masuk ke dalam ruang kerja Bramantio, lalu dia menghampiri Bramantio yang sedang serius membaca berkas laporan perusahaannya di meja kerjanya.


"Kira kira, kapan abang bisa kasih aku mobil ? Aku butuh mobil buat cari orang yang membunuh Mike, anakmu dan juga Samsul, abangku." Ujar Ronald dengan sikap cueknya.


Ronald berdiri di depan meja kerja Bramantio, dia menatap wajah Bramantio yang tampak serius membaca berkas laporan perusahaannya.


"Bang, dengar gak sih aku ngomong!" Bentak Ronald sambil memukul meja kerja.


Ronald kesal , dia merasa di cuekin sama Bramantio.


Bramantio tersentak kaget , karena Ronald tiba tiba memukul meja kerjanya.


Bramantio lantas mengambil kunci mobil dari dalam laci meja kerjanya.


"Ini kunci mobilnya, kamu bisa ambil mobilnya di parkiran utama." Ujar Bramantio jengkel.


"Gitu dong. Kalo ada mobil kan aku bebas mau kemana mana." Ujar Ronald senang.


Dia mengambil kunci mobil yang diletakkan Bramantio di atas meja kerjanya.


"Nyantai aja bang, aku pasti akan menjaga mobil itu, aku gak bakalan biarin mobilnya lecet sedikitpun." Ujar Ronald dengan angkuhnya.


Bramantio menghela nafasnya, lantas dia melanjutkan membaca berkas laporan perusahaannya.


Ronald melihat patung berbentuk sosok Bramantio yang terpajang di pinggir meja kerja.


Ronald memegangi patung tersebut, ada kekaguman di wajahnya melihat patung tersebut.


Menurut pandangan Ronald, patung itu sangat sempurna, benar benar mirip dengan Bramantio.


Ronald pun lantas mengambil patung tersebut, dia memandangi patung tersebut.


Matanya tampak tajam mengamati patung tersebut. Dia terkagum kagum dengan kesempurnaan patung itu.


"Benar benar unik, sempurna, tanpa cacat." Ujar Ronald kagum.


Bramantio melihat patung dirinya di tangan Ronald, dia kesal, sebab Ronald berani mengambil patung tersebut tanpa izin darinya lebih dulu.


"Letakkan patung itu Nald, nanti malah jatuh dan hancur kamu pegangi begitu." ujar Bramantio jengkel.


"Nyantai aja Bang, patung ini gak bakalan jatuh, aku cuma mau liat liat sebentar, soalnya, patung ini menarik perhatianku." Ujar Ronald cuek.


"Patung ini benar benar sempurna, seperti kamu bang, persis, gak ada beda." ujar Ronald terkagum kagum.


"Ya jelas, patung itu yang buat seniman pematung terkenal, patung itu diberikan padaku sebagai hadiah katanya." Ujar Bramantio tersenyum penuh kebanggaan.


Ronald tak menanggapi perkataan Bramantio, Bramantio jengkel karena di abaikan Ronald.


Ronald asyik mengamati patung yang ada di tangannya itu, Mata nya pun lantas tertuju pada mata patung tersebut.


Dia mengamati kedua mata patung tersebut, dahinya berkerut, seperti ada sesuatu yang dia lihat dari mata patung tersebut.


Ronald melihat lihat seluruh patung tersebut, dari kepala hingga ke ujung kaki patung.


Matanya terhenti pada bagian perut patung, dia lantas mengangkat baju yang dipakai patung.

__ADS_1


Ronald menemukan sesuatu, dia merasa aneh dengan bentuk perut patung tersebut.


Di bagian pusar patung, seperti ada titik kecil seperti tombol.


Ronald lantas menekan titik kecil seperti tombol di pusar patung tersebut, tiba tiba perut patung terbelah kecil, dan keluarlah mikropon mini dari dalam perut patung, Ronald kaget melihatnya.


Ronald lantas mengambil mikropon mini tersebut, lalu dia letakkan diatas meja kerja Bramantio.


Bramantio tak tahu, apa yang sedang dilakukan Ronald pada patung dirinya.


Ronald membolak balik patung, dia mencari cari, kini tatapan matanya bukan lagi tatapan kagum, tapi tatapan penuh curiga.


Ya, Ronald curiga, ada sesuatu yang diletakkan dalam patung tersebut selain mikropon mini yang dia temukan tadi.


Mata Ronald kembali tertuju pada mata patung, dia pun menatap tajam mata patung, mengamatinya dengan seksama.


Dia mendekatkan wajahnya ke mata patung, lalu dia tersenyum menyeringai, dia sudah menemukan apa yang dia cari cari tadi.


Dengan cepat, dia mengambil pisau lipatnya dari dalam kantong celananya.


Dengan pisau ditangannya, Ronald mencongkel kedua mata patung.


Bramantio marah melihat Ronald mencongkel paksa mata patung dirinya.


"Apa apaan kamu Nald!! Kenapa kamu rusak patungku !!" Bentak Bramantio marah.


Ronald tak perduli, dia cuek dan mengabaikan Bramantio yang marah dan membentaknya.


Kedua mata patung terlepas, terlihatlah dengan jelas, bahwa kedua mata patung tersebut adalah kamera cctv mini yang sengaja di pasang di dalam mata patung.


Ronald meletakkan kedua bola mata patung di atas meja kerja, lalu dia juga meletakkan patung yang dia pegangi ke atas meja kerja Bramantio.


"Lihat, apa yang baru aja aku temukan dalam patungmu ini !" Tegas Ronald sinis.


"Apa maksudmu?" Tanya Bramantio marah.


Liat ini, apa ini bang Bram?" Ujar Ronald.


Ronald menunjukkan mikropon mini beserta kamera cctv mini yang ditanam di bola mata patung.


Bramantio pun mengambil dan melihat mikropon mini serta kedua bola mata patung.


Bramantio tersentak kaget, saat dia melihat di kedua mata patung, ada kamera cctv mini.


"Keparaaaat." Ujar Bramantio geram dan penuh dengan amarah didadanya.


Bramantio dengan geram meremas mikropon mini dan kamera cctv mini dengan tangannya.


"Kamu benar benar udah diperdaya musuhmu itu Bang Bram." ujar Ronald sinis.


Bramantio terdiam menahan marahnya, dia tak menyangka, jika selama ini dirinya di intai melalui cctv mini yang disembunyikan dalam patung.


"Selama ini, musuhmu udah mengintaimu, dan dia pasti udah tau, apa aja yang kamu bahas di dalam ruangan ini." ungkap Ronald.


"Dia sengaja menggunakan mikropon mini buat mencuri dengar semua omonganmu, bang." Ujar Ronald sinis.


Bramantio diam, dia masih geram dan menahan emosi marahnya.


"Siapa tadi kamu bilang yang kasih patung ini sebagai hadiah buat abang?" Tanya Ronald.


"Seniman pematung lilin. Yanto namanya, dia yang membuat dan memberikan patung itu padaku." Ujar Bramantio geram.


"Aku menyuruhnya membuat patung lilin Dewi Hera yang ada di lobby hotelku." Ungkap Bramantio.


"Dan dia buatkan patung sosok diriku sebagai bonus dan hadiah untukku." Ujar Bramantio menjelaskan.


"Berarti, seniman itu yang sengaja menyembunyikan kamera cctv mini dan mikropon mini dalam patungmu itu." ujar Ronald menegaskan.


"Yanto?! Tapi, apa mungkin?!" Ujar Bramantio.


Bramantio pun lantas terdiam, wajahnya tampak sedang berfikir, dia memikirkan Yanto, orang yang membuatkannya patung.


Bramantio berfikir, jika memang Yanto sengaja menyembunyikan kamera mini tersebut, apa tujuannya? Apa Yanto ada masalah atau juga menyimpan dendam pada dirinya.


Jika memang ada masalah, lantas masalah apa? Sebab, selama ini, Bramantio merasa tak kenal Yanto.


Dia baru kenal Yanto saat dia menyuruh dan membayar Yanto membuat patung Dewi Hera.

__ADS_1


Bramantio tampak berfikir keras, ada keraguan di hatinya untuk mencurigai dan menuduh Yanto.


Sebab menurutnya, sosok Yanto bukanlah seorang pembunuh, dia hanya seorang seniman di mata Bramantio.


__ADS_2