
Di hari berikutnya, terlihat Chandra berjalan keluar dari dalam rumah tahanan, Dia berdiri di depan rumah tahanan, wajahnya tersenyum senang karena telah menghirup udara kebebasan, dan tak tinggal lagi di dalam penjara yang pengap dan sempit.
Andre yang sudah menunggu dan menjemputnya, segera menghampiri Chandra yang berdiri tersenyum di depan rumah tahanan.
Chandra di bebaskan tanpa syarat oleh pengadilan tinggi atas kebijakan Samuel, dan Andre benar benar memenuhi janjinya pada Gavlin, dia meminta tolong Samuel, sehingga Chandra di bebaskan dan namanya di bersihkan dari segala macam tuduhan yang sempat dia terima.
"Apa kabar, Chan?" ujar Andre, tersenyum senang menatap wajah Chandra yang juga terlihat senang itu.
"Kabar Baik, Ndre." ucap Chandra tersenyum senang.
Lantas , mereka berdua saling berjabat tangan dan berpelukan, layaknya sepasang sahabat yang baru bertemu kembali.
"Terima kasih, Ndre. Karena udah membebaskanku dari rumah tahanan ini." ujar Chandra, sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Andre.
"Jangan berterima kasih padaku, Chan. Aku hanya memenuhi janji dan permintaan Gavlin, agar membebaskanmu." ujar Andre, menjelaskan pada Chandra.
"Jadi, Ini rencana Gavlin yang bilang akan membebaskanku? Dia minta tolong padamu, Ndre?" ujar Chandra, menatap serius wajah Andre yang berdiri dihadapannya itu.
"Ya.Gavlin juga minta tolong padaku dan Samuel, agar meninjau kembali kasus pak Wicaksono, dan meminta agar dilaksanakan sidang ulang buat pak Wicaksono." ungkap Andre, memberi penjelasan pada Chandra.
"Oh, begitu. Kenapa kamu mau menuruti permintaan Gavlin? Bukankah kamu sedang memburunya?!" ujar Chandra bertanya pada Andre.
"Kami membuat kesepakatan dan perjanjian, setelah Gavlin berhasil menangkap Binsar di Prancis, dia harus membawa Binsar kembali ke sini dengan pesawat yang akan kami sediakan nanti, dan aku, akan membebaskan kamu dari penjara serta melaksanakan sidang ulang buat pak Wicaksono, seperti yang di minta Gavlin." ungkap Andre, menjelaskan dengan serius pada Chandra.
"Oh, begitu. Lantas, Kapan pak Wicaksono akan mulai sidang ulangnya?" tanya Chandra, menatap serius wajah Andre.
"Sedang berlangsung , saat ini, pak Wicaksono sedang menjalani sidang ulangnya , beliau di dampingi pengacara yang hebat, pengacara tersebut Samuel yang mencarikannya. Dan bertindak sebagai Jaksa penuntutnya Samuel." tegas Andre, memberi tahu Chandra.
"Oh, Syukurlah jika begitu. Artinya, sebentar lagi, Pak Wicaksono akan di bebaskan, karena tuduhan padanya semua palsu dan tak terbukti." ucap Chandra serius.
"Ya, mudah mudahan aja, sidangnya berjalan lancar. Agar pak Wicaksono bisa menghirup udara kebebasan seperti kamu sekarang ini." ujar Andre, tersenyum senang menatap wajah Chandra.
"Pak Wicak sudah sangat lama mendekam di penjara itu,bertahun tahun, dia harus mendekam di dalam sel pengap karena fitnah Binsar." ujar Chandra. Prihatin pada pak Wicaksono.
"Ya, Aku tau, Aku udah menyelidiki kasusnya sebelum di lanjut pada persidangan ulang." ujar Andre.
"Ayolah, Aku antar kamu pulang." ujar Andre, tersenyum senang menatap wajah Chandra yang berdiri dihadapannya.
"Pulang kemana?" tanya Chandra , menatap heran Andre.
"Ya kerumahmu. Karena Binsar udah kabur dan gak ada di negara ini lagi, dan semua anak buahnya udah kami tangkapi dan organisasinya dibubarkan negara, kamu aman pulang kerumahmu lagi." ungkap Andre, menatap serius wajah Chandra.
"Oh, iya ya. Aku lupa." ujar Chandra, tertawa senang.
"Ayolah, kita pergi dari sini." ujar Andre.
"Ya, Ayo." Ujar Chandra, mengangguk.
Lalu, mereka berdua segera berjalan menuju ke mobil Andre yang ada di dekat mereka berdiri. Andre dan Chandra masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Chandra duduk di jok depan, dia menyetir mobilnya, sementara Chandra duduk disampingnya, mobil mulai berjalan dan pergi meninggalkan rumah tahanan tersebut.
Chandra sangat berterima kasih dan bahagia sekali memiliki seorang sahabat seperti Gavlin, sekali lagi Gavlin telah menolong dirinya, dan Gavlin telah menepati janjinya untuk membebaskan dirinya dari penjara.
---
Di dalam ruang persidangan, terlihat Pak Wicaksono duduk di kursi, dengan didampingi Pengacaranya, sementara, di seberang, Samuel duduk di kursinya bersama dua asisten jaksanya. Sidang tengah berlangsung, Pengacara Wicaksono sedang memberi penjelasan kepada Hakim ketua dan Wakil wakil hakim.
"Demikian yang bisa saya sampaikan, yang Mulia." ujar Pengacara, kepada Hakim Ketua yang memimpin jalannya persidangan.
"Baik. Silahkan Jaksa, untuk memberi bantahan dari penjelasan Pengacara." ujar Hakim, mempersilahkan Samuel, Jaksa Penuntut untuk memberikan sanggahan dan bantahan atas penjelasan Pengacara Wicaksono.
"Tidak ada dari kami, Yang Mulia. Kami bisa menerima semua pernyataan dan penjelasan Pengacara." ujar Samuel pada sang Hakim Ketua.
"Baiklah, jika sudah tak ada lagi pertanyaan atau pun penjelasan dari Pihak Pengacara mau pun pihak Jaksa, maka, sidang akan kita tunda selama dua jam untuk memberikan keputusan terakhir atas kasus ini." ujar Hakim Ketua, sambil mengetuk palunya di meja.
Wicaksono tampak duduk tenang dan tersenyum, tak ada rasa cemas mau pun khawatir pada dirinya, dia sudah berserah diri, apapun keputusannya nanti yang akan di berikan hakim, dia akan menerimanya dengan lapang dada.
---
Di Markas Gank Mafia 'Seira Costa' , terlihat Gavlin dengan menenteng tas ransel besar berisi senjata senjatanya sedang berkumpul bersama Malik dan puluhan anggota anggota gank mereka.
"Pak Aamauri mana, Lik?" tanya Gavlin pada Malik.
"Bos berangkat duluan bersama dua ajudan pengawalnya, Vlin." ujar Malik.
"Oh, gitu. Aku kira, pak Aamauri akan pergi bersama kita ke lokasi pertemuan itu." ujar Gavlin.
"Bos berpesan padaku, agar kita menjalankan semua yang udah dia atur, Bos menegaskan, agar kita mematuhi semua yang udah dia arahkan." jelas Malik, dengan wajah serius menatap wajah Gavlin.
"Ok. Kalo gitu, kita berangkat sekarang, Lik." ujar Gavlin, menatap tajam wajah Malik yang berdiri dihadapannya itu.
"Ayo." ujar Malik.
Lantas Malik bertepuk tangan, dan memberikan aba aba kepada para anggota anggota gank untuk segera pergi mengikutinya.
Gavlin dan Malik lalu masuk ke dalam mobil, dan Malik langsung menyetir dan menjalankan mobilnya, dan para anggota anggota gank mafia yang berjumlah puluhan orang itu juga masuk ke dalam mobil mobil mereka.
Beberapa saat kemudian, mobil Malik dan mobil para anggota gank mafia pun pergi meninggalkan markas mereka, hanya tersisa beberapa orang saja di luar markas, dan mereka ditugaskan untuk menjaga markas.
Di sepanjang jalan, wajah Gavlin tampak tegang dan serius, dia seakan tak sabar untuk segera bertemu Binsar dan menghabisi nyawanya.
"Apa kamu udah ngabari temanmu buat nyiapin pesawatnya, Vlin?" tanya Malik, sambil menyetir mobilnya, melirik Gavlin yang duduk disampingnya.
"Belum, Aku akan menghubunginya, setelah Binsar berada ditanganku." tegas Gavlin, menahan geramnya.
"Oh, begitu. Aku kira, udah kamu kabari, jadi pesawatnya standby menunggu kedatangan kamu membawa Binsar nantinya." ujar Malik, sambil menyetir mobilnya.
"Nggak, nanti aja." ujar Gavlin serius.
__ADS_1
Lantas, Gavlin diam, dia menatap jauh ke depan, melihat ke jalanan, sementara Malik, terus menyetir mobilnya, mobil melaju dengan kecepatan sedang dijalan raya, dibelakang mobil mereka, mobil mobil anggota gank mereka mengikuti.
---
Di dalam ruang persidangan, Saat ini, sidang kembali di gelar lagi karena sudah selesai waktu istirahatnya. Wicaksono kembali duduk di bangkunya bersama Pengacaranya, dan Samuel juga sudah hadir dan sudah duduk di kursinya.
Tak berapa lama, Hakim dan dua wakil hakim datang ke ruang pengadilan, mereka duduk di kursinya masing masing.
"Baiklah, kita akan mulai kembali persidangannya." ujar Hakim Ketua pada Pengacara dan Jaksa serta para hadirin yang datang dan hadir menyaksikan persidangan tersebut.
Diantara tamu tamu yang hadir, terlihat Andre bersama Chandra, mereka berdua datang sengaja untuk melihat jalannya persidangan.
Sebelum memberikan keputusan akhir atas kasus yang di sidangkan saat ini, terlebih dulu Hakim membacakan semua rangkuman dan kesimpulan dari segala macam pengungkapan dan penjelasan serta bukti bukti yang di sampaikan Jaksa Penuntut dan Pengacara.
Hingga pada Akhirnya, tibalah saatnya Sang Hakim memberikan keputusan finalnya atas kasus Wicaksono tersebut.
Pengacara yang duduk di kursi di samping Wicaksono terlihat tersenyum, dia menepuk pelan bahu Wicaksono, menenangkan Wicaksono, Wicaksono terlihat santai dan tenang, dia lebih banyak tersenyum selama berlangsungnya sidang tersebut.
"Dengan ini, Maka di putuskan, bahwa Saudara Wicaksono di bebaskan dari segala tuduhan dan tuntutannya, dan dengan ini juga, pengadilan membersihkan nama baik saudara Wicaksono. Selain itu, pihak pengadilan memohon maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan, dan membuat Saudara Wicaksono harus menjalani tahanan selama beberapa tahun atas kesalahan yang tak terbukti." ujar Hakim Ketua.
Hakim Ketua mengakhiri perkataannya dengan mengetuk palu di meja. Wicaksono tampak sumringah, dia tersenyum senang mendengar keputusan Hakim yang telah membebaskannya, Pengacara memeluk tubuh Wicaksono.
"Terima kasih, Pak. Udah membantu saya." ucap Wicaksono, memeluk erat tubuh Pengacara.
Pengacara lantas melepaskan pelukannya dari tubuh Wicaksono, dia tersenyum senang menatap wajah Wicaksono yang berdiri dihadapannya.
"Sudah sepantasnya Bapak dibebaskan, Pak. Karena semua tuduhan yang di limpahkan kepada Bapak palsu semuanya. Dan saya sebagai Pengacara yang membela dan mencari keadilan buat Bapak hanya berusaha mengungkap semua kepalsuan itu." ujar Pengacara menjelaskan pada Wicaksono.
"Ya, sekali lagi, saya ucapkan terima kasih." ujar Wicaksono, menyalami sang Pengacara.
"Ya, sama sama Pak." ujar Pengacara tersenyum senang.
Samuel, sebagai Jaksa Penuntut tampak tersenyum senang karena Wicaksono telah dibebaskan dari penjara, Samuel melirik Andre yang juga melihatnya, Andre mengacungkan jempolnya pada Samuel, dan Samuel juga mengacungkan jempolnya. Hanya mereka berdua saja yang tahu, bahwa Samuel sengaja mengalah dan memberikan keleluasaan pada Pengacara untuk membela Pak wicaksono, semua di lakukan Samuel agar dengan mudah pak Wicaksono dibebaskan, karena itu, dia tak pernah menyanggah atau membantah setiap pernyataan dan penjelasan dari Pengacara Wicaksono.
Chandra yang mendengar Wicaksono telah dibebaskan sangat senang dan bahagia sekali, dia langsung berlari menghampiri Wicaksono yang masih bersama Pengacaranya.
"Pak Wicaaakk..." ujar Chandra, memeluk erat tubuh Wicaksono.
Wicaksono memeluk erat tubuh Chandra, lantas, Chandra melepaskan pelukannya dan berdiri dihadapan Wicaksono.
"Akhirnya Bapak bebas selama lamanya." ujar Chandra. Tersenyum senang menatap wajah Wicaksono yang juga tersenyum senang itu.
"Ini semua berkat Gavlin, Pak. Gavlin lah yang telah membebaskan kita berdua." ujar Chandra, menatap serius wajah Wicaksono.
"Ya, Bapak tau itu." Ujar Wicaksono tersenyum senang.
"Mari, Pak. Kita pulang, Saya akan antar Bapak pulang ke tempat Bapak tinggal." ujar Chandra.
"Ya. Ayo." Ujar Wicaksono.
__ADS_1
Lantas, mereka bergegas pergi keluar dari dalam ruang persidangan, Pengacara mengikuti mereka yang sudah keluar dari dalam ruangan sidang,lalu, Andre pun ikut keluar dan menyusul Chandra serta Wicaksono.