VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Melempar Kesalahan pada Gavlin


__ADS_3

Richard sangat marah, dia merasa sudah semakin dipermainkan Gavlin. Dia pun tak bisa lagi menahan dirinya. Dengan kalap Richard menembaki kedua pistol yang ada ditangannya.


"Anaaaakkk Seeeettttaaaannn !! Keluuuaaarrrr kaaaammmuu Gaaaavvvllliin!! Hadaaaapiii akuuu! Jangan jadi pengeeeecccuuuut!!" teriak Richard dengan kalap dan penuh amarah.


Sambil berteriak keras, Richard terus menembakkan kedua pistolnya ke segala arah di dalam ruangan rumahnya.


"Pah." Panggil Istrinya, dengan suara yang lemah dan bergetar.


Richard yang mendengar suara istrinya memanggil segera menoleh ke arah suara , dia melihat istrinya berdiri sambil satu tangannya memegang dinding pembatas ruang tengah, dan satu tangannya lagi memegangi perutnya.


Richard kaget, dia melihat wajah istrinya memucat , dan Richard semakin syock saat melihat, darah menetes diantara celah celah jemari tangan istrinya yang memegangi perutnya.


"Maaaa !!" teriak Richard panik.


Dia lantas dengan cepat berlari menghampiri istrinya. Saat Richard mendekat, tubuh istrinya pun semakin lemas, dia lunglai, lalu terjatuh dan terduduk dilantai.


Richard menangkap tubuh istrinya, agar tak terhempas ke lantai, dia lantas memangku istrinya yang terkulai lemas tak berdaya.


"Maafkan aku Ma...Maaafkan akuuu!! Aku gak sengaja ! Aku gak tau kalo kamu keluar dari kamar!" ujar Richard menangis sedih sambil memegang luka tembak di perut istrinya.


"A...aku...kel...uar...ka...mar...ka...re...na...cemas...de...ngan...mu...Pah..." ucap Istri Richard terpatah patah, karena nafasnya mulai terengah engah.


Istri Richard lantas meringis menahan sakit akibat tertembak, Richard pun semakin menjadi menangisnya. Dia memeluki tubuh Istrinya. Richard menyesali perbuatannya yang kalap menembak sesuka hati, hingga akhirnya, Istrinya menjadi korban tembakan pistolnya.


"Bertahanlah Ma. Bertahanlah!! Aku akan membawamu ke rumah sakit!" ujar Richard, sambil menangis sedih.


"Ja...ng...an...Pah...!" ucap Istri Richard terpatah patah.


"Ja...ga...di...rimu...min...ta...maaf...lah...pada...Ga...vlin." Istri Richard lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Dia pun meninggal dunia dalam pelukan Richard. Melihat istrinya meninggal, Richard pun semakin menangis meratap.


"Tidaaaaakkkk !! Banguun Ma...Baaanggguunnn...!! Kamu gak boleh mati!!" ujar Richard menangis sejadi jadinya.


Dia terus memeluki tubuh Istrinya dan mengecupi pipinya, Richard sangat menyesal, karena ulahnya, istrinya pun harus meregang nyawa.


"Kenapa kamu gak nurut kataku Ma? Kenapa kamu gak di dalam kamar aja, dan gak keluar?!! Kalo kamu diam di kamar, kamu pasti tetap hidup!!" ujar Richard, meratapi kematian istrinya.


"Gaaaaavvvvlllliiiiinnnn !! Keluuuuaaaarrr kaaammmuu seeeettaaaan !! Hadaaaapppi aaaakkkuuu!!" teriak Richard melampiaskan amarahnya.


Dia lantas meletakkan tubuh Istrinya dengan perlahan ke lantai rumahnya, lalu, dia menutup kedua mata istrinya yang terbuka.


Untuk sesaat Richard memandangi wajah istrinya yang meninggal dalam kondisi tersenyum.


Richard berdiri dan menghela nafasnya, lalu, di hapusnya air matanya. Richard lantas memeriksa kedua pistolnya, masih ada sisa peluru di kedua pistol, dan Richard pun tenang. Dengan begitu dia bisa menembak Gavlin, jika Gavlin muncul di hadapannya.


"Jangan jadi pengecut Gavlin !! Keluarlaaah !! Hadapi akuu!!" teriak Richard dengan penuh amarah dan suara yang keras menggelegar.


"Baiklah Richard, aku akan segera muncul dihadapanku, tunggu saja." ujar Gavlin, dari pengeras suara.

__ADS_1


Richard geram dan sangat marah, dia menyalahkan Gavlin atas kematian istrinya. Sebab, karena Gavlinlah dia kalap menembak, sehingga, istrinya terkena peluru dari pistolnya.


Ternyata Gavlin berada di atas atap rumah Richard, dan dari atas atap itu Gavlin memantau dan mengawasi Richard dan seluruh ruangan dalam rumahnya melalui laptopnya.


Dan Gavlin sebelumnya sudah memasang cctv di seluruh ruangan dalam rumah Richard untuk mengintai Richard.


Dia datang dan memasang cctv saat rumah Richard kosong, dan polisi polisi belum datang berjaga di rumahnya, sementara istri Richard dan asisten rumah tangganya memilih diam di dalam kamar masing masing sampai kedatangan para polisi yang ditugaskan menjaga dan melindungi rumah dan diri mereka.


Karena itulah, Gavlin leluasa memasang kamera cctv dan juga menggantungkan boneka yang sudah dia lumuri darah ayam di depan pintu kamar mandi dapur, sebagai bentuk teror pada Richard dan keluarganya.


Gavlin merapikan laptopnya, dan dia membawa laptopnya, namun, saat dia hendak turun dari atap rumah, dia mengurungkan niatnya. Gavlin terdiam, dia mendengar dari kejauhan suara sirene polisi berbunyi keras, dan suaranya semakin mendekat ke arah rumah Richard.


"Sial ! Sepertinya polisi yang berjaga meminta bantuan pada polisi lainnya !" Gumam Gavlin geram.


"Aku tunda pertemuan kita Richard! Tapi jangan senang dulu, gak akan lama, aku akan segera menemuimu dan membunuhmu!" ujar Gavlin, bicara melalui pengeras suara mini yang menempel di bajunya.


Di dalam rumah, Richard melihat ada speaker aktif di pojokan sofa. Richard meletakkan ke dua pistol di lantai, lalu, dengan geram, Richard pun menghampiri, lalu diambilnya speaker itu dan di bantingnya sekuat tenaga, speaker pun hancur berantakan di lantai.


Richard geram dan marah, karena Gavlin tidak jadi menemui dirinya yang sudah menunggu dan bersiap siap menyambut Gavlin dengan pistolnya.


6 unit mobil polisi masuk ke halaman rumah Richard, dari atas atap rumah, Gavlin mengamati mobil mobil polisi, dia melihat, para petugas kepolisian dari tim anti teror keluar dari dalam mobil mereka masing masing, Gavlin menghitung, ada 12 polisi yang datang kerumah Richard lengkap dengan membawa senjata ditangannya masing masing.


Diantara polisi polisi itu ada Andre yang baru saja keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan ke arah rumah Richard untuk menemui Richard.


Gavlin pun geram , dia lantas melepaskan dan membuang pengeras suaranya ke tanah kosong yang ada di samping rumah Richard.


Gavlin lantas bergegas pergi dari atas atap rumah Richard , dia tak ingin, polisi polisi itu menyadari keberadaannya dan mengetahui, jika dia bersembunyi diatas atap rumah Richard.


Sambil membawa laptopnya, Gavlin pun lantas melompat ke tanah kosong yang ada di samping rumah Richard. Lantas, Gavlin segera berlari keluar dari pelataran pekarangan tanah kosong itu.


Sementara, ke 12 petugas kepolisian anti teror menghampiri Richard yang berdiri diam menatap tubuh istrinya yang sudah terbujur kaku di lantai.



Para Petugas kepolisian masuk menyusuri seluruh ruangan dalam rumah Richard, mereka mencari penyusup yang masuk ke dalam rumah Richard, sesuai dengan apa yang di laporkan Polisi 3 saat mendengar suara tembakan dari dalam rumah Richard.


Para petugas Kepolisian kaget, melihat mayat Istri Richard, lalu, diantara Polisi Polisi bergegas masuk ke dalam ruangan lainnya.


Dan mereka pun menemukan mayat ke empat polisi yang ditugaskan berjaga di rumah Richard.


"Panggil tim medis dan mobil ambulance, juga tim ahli forensik, suruh mereka cepat datang ke sini." ujar Andre, memberi perintah.


"Siap !" jawab Petugas Kepolisian anti teror.


Dia lantas bergegas pergi meninggalkan Andre, untuk memanggil petugas medis dan ahli forensik.


Andre menghela nafasnya melihat empat anak buahnya yang mati, lalu, dia pun berjalan mendekati Richard yang masih menangis sedih meratapi kematian istrinya.


Andre lantas berdiri di samping Richard, dia melihat mayat istri Richard, wajah Andre tampak iba, dia prihatin melihat kematian istri Richard.

__ADS_1


"Saya turut berduka cita Pak." ujar Andre, dengan suara pelan.


Richard tak menjawab, dia hanya mengangguk lemah mengiyakan, lantas, dia menghapus air matanya yang mengalir banyak di kedua pipinya.


"Siapa yang membunuh Ibu dan ke empat tim saya Pak?" tanya Andre, pelan.


"Gavlin. Gavlin yang menembak mereka semua." ujar Richard berbohong.


Demi keselamatan dirinya, dan agar dia tidak ditangkap karena di jadikan tersangka penembakan ke empat polisi dan istrinya, Richard pun berfikir cepat, dan lantas, dia pun melemparkan kesalahan pada Gavlin. Dia mengatakan, bahwa Gavlin lah pelakunya.


Dengan begitu, dia berharap, Para Polisi semakin memburu dan mengejar Gavlin.Richard terlihat semakin dendam pada Gavlin.


"Gavlin? Jadi dia berani menyerang Bapak, dan membunuh istri bapak juga." ujar Andre geram.


"Ya. Anak Setan itu harus di tangkap, bila perlu, tembak mati dia! Aku gak bisa memaafkan perbuatannya ini padaku!!" ujar Richard geram.


"Ya, Pak. Saya akan memburu Gavlin ! Secepatnya, Gavlin akan kami ringkus!!" tegas Andre dengan wajahnya yang serius.


"Ya." jawab Richard, mengangguk lemah.


Beberapa saat kemudian, datang para petugas medis dan juga para petugas tim ahli forensik. Mereka bergegas masuk ke dalam rumah. Lantas, segera memulai pekerjaannya, memeriksa mayat ke empat polisi dan juga istri Richard.



Richard diam, dia menatap kedua pistol yang dia letakkan di lantai, di samping mayat istrinya. Richard lantas mengambil kedua pistol itu. Dia lalu memegang pistol pistol itu.


"Dengan pistol ini, Gavlin menembak anak buahmu, dan juga istriku." ujar Richard.


Richard sengaja mengambil kembali ke dua pistol agar ketika tim penyidik dan ahli forensik memeriksa pistol mencari sidik jari Gavlin, maka di temukan juga sidik jari dia. Karena dia baru saja memegang pistol itu.


Andre diam, dia tak berani melarang dan mencegah Richard yang menggenggam pistol dengan tangannya. Andre melihat itu menarik nafas, sebab dia tahu, dengan begitu, maka sidik jari Richard akan ditemukan nanti di pistol itu.


Andre tak tahu, memang itu tujuan Richard, agar dia tak di jadikan tersangka.


"Sebaiknya, Pistol pistol ini kami simpan, Pak. Untuk dijadikan barang bukti, dan mencari sidik jari Gavlin." jelas Andre.


"Sepertinya, gak akan ditemukan sidik jari Gavlin, yang ada paling sidik jari saya dan juga pemilik pistol ini, karena Gavlin memakai sarung tangan." jelas Richard mengarang cerita dan berbohong.


"Gak apa Pak. Paling tidak, pistol sebagai barang bukti, dengan pistol inilah Gavlin membunuh anak buah saya dan juga istri Bapak." ujar Andre , dengan wajahnya yang serius.


"Baiklah. Ambillah." ujar Richard, memberikan kedua pistol itu.


"Wan, amankan pistol pistol ini sebagai barang bukti." ujar Andre, pada salah seorang Polisi.


"Siap, Pak." jawab Petugas Polisi.


Lantas, dia mengambil plastik besar khusus menyimpan barang bukti dari tas pinggangnya, lalu, dia memasukkan pistol pistol ke dalam plastik khusus barang bukti.


Petugas medis tampak membawa keluar mayat mayat ke empat polisi . Andre menatap wajah Richard yang berdiri diam dengan wajah yang menahan amarah pada Gavlin.

__ADS_1


__ADS_2