VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Saling Merindu


__ADS_3

Gavlin menatap lekat wajah Indri yang berdiri di hadapannya, dia menatap mata Indri, seakan ingin memastikan kesungguhan hati Indri.


Indri paham, Gavlin masih ragu, dan belum bisa menerima alasannya, Indri tersenyum lembut menatap wajah Gavlin.


"Vlin, Sampai kapanpun aku tetap menunggumu, Dan aku gak akan menikah dengan siapapun. Hanya kamu satu satunya Pria yang selama ini aku tunggu dan kuharapkan menjadi suamiku." ungkap Indri, menjelaskan dengan kesungguhan hatinya pada Gavlin.


"Vlin. Selama kamu berada di hatiku, dan aku juga berada di hatimu, maka , gak ada jarak yang cukup besar diantara kita, sehingga gak ada jarak yang dapat memisahkan kita". ujar Indri, menjelaskan pada Gavlin.


Gavlin masih terdiam memandangi wajah Indri yang tersenyum manis kepadanya.


"Semalaman aku merenungi kisah cinta kita ini, dan aku menghela napas panjang dan bertanya dalam hati, kenapa harus terus kamu yang memenuhi pikiranku". ungkap Indri, dengan sejujurnya.


"Vlin, Aku ingin memelukmu sekarang juga, bolehkah ?" tanya Indri, menatap lembut wajah Gavlin.


Gavlin masih diam dan tak bicara sepatah kata pun, namun, Gavlin tiba tiba saja memeluk erat tubuh Indri, Dan Indri pun tersenyum senang, dia juga memeluk erat tubuh Gavlin. Dalam pelukan Gavlin, Indri menangis bahagia.


"Maafkan Aku, In. Maafkan aku yang udah menuduhmu gak setia, maafkan aku yang sudah salah paham padamu." ucap Gavlin bersungguh sungguh, sambil memeluk erat tubuh Indri.


"Aku juga sangat merindukanmu, In." ungkap Gavlin.


"Vlin. Rindu adalah suatu hal yang gak bisa dijelaskan dengan apa pun, bahkan rumus terumit dari matematika saja gak akan sesulit memecahkan rumus rindu". ujar Indri, dalam pelukan Gavlin.


"Percayalah kepada semua rasa rinduku dalam pertemuan kita ini, Vlin. Aku akan selalu memelukmu dengan semua rasa rinduku." ucap Indri, dengan ketulusan hatinya.


"Merindukanmu itu seperti hujan yang datang tiba tiba dan bertahan lama, Vlin. Dan bahkan setelah hujan reda, rinduku masih terasa." lanjut Indri.


"Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan diciptakan oleh perasaan, sedangkan jarak hanya rintangan yang bisa ditempuh untuk bertemu. Dan aku selalu yakin, kita pasti akan bertemu kembali, dan keyakinanku kini terbukti, kamu hadir didepanku saat ini." Tegas Indri, menjelaskan pada Gavlin.


"Dan aku yakin, bahwa waktu yang mempertemukan kita, dalam sebuah ikatan yang kita jalani. Bukankah jarak membuat kita semakin kuat untuk mempertahankan ikatan cinta kita ini?" ungkap Indri.


Indri lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Gavlin, dia memegangi wajah Gavlin dengan kedua tangannya, dia tersenyum lembut menatap mata Gavlin yang menahan kesedihannya.


"Vlin. Kamu tau? Selama ini, dadaku sesak oleh rindu yang terus menggerutu karena tak kunjung bertemu denganmu." ucap Indri.


"Jujur, baru sekarang aku katakan padamu, bahwasanya, sejak kenal kamu pertama kali, aku jadi suka diam. Diam-diam kangen kamu." Ungkap Indri, tersenyum lembut pada Gavlin yang menatapnya dengan raut wajah sedih.


"Aku merasa bersalah padamu, In. Maafkan aku, yang telah meragukan kesetiaan dan cintamu padaku." ujar Gavlin.


"Entah kenapa, melihatmu bersama Pria lain setelah lama kita gak bertemu membuatku patah hati dan down, aku menjadi lemah, tak bersemangat, aku sadari itu, dan aku gak ngerti, apa yang terjadi pada diriku, padahal sebelumnya, Aku gak pernah seperti ini. Yang aku tau, aku sangat mencintaimu." ungkap Gavlin, memberi penjelasan pada Indri yang masih memegangi wajahnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Gak apa , Vlin. Aku gak pernah marah padamu, apalagi tersinggung dan sakit hati. Karena aku juga sangat mencintaimu, dan aku memahami perasaanmu." ujar Indri, tersenyum lembut pada Gavlin.


"Menyakitkan memang, mencintai pada suatu jarak. Tetapi, kini sudah terbayar dengan pertemuan kita ini." ujar Indri tersenyum.

__ADS_1


"Ya, In. Aku sangat merindukanmu, dan itu membuatku selalu cemburu pada orang orang yang bisa bertemu denganmu." ungkap Gavlin, menatap lekat wajah Indri yang ada didepannya itu.


"Ya, Vlin. Aku tau, jika di setiap tatapan, kita akan terhalang oleh jarak dan juga waktu. Namun, aku akan tetap yakin, kita akan bertemu kembali. Dan telah terbukti sekarang." ujar Indri, tersenyum bahagia menatap wajah Gavlin.


Indri lalu melepaskan kedua tangannya dari wajah Gavlin, Gavlin terus memandangi wajah Indri, menumpahkan segala perasaan cinta dan rindunya pada Indri.


"Bagiku, ada sebuah harapan didalam kerinduan, yakni sebuah pertemuan dalam kenyataan." ungkap Indri, tersenyum pada Gavlin.


" Dan bagiku, rindu adalah rasa yang curang, di mana rindu akan selalu bertambah tanpa tau bagaimana caranya untuk berkurang." lanjut Indri , menjelaskan pada Gavlin.


"Kamu tentunya tau, jika aku rindu padamu, namun rasa rinduku lebih dari apa yang kamu tau, In." ujar Gavlin, menatap lembut wajah Indri.


Tatapan kedua mata Gavlin penuh cinta dan kasih sayang memandangi wajah Indri yang tersenyum padanya.


"Jujur, Vlin. Aku rindu disaat memiliki kesempatan berbicara berdua denganmu, seperti dulu saat kita dirumah, meskipun gak penting apa yang dibicarakan, namun aku merasa bahagia jika ada di dekatmu." ungkap Indri, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.


"Dan rindu disaat dimana hadirmu merupakan pelengkap dari hidupku." lanjut Indri, memberi penjelasan pada Gavlin.


"Taukah kamu In? Di Dalam diamku ini, terdapat sebuah rindu yang gak pernah terungkap." ujar Gavlin, bersungguh sungguh memberi tahu Indri.


"Dan Aku rindu di saat kamu berjalan bersama denganku dengan tujuan yang sama, saling melindungi, mencintai dan saling membahagiakan." lanjut Gavlin menjelaskan pada Indri.


"Merindukanmu merupakan caraku untuk dapat menyentuh hatimu dengan seluruh kasih sayang dan perhatian." tegas Gavlin.


“Dan aku memikirkanmu dengan setiap saat dalam hidupku, dan memimpikanmu dengan setiap mimpi yang aku miliki. Aku merindukanmu.” ungkap Gavlin, dengan wajah serius dan bersungguh sungguh.


“Ini adalah jatuh cinta dengan cara yang paling kejam. Jatuh cinta padamu dan kamu jauh sekali.” ungkap Indri.


"Merindukanmu membuatku mengenang obrolan terakhir kita, dan membuatku tersenyum tentang betapa baiknya kita bersama.” ujar Indri, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.


"Vlin. Hadirmu adalah hadiah paling indah bagi rindu yang membuncah.” ujar Indri.


“Aku selalu berharap untuk dapat hadir di setiap mimpi indahmu. Kemudian, aku akan mengatakan bahwa aku akan selalu merindukanmu.” ucap Indri, bersungguh sungguh menatap wajah Gavlin.


" Jujur, Vlin. Aku gak berani untuk terpaku terdiam menghadapi waktu tanpa memikirkan apapun, karena aku akan selalu terpikir akan dirimu yang berada di kejauhan.” ungkap Indri pada Gavlin.


"Vlin. Aku merasa beruntung dapat bertemu denganmu. Orang yang selalu merindukanku dan aku juga selalu merindukanmu.” ungkap Indri, tersenyum bahagia menatap Gavlin yang juga tersenyum padanya.


"Kita mungkin gak seperti pasangan yang lainnya, dimana kita dapat bebas untuk bertemu kapan saja, namun dengan doa aku dapat bertemu dan memelukmu kapan saja." ungkap Indri, dengan ketulusan hatinya.


"Kamu salah satu orang yang selalu ada dalam doaku, tema yang selalu menjadi pembicaraan antara aku dan Tuhan." lanjut Indri, menatap lembut wajah Gavlin.


"Ya, Aku tau, In. Aku tau sekarang, kamu benar benar sangat mencintaiku." ujar Gavlin tersenyum memandang wajah Indri.

__ADS_1


Lalu, Gavlin dengan lembut menghapus air mata Indri yang telah membasahi kedua pipinya, Indri tersenyum senang, dan dia bahagia karena bisa bersama Gavlin lagi.


"Kemana Saudara sepupu kamu, In?" tanya Gavlin, mengalihkan pembicaraan.


"Ada, mungkin dia sengaja gak masuk ke sini, agar gak mengganggu kita. Sebentar, Aku panggilkan." ujar Indri tersenyum.


"Rifaaaiii, sini masuk, Gavlin mau kenal kamu." ujar Indri, berteriak memanggil Rifai.


Tanpa menunggu lama, Rifai langsung muncul dan masuk keruangan itu, dia lalu berjalan mendekati Indri dan Gavlin.


Gavlin lantas berdiri menyambut kedatangan Rifai yang menemuinya. Saat Rifai tiba di depannya, Gavlin langsung saja mengulurkan tangannya, tanda berkenalan.


"Aku Gavlin." ujar Gavlin, memperkenalkan dirinya.


"Ya, Aku tau. Dan Aku Rifai, saudara sepupu Indri yang tinggal menetap di kota Paris ini." ujar Rifai, juga memperkenalkan dirinya.


"Maafkan Aku, sudah salah paham padamu." ujar Gavlin.


Gavlin tak segan segan mengakui kesalah pahamannya sama Rifai. Dan Rifai tersenyum senang menatap wajah Gavlin.


"Aku lega sekarang, kalian sudah baikan, dan Indri gak akan bersedih lagi." ujar Rifai, tersenyum senang, menatap Gavlin dan Indri secara bergantian.


Indri tersenyum senang, dia menggandeng tangan Gavlin yang berdiri tepat di sampingnya dan dihadapan Rifai.


Tiba tiba saja, Kedua mata Gavlin melihat ke sebuah tembok, dan di tembok, terpampang sebuah kertas karton lebar dan besar, Gavlin membaca tulisan di kertas karton itu.


"Maafkan Aku membuatmu pingsan dan mengikatmu, Vlin. Itu satu satunya cara mencegahmu bunuh diri. Dan sekarang, Aku pergi membawa Binsar, Aku akan menggantikan dirimu, meledakkan Binsar di dalam pesawat saat kami terbang nantinya."


Gavlin tersentak kaget dan syock membaca tulisan Malik di lembar kertas karton besar yang menempel di tembok ruangan itu.


"Maliik!! Aku harus menghentikan Malik. Aku harus mencegahnya menggunakan bom bunuh diri itu!!" ujar Gavlin, dengan wajahnya yang tegang dan panik.


"Kamu tau kemana Temanmu itu pergi?" tanya Rifai, menatap tajam wajah Gavlin yang tegang dan panik itu.


"Ya, ke desa Piana, dibawah kaki bukit disana." ujar Gavlin memberi tahu Rifai.


"Oke, aku antar kamu ke sana sekarang juga, Ayo, cepat ikut aku." ujar Rifai.


"Ayo, Vlin." Ajak Indri juga pada Gavlin.


Gavlin mengangguk, lantas, mereka bertiga segera bergegas pergi keluar dari ruangan tersebut. Wajah Gavlin tampak sangat tegang, dia khawatir, Malik nekat melakukan bom bunuh diri, untuk menggantikan dirinya. Dan Gavlin tak ingin Malik mati dengan jalan seperti itu.


__ADS_1


Rifai, Gavlin dan Indri cepat masuk ke dalam mobil yang parkir di depan halaman rumah. Indri duduk di jok belakang, sementara Gavlin duduk di depan menemani Rifai yang menyetir mobil.


Sesaat kemudian, mobil pun lantas berjalan, dan pergi meninggalkan lokasi rumah tempat tinggal Gavlin itu, untuk segera menemui Malik yang saat ini hendak pergi membawa Binsar dengan naik pesawat terbang yang telah di sediakan Andre.


__ADS_2