VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Akhir Hidup Yang Mengenaskan


__ADS_3

Crane terus bergerak turun, tubuh Richard yang menggantung di ujung belalai crane semakin mendekat ke dalam tong besar dan tinggi, Dengan sikap dingin dan tenangnya, Gavlin terus saja menggerakkan crane, crane semakin turun, sehingga kedua kaki Richard sudah masuk ke dalam tong tinggi dan besar, lalu, belalai crane yang menggantung Richard terus bergerak turun, kedua kaki Richard pun menyentuh genangan limbah kental yang habis di masak Gavlin. celananya terbakar, kulit kedua kakinya melepuh dan terbakar timah yang masih dalam keadaan panas itu.


"Aaaaarrrrrgggghhh !!" Richard teriak sekeras kerasnya.


Dia meronta ronta, meraung raung kesakitan , karena kulit kedua kakinya mulai terbakar dan terbenam dalam genangan timah di dalam tong besar.


Gavlin tak perduli dengan suara teriakan Richard, dia terus menurunkan crane , Gavlin ingin menenggelamkan Richard ke dalam genangan timah kental dan panas di dalam tong.


Perlahan lahan, setengah badan Richard sudah terbenam di dalam genangan limbah yang sangat panas. Seluruh pakaiannya sudah habis terbakar, dan kulit kulitnya melepuh semua. Richard terus meraung raung, bagaikan di bakar hidup hidup dia teriak sekuat tenaga, karena tak tahan dengan rasa sakit akibat kulit tubuhnya terbakar oleh timah yang menggenang di dalam tong dia pun mati.


Gavlin tersenyum sinis, dia lantas menghentikan menggerakkan cranenya, dia melihat dari dalam crane, seluruh tubuh Richard sudah terbenam di dalam genangan timah, dan Richard sudah terkulai tak bernyawa. Dia mati, dalam keadaan di siksa, tubuhnya di benamkan dalam genangan limbah yang masih panas, dan baru saja di masak Gavlin.


Hanya leher dan kepala serta wajah Richard saja yang tak di benamkan Gavlin, sisanya, seluruh tubuhnya terbenam dalam kubangan genangan limbah.


Gavlin sengaja menyisakan kepala Richard agar tak ikut terbakar kulit wajahnya, karena dia berencana, untuk memberikan mayat Richard kepada polisi, sebagai peringatan keras darinya.


Gavlin menyiksa Richard, karena dia sangat marah pada Richard, sebab, Richard hanya berpura pura baik padanya, mau menolong Gavlin, dengan tujuan mendapatkan jabatan, lalu, ternyata Richard mengkhianati Gavlin, selain itu, Richard juga sudah menembak dia, sehingga Dia tak bisa memaafkan perbuatan picik Richard tersebut.


Karena itulah dia menyiksa Richard, dengan membenamkannya dalam genangan timah, agar Richard mengetahui, begitulah rasa perih dan sakit yang di rasakan Gavlin, karena di khianati dan di manfaatkan dengan licik oleh Richard.


Untuk orang seperti Gavlin, yang memiliki jiwa kepribadian ganda dan sebagai psikopat, tak ada rasa belas kasihan lagi jika dia sudah menyiksa bahkan mau membunuh targetnya. Tanpa ampun, dia akan menyiksa dan membantai serta membunuh targetnya yang sudah menyinggung perasaan dan membuatnya marah besar. Seperti yang sudah di lakukan Richard.


Richard pun mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan, di siksa, digantung di tengah tengah jurang, lalu dibenamkan ke dalam timah, yang sudah dipersiapkan Gavlin sebelumnya, lalu dimasaknya agar timah dapat membenamkan tubuh Richard.


Gavlin lantas menggerakkan kembali cranenya ke atas, hingga sampai tinggi, terlihat tubuh Richard menggantung kembali di ujung belalai crane, sudah tak bernyawa, dan dengan tubuh yang sudah penuh di lumuri oleh timah timah yang menempel di sekujur tubuhnya.


Gavlin lantas membiarkan tubuh Richard yang di penuhi timah tergantung di atas crane.


Tubuh Richard pun tergantung, bagaikan sebuah patung yang terbuat dari timah, Gavlin keluar dari dalam mobil crane, lantas dia berdiri di samping mobil crane dan memandang ke atas, melihat ke mayat Richard yang menggantung dengan seluruh tubuh di penuhi timah yang hampir membeku dan mengeras di tubuhnya.


Gavlin tersenyum sinis, dia sudah punya rencana lain untuk menjalankan aksi selanjutnya.


---


Andre masuk ke dalam ruang kerjanya di ikuti Masto dan Edo, wajah Andre tampak kesal, mereka baru saja pulang dari mengusut kasus Richard, dan mencari Richard serta Gavlin.


"Kita akhiri pencarian kita malam ini, besok kita lanjut, kita akan menyusuri daerah daerah lainnya, bagaimana pun, kita harus bisa menangkap Richard lagi, dan juga Gavlin, yang telah menolong Richard melarikan diri!" jelas Andre memberi perintah.


"Baik, Pak." jawab Masto dan Edo, bersamaan.


Tiba tiba telepon yang ada di atas meja kerja Andre berbunyi, Andre langsung mengambil gagang telepon, dia menerima panggilan telepon.

__ADS_1


"Ya, Hallo? Saya Andre, siapa ini?" ujar Andre, bertanya dengan wajah serius di telepon.


"Aku Gavlin." ujar Gavlin dari seberang telepon.


"Gavlin ?! Dimana kamu? Apa yang kamu lakukan? Cepat kembalikan Richard !!" ujar Andre geram dan marah di telepon.


"Kalau kamu mau tau dimana Richard, datanglah ke rumah Herman malam ini.Richard ada di sana." ujar Gavlin, dari seberang telepon.


"Kamu jangan main main..." terdengar nada terputus dari telepon.


"Hallo, Gavliin !! Hallooo?!!" ujar Andre , mencoba memanggil Gavlin dari telepon.


Tak ada lagi suara Gavlin, yang dia dengar hanya nada terputus dari telepon saja, Andre pun lantas meletakkan gagang telepon ketempatnya, dia tampak kesal dan marah.


"Sial !!" ujar Andre menggebrak meja.


Masto dan Edo kaget, karena Andre marah dengan menggebrak meja kerjanya.


"Lacak nomor telpon si Gavlin barusan tadi!" perintah Andre pada Masto dan Edo.


"Baik, Pak. Saya akan melacaknya." ujar Edo.


Andre lantas berdiri dari kursi kerjanya, dia tampak sangat geram dan marah sekali pada Gavlin.


"Kita kemana, Pak?" tanya Masto heran.


"Ke rumah Herman, Gavlin tadi bilang di telepon, kalo si Richard ada di rumah Herman malam ini, kita harus datangi rumah Herman, mencari tau, benar atau tidak yang di bilang Gavlin tadi!" tegas Andre, memberi penjelasan pada Masto.


"Oh, begitu. Baik, Pak." ujar Masto, mengangguk mengerti dan paham.


Lalu Andre dan Masto pun bergegas keluar dari dalam ruang kerja, sementara Edo, melihat nomor panggilan Gavlin yang tertera di layar telepon meja kerja Andre. Edo mencatat nomor yang digunakan Gavlin menelpon Andre tadi, dia akan melacak nomor telepon Gavlin, mencari tahu, keberadaan Gavlin saat ini.


Andre dan Masto masuk ke dalam mobil, lantas, Andre dengan cepat menjalankan mobilnya, mereka lalu segera pergi meninggalkan gedung kantor kepolisian, untuk mendatangi rumah Herman, dan melihat, apakah benar, Richard sedang ada dirumah Herman malam ini, seperti yang di katakan Gavlin di telepon.



Wajah Andre tampak tegang dan geram, dia menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak lupa dia membunyikan alarm sirene polisi, agar selama di perjalanan, mobilnya lancar, dan tak terganggu dengan kendaraan kendaraan lain yang melintas di jalan yang cukup ramai dan padat itu.


Masto duduk diam di samping Andre yang menyetir mobilnya, dia tampak sedang berfikir keras saat ini. Andre sambil tetap menyetir mobilnya menoleh pada Masto.


"Kamu kenapa?" tanya Andre heran.

__ADS_1


"Ah, nggak Pak. Saya hanya berfikir, kok jadi semakin aneh saja perasaan saya." ujar Masto, dengan wajah serius dan herannya.


"Kenapa memangnya?" tanya Andre heran, sambil terus menyetir mobil.


"Ya, saya merasa aneh dan ada yang ganjil, sebelumnya kan Richard ditolong Gavlin melarikan diri saat mau di bawa ke tahanan kejaksaan, dan kayaknya, dugaan saya, setelah kita menemukan sidik jari Gavlin di stir mobil, Gavlin menyamar sebagai supir, sebab, supir aslinya, mayatnya ditemukan di belakang parkiran kantor kita, Pak." ujar Masto.


"Terus?" tanya Andre , dengan wajah serius.


"Setelah Gavlin menolong Richard melarikan diri, terus, tadi kata Bapak, Richard di rumah Herman, kok bisa ? Gavlin memberitahu, Richard dirumah Herman? Padahal mereka bermusuhan satu sama lainnya." jelas Masto.


"Kan gak mungkin, Gavlin menolong Richard karena permintaan Herman, lalu, setelah itu, Gavlin membawa Richard kehadapan Herman, karena Richard musuh Herman. Saya gak habis pikir jadinya, Pak." ujar Masto, dengan wajah heran dan bingungnya.


"Ya, kalo di pikir pikir, ada benarnya yang kamu bilang, tapi saya gak mau repot repot mikir sejauh itu, saya melihat yang ada di depan mata dan kepala saya saja."jelas Andre, sambil menyetir.


"Kalo Gavlin bilang, Richard ada dirumah Herman malam ini, ya sudah, saya ikuti saja apa yang dia katakan, saya mau tau, Gavlin jujur apa membohongi saya, atau menjebak saya nanti di rumah Herman." tegas Andre, dengan wajahnya yang serius.


"Dan saya jadi penasaran, karena penasaran, saya malah ingin tahu kebenarannya, begitu, To!" jelas Andre, sambil terus berkonsentrasi mengendarai mobilnya di jalan raya.


"Iya, Pak." Jawab masto, masih berfikir heran.


Masto berfikir, apa tujuan Gavlin sebenarnya memberitahu Andre, bahwa Richard ada di rumah Herman malam ini.


"Apa Gavlin juga ada dirumah Herman ya Pak?" tanya Masto, dengan rasa penasarannya.


"Saya gak tau, kita lihat saja nanti, Gavlin ada di sana atau tidak." ujar Andre.


"Kamu jangan lengah, To. Tetap hati hati dan waspada, mana tau ini jebakan buat kita. Jangan sampai kita masuk ke dalam perangkap dan permainan mereka!" tegas Andre, dengan wajah serius, mengingatkan Masto.


"Baik, Pak. Saya akan berhati hati." jawab Masto.


Masto mengambil pistol dari pinggangnya, Andre menoleh pada Masto yang memegang pistol ditangannya.


"Kamu mau apa dengan pistol itu?" tanya Andre, dengan wajah heran.


"Saya cuma mau cek aja , Pistol ini sudah terisi penuh dengan peluru atau tidak, saya kan harus bersiap siap sebelum kita sampai dirumah Herman, Pak." ujar Masto, menjelaskan.


"Oh."Angguk Andre, sambil menyetir mobilnya.


Lantas, mobil Andre pun melaju dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalan raya, melewati kendaran kendaraan lainnya.


Kendaraan kendaraan lain tak berani menghalangi, karena mereka mendengar bunyi sirene polisi, dan mereka tahu, mobil yang di kendarai Andre mobil kepolisian, mereka semua yang ada dijalanan pun lantas memberikan jalan pada mobil Andre, mereka tak mau mendapat masalah dan berurusan dengan polisi karena menghalangi jalan mobil polisi yang sedang bertugas.

__ADS_1


Sementara Masto duduk diam sambil memegangi pistol ditangannya, wajahnya tampak tegang dan sangat serius, Masto tampak sudah bersiap siap dari segala hal buruk yang bisa saja terjadi nanti, saat mereka sampai dirumah Herman.


__ADS_2