VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Merampok Psikopat


__ADS_3

Gavlin masuk ke dalam kamar khusus penyimpanan senjata senjatanya. Wajahnya tampak dingin dan kaku, dia membuka lemari besar, lalu menyimpan senapan mesin di dalam lemari tersebut.


Gavlin lantas menutup kembali pintu lemari besarnya. Dia kemudian segera keluar dari dalam kamar tersebut.


Gavlin lantas duduk di sofa ruang tamu rumahnya, dia tampak tercenung, dia memikirkan semua perkataan Wijaya tentang Bapaknya.


"Pak. Aku bangga padamu! Demi kebenaran dan mengungkap kebusukan Bram dan Wijaya, kamu rela mengorbankan nyawamu!" ungkap Bathin Gavlin lirih.


"Bram dan Wijaya, serta komplotannya layak di hukum mati, Pak. Aku akan membalaskan dendammu, aku akan membunuh mereka!!" Lanjut Bathin bicara getir.


Wajah Gavlin tampak menyiratkan kebahagiaan, karena dia telah membalaskan dendam Bapaknya, dia sudah membunuh Wijaya, yang meracuni Bapaknya hingga mati di dalam penjara.


Gavlin juga lega, karena dia mengetahui, bahwa Bapaknya adalah orang yang benar benar sangat jujur, Gavlin bangga, karena Bapaknya berani, dan melawan segala bentuk kejahatan yang di lakukan Bramantio dan komplotannya.


"Bram ! Tunggu saatnya, aku akan datang membunuhmu!! Sekalipun kamu bersembunyi di lapisan tanah paling bawah, aku akan menemukanmu!! Aku akan membantaimu!!" Tegas Gavlin, penuh amarah membara di jiwanya.


Tatapan mata Gavlin sangat mengerikan, dia sangat marah dan dendam, atas perbuatan Bramantio dan komplotannya kepada Bapaknya dulu.


Gavlin tidak dapat memaafkan semua perbuatan kejahatan yang telah di lakukan Bramantio dan komplotannya, selain itu, Gavlin juga tidak akan melepaskan Jafar, yang telah membunuh Ibunya.


Gavlin bertekat kuat di hatinya, agar dia bisa cepat menuntaskan segala macam balas dendamnya, dia ingin, Bramantio dan komplotannya, mati di tangannya.


---


Para petugas pemadam kebakaran sibuk mematikan api yang berkobar dalam kantor perusahaan Wijaya yang meledak.


Para Petugas Kepolisian juga sibuk bekerja, mencari barang bukti dari puing puing kantor yang sudah hancur itu. Ada juga Tim Forensik yang hadir, mereka di tugaskan untuk mencari barang bukti, penyebab ledakan dan kebakaran kantor perusahaan Wijaya.


Sebuah mobil sedan masuk ke halaman kantor perusahaan Wijaya, lantas, Teguh segera keluar dari dalam mobilnya.


Teguh melepaskan kaca mata hitamnya, dia memandang pada reruntuhan kantor perusahaan Wijaya.


"Ini pasti perbuatan, Yanto!" Bathin Teguh bicara.


Teguh sudah menduga dan mengetahui, bahwa semuanya perbuatan Gavlin, atau yang dia kenal bernama Yanto juga.


Teguh tahu, jika Gavlin membalas dendam pada Wijaya, setelah dia tahu dari Gatot, bahwa Wijaya lah yang sudah meracuni Bapaknya.


Teguh sebenarnya tak butuh bukti, karena dia tahu pelaku yang meledakkan kantor perusahaan Wijaya, namun, dia berpura pura tidak tahu menahu.


Dia datang ke lokasi kejadian tersebut, hanya sekedar menjalankan tugasnya sebagai Polisi, yang ditugaskan untuk mengusut kasus pembantaian dan peledakan kantor perusahaan Wijaya.


Beberapa petugas Medis keluar dari dalam kantor perusahaan Wijaya yang sudah hancur, di atas tandu, mereka membawa mayat mayat para korban penembakan Gavlin.


Teguh terhenyak kaget, karena dia melihat, puluhan mayat bergeletakkan di aspal halaman kantor perusahaan Wijaya.


Teguh kaget dan tak menyangka, jika Gavlin, tidak hanya membunuh Wijaya seorang, tapi dia membantai semua karyawan yang ada di kantor perusahaan Wijaya.


Teguh sadar, bahwa Gavlin sudah tak bisa dikendalikan lagi, Gavlin tak akan bisa di cegah lagi, dia sudah benar benar berubah menjadi iblis yang haus darah.


Tanpa perasaan, Gavlin bisa membunuh siapa saja yang menghalangi niatnya membalaskan dendam.


Mayat Wijaya tampak di tandu oleh dua petugas Medis. Petugas Medis meletakkan mayat Wijaya, berjajar dengan mayat mayat lainnya di aspal halaman kantor perusahaan Wijaya.


Teguh segera menghampiri mayat Wijaya yang tengah di teliti oleh petugas Forensik. Teguh terdiam, saat dia melihat, tubuh Wijaya hancur dan penuh dengan lubang, bekas peluru peluru tajam yang menembus seluruh tubuh Wijaya.


Teguh terhenyak kaget, karena begitu banyaknya peluru yang bersarang di tubuh Wijaya.


"Yanto benar benar marah, Iblis dalam dirinya sudah bangun dari tidur panjangnya, ratusan peluru ditembakkan ke tubuh Wijaya, tanpa ampun, dia membantai Wijaya!" Bathin Teguh bicara.


Seorang Petugas Polisi menghampiri Teguh, dengan membawa serpihan pecahan granat yang sudah dia masukkan ke dalam plastik khusus barang bukti.


"Apa itu ditanganmu?!" tanya Teguh.

__ADS_1


Teguh curiga dan takut, dia takut, timnya menemukan bukti bukti yang ditinggalkan Gavlin di sekitar lokasi pembantaian tersebut.


"Pecahan granat, Pak. Sepertinya kantor ini di ledakkan dengan granat." Ungkap Petugas Polisi.


Mendengar perkataan petugas polisi, Teguh pun lega, sebab, ternyata tim nya tidak menemukan bukti yang mengarah pada Yanto, atau Gavlin.


"Kerja bagus! Kalo menemukan bukti lainnya, segera lapor ke saya." Tegas Teguh.


"Siap, Pak." Jawab Petugas Polisi, memberi hormat.


Teguh lantas pergi meninggalkan petugas polisi tersebut, dia masuk ke dalam mobilnya. Teguh lalu menghubungi Gavlin.


"Dimana kamu?!" tanya Teguh, di teleponnya.


"Dirumah, bang Bro." Jawab Gavlin, dari seberang telepon.


"Aku sekarang, lagi di kantor Wijaya, menyelidiki kasus pembantaian di kantornya, dan juga menyelidiki kematian Wijaya." Jelas Teguh, dari seberang telepon.


"Yan. Kamu kali ini gak ceroboh kan? Kamu gak meninggalkan barang bukti di lokasi, kan?!" Tanya Teguh, di telepon.


Wajah Teguh tampak serius dan sedikit cemas, dia khawatir, Gavlin ceroboh, dan tanpa sadar, meninggalkan jejaknya, seperti yang dia lakukan di rumah Bramantio tempo hari.


"Aku rasa nggak, bang Bro! Kali ini, aku rapi jalani misiku." Ujar Gavlin, dari seberang telepon.


"Baiklah. Tunggu kabar selanjutnya dariku." Jelas Teguh, ditelepon.


Teguh lantas menutup teleponnya, lalu, di masukkannya ponselnya ke dalam kantong celananya.


Teguh lantas menyalakan mesin mobilnya, dia lalu pergi meninggalkan lokasi kantor perusahaan Wijaya.


Dia pergi meninggalkan timnya, yang masih ada di lokasi, tengah menyelidiki. Tampak mobil pemadam kebakaran pergi, karena mereka sudah selesai dengan tugasnya.


Hanya tersisa tim medis, tim forensik, serta tim kepolisian di lokasi tersebut, mereka masih terus mencari cari barang bukti di setiap penjuru kantor perusahaan Wijaya yang sudah hancur itu.


---


"Kapan Ayah boleh pulang dari sini, Ayah jenuh di dalam kamar rumah sakit." ujar Gatot, lemah.


Wajah Gatot masih sedikit pucat, dan dia juga masih terlihat lemas. Maya tersenyum lembut menatap wajah tua Ayahnya itu.


"Makanya, Ayah istirahat, biar pulih dan kuat lagi. Jadi kan Ayah bisa cepat pulang ke rumah." ujar Maya, tersenyum lembut.


"Kenapa gak sekarang aja kita pulang, May? Ayah gak betah. Biar Ayah istirahat dirumah." Ujar Gatot, dengan wajah memelas.


"Sabar, Yah. kita tunggu beberapa hari ini, kalo Ayah semakin sehat, segar, gak pucat lagi, dan gak lemas, Maya akan meminta Dokter, agar mengizinkan Ayah pulang." Ungkap Maya, tersenyum lembut.


"Ya." Angguk Gatot lemah.


Gatot pun diam, dia tak bisa membantah Maya, dia hanya bisa menuruti semua perkataan Maya. Gatot sebenarnya sudah tak sabar untuk kembali bekerja.


Diam diam, dia khawatir dan memikirkan Gavlin, dia ingin membantu Gavlin, dalam menjalankan misi balas dendamnya.


Gatot juga bertekat dalam hatinya, dia akan mengungkap kebenaran dari kasus puluhan tahun lalu, dia ingin menangkap Sutoyo, tokoh besar, yang ada di belakang Bramantio selama ini.


---


Sebuah mobil melintas di kegelapan malam di jalan yang sepi, si pengendara adalah Ronald, tiba tiba, dia menginjak rem mobilnya.


Dia kaget, karena tanpa sengaja, dia menabrak seseorang. Ronald pun kaget, dengan cepat, dia keluar dari dalam mobilnya.


"Kampreeettt!! Menghalangi jalanku aja!!" Bentaknya marah.


Ronald berjalan menghampiri orang yang dia tabrak, dia bermaksud untuk menyingkirkan tubuh orang yang dia tabrak.

__ADS_1


Ronald kaget, saat melihat tubuh orang yang dia tabrak itu, karena, yang dia lihat, bukanlah tubuh manusia, tapi, itu adalah tubuh boneka berbentuk manusia.


Ronald pun geram, dia lantas mengambil pisau lipat dari kantong celananya, dia tahu, itu semua jebakan buatnya.


"Keparaaaattt !! Keluaaar kamu!! Jangan macam macam denganku Setaaan !!" Teriak Ronald marah.


Tiba tiba, keluar empat orang dari persembunyian mereka masing masing, di tangan mereka, ada balok kayu dan sebilah pisau.


"Bedebaaah!! Kalian mau merampok ku!! Teriak Ronald geram dan marah.


"Jangan banyak bacot!! Serahkan dompet dan seluruh perhiasan yang ada di tubuhmu, cepat !!" Bentak salah seorang perampok.


"Jangan melawan, kalo kamu mau hidup, turuti keinginan kami!! Cepat serahkan uang dan kunci mobilmu!!" Bentak seorang perampok lainnya.


Ronald diam, dia tampak geram dan marah, Ronald tersenyum menyeringai jahat, ke empat perampok tampak marah.


"Kurang ajar!! Kamu mau melawan kami, ha!!" Bentak orang ke tiga, dari perampok itu.


"Udah, habisi aja dia, kelamaan !!" Hardik perampok ke empat.


Ke empat perampok itu pun lantas menyerang Ronald, mereka menghantamkan balok kayu dan pisau yang ada ditangan mereka.


Ronald menghindari pukulan mereka berempat, Ronald pun lantas memberikan perlawanan.


Ronald pun membalas pukulan para perampok, jual beli pukulan pun terjadi.


Ronald yang terkenal bengis, dan lihai dalam berkelahi, dengan tenang menghadapi ke empat perampok yang tengah mengeroyoknya.


Ronald berhasil melumpuhkan seorang perampok, tanpa ampun, Ronald menghujamkan pisau belati miliknya ke dada perampok, perampok kejang kejang, lalu terkapar ditanah dan mati.


Melihat temannya mati, ke tiga perampok kalap, mereka bersama sama menyerang Ronald. Ronald menghindar dari hantaman pukulan mereka.


Ketiga perampok itu bukan tandingan Ronald, karena mereka hanyalah perampok kacangan, kelas teri.


Dengan mudah, Ronald mengalahkan ketiga perampok. Balok kayu dan pisau terlepas dari tangan ketiga perampok.


Dengan sadis, dan tanpa ampun, Ronald pun menghajar ketiganya, dia membantai mereka, menghujani perut mereka bertiga dengan pisau belati di tangannya.


Ketiga perampok pun mati terkapar, terkena tikaman pisau belati Ronald. Lalu, Ronald menggoreskan pisaunya di perut ke tiga perampok yang sudah mati.


Ronald memberikan tanda inisial dirinya 'R' , sebagai peringatan keras, agar tidak macam macam dengannya.


Ya, ke empat perampok itu apes, mereka merampok orang yang salah di tempat sepi dan gelap itu. Mereka merampok seorang psikopat , seorang pembunuh berantai, seorang yang senang memutilasi korban korbannya.


"Mau macam macam sama aku!! Mampus kalian!!" Bentak Ronald marah.


Tidak puas melihat ke empat perampok mati, Ronald pun lantas memotong kedua telinga, hidung, mulut, ke empat perampok tersebut.


Setelah itu, dia pergi, meninggalkan korbannya. Dia segera masuk ke dalam mobilnya.


Lalu, Ronald pun segera pergi, meninggalkan ke empat perampok, yang mati terkapar di tanah, dengan kondisi, telinga, hidung dan mulut mereka di potong potong Ronald.


Dengan sikap dingin dan kakunya, Ronald mengendarai mobilnya, menjauh dari lokasi pembunuhan, yang baru saja dia lakukan.


Dia menjilat bekas darah perampok yang menempel ditangannya, Ronald terlihat sangat menikmati, menjilat darah perampok ditangannya.


Mobil Ronald terus melaju, menembus kepekatan malam dan sunyi. Ronald terus menjalankan mobilnya, menyusuri jalanan raya yang sepi.


Wajahnya tampak tersenyum puas. karena dia baru saja membunuh lagi. Membunuh adalah pekerjaan yang menyenangkan buat Ronald, yang seorang psikopat gila dan haus darah.


Jika dia membunuh, tak akan ada yang bisa menghentikan dirinya, dia akan terus membantai korbannya, dia pasti akan memotong bagian bagian tubuh korban yang di bantainya.


Nasib ke empat perampok sangat tragis, karena uang, dan rasa lapar, mereka salah orang, mereka merampok seorang psikopat, tanpa mereka sadari, mereka telah menyerahkan nyawanya pada Ronald.

__ADS_1


__ADS_2