VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Hancurnya Tentara Bayaran


__ADS_3

Para pasukan tentara bayaran keluar dari dalam rumah bawah tanah Gavlin, dua tentara bayaran menggotong tubuh Gavlin yang di bungkus dengan menggunakan kain sprei.


Saat para tentara bayaran itu keluar dari dalam rumah bawah tanah, tiba tiba saja, pasukan polisi dari tim anti teror dan huru hara menyergap mereka.


Para tentara bayaran gelagapan, mereka kaget, karena tiba tiba saja di sergap dan ditodong dengan senjata laras panjang.


"Jangan bergerak!" Bentak Masto, pada para tentara bayaran.


Tentara bayaran yang di todong senjata tak bisa melawan, mereka pasrah dan diam saja, namun, dua tentara bayaran yang membawa tubuh Gavlin segera melarikan diri, mereka lari ke arah lain.


"Cepat kejar mereka!!" Perintah Andre, pada pasukannya.


Para pasukan polisi anti teror dan huru hara segera mengejar dua tentara bayaran yang lari membawa tubuh Gavlin.


Komandan Tentara bayaran keluar bersama pasukannya yang lain, melihat banyak polisi menyergap, mereka langsung menembak dan menyerang.


Andre kaget, karena tiba tiba mendapat serangan mendadak, dia pun lalu bersembunyi, menghindar dari tembakan para pasukan tentara bayaran yang di pimpin komandannya.


Aksi tembak menembak pun terjadi diantara kepolisian anti teror dan huru hara dengan tentara bayaran. Pertempuran yang seimbang.


Sementara itu, dua tentara bayaran yang membawa tubuh Gavlin terpojok di satu sudut, mereka menemui jalan buntu, tak bisa melarikan diri. Para polisi anti teror mengejar dan mendekati mereka, mau tak mau, dua tentara bayaran pun menyerah, mereka meletakkan tubuh Gavlin yang terbungkus kain sprei di tanah.


Dua Petugas Polisi anti teror mendekati dua tentara bayaran, lalu, mereka segera memborgol ke dua tentara bayaran.


Masto yang ikut mengejar mendekati tubuh Gavlin yang terbungkus sprei, lalu, dengan cepat, Masto membuka kain sprei yang membungkus Gavlin. Gavlin pun terbebas, Masto kaget melihat Gavlin dalam keadaan pingsan.


"Cepat bawa dia ke mobil." ujar Masto, pada seorang petugas polisi anti teror.


"Baik!" ujar petugas polisi anti teror.


Lalu, bersama temannya, petugas polisi berdua membopong tubuh Gavlin, mereka membawa Gavlin ke mobil, untuk segera di bawa kerumah sakit.


Sementara, beberapa petugas polisi anti teror menyeret dua tentara bayaran yang sudah di borgol , mereka membawanya juga ke mobil.


Masto lalu bergegas kembali ke halaman rumah Gavlin, untuk memberi bantuan pada pasukannya yang sedang tembak menembak dengan tentara bayaran.


Aksi tembak menembak yang sengit di menangi pihak kepolisian anti teror. Banyak dari tentara bayaran yang mati tertembak, begitu juga dari pihak kepolisian.


Beberapa petugas polisi anti teror dan huru hara juga banyak yang tewas terkena tembakan. Komandan tentara bayaran terpojok, dia melihat, anak buahnya tinggal tersisa sedikit, hanya tinggal 6 orang saja.


Tak ada pilihan lain baginya, Komandan tentara bayaran pun bergegas lari masuk kedalam rumah bawah tanah , ke enam tentara bayaran mengikutinya, mereka masuk ke dalam rumah untuk berlindung.


Andre memberikan aba aba pada pasukannya untuk terus menyerang dan menyergap, para petugas polisi anti teror dan huru hara berpencar, mereka masuk juga ke dalam rumah bawah tanah Gavlin, mengejar para tentara bayaran yang sudah terpojok.


Masto datang dan menghampiri Andre yang berdiri di pintu masuk ke dalam rumah bawah tanah.


"Gavlin sudah di bawa kemobil, Pak. Dia pingsan dan terluka parah!" tegas Masto.


"Suruh Chandra agar segera membawa Gavlin kerumah sakit, jangan sampai telat, dia harus segera di obati!" tegas Andre, memberi perintah.


"Baik, Pak." ujar Masto.

__ADS_1


Lantas, Masto bergegas pergi meninggalkan Andre, Andre lalu berjalan masuk ke dalam rumah bawah tanah mengikuti pasukannya yang menyebar dan sudah masuk ke dalam rumah bawah tanah.


Di dalam mobil, Chandra yang ikut dengan tim Andre diam menunggu, wajahnya tegang, dia melihat Masto datang mendekatinya.


Pintu di buka Chandra, muncul Masto berdiri disamping pintu mobilnya.


"Kamu cepat bawa Gavlin kerumah sakit, agar dia segera di obati!" ujar Masto.


"Oh, iya. Dimana dia?" tanya Chandra, dengan wajah tegangnya.


Di mobil unit anti teror, cepat kamu bawa dia, gunakan mobil itu!" tegas Masto.


"Baiklah." ujar Chandra.


Bagaimana dengan tentara bayaran itu?" tanya Chandra.


"Kamu gak usah mikirin, tugasmu bawa Gavlin segera kerumah sakit, cepat! Sudah gak ada waktu lagi, jangan sampe semua terlambat dan Gavlin gak bisa tertolong!" tegas Masto, memberi perintah.


"Baik, aku segera membawa Gavlin kerumah sakit." ujar Chandra gugup dan tegang.


Lalu, dia bergegas pergi meninggalkan Masto, dia menuju ke mobil anti teror, dimana tubuh Gavlin di letakkan oleh petugas polisi anti teror.


Chandra mendekati petugas polisi anti teror yang berdiri disamping mobilnya, Chandra melihat di dalam mobil , Gavlin terkulai pingsan di jok belakang.


"Ayo bawa dia kerumah sakit sekarang, saya disuruh Pak Andre membawa korban segera!" jelas Chandra, pada petugas polisi anti teror.


"Baik!" ujar Petugas Polisi anti teror.


Di dalam rumah bawah tanah, aksi tembak menembak masih terjadi, perlawanan semakin tak seimbang, pasukan polisi anti teror cukup banyak yang datang, sementara, tentara bayaran hanya tersisa tinggal enam orang saja.


Akhirnya, ke enam tentara bayaran pun terbunuh, mereka terkena tembakan dari pasukan anti teror, Komandan tentara bayaran mengamuk melihat anak buahnya sudah tewas semua.


Dia kalap, membabi buta menembaki para pasukan polisi, dia keluar dari persembunyiannya, dengan gagah berani, dia menembak ke arah para petugas polisi anti teror dan juga Andre.


Peluru peluru dari senapan petugas anti teror kepolisian menghantam tubuh Komandan tentara bayaran, hingga dia terluka parah, akibat terkena tembakan.


Akhirnya, Komandan tentara bayaran pun terjerembab jatuh ke lantai, dia ambruk tak berdaya dengan luka luka tembakan yang sangat banyak dan cukup parah.


Andre memberi isyarat pada pasukannya agar menghentikan tembakan mereka, karena Komandan tentara bayaran sudah terkapar di lantai dan sudah tak berdaya.


"Sudah cukup ! Hentikan tembakan kalian!" Perintah Andre pada pasukannya.


Serentak para pasukan kepolisian anti teror dan huru hara menghentikan tembakan mereka, Andre berjalan mendekat ke arah Komandan tentara bayaran yang sudah terkulai lemah tak berdaya di lantai, darah segar mengalir dari seluruh tubuh Komandan tentara bayaran, dia terkena tembakan yang cukup parah.


Andre berjongkok di samping Komandan tentara bayaran yang sudah tak berdaya, dia tersenyum sinis melihat si komandan tentara bayaran yang sudah kesulitan bernafas itu.


"Apa kamu suruhannya Binsar, ketua organisasi Inside ?!" tanya Andre, menatap tajam wajah Komandan tentara bayaran.


Komandan tentara bayaran diam tak menjawab, dia melotot pada Andre, lalu, dia pun tersenyum sinis, kemudian, tiba tiba, Komandan tentara bayaran menggigit lidahnya dengan sangat kuat, hingga lidahnya mengeluarkan darah dan putus. Andre kaget melihat aksi bunuh diri Komandan tentara bayaran yang menggigit lidahnya itu.


Lalu, Komandan tentara bayaran pun meregang nyawa, dia mati, mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri dan menggigit lidahnya hingga terputus.

__ADS_1


Masto berjalan mendekati Andre, dia melihat, Komandan tentara bayaran sudah mati di lantai.


Andre lantas berdiri, dia menghela nafasnya menatap lekat wajah Komandan tentara bayaran yang sudah mati itu.


"Panggil tim medis dan beberapa mobil ambulance kesini, untuk membawa mayat mayat tentara bayaran ini!" tegas Andre, memberi perintah.


"Baik, Pak." jawab Masto.


Lalu, Masto pun segera menghubungi petugas tim medis untuk segera datang kelokasi, guna mengamankan mayat mayat dari pasukan tentara bayaran dan juga dari pihak kepolisian.


Setelah menghubungi para petugas tim medis, Masto lalu menyimpan ponsel kedalam kantong celananya, lalu, dia mendekati Andre yang masih berdiri di depan mayat Komandan tentara bayaran.


"Bagaimana Gavlin?" tanya Andre, pada Masto.


"Sudah di bawa Chandra kerumah sakit tadi, Pak." ujar Masto, memberi penjelasan.


"Mudah mudahan Gavlin masih bisa tertolong." ujar Andre, dengan wajah penuh harap.


"Ya, Pak. Luka lukanya sangat parah, dan sepertinya dia pingsan karena terlalu banyak mengeluarkan darah." ujar Masto.


"Ya." Angguk Andre.


Andre lantas mengamati sekitar ruangan di rumah bawah tanah rumah Gavlin, ada kekaguman di raut wajah Andre melihat tata letak bangunan rumah bawah tanah Gavlin itu.


"Saya gak menyangka, kalo selama ini ternyata Gavlin masih tinggal di rumahnya yang sudah hancur berantakan, dia bersembunyi dirumah bawah tanahnya ini." ujar Andre.


"Jika saja Chandra tak ceroboh, dia pasti gak akan terlacak, dan rumah bawah tanah Gavlin ini gak akan pernah di temukan siapapun." ujar Andre.


"Iya, benar Pak. Sulit mencari persembunyian Gavlin selama ini, dan ternyata dia tinggal di sini, tidak kemana mana." ujar Masto.


"Ya, Chandra pasti merasa sangat bersalah dengan semua ini, saya tau dari raut wajahnya yang panik dan cemas, waktu datang meminta pertolongan." jelas Andre.


"Ya, Pak." Angguk Masto.


"Baiklah, kita tunggu kedatangan tim medis di luar saja." ujar Andre.


"Siap, Pak." jawab Masto, memberi hormat.


Lalu, Andre pun bergegas pergi keluar dari dalam rumah bawah tanah rumah Gavlin dengan di ikuti Masto di belakangnya.


Di rumah sakit, Gavlin sudah ditangani oleh Dokter, dia sekarang sedang mendapatkan penanganan serius dari dokter di ruang ICU.


Wajah Chandra tampak tegang dan cemas,ada rasa was was dan cemas dalam diri Chandra, dia sangat mengkhawatirkan keselamatan nyawa Gavlin.


Dia ingin Gavlin hidup, karena Gavlin sudah sangat berjasa, telah menyelamatkan dirinya, dan Gavlin telah mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk menyelamatkan dirinya, Chandra merasa berhutang nyawa pada Gavlin.


"Semoga kamu baik baik aja, Vlin." Gumam Chandra, dengan wajah sedihnya.


Chandra lantas duduk di bangku tunggu yang ada di depan ruang ICU, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Kecemasan dan keresahan terus muncul dalam dirinya, Chandra tidak bisa tenang, sebelum dia mengetahui kondisi Gavlin.


Chandra resah dan gelisah, menunggu Dokter selesai menangani Gavlin di dalam kamar ruang ICU rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2