VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Bebasnya Sang Psikopat


__ADS_3

Gatot beserta Teguh dan tim Kepolisian juga tim ahli Forensik datang ke kantor Bramantio.


Di dalam ruangan, masih ada Bramantio bersama Masayu, beserta Surya.


Seorang Petugas ahli Forensik mengambil potongan tangan milik Jauhari, menelitinya sesaat, lantas dia masukkan ke dalam plastik khusus untuk barang bukti, lalu dimasukkannya potongan tangan yang sudah terbungkus plastik ke dalam sebuah kotak khusus yang dia bawa.


Gatot tampak berfikir keras, dia memikirkan, mengapa hanya tangan Jauhari saja yang di kirimkan si pembunuh pada Bramantio?


Lantas, dimana tubuh Jauhari?


Gatot memikirkan hal tersebut, sebab, di ruang kerja Bramantio, dia tak menemukan tubuh Jauhari.


Ada kesamaan yang ditemukan Gatot pada penemuan anggota badan korban.


Pelaku sama sama memutilasi korban dan mengirimkan potongan tubuh korbannya.


Potongan kepala Samsul di kirimkan ke Wijaya, dan Potongan tangan Jauhari, dikirimkan pada Bramantio.


Gatot pun menyimpulkan, bahwa pelakunya orang yang sama.


Gatot juga semakin menemukan titik terang pada kasus tersebut saat ini.


Dengan kematian Jauhari, Kepala Desa Kampung Rawas yang sudah musnah dibantai.


Maka, pembakaran rumah warga kampung Rawas dan pembantaian massal kampung rawas ada hubungannya dengan kasus pembunuhan yang sedang dia usut.


Sementara itu, Bramantio berusaha menghindari Gatot yang mau bertanya padanya.


Gatot tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, Bramantio tidak mau menjelaskan, bagaimana sebenarnya hubungan dia dengan korban Jauhari tersebut.


Gatot tahu, ada yang sedang di sembunyikan Bramantio dari dirinya, dan Gatot bertekat, akan mencari tahu sendiri.


Dia akan menyelidiki kasus tersebut sampai ke akar akarnya, dia akan mencari tahu, bagaimana hubungan Jauhari dan Bramantio selama ini, mengapa Jauhari di bunuh lantas potongan tangannya di kirimkan ke Bramantio.


Apakah Jauhari ada hubungannya dengan kasus pembunuhan dan pembakaran yang terjadi 18 tahun lebih yang lalu?


Apakah Jauhari terlibat dalam pembakaran rumah Sanusi dulu?


Gatot berfikir keras, dia tampak sedang mencari jawaban dari semua kasus yang sudah dia selidiki dan temukan.


Tanpa banyak basa basi, Gatot beserta tim Kepolisian dan tim ahli Forensik pun pergi keluar dari ruang kerja Bramantio.


Mereka membawa potongan tangan Jauhari untuk di selidiki lebih jauh oleh Dokter bedah mayat nantinya.


Dan potongan tangan tersebut akan dijadikan bukti pembunuhan Jauhari.


Bramantio terduduk lemas di kursi kerjanya, wajahnya masih menyimpan dendam dan amarah yang membara.


Sementara, Surya hanya bisa berdiri takut dan terdiam, dia tak berani mengeluarkan sepatah kata pun, dia takut, Bramantio memarahi dirinya jika dia salah bicara.


Masayu tampak menyimpan kesedihannya akan kematian Mike, anak tersayangnya, selain itu, dia juga tampak sangat marah sekali, dia marah pada orang yang telah membunuh anaknya.


Di hatinya, Masayu ingin sekali, dia bisa segera menemukan pembunuh anaknya, dan lantas dia akan membalas dendam.


"Kalo kamu gak juga bertindak, aku sendiri yang akan bertindak !" Ujar Masayu marah pada Bramantio.


"Jangan nekat Ma, dengan cara apa kamu membalas dendam?!" Ujar Bramantio jengkel.


"Aku akan mencari cara, bagaimana agar aku bisa menemukan pembunuh Mike !" Bentak Masayu marah.


"Jangan nekat Ma, kamu bisa dibunuh orang itu nanti !" Ujar Bramantio geram.


"Aku gak perduli !! Pokoknya aku akan mencari orang itu kemanapun! Aku akan menemukannya, dan mencabik cabik pembunuh itu !!" Bentak Masayu.


Bramantio menahan geramnya, dia menatap tajam wajah Masayu, Mata Bramantio memerah, dia menahan amarahnya pada istrinya yang semakin menjadi membentak dan berteriak padanya.


Surya hanya tertunduk diam, dia berpura pura tidak mendengarkan percakapan Bramantio dan Masayu.


"Sudahlah, serahkan saja semuanya sama Polisi Polisi tadi." Ujar Bramantio.


Bramantio berusaha menenangkan istrinya, agar istrinya tidak ikut campur, dan terlibat dalam masalahnya.


Bramantio tak ingin, Istrinya malah akan jadi sasaran si Pembunuh, jika istrinya terus menerus berusaha mencari si pembunuh tersebut.


"Aku gak bisa hanya berdiam saja, aku gak bisa cuma duduk manis menunggu kabar dari Polisi ! Aku gak percaya sama Polisi Polisi tadi!!" Teriak Masayu.


Masayu tak mau mendengarkan penjelasan Bramantio, dia yang kalap dan marah dalam kesedihannya tak dapat menerima kematian anaknya.


"Dimana makam anakku ?!" Bentak Masayu pada Bramantio.


"Di pemakaman keluarga kita, aku menguburkannya di sana, dekat dengan kuburan orang tuaku." Ujar Bramantio.


Masayu lantas pergi meninggalkan Bramantio, tanpa ada sepatah kata Masayu keluar dari ruang kerja Bramantio.


Masayu pergi membawa luka dan amarah yang meledak ledak dalam dirinya.


Surya menghela nafasnya, dia merasa lega Masayu sudah pergi, dengan kepergian Masayu, maka dia tak harus terus mendengar pertengkaran suami istri tersebut.


"Tinggalkan saya !" Perintah Bramantio pada Surya.


"Baik Pak." Jawab Surya memberi hormat.


Lantas Surya, Asisten Manager Bramantio pun keluar dari ruang kerja Bramantio.


Bramantio yang duduk di kursi meja kerjanya tampak geram, dia mengepalkan tangannya, menahan amarahnya yang membara di dadanya.


Di dalam ruang kamar sempit, Yanto tertawa kecil menatap layar monitor cctv.


Saat ini, Yanto sedang mengawasi Bramantio melalui cctv.


Yanto menyeringai buas, tatapan matanya tajam, wajahnya terlihat menunjukkan kebencian pada Bramantio.


Dari layar monitor cctv nya, Yanto pun tahu, jika Masayu, istri Bramantio ingin membalas dendam pada dirinya, sebab tak terima dengan kematian anaknya.


"Bramantio...Keluargamu akan hancur ! Tunggu saja waktunya." Ujar Yanto dengan suara berat.


Tatapan mata Yanto tajam dan sikapnya dingin, bibirnya tersungging, menyeringai geram.


Matanya masih terus menatap layar monitor cctv yang ada di atas meja, dia melihat dari layar monitor, Bramantio duduk di kursi meja kerjanya terdiam.


Yanto lantas mematikan layar monitor cctv, kemudian dia pun keluar dari dalam ruang kamar sempit tersebut.


---

__ADS_1


Masayu tampak masih memendam amarahnya, dia saat ini sedang menelpon seseorang di dalam mobilnya.


"Aku gak mau tau, Pokoknya kamu harus pulang secepatnya !! Aku mau, kamu memburu pembunuh Mike, dan membalaskan dendamku!!" Teriak Masayu di telepon.


Masayu tampak marah dengan orang yang saat ini dia telepon.


"Gak usah banyak tanya, urus saja kepulanganmu secepatnya ! Nanti, kalo kamu udah sampai dan bertemu aku, kamu akan tau semuanya !!" Bentak Masayu ditelepon.


Lalu dengan kesal Masayu mematikan teleponnya, dia melemparkan ponselnya ke dalam dashboard mobilnya.


Wajah Masayu tampak sangat marah, butiran air mata menggantung di kelopak matanya, dia menahan tangisnya.


Dia pun lantas menghapus butiran air matanya tersebut, dia tak mau terus menangisi kematian anaknya.


Dengan geram dan menahan amarahnya, Masayu menyalakan mesin mobilnya.


Sesaat kemudian, dia pun menyetir mobilnya, keluar dari halaman parkir perkantoran Bramantio.


Mobil Masayu melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri jalan raya, meninggalkan gedung perkantoran milik Bramantio, suaminya.


---


Maya sedang berjalan di trotoar jalan, saat dia asyik berjalan, dia melihat Gavlin sedang memarkirkan motornya dan masuk ke dalam Mini Market.


Wajah Maya pun terlihat cerah, dia tersenyum senang melihat Gavlin, dengan cepat Maya bergegas menghampiri Gavlin.


Di halaman parkir Mini Market, Maya mengamati motor Gavlin, sebuah Motor Sport yang terlihat masih baru.


Maya sangat mengagumi motor sport milik Gavlin yang terkesan mewah dan mahal tersebut.


Maya berdiri di samping motor sport Gavlin, dia sengaja menunggu Gavlin dan tak masuk ke dalam Mini Market.


Dari luar, Maya melihat jelas Gavlin sedang berbelanja kebutuhan dia sehari hari.


Gavlin tidak menyadari kehadiran Maya, dia juga tak tahu, jika saat ini, Maya sedang memandangi dia dengan wajah yang tersenyum penuh cinta.


Gavlin lantas keluar dari dalam Mini Market, dia sudah selesai berbelanja.


"Maya?!" Ujar Gavlin.


Dia kaget karena Maya sudah berdiri di depan motornya.


Gavlin menatap lekat wajah Maya yang tersenyum manja padanya, Gavlin heran, mengapa Maya tiba tiba ada di depan Mini Market seperti sedang menunggunya.


"Kok kamu tau aku disini?" Tanya Gavlin heran.


"Aku liat kamu tadi, aku bete, jadi kabur dari kantorku." Ujar Maya tersenyum manja.


"Oh." Angguk Gavlin.


"Motor kamu baru Vlin, beli kapan?" Tanya Maya.


"Iya, baru kemaren aku beli, biar kalo kemana mana, aku bisa naik motor, capek juga kalo jalan kaki terus." Ujar Gavlin tersenyum.


"Gak apa lagi, kan sekalian olah raga, kayak aku." Ujar Maya tersenyum.


"Iya sih, tapi kan kalo mau pergi jauh agak ribet May, harus naik taksi atau nyambung nyambung kendaraan umum, jadi habis dijalan waktunya." Ujar Gavlin tersenyum.


Gavlin sengaja membeli motor sport, agar dia lebih mudah dalam menjalankan misi balas dendamnya.


Dia memilih memakai motor daripada mobil, agar dia bisa lebih cepat bergerak saat mulai beraksi.


Terlebih lagi, jika dirinya beraksi dengan sosok Yanto, Yanto akan selalu menggunakan mobil sportnya.


Gavlin hanya ingin, ada perbedaan antara dirinya dan Yanto, agar orang orang atau pun musuh musuhnya tak pernah tahu, jika dia dan Yanto orang yang sama.


"Kamu mau cobain motorku May?" Ujar Gavlin tersenyum.


"Boleh Vlin." Ujar Maya tersenyum senang.


"Ayo deh." Ajak Gavlin tersenyum.


Gavlin lantas menyimpan belanjaannya ke dalam dashboard motornya.


Gavlin mengambil helm, dan memberikannya pada Maya, Mayapun langsung memakai helm yang diberikan Gavlin.


Setelah memakai helmnya juga, Gavlin pun lantas naik ke atas motor dan menyalakan mesin motornya, Maya lantas naik di boncengan tanpa menunggu di suruh Gavlin.


Maya merangkul erat pinggang Gavlin yang bersiap siap.


"Pegangan yang kuat May !" Ujar Gavlin sedikit keras suaranya.


"Iya Vlin !" Jawab Maya, juga dengan suara yang sedikit keras.


Sesaat kemudian, Gavlin pun menjalankan motornya.


Motor Gavlin melaju dengan kecepatan tinggi, Maya terus memeluk erat pinggang Gavlin.


Wajah Maya terlihat senang, begitu juga Gavlin.


Sambil terus mengendarai motornya, Gavlin terus tersenyum senang.


Dia senang dan bahagia, bisa bersama sama dengan Maya, jalan jalan berboncengan dengan motornya.


Gavlin berencana membawa Maya ke tempat yang indah dan romantis, dia ingin jalan jalan menghabiskan waktu berdua dengan Maya, gadis yang sangat dia cintai dan sayangi selama hidupnya itu.


---


Bramantio ditemani Surya, Asisten Managernya berdiri di halaman luar rumah tahanan.


Bramantio duduk di dalam mobilnya, sementara Surya berdiri di luar, di depan mobil.


Surya berdiri menunggu, saat ini, Bramantio tampak sedang menunggu seseorang.


Kedatangan Bramantio ke rumah tahanan dengan tujuan, dia mau menjemput seseorang yang dia kenal, dan sedang berada di dalam tahanan.


Tak lama kemudian, Pintu gerbang rumah tahanan terbuka, Surya melihat sosok seorang dari dalam rumah tahanan berjalan menuju pintu gerbang rumah tahanan yang terbuka.


Surya segera menghampiri Bramantio yang duduk di jok belakang mobilnya menunggu.


"Sepertinya dia sudah datang Pak." Ujar Surya memberi tahu Bramantio.


Tanpa menjawab Surya, Bramantio pun membuka pintu mobil, lalu dia bergegas keluar dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Bramantio lantas berdiri di depan mobilnya, dia merapikan jasnya, lalu bersiap siap menyambut kedatangan orang yang sudah dia tunggu tunggu sejak tadi.


Surya berdiri disamping Bramantio, dia juga bersiap siap untuk menyambut orang tersebut.


Sosok seorang Pria berusia 45 tahun berjalan cuek keluar dari pintu gerbang rumah tahanan.


Sosok Pria tersebut tinggi besar, badannya kekar dan berotot, wajahnya terlihat angkuh dan menakutkan, ada bekas sayatan panjang di antara hidung dan bawah matanya.


Sosok Pria tersebut berjalan mendekati Bramantio yang sudah berdiri menunggu kedatangannya.


Sosok Pria tersebut tersenyum kecil melihat Bramantio bersama Asisten Managernya datang menjemput.


"Bang Bramantiooo...apa kabar?!" Ucap Sosok Pria tersebut dengan wajah senang.


"Kabarku baik baik aja Nald !" Ujar Bramantio senang.


Mereka pun lantas berpelukan, melepaskan kerinduan, sebab, sudah bertahun tahun tidak pernah bertemu.


Hanya sesekali saja Bramantio berkunjung kerumah tahanan tersebut.


"Ini Ronald, adiknya Samsul." Ujar Bramantio pada Surya.


Bramantio memperkenalkan pada Surya, Sosok Pria tersebut ternyata bernama Ronald, dan dia adik kandung Samsul, Pemimpin Wolf Gank, yang sudah mati terbunuh.


Ronald tersenyum dingin pada Surya, Surya pun mengangguk hormat dan segan pada sosok Ronald tersebut.


Surya takut takut melihat Ronald yang tinggi besar dan kekar itu, apalagi dia lihat wajah Ronald terlihat bengis dan angkuh, Surya semakin tak berani menatapnya lama lama.


"Aku senang kamu bebas ! Begitu aku dapat kabar dari Petugas Lapas yang bilang kalo kamu bebas hari ini, aku langsung datang menjemputmu." Ujar Bramantio tersenyum senang.


"Aku juga senang Bang, aku bisa menghirup udara segar, 15 tahun aku mendekam dalam penjara, dan akhirnya aku bebas juga." Ujar Ronald tertawa senang.


"Iya Nald, Mari kita rayakan kebebasan kamu Nald." Ujar Bramantio tersenyum senang.


"Ayo bang." Jawab Ronald senang.


Dengan senang hati Ronald menuruti ajakan Bramantio untuk merayakan kebebasan dirinya dari penjara.


Surya membuka pintu belakang mobil, Bramantio lantas masuk ke dalam mobil, lalu di ikuti Ronald, yang lantas duduk di samping Bramantio, di jok belakang.


Setelah menutup pintu belakang mobil, Surya bergegas kedepan mobil.


Dia pun membuka pintu depan mobil, lalu masuk dan duduk di jok depan mobil, di samping supir.


Setelah semuanya naik dan masuk ke dalam mobil, Supir yang sudah menunggu dari tadi didalam mobil segera menyalakan mesin mobilnya.


Kemudian, Mobil pun segera melaju, pergi menjauh, meninggalkan rumah Tahanan.


"Selamaat tinggaaaalll rumaaahkuuu...!!" Teriak Ronald dari dalam mobil.


Kepalanya keluar di jendela pintu mobil, dia tertawa tawa senang sambil menghirup udara segar, udara kebebasan dirinya.


Sementara Bramantio tampak sangat senang sekali dengan kebebasan Ronald.


Dengan bebasnya Ronald, maka dia kini punya pengawal yang dapat dia andalkan untuk memburu dan menghadapi orang yang meneror dan membunuh anaknya serta Samsul.


Bramantio yakin, Ronald akan menuruti perintahnya, jika dia nanti tahu, kalau abang kandungnya, Samsul mati di bunuh oleh orang yang juga telah membunuh anaknya.


Dengan adanya Ronald, Bramantio berfikir, dia tidak akan bersusah payah turun tangan sendiri.


Dia cukup mengandalkan Ronald, menyerahkan semuanya pada Ronald, untuk menyelesaikan masalahnya, dan membalaskan dendamnya.


Surya yang duduk di jok depan hanya terdiam sepanjang jalan.


Ronald lantas memasukkan kepalanya yang tadi keluar di jendela pintu. Lalu, dia pun menutup kaca pintu mobil.


Ronald tersenyum, matanya terpejam, dia seperti sedang menghirup udara segar.


Ronald sangat senang dengan kebebasannya, sudah lama dia menunggu hari kebebasannya.


Setelah dia mendekam di penjara selama 15 tahun sebab kasus pembunuhan dan mutilasi yang dia lakukan terhadap 12 korbannya.


Ronald di penjara 15 tahun karena kasus mutilasi, dia tidak di hukum mati, sebab, Bramantio ikut campur dan turun tangan.


Bramantio yang menyuruh hakim, agar memberi hukuman Ronald hanya 15 tahun dan tidak di hukum mati.


Hakim yang sangat kenal Bramantio menuruti permintaan Bramantio, itu sebabnya, Ronald hanya di tahan selama 15 tahun, padahal kasusnya sangat mengerikan.


Semua permainan Bramantio yang mudah mengendalikan pihak pihak terkait yang menjalani proses persidangan Ronald dulunya.


Bramantio juga membayar petugas lapas agar selalu menjaga dan mengawasi serta melindungi Ronald selama berada di dalam penjara.


Ronald bersama Samsul sejak dulu menjadi orang kepercayaan Bramantio, mereka berdua lah yang selama ini ditugaskan Bramantio menyelesaikan masalahnya.


Bramantio juga tak segan segan menyuruh Ronald dan Samsul membunuh lawan lawan bisnis dan politiknya yang mengganggu dan menghalangi langkahnya.


Dan setelah Ronald berhasil ditangkap lalu di penjara, hanya tinggal Samsul seorang saja yang membantu Bramantio.


Bramantio sempat putus asa, saat Samsul mati, sebab dia merasa susah tak punya orang yang dapat dia andalkan.


Namun, dengan bebasnya Ronald, Bramantio kembali percaya diri, dia bersemangat, dan yakin, bahwa dia akan segera menemukan pembunuh anaknya.


Bramantio merencanakan sesuatu hal, dia akan menjelaskan semuanya pada Ronald, tentang kematian Samsul, tentang pembantaian anggota wolf gank.


Bramantio akan membuat Ronald emosi dan marah, dengan begitu, dia akan mudah mengendalikan Ronald, dia akan menugaskan Ronald menyelesaikan urusannya.


Ronald adalah sosok Pria Psycho, dia berdarah dingin, lebih kejam dan sadis dari Samsul.


Pribadinya tak mudah di tebak, karena psycho, tak ada yang bisa menebak jalan pikirannya.


Sebagai psikopat, Ronald selalu bertindak mengikuti apa yang di pikir dan dia rasakan saat itu juga.


Tanpa segan segan dan tak ada rasa kasihan, dia akan membantai, membunuh, bahkan memotong motong bagian bagian tubuh musuhnya.


Dengan kebebasan Ronald, maka, Yanto atau Gavlin akan menemukan hambatan besar.


Gavlin atau Yanto akan berhadapan dengan Ronald, seorang psikopat berdarah dingin.


Dan Gavlin atau Yanto, yang juga sebenarnya seorang Psycho harus mempersiapkan dirinya nanti.


Ya, pertarungan antara Psikopat melawan Psikopat akan terjadi nantinya.


Dan hal itu tentunya tak akan dapat di hindari, pasti akan terjadi cepat atau lambat nantinya.

__ADS_1


__ADS_2