
Mike tersadar dari pingsannya. Dia membuka matanya perlahan lahan.
Saat dia melihat dan tahu dia dimana, wajahnya terlihat kaget dan panik.
Mike terlihat ketakutan, dia menoleh ke kanan dan kekiri tak bisa bergerak.
Tubuhnya berada didalam tong berukuran besar, dan dia dipenuhi dengan semen basah.
Semen basah menutupi seluruh tubuh Mike, hanya menyisakan bagian kepala saja, sementara dari leher hingga ke kakinya sudah tertutup semen basah.
"Lepaskan... Lepaskan aakuuu !!" Teriak Mike sekuat kuatnya.
Suaranya bergema di dalam gudang yang besar dan luas, ya, saat ini, Mike berada di dalam gudang milik Yanto atau dikenal juga dengan nama Gavlin.
Gudang tempat yang biasa dipakai Yanto bekerja saat dia membuat Patung Lilin.
Mike terus meronta ronta, namun usahanya sia sia, sebab, tak ada orang yang mendengarnya, dan tak akan ada orang yang datang menolongnya.
Semen basah yang menutupi tubuhnya semakin mengering, Mike semakin panik.
Ada ketakutan pada diri Mike, dia takut mati, Mike tak ingin mati.
"Tolooong...jangan bunuh akuu...lepaskan akuu...aku mohooon...!!" Rengek Mike.
Mike tampak sudah semakin putus asa. Dia pun pasrah, saat dia merasakan semen semen sudah mengeras menempel disetiap bagian bagian tubuhnya.
Mike semakin tak bisa menggerakkan badan dan lehernya, dia sudah kaku, karena tertutup semen yang mengering.
Gavlin melangkah dengan santai, dia mendekati Mike yang berada didalam tong, dengan tubuh tertimbun semen.
Ternyata semua bahan bahan bangunan seperti semen dan tong yang disiapkan Gavlin sebelumnya, untuk dia gunakan menyiksa dan membunuh Mike.
Gavlin berdiri di depan Mike, dia tersenyum sinis menatap tajam wajah Mike yang ketakutan.
Mike kaget melihat Gavlin berdiri di depannya dengan tersenyum sinis.
"Kematianmu udah dekat Mike." Ujar Gavlin menyeringai buas.
Mike semakin ketakutan mendengar perkataan Gavlin.
"Tolong Vlin, lepaskan aku...lepaskan aku...aku belum mau mati...aku masih mau hidup ...!" Rengek Mike ketakutan.
"Linda juga pasti masih mau hidup, dan dia gak mau mati !! Tapi kamu membunuhnya !!" Bentak Gavlin penuh amarah.
Gavlin menatap tajam wajah Mike yang ketakutan, wajah Gavlin merah padam.
Emosi marah sudah meluap di dalam jiwanya. Gavlin sangat geram dan marah serta dendam pada Mike.
"Kamu udah aku peringatkan sebelumnya Mike, jangan usik aku! Tapi kamu gak kapok, setelah kamu bayar orang buat ngeroyok aku, kamu lantas membayar orang untuk membunuh Linda !" Hardik Gavlin marah.
"Dari mana kamu tau, aku membunuh Linda, bukannya Linda mati karena kecelakaan?" Ujar Mike berpura pura tidak tahu tentang kematian Linda.
"Jangan coba coba bodohi aku Mike! Aku tau, semua perbuatan kamu! Kamu sengaja merencanakan kecelakaan Linda, agar kematiannya ditetapkan sebagai kecelakaan biasa !!" Bentak Gavlin.
"Tapi orang bayaran kamu itu tolol Mike ! Dia meninggalkan banyak jejak, bukan hanya polisi saja, aku pun langsung tau, siapa pelaku yang membunuh Linda!! Bentak Gavlin marah.
Mike kaget, karena ternyata Gavlin tahu, bahwa pembunuhan Linda, dia yang merencanakannya semua.
"Wolf Genk, kamu bayar anggota mafia itu buat ngebunuh Linda!" Hardik Gavlin penuh emosi marah.
Mike semakin kaget, ternyata Gavlin tahu, kalau dia membayar Zulfan, anggota Wolf Genk untuk menjalankan rencana dia membunuh Linda.
"Jadi, kamu yang membantai anggota Wolf Genk?" Tanya Mike ketakutan.
"Ya, aku yang bantai preman preman itu ! Aku sengaja datang ke Markas mereka buat menghancurkan mereka semua !!" Bentak Gavlin penuh amarah.
Mike terdiam, akhirnya terjawab semua, bahwa pelaku pembantaian anggota Wolf Genk adalah Gavlin.
Mike tak menyangka, jika Gavlin seorang diri, mampu membantai anggota anggota Wolf Genk yang terkenal sadis dan kejam.
"Kamu benar benar pengecut!! Kamu cuma berani membayar orang dan memakai tangan orang lain untuk membunuh, membalaskan dendam dan sakit hatimu !!" Hardik Gavlin.
Mike terdiam, dia sudah pasrah dengan nasibnya, dengan kondisinya sekarang, di lumurin semen kering seluruh tubuhnya, dia tahu, sebentar lagi dia akan mati, sebab, Gavlin akan membunuhnya.
Dia pasrah, karena tak ada gunanya memohon pada Gavlin untuk melepaskannya, sebab, Gavlin tak akan pernah melepaskannya.
Dengan berada didalam tong dan di lumurin semen kering, maka Gavlin memang berniat membunuhnya.
Gavlin mengambil sebuah ember berukuran sedang yang didalamnya berisi semen basah yang sudah dia siapkan sebelumnya.
__ADS_1
Gavlin mengangkat ember, lalu menuangkannya ke kepala Mike, Mike pun megap megap, karena semen basah mengguyuri kepala dan wajahnya.
Mike tidak bisa menghapus semen basah yang menempel di atas mata dan wajahnya.
Dengan bengis, Gavlin terus menuang habis semen basah.
Tidak menunggu lama, Seluruh tubuh dan kepala Mike pun sudah di penuhi semen.
Gavlin meletakkan ember kosong bekas semen basah, dia lantas mengambil jarum suntik yang sudah di isinya dengan racun sianida.
Gavlin tersenyum sinis menatap wajah Mike yang dibaluri dan di penuhi semen basah.
Dengan cepat Gavlin mengarahkan jarum suntik dan memasukkan jarum kedalam lubang hidung Mike.
Gavlin pun menyuntikkan racun sianida yang ada didalam jarum suntik.
Mike kejang kejang seketika, matanya terbuka lebar, melotot, mulutnya mengeluarkan busa.
Gavlin tanpa menunggu Mike mati, dengan cepat mengambil tutup tong yang ada di atas meja besar.
Dia menekan paksa kepala Mike kedalam tong dengan menggunakan penutup tong yang ada ditangannya.
Lalu Gavlin menutup rapat tong, dia dengan cepat mengambil lem besi dari atas meja besar.
Lalu sekeliling penutup tong, dia lumurin dengan lem besi, agar penutup tong tertutup rapat dan tidak bisa terbuka dengan mudahnya.
Gavlin menyeringai buas, wajahnya terlihat puas, karena dia sudah berhasil menghabisi nyawa Mike.
Gavlin berhasil membalaskan dendamnya sendiri, karena Mike membayar orang untuk mengeroyok dan mencoba untuk membunuhnya.
Selain itu, Gavlin membunuh Mike, karena dia dendam, sebab Mike sudah membunuh Linda.
"Satu persatu kalian akan ku bantai, tunggu saja waktunya !" Ujar Gavlin dengan geram menahan amarahnya.
---
Malam hari, Mobil Bramantio hendak masuk ke rumahnya, namun supir berhenti di depan pagar rumah.
Pintu pagar rumah secara otomatis terbuka, begitu mobil Bramantio berhenti di depan pagar.
Supir melihat, ada tong besi besar di tengah tengah pagar rumah, dan itu menghalangi Mobil yang mau masuk kedalam rumah.
Supir bergegas hendak turun, Bramantio yang duduk di jok belakang heran, melihat supir barunya itu mau turun dan keluar dari mobilnya.
Bramantio kesal, karena supirnya tidak langsung masuk kedalam rumah, padahal pintu pagar sudah terbuka lebar.
"Ada tong besar ngalangin masuk mobil Pak." Ujar Supir pribadi Bramantio yang baru, pengganti Gavlin.
Mendengar perkataan supirnya, Bramantio pun berusaha melihat ke depan dan keluar mobilnya.
Karena dia tak bisa melihat dengan jelas, dan dia penasaran, Bramantio pun ikut turun dan keluar dari dalam mobilnya, menyusul Supir yang sudah mendekati tong besar.
Bramantio terlihat heran, karena di depan pintu pagar masuk rumahnya, ada tong berukuran besar menghalangi masuk mobilnya.
Supir mencoba membuka penutup tong, namun, penutup tong tertutup sangat rapat.
"Gak bisa dibuka Pak." Ujar Supir pribadi Bramantio.
Bramantio heran, siapa yang sudah meletakkan tong besar di depan pagar rumahnya malam malam.
"Cepat singkirkan tong itu !" Perintah Bramantio kesal.
Supir mau memindahkan tong, tapi dia tak bisa mengangkat tong besar itu, karena sangat berat.
Supir sekali lagi mencoba untuk mengangkatnya, tetap dia tak kuat mengangkat tong besar tersebut.
"Berat banget Pak, gak bisa saya angkat." Ujar Supir pribadi Bramantio.
"Masa angkat tong itu aja kamu gak kuat, ayo saya bantu !" Ujar Bramantio kesal.
Lalu, Bramantio pun membantu Supirnya untuk mengangkat tong besar tersebut.
Biarpun mereka berdua mencoba sekuat tenaga untuk mengangkat tong besar itu, tetap saja mereka berdua tak sanggup mengangkatnya.
Bramantio tampak lelah, dia tak mau lagi mencoba untuk mengangkat tong besar itu.
"Apa isi tong ini, sampe gak bisa di angkat? Gimana mindahinnya kalo gak bisa diangkat juga?" Ujar Bramantio kesal.
"Satu satunya cara, ya rusakin penutupnya, lalu buang isinya Pak." Ujar Supir pribadi Bramantio.
__ADS_1
"Cepat kamu buka !" Perintah Bramantio.
"Baik Pak, saya ambil Martil sama pisau pahat bubut dulu." Ujar Supir pribadi Bramantio.
"Jangan lama lama." Ujar Bramantio.
"Baik Pak." Ujar Supir pribadi Bramantio.
Dia lantas segera lari kencang menuju garasi rumah, Bramantio berdiri sambil terus menatap tong besar.
Dia bertanya tanya, apa yang ada di dalam tong besar, sehingga sangat berat dan tak bisa diangkat.
Bramantio tidak tahu, jika yang membawa dan meletakkan tong besar itu didepan pagar pintu masuk kerumah Bramantio adalah Gavlin.
Gavlin membawa dan mengangkat tong besar itu dengan menggunakan mobil Crane yang sengaja di sewanya untuk mengangkat tong besar tersebut.
Setelah beberapa menit menunggu, Bramantio melihat Supir pribadinya lari lari sambil membawa Martil dan besi pahat bubut ditangannya.
Supir tiba di depan Bramantio, tanpa menunggu perintah Bramantio, Supir pribadi Bramantio dengan cepat membuka penutup tong menggunakan Pahat bubut dan Martil.
Bramantio berdiri di samping tong besar, dia mengamati Supir pribadinya yang berusaha membuka penutup tong besar.
Sangat lama membuka penutup tong tersebut dengan memakai besi pahat bubut dan martil.
Dengan sabar Supir pribadi Bramantio terus berusaha untuk membuka penutup tong besar.
Supir pribadi Bramantio sudah banyak mengeluarkan keringat, penutup tong belum semua terbuka, dia tak mau menyerah.
Supir pribadi Bramantio terus berusaha membuka penutup tong.
Dengan Martil ditangan kanannya, dia mengetuk besi pahat bubut yang ada ditangan kirinya.
Bramantio terus mengawasi Supir pribadinya.
Wajah Bramantio terlihat resah, dia sudah tak sabar, ingin tahu dan melihat isi tong besar tersebut.
Dia penasaran sama isi didalam tong, yang membuat tong tidak bisa diangkat dan dipindahkan.
Sejam kemudian, Supir pribadi Bramantio akhirnya berhasil membuka penutup tong besar.
Seluruh pinggiran penutup tong sudah rusak dan terbuka karena di buka paksa dengan memakai Pahat bubut dan martil.
Supir pribadi Bramantio cepat membuang penutup tong besar, dia meletakkannya di aspal jalanan, samping rumah Bramantio.
Bramantio yang penasaran dan sudah tak sabar dengan cepat mendekati tong besar yang sudah terbuka.
Bramantio terperanjat kaget saat melihat isi tong besar itu.
"Mikeee?!" Teriak Bramantio.
Bramantio sangat mengenali wajah Mike, anak kandungnya.
Biarpun wajah dan seluruh badan Mike tertutup dan dipenuhi semen yang sudah mengering , tapi Bramantio masih bisa melihat wajah Mike yang tidak tertutup semen kering.
Bramantio terdiam, tubuhnya kaku seketika, dia tak menyangka, anaknya mati dengan cara yang sangat mengenaskan, mati di kubur hidup hidup dalam semen kering.
Supir pribadi Bramantio tak kalah kagetnya saat melihat di dalam tong besar,dia melihat Mike yang seluruh tubuhnya di lumuri semen yang sudah mengering.
Supir pribadi Bramantio terdiam, dia tak bisa berkata kata.
"Miiikkkkeeeee ...!!" Teriak Bramantio sekencang kencangnya.
Bramantio histeris, wajahnya terlihat sedih sekaligus marah.
"Siapa yang telah membunuh anakku !! Siapa yang berani membunuh anakkkuu!!" Teriak Bramantio.
Bramantio melampiaskan emosi amarahnya suaranya yang berteriak kencang, menggelegar, memecahkan keheningan malam.
Supir pribadi Bramantio berdiri terdiam, Bramantio sangat bersedih, dia sangat kehilangan Mike, anak semata wayangnya yang mati dibunuh dengan keji.
"Aku akan membalaskan dendam kamu Mike, Papah akan memburu orang yang membunuhmu !!" Teriak Bramantio penuh amarah.
Dia begitu geram dan marah, wajahnya semakin memerah amarah semakin bergejolak di dalam dirinya.
Bramantio merasa perih, hatinya terluka, karena dia kehilangan anak tersayangnya.
Satu satunya anak yang dia miliki dan akan menjadi pewaris kekayaannya.
Bramantio pun menangis, dia tak mampu untuk terus menahan kesedihan dan tangisnya.
__ADS_1
Bramantio pun menangisi kematian Mike.
Suasana duka di depan rumah Bramantio menyelimuti gelapnya malam.