
Linda menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, Gavlin duduk di jok depan samping Linda yang menyetir.
Wajah Linda masih menunjukkan kekesalan pada papahnya yang melarang hubungannya dengan Gavlin.
Linda dan Gavlin saling diam di dalam mobil.
Gavlin melirik ke kaca spion.
Dari kaca spion dia melihat, sebuah mobil sedan berwana biru silver sedang mengikuti mereka.
Posisi mobil yang mengikuti dibelakang mobil Linda tidak jauh dari mobil Linda.
Gavlin menoleh pada Linda yang diam menyetir dengan wajah kesalnya.
"Papahmu melarang kamu dekat denganku?" Ujar Gavlin membuka pembicaraan duluan.
Memecahkan keheningan dalam mobil, karena diantara mereka berdua saling diam selama dalam perjalanan.
"Gak usah ngomongin papah deh." Ujar Linda masih kesal sambil tetap terus menyetir mobilnya.
"Sebaiknya kamu turuti omongan papahmu." Ujar Gavlin sambil matanya melirik kembali ke kaca spion mobil.
Mobil sedan berwarna biru silver masih ada dibelakang mobil mereka, terus mengikuti.
"Apaan sih kamu Vlin, udah deh, gak usah di bahas." Ujar Linda sedikit kesal pada Gavlin.
"Aku dengar semua omongan papahmu, tentang kecurigaannya padaku, menyuruhmu menjauh dariku." Ujar Gavlin tersenyum menatap ke depan mobil.
Gavlin memandangi mobil mobil didepannya yang melaju saling dahulu mendahului di jalan raya itu.
"Papahmu benar, aku gak selevel denganmu, dengan keluargamu." Ujar Gavlin.
Matanya terus menatap ke depan, tidak melihat pada Linda yang semakin kesal jadinya mendengar perkataan Gavlin.
"Gak ada yang bisa mencegah atau melarang aku dekat denganmu !" Ujar Linda bernada sedikit keras menegaskan pada Gavlin yang tersenyum mendengarnya.
"Aku berfikir sepanjang jalan ini, Sebaiknya kita akhiri semuanya antara kita berdua." Ujar Gavlin.
Mendengar omongan Gavlin, Linda kesal, dengan cepat dia meminggirkan mobilnya.
Lalu mengerem secara mendadak, menghentikan mobilnya, mobil berhenti di pinggir trotoar jalan raya.
"Kamu apa apaan sih Vlin, aku gak suka kamu ngomong gitu !" Ujar Linda.
Dengan kesal, Linda menatap wajah Gavlin yang cuma diam tersenyum tanpa melihat wajah Linda yang marah padanya.
Supir yang menyetir mobil sedan biru silver yang mengikuti dibelakang kaget melihat mobil Linda bergerak banting stir ke pinggir jalan.
Menyalip mobil lain yang ada di jalan raya itu lalu berhenti di pinggir trotoar.
Supir mobil sedan biru silver terus menyetir mobilnya, melewati mobil Linda.
Dari dalam mobil, terlihat Supir yang menyetir mobil sedan biru silver melirik ke dalam mobil Linda, melihat Gavlin dan Linda.
Mata Gavlin meliriknya, sesaat mereka saling melihat saat mobil biru silver itu berpapasan dan melewati mobil Linda.
Gavlin dari dalam mobil melihat, selain supir yang menyetir, ada 3 orang lainnya duduk di jok belakang dan jok depan samping supir.
Gavlin tersenyum. Mobil sedan biru silver yang melewati mobil Linda melaju meninggalkan mobil Linda.
"Vlin, kamu gak usah mikirin semua yang di bilang papah. Papah lagi emosi, dia marah." Ujar Linda.
"Wajar aja Papah curiga sama kamu, karena kamu pernah kerja di tempat musuhnya, si Bramantio!" Ujar Linda dengan sedikit keras menegaskan pada Gavlin.
Mendengar perkataan Linda itu, Gavlin hanya tersenyum, dia melirik Linda.
"Aku gak mau, hubungan kamu dan papahmu jadi hancur gara gara kehadiran aku ditengah tengah kalian." Ujar Gavlin.
"Aku gak perduli ! Kalo papah terus bersikeras memaksaku, aku akan pergi ninggalin papah !" Ujar Linda marah.
"Gak baik begitu, kalo kamu pergi, mau pergi kemana ?" Tanya Gavlin melirik wajah Linda yang masih kesal dan marah.
"Ke mana kek, keluar negeri, kita bisa pergi berdua Vlin , hidup bersama !" Ujar Linda menatap wajah Gavlin yang tersenyum dingin menyikapi perkataan Linda.
"Aku akan membawa semua uang dan hartaku, untuk kita, agar kita punya cukup uang untuk hidup bersama." Ujar Linda menatap lekat wajah Gavlin.
"Dengan uangku yang banyak, kamu gak usah kerja Vlin, kamu bisa menggunakan semua uang milikku." Ujar Linda tersenyum menatap Gavlin.
Gavlin terdiam, menatap lekat wajah Linda, ada ketersinggungan dalam diri Gavlin, saat Linda mengatakan, dia bisa menggunakan uang Linda.
Gavlin merasa, seolah Linda menilai dirinya tak mampu, dan tak mempunyai uang.
"Sebaiknya aku turun di sini Lin." Ujar Gavlin menoleh pada Linda.
"Ngapain turun di sini? Aku akan mengantar kerumahmu !" Ujar Linda kaget mendengar Gavlin mau turun.
"Aku bisa jalan atau naik taksi." Ujar Gavlin.
Linda mengunci secara otomatis pintu depan mobil yang disamping Gavlin.
Gavlin tidak bisa membuka pintu mobil karena di kunci Linda, Gavlin tersenyum menghela nafasnya.
"Sekarang, aku mohon kamu gak usah membahas papah lagi." Ujar Linda.
Gavlin hanya diam tak menjawab, matanya menatap jauh kedepan. Linda menyalakan mesin mobilnya lagi.
Karena tadi saat berhenti dia langsung mematikan mesin mobil, Linda menyetir, melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Mobil melaju kembali di jalan raya, melewati mobil mobil lain yang juga ada di jalan raya.
Mata Gavlin melirik ke sebuah mobil sedan biru silver yang berhenti di pinggir trotoar jalan raya.
Mobil Linda melewati mobil biru silver, Gavlin yang melihat mobil itu tersenyum.
Dia tahu, kalau mobil sedan biru silver yang berhenti itu, mobil yang sama, yang mengikuti mobil Linda.
Setelah mobil Linda melaju melewati mobilnya, supir sedan yang menyetir mobil biru silver segera menjalankan mobilnya.
Dia kembali mengikuti mobil Linda yang menyetir mobil mengantarkan Gavlin pulang kerumahnya.
Maya berjalan santai pulang dari tempat kerjaannya, wajahnya berseri seri, tersenyum senang.
Karena di kantor, dia mendapat pujian dari atasannya dan mendapatkan bonus karena penjualan tabloid mereka meningkat tinggi pendapatannya.
Itu disebabkan artikel artikel yang di tulis Maya yang berjudul "Antara bisnis dan kematian".
Sebuah artikel yang diterbitkan mengenai bisnis hotel Bramantio dan penemuan mayat Guntur, rekan bisnis Bramantio.
__ADS_1
Selain itu juga dia menulis artikel tentang Yanto, pembuat patung lilin yang terkenal.
Artikelnya mendapatkan respon yang baik dari pembaca yang menyukai buah karya Yanto.
Apalagi judul artikel yang dibuat Maya menarik " Misteri Wajah wajah patung Lilin".
Maya terus melangkah menyusuri trotoar jalanan, wajahnya terlihat senang, sepanjang jalan, Maya melangkah sambil menoleh ke toko toko yang ada di sepanjang jalan.
Mobil Linda berhenti di pinggir trotoar jalan, Linda mematikan mesin mobilnya.
"Vlin, besok pagi aku jemput ya, kita ke Villaku." Ujar Linda tersenyum pada Gavlin yang bersiap mau membuka pintu mobil.
"Aku gak bisa Lin, ada urusan." Ujar Gavlin menoleh pada Linda.
"Kalo gitu, telpon aku kalo urusanmu udah beres besok, biar aku jemput, kita ke Villaku." Ujar Linda tersenyum memandang wajah Gavlin.
Raut wajah Linda menunjukkan kerinduan dirinya pada Gavlin. Dia ingin bermesraan dengan Gavlin di Villanya.
"Ya, liat besok aja." Ujar Gavlin menghela nafas.
Dia lalu membuka pintu mobil Linda, segera keluar dari dalam mobil.
Linda menekan tombol, menurunkan kaca mobil, dari dalam mobil Linda menatap Gavlin yang berdiri.
Sekilas Gavlin melirik ke arah mobil sedan biru silver yang berhenti di pinggir trotoar jalan, posisinya agak jauh dari mobil Linda.
Gavlin berfikir, mobil itu sengaja mengikuti dia atau Linda ? Gavlin menatap wajah Linda yang ada didalam mobil.
"Aku pulang ya Vlin, met istirahat." Ujar Linda tersenyum dari dalam mobil.
"Hati hati di jalan." Ujar Gavlin pada Linda yang mengangguk tersenyum.
Linda menyalakan mesin mobilnya, menutup kaca depan mobil, lalu menjalankan mobilnya.
Gavlin menatap kepergian Linda. Gavlin sempat melirik ke mobil sedan biru silver yang berjalan setelah mobil Linda pergi.
Gavlin saat ini mengira, mobil itu memang sengaja mengikuti mobil Linda.
Gavlin berbalik melangkah hendak masuk ke dalam rumahnya.
Mobil sedan biru silver terlihat sedang berhenti di dekat rumah Gavlin.
Dengan cepat orang orang yang berada di dalam mobil keluar dan lari kearah Gavlin yang sudah melangkah masuk ke halaman rumahnya.
Maya yang berjalan menyusuri trotoar, dekat dari rumah Gavlin melihat orang orang yang berlari masuk ke rumah Gavlin.
Maya melihat, ditangan mereka masing masing memegang tongkat kayu.
Maya curiga melihatnya, Maya pun mempercepat jalannya, dia ingin melihat, apa yang akan dilakukan orang orang itu di rumah Gavlin.
Orang orang yang mengikuti Linda dan Gavlin langsung menyerang Gavlin yang sedang melangkah mau masuk ke rumahnya.
Gavlin di pukul dengan tongkat kayu, Gavlin tersungkur ke tanah, Orang orang yang menyerangnya secara tiba tiba terus menghajar Gavlin.
Gavlin berusaha menghindari pukulan tongkat kayu, menahan pakai tangannya.
Gavlin mencoba berdiri, Zulfan datang menghantam kepala Gavlin dengan tongkat kayu.
Gavlin yang terjajar sempoyongan lemah, terduduk di tanah, dia di keroyok.
Ternyata yang mengikuti Gavlin dan Linda, lalu menyerang Gavlin anak buah Samsul.
Zulfan berdiri dihadapan Gavlin yang terkulai lemah ditanah.
"Pegangi dia." Ujar Zulfan memberi perintah pada ke tiga anak buahnya.
"Siap !" Jawab seorang anak buah Zulfan.
Lalu dia bersama seorang temannya mengangkat tubuh Gavlin yang lemas tak berdaya.
Kedua orang itu memegangi kedua tangan Gavlin, Zulfan melangkah mendekati Gavlin.
Dia menatap tajam wajah Gavlin. Zulfan lalu memukuli wajah Gavlin berkali kali, sekuat kuatnya.
Gavlin yang sudah tak berdaya, menerima pukulan pukulan keras di wajah dan perutnya.
Maya yang mendekati rumah Gavlin, terhenyak kaget saat melihat orang orang yang tadi dia lihat sedang memukuli Gavlin yang lemah tak berdaya.
Maya diam ditempatnya, berfikir sejenak, ada rasa takut dihatinya untuk menghalangi mereka memukuli Gavlin.
Namun karena Maya tak tega melihat Gavlin terus di pukuli hingga luka luka di wajahnya.
Akhirnya memberanikan dirinya, Maya menarik nafasnya, lalu dia cepat berjalan mendekati orang orang yang memukuli Gavlin.
"Hentikan !!" Teriak Maya sekeras kerasnya pada orang orang yang memukuli Gavlin.
Zulfan dan ketiga preman menoleh pada Maya yang berdiri tidak jauh dari mereka, Zulfan tersenyum sinis.
"Lebih baik kamu pergi, jangan ikut campur urusan kami kalo kamu gak mau terluka." Ujar Zulfan.
Zulfan menatap tajam pada Maya yang berdiri, Maya mencoba untuk bersikap tenang.
Maya berusaha menyembunyikan rasa takutnya pada para preman yang menyerang Gavlin, Maya memberanikan dirinya melangkah mendekati Gavlin.
"Aku akan melaporkan perbuatan kalian, jika kalian gak meninggalkannya !!" Bentak Maya.
Dia lalu berlari mendekati Gavlin, mendorong kedua orang yang memegangi Gavlin.
Kedua orang itu melepaskan pegangan tangan mereka pada Gavlin.
Maya merangkul Gavlin yang tak berdaya, Zulfan geram karena Maya mencampuri urusannya.
Zulfan cepat berjalan mendekati Maya. Menarik paksa Maya dengan memegang lengan tangan Maya.
Maya bertahan, memegangi tubuh Gavlin, namun kekuatan tenaga Zulfan tak bisa dilawan Maya, dia yang ditarik paksa Zulfan terjajar ke belakang.
Maya terjatuh ke tanah dengan baju di bagian lengannya yang ditarik paksa Zulfan robek dengan cukup lebar, hingga terlihat kulit lengan dan bahunya.
Maya marah, dia cepat berdiri dan menyerang Zulfan, Zulfan menghindar dan mendorong tubuh Maya lagi hingga kembali terjatuh ke tanah.
Gavlin melihat Maya terjatuh di tanah, dia meringis menahan sakitnya.
Gavlin melangkah gontai mendekati Maya yang terlihat kesakitan karena di dorong kuat hingga terjatuh.
"Kami akan datang lagi buat menghabisi kamu !" Bentak Zulfan.
Zulfan menatap wajah Gavlin yang tertatih tatih menahan sakit mendekati Maya, lalu membantu Maya berdiri.
__ADS_1
"Kita cabut !!" Ujar Zulfan memberi perintah kepada 3 anak buahnya. Mereka lalu pergi meninggalkan Gavlin dan Maya.
"Kamu kok bisa ada di sini May?" Tanya Gavlin pada Maya.
"Aku lagi jalan mau pulang, sengaja motong jalan lewati rumahmu, pas jalan aku liat mereka bawa senjata kerumahmu, ya aku ikuti aja." Ujar Maya menjelaskan.
Gavlin lantas mengangguk mengerti, kenapa Maya bisa tahu dia di keroyok.
"Mereka siapa Vlin? Kenapa menyerangmu?" Tanya Maya. Gavlin hanya menggelengkan kepalanya tak menjawab pertanyaan Maya.
Maya memapah Gavlin yang meringis menahan sakit, lalu membantu Gavlin duduk di kursi teras rumah Gavlin.
Saat Maya membantu Gavlin duduk, Gavlin melihat baju Maya yang robek lebar.
Gavlin melihat ada bekas luka bakar di lengan tangan dan bahu Maya.
Sekilas Gavlin berfikir, Gavlin lalu membuka jaket yang dipakainya, Gavlin memakaikan jaketnya ke tubuh Maya, menutupi baju Maya yang robek.
"Kamu gak terluka Vlin? Kita kerumah sakit yuk." Ujar Maya khawatir pada Gavlin.
"Aku gak apa apa. Gak usah kerumah sakit, kamu sendiri gimana, ada yang luka?" Ujar Gavlin bertanya pada Maya.
"Gak ada yang luka, cuma ngerasa sakit aja tanganku karena ditarik paksa dan di dorong kuat." Ujar Maya tersenyum menatap wajah Gavlin.
Maya cepat mengambil tisu dari dalam tasnya, dia lalu menghapus darah yang ada di wajah dan bibir Gavlin dengan tisu yang ada di tangannya.
Gavlin menatap lekat wajah Maya yang terlihat khawatir membersihkan luka lukanya.
Maya selesai menghapus darah di wajah dan bibir Gavlin, dia melihat Gavlin yang terus menatapi wajahnya.
"Kenapa Vlin ? Ada yang aneh dariku?" Tanya Maya, Gavlin diam menatap Maya.
Maya paham, Gavlin melihat bekas lukanya.
"Kamu baru liat ada cewek dengan bekas luka bakar di lengan dan bahunya ? Gak berusaha menghilangkannya dengan operasi?" Tanya Maya.
"Kenapa kamu gak menghilangkan bekas luka bakar itu?" Tanya Gavlin menatap wajah Maya.
"Sengaja, buat kenang kenangan, karena luka bakar ini membuatku selalu mengingat teman kecilku dulu." Ujar Maya tersenyum.
Gavlin terhenyak, dia menatap lekat wajah Maya, dia terdiam saat Maya mengatakan hal itu.
Terlihat raut wajah Gavlin sedang memikirkan sesuatu, dia lalu menatap lekat wajah Maya yang sibuk memasukkan tisu ke dalam tasnya.
"Sejak kapan kamu punya bekas luka bakar itu?" Tanya Gavlin menatap wajah Maya, dia ingin tahu kapan Maya mengalami luka bakar.
Maya memegang bekas luka bakar yang ada di lengan dan bahunya, dia tersenyum menatap wajah Gavlin.
"Saat umurku 9 tahun, aku terluka dan terbakar pas menghindar dari kebakaran rumah temanku." Ujar Maya tersenyum menatap wajah Gavlin.
Sekali lagi Gavlin terhenyak kaget mendengar perkataan Maya, dia menatap lekat wajah Maya, seolah dia ingin memastikan dan menegaskan wajah Maya.
Di dalam hatinya Gavlin berkata, apakah mungkin Maya teman masa kecilnya yang dulu terpisah dengannya saat kebakaran hebat dirumahnya 18 tahun lalu?
Apakah Maya yang ada di hadapannya sekarang benar benar Maya, gadis kecil yang cantik, gadis yang selalu bermain dan datang kerumah Gavlin?
Apakah Maya ini Gadis kecil yang sangat disukai Gavlin saat kecil dulu ?
Gavlin terdiam, pandangannya kosong menatap pada Maya.
Maya menoleh pada Gavlin yang terlihat melamun, Maya heran.
"Kamu kenapa Vlin ? Kok bengong?!" Tanya Maya.
Maya heran melihat Gavlin yang diam seperti sedang melamunkan sesuatu.
Gavlin tersadar ditanya Maya, dia berusaha untuk menghilangkan segala hal yang muncul dalam fikirannya.
"Kamu mau istirahat ?" Tanya Maya menatap wajah Gavlin.
Gavlin menghela nafasnya menatap wajah Maya.
"Iya May, biar pulih kondisiku." Ujar Gavlin tersenyum menatap lekat wajah Maya yang juga tersenyum padanya.
Gavlin pun kemudian berdiri dari kursi, Maya berdiri dan membantunya.
"Gak usah May, aku bisa jalan sendiri ke dalam rumahku." Ujar Gavlin tersenyum.
Dia menolak bantuan Maya yang mau memapahnya untuk mengantar Gavlin masuk ke dalam rumah.
"Gak apa, biar aku bantu kamu sampai masuk ke dalam rumahmu." Ujar Maya, dia hendak memapah Gavlin, Gavlin mencegahnya.
"Gak usah May, biar aku sendiri aja, Maaf ya." Ujar Gavlin mencegah Maya.
Dia langsung menolak bantuan Maya agar Maya tidak masuk kedalam rumah.
Gavlin tidak mau Maya melihat suatu hal yang bisa membuat dirinya syock dan kaget saat ada di dalam rumahnya.
Sama seperti sikapnya pada Linda, pada Maya pun Gavlin melarang secara halus, agar Maya tidak ikut masuk ke dalam rumahnya.
Maya menghela nafasnya, dia menatap wajah Gavlin. Ada rasa kecewa dalam diri Maya karena dilarang Gavlin masuk kerumahnya.
"Baiklah kalo begitu, aku pulang." Ujar Maya tersenyum pada Gavlin.
Gavlin mengangguk, dia lalu mengambil kunci pintu rumah dari kantong celananya.
Gavlin membuka pintu, lalu melangkah masuk kedalam rumah dan menutup serta mengunci pintu dari dalam rumahnya.
Maya lantas menarik nafas melihat Gavlin yang sudah masuk ke dalam rumahnya.
Maya diam sejenak, dia berfikir tentang sikap Gavlin yang terlihat sedikit aneh tadi saat bertanya tentang bekas luka bakarnya.
Diam diam, dari dalam rumahnya, tanpa sepengetahuan Maya, Gavlin mengintip dari balik horden jendela.
Dia memandangi wajah Maya yang berdiri diam berfikir diteras rumahnya.
Maya lalu berbalik dan segera melangkah pergi meninggalkan rumah Gavlin.
Di dalam rumahnya, Gavlin berdiri di depan jendela rumahnya, dia berfikir, wajahnya terlihat menahan geram.
"Aku akan membalasmu Mike, tunggu aja waktunya!" Ujar Gavlin menyeringai geram.
Sorot matanya menunjukkan kemarahan yang begitu besar dalam dirinya.
Gavlin tahu, orang orang yang menyerang dan mengeroyoknya suruhan Mike, yang dendam kepadanya, karena dia sudah membuat Mike terluka.
Mata Gavlin memerah, amarah bergejolak dalam dirinya, terdengar bunyi gemeretak giginya yang beradu.
__ADS_1
Gavlin geram , dia ingin membalas perbuatan Mike yang membayar preman untuk menyerangnya.