
Maya menemui Gavlin yang tengah membersihkan pistolnya di ruang keluarga, Maya meletakkan ponsel milik Ronald di atas meja, Gavlin pun menoleh pada Maya, yang berdiri dihadapannya.
"Udah bisa di buka hapenya?" tanya Gavlin pada Maya.
"Udah, sekarang gak pake kode, langsung buka aja." ujar Maya, tersenyum senang.
"Hebat juga teman kamu, May." ujar Gavlin.
Maya tersenyum senang, Gavlin lantas mengambil ponsel milik Ronald dari atas meja, lantas, diamatinya ponsel itu.
Gavlin mencoba mengutak atik menu ponsel, dan dia pun senang, karena sekarang, dengan mudah dia membuka semua menu di ponsel tersebut.
"Vlin, aku ke rumah sakit, ya. Udah hampir seminggu aku gak ketemu Ayah, gara gara polisi jagain rumah sakit." ujar Maya.
"Emang kalo sekarang, kamu udah bisa nemui Ayahmu?" tanya Gavlin.
"Ya, aku coba aja dulu datang, kalo gak boleh juga, ya pulang lagi." ujar Maya.
"Ya, udah, hati hati dijalan." ujar Gavlin.
"Iya. Aku berangkat ya." ujar Maya, tersenyum senang.
Gavlin mengangguk, mengiyakan, lalu, Maya pun pergi keluar dari dalam rumahnya, Gavlin lantas meletakkan ponsel milik Ronald diatas meja. Lalu, dia melanjutkan membersihkan pistolnya.
---
Maya tiba di rumah sakit, saat dia berjalan di koridor rumah sakit, dia berpapasan dengan dua tokoh pejabat penting yang di kawal oleh polisi militer.
Diantara Pejabat itu, Maya mengenalinya sebagai tokoh penting di pemerintahan, dia seorang menteri kehakiman, dan yang menemaninya, Maya tak tahu, namun, dia menebak dari pakaian serta atributnya bahwa orang tersebut anggota dewan.
Maya pun minggir, dia tak mau menghalangi jalan pejabat itu yang di jaga polisi militer. Setelah pejabat itu berlalu, Maya melanjutkan jalannya, menuju ke ruangan Ayahnya.
Maya pun tiba di dekat kamar ruang ICU tempat Ayahnya di rawat, dia heran, karena, di depan pintu masuk ruangan, ada beberapa polisi yang berjaga jaga.
Saat Maya mendekat, seorang petugas polisi menahan langkah Maya, dia berdiri dihadapan Maya sambil memegang senapan laras panjang, menghalangi langkah Maya.
"Mau kemana?" tanya Petugas Polisi, dengan tegas dan kaku.
"Saya mau ke dalam ruang ICU ini, mau liat Ayah saya di rawat." ujar Maya, dengan wajah serius.
Diberanikannya dirinya untuk menatap petugas polisi dan menjelaskan maksud dan tujuan dia datang ke tempat itu.
"Gak boleh, silahkan, pergi." ujar Petugas Polisi, melarang Maya dengan tegas.
"Tapi, Aku anaknya, aku mau liat Ayahku, masa gak boleh?" ujar Maya, mulai kesal.
"Apa hak kalian melarang saya nemui Ayah saya?!" Hardik Maya, mulai tampak kesal.
"Biarkan dia masuk!!" Teriak seseorang.
Maya pun sedikit kaget, dia lantas menoleh ke arah suara yang membolehkan dirinya masuk. Datang seorang pejabat berpakaian rapi, mendekati Maya yang berdiri di depan petugas polisi yang berjaga.
"Kamu Maya? Anaknya Komandan Gatot?" tanya, Pejabat tersebut.
"Iya, benar, dan di dalam Ayah saya, namanya, Gatot, komandan Polisi, Ayah sedang terluka parah dan di rawat." jelas Maya.
"Ya, saya tau, dan saya sudah bertemu dengan Ayahmu di dalam ruangan. Kami bicara banyak." ujar Pejabat tersebut.
"Maaf, Saya boleh tau? Bapak siapa?" tanya Maya, dengan wajah serius, ingin tahu.
"Saya, Richard, Wakil Kepala Kepolisian Pemerintah Pusat." tegas Richard, tersenyum ramah.
"Oh, begitu." ujar Maya mengerti dan paham.
"Anggota berjaga di sini, karena perintah saya." tegasnya lagi, pada Maya.
Maya pun diam, dia mengerti dan paham, bahwa pejabat itu tokoh penting di kepolisian dan mengenal Ayahnya. Maya pun tampak senang.
"Tolong, jangan bilang siapapun, jika kita bertemu seperti ini." jelas Richard, Wakil Kepala Kepolisian pemerintah pusat.
Dia wakilnya Sutoyo, sekarang, dia yang mengganti Sutoyo, menjalankan tugas tugasnya di kepolisian.
"Baik, Pak." jawab Maya.
"Saya boleh masuk ke dalam ruangan?" tanya Maya.
__ADS_1
"Silahkan." Jawab Richard tersenyum ramah.
Maya pun mengangguk memberi hormat, lalu, dia berjalan, petugas polisi yang tadi menghalangi jalannya, kini membuka kan pintu buat Maya, dia pun hormat pada Maya, setelah tahu, pimpinannya bicara dengan Maya.
Maya pun dengan wajah yang senang, langsung masuk ke dalam kamar ruang ICU. dia segera menghampiri Ayahnya yang terbaring di ranjang.
Sementara, Richard, Wakil Kepala Kepolisian, pergi meninggalkan tempat tersebut, dengan di kawal beberapa polisi militer bersenjata.
Di dalam kamar ruang ICU, Gatot tampak senang melihat kehadiran Maya yang mengunjunginya.
Gatot saat ini sudah bisa bersandar dengan menggunakan bantal empuk di punggungnya. Dan luka cambuknya sudah di jahit rapi oleh Dokter.
"Kok baru sekarang kamu nemui Ayah?" tanya Gatot, tersenyum senang.
"Ya, karena Maya gak bisa ke sini, di ujung koridor sana, Maya di stop, gak boleh lanjut ke sini, soalnya di sana , ada pejabat yang lagi dijagain polisi, katanya sih lagi di rawat, tau siapa orangnya." ujar Maya, dengan wajah jengkel.
"Dia Sutoyo, Kepala Kepolisian Pemerintah Pusat." ujar Gatot, dengan wajah serius.
"Sutoyo?!! Bukannya udah di bunuh Gavlin?!" Ujar Maya, terperanjat kaget.
"Ssssttt !! Pelankan suara kamu, banyak mata mata di sini, kita gak tau, mana teman, mana lawan sekarang." ujar Gatot, dengan wajah serius.
"Maksud Ayah?" tanya Maya heran, dengan suaranya yang pelan.
"Sutoyo koma, sehabis dia luka parah kena bom, dia di bawa kerumah sakit ini, lalu dirawat, pejabat pejabat yang selama ini pro Sutoyo langsung datang, mereka jagain Sutoyo, dan mereka juga lagi nyari tau, apa yang terjadi sama si Sutoyo." jelas Gatot, dengan wajah serius.
"Kok Ayah bisa tau?" tanya Maya heran.
"Pak Richard, Wakil Kepala Kepolisian yang bilang ke Ayah, waktu dia nemui Ayah dikamar ini." jelas Gatot.
"Oh, Maya baru aja ketemu Pak Richard, beliau yang izinkan Maya masuk tadi." ujar Maya.
"Ya, karena Ayah yang bilang, kalo kamu datang, tolong di izinkan masuk." jelas Gatot.
Maya pun mengangguk mengerti dan paham. Dia lantas menatap wajah Ayahnya yang tampak serius itu.
"Mentri kehakiman, dan beberapa pejabat polisi yang pro Sutoyo sempat nemui Ayah, mereka tau, entah dapat info dari mana, kalo Ayah juga di rawat di sini." jelas Gatot.
"Terus?" tanya Maya, dengan wajah tegang dan serius.
"Terus, Ayah bilang apa?" tanya Maya, ingin tahu.
"Ayah bilang nggak ada hubungannya, lantas, Ayah jujur ke mereka, Ayah sengaja bilang, kalo Ayah justru di siksa Sutoyo, di cambuk, hingga luka parah." jelas Gatot.
"Tapi mereka malah mengancam Ayah, mereka bilang, mereka akan menutup mulut Ayah, dan anggota dewan ngancam Ayah, katanya, dia tau dari Sutoyo, kalo selama ini, Ayah membantu musuh negara, Gavlin, atau yang mereka kenal bernama Yanto saat kecil." tegas Gatot, menjelaskan dengan serius.
"Segawat itukah situasinya, Yah?" tanya Maya.
"Iya, mereka mengancam, akan menjebloskan Ayah ke penjara, setelah Ayah sembuh dan keluar dari rumah sakit ini." jelas Gatot.
"Dengan kekuasaan di tangan mereka, mudah membuat bukti bukti palsu dan menuduhkannya pada Ayah." lanjut Gatot menjelaskan.
"Ayah pasrah, kalo memang Ayah nantinya di penjara, tapi, Pak Richard tiba tiba datang nemui Ayah, dia dapat info tentang Ayah yang dirawat, dari anak buahnya yang jadi mata mata, menyusup dalam pasukan mentri kehakiman dan pejabat kepolisian yang pro Sutoyo." jelas Gatot.
"Dari Pak Richard, Ayah jadi banyak tau, ternyata, berpuluh puluh tahun, kepolisian sudah gak sehat, ada konspirasi besar di tubuh kepolisian dan departemen kehakiman serta instansi lainnya." jelas Gatot.
"Pak Richard bilang, dia dari dulu menaruh curiga pada Sutoyo dan komplotannya, diam diam, dia juga ternyata mau membongkar konspirasi tersebut." tegas Gatot.
"Wah, bahaya." ujar Maya, dengan wajah tegang dan serius.
"Ya, Saat ini, Ayah mendapat dukùngan dari Pak Richard dan pejabat pejabat lain yang ikut bergabung dengan pak Richard dalam usaha membongkar konspirasi." jelas Gatot.
"Pak Richard tau, kasus yang terjadi belasan tahun, yang di alami orang tua Yanto, dari dulu, dia tau, kalo Sutoyo dan komplotannya, di bantu pejabat pemerintahan tertinggi, memutar balik fakta, demi kekuasaan, mereka semua terlibat!" tegas Gatot.
"Waah, Jahat banget!" ujar Maya, dengan wajah benci dan marah.
"Begitulah. Makanya Ayah bilang tadi, kita sekarang gak tau, yang datang nemui kita, teman atau musuh, makanya, Pak Richard menugaskan anggotanya menjaga Ayah. Biar gak ada yang berniat jahat sama Ayah." jelas Gatot, dengan wajah serius.
"Untung masih ada Pejabat Kepolisian yang jujur dan bersih kayak pak Richard, jadi Ayah aman. Kalo semuanya korup, bahaya." ujar Maya, dengan wajahnya yang serius.
"Iya. Saat ini, Pak Richard sedang cari bukti untuk menangkap komplotan Sutoyo." Jelas Gatot.
"Dan, untuk Sutoyo sendiri, gak tau gimana kelanjutannya, katanya, masih di liat, Sutoyo, bisa bertahan dan hidup serta sembuh, atau akhirnya mati." jelas Gatot, dengan serius.
"Mending mati aja deh tuh manusia laknat!! Kesal Maya, gara gara dia semuanya kan, jadinya Gavlin sengsara, jadi buas, jadi pembunuh, karena balas dendamnya!" ujar Maya, dengan sangat kesal.
__ADS_1
Gatot hanya diam, dia memandangi wajah Maya yang tampak kesal dan marah itu.
"Gavlin gimana kabarnya? Kamu pernah ketemu sama dia?" tanya Gatot, dengan rasa ingin tahunya tentang Gavlin.
"Gavlin dirumah kita, Yah, dia nemani aku tiap hari." jelas Maya.
"Baru baru ini, nyawaku terancam, untung Gavlin datang, kalo nggak, Ayah udah gak ketemu aku lagi." jelas Maya.
"Kenapa kamu?!" tanya Gatot, dengan kaget.
"Ronald datang kerumah, nemui aku, dia tau rumah kita, terus, dia ngamuk, marah sama aku, Monster itu mau memperkosaku, Yah, dia ngancam, kalo aku gak nurut, ditembaknya!" jelas Maya, dengan wajah serius.
"Kamu nurut?!" tanya Gatot kaget.
"Nggak, Maya lebih baik di siksa dan mati, dari pada nuruti nafsu binatangnya!!" tegas Maya geram dan marah.
"Gavlin datang, langsung hajar Jahanam itu, Yah!" Jelas Maya.
"Terus?!" tanya Gatot, dengan wajahnya yang penasaran.
"Mereka duel, Gavlin berhasil mengalahkan jahanam itu, dia di bunuh Gavlin!" jelas Maya.
"Cuma, Maya ngeri pas liat Gavlin ngamuk bunuh si jahanam itu, Gavlin kayak orang lain gitu, Yah, beda banget sama Gavlin yang biasa, seram!" Lanjut Maya menjelaskan.
"Maya makin takut, soalnya Gavlin mencabik cabik perut si jahanam Ronald, terus ngeluarin isi perut sama jantungnya, serem kan, Yah." ujar Maya, bergidik ngeri.
"Gavlin memiliki kepribadian ganda, May. Gejalanya udah terliat, saat dia berumur 15 tahun. Ayah tau, dari data data yang Ayah dapatkan pas nyari data tentang Gavlin, atau Yanto kecil." jelas Gatot.
"Oh, ya?" ujar Maya kaget.
"Ya, pas umur 15 tahun, Gavlin, membunuh temannya, dan memotong motong tubuhnya jadi 8 bagian, lalu membuangnya ke tiap tiap taman kota, di Belanda." tegas Gatot, dengan wajah serius.
"Kenapa Ayah gak pernah bilang Maya?" ujar Maya heran.
"Ya, karena Ayah gak mau, kamu jadi takut sama Gavlin." jelas Gatot.
"Awalnya memang Ayah khawatir, tapi, pas liat ketulusan hati Gavlin yang mencintai kamu, Ayah membiarkan kalian dekat." lanjut Gatot menjelaskan.
"Lagi pula, Ayah tau, Gavlin hanya akan berubah menjadi pribadinya yang lain pada orang tertentu saja, bukan ke semua orang." tegas Gatot.
"Gavlin akan berubah buas, jadi psikopat, kalo ada orang yang membuat dia marah atau dendam. kalo nggak, ya, dia normal, kayak orang umumnya aja." ujar Gatot.
"Iya, sih, Yah." ujar Maya.
"Terus, mayat si Ronald di buang kemana sama Gavlin?" tanya Gatot.
"Di bakar, sampe jadi abu, Yah. Dia sisain kepala sama jantung aja, kata Gavlin, mau di kasih ke si Bramantio!" tegas Maya, memberi tahu Ayahnya.
"Oh, gitu. Nanti Ayah coba tanya pak Richard, atau anggotanya, dimana Bramantio sembunyi, juga Jafar, mereka juga lagi mengejar Bram dan Jafar." ujar Gatot.
"Iya, Yah." Angguk Maya.
"Ayah kapan boleh pulang?" tanya Maya.
"Dalam beberapa hari lagi, kalo luka Ayah udah kering semua, dan jahitannya bisa di lepas." ujar Gatot.
"Oh, gitu." ujar Maya.
"Ohya, Yah. Ayah tau, kenapa Sutoyo bisa di bawa ke rumah sakit ini?" tanya Maya, dengan wajahnya yang penasaran.
"Petugas medis yang nemui tubuh Sutoyo di sekitar lokasi kejadian, setelah diperiksa, masih ada nafasnya, langsung dibawa ke rumah sakit ini, buat di rawat." jelas Gatot, dengan wajahnya yang serius.
"Kok bisa sih, manusia jahat itu tetap hidup? Kenapa gak mampus aja saat itu !" ujar Maya, geram dan marah.
"Ya, kalo gak ditemui petugas medis , mungkin Sutoyo mati." tegas Gatot.
"Harusnya, biarin aja Sutoyo terkapar, gak usah di tolong, kan penjahat !?" ujar Maya marah.
"Ya, karena mereka ditugasi nyelidiki kejadian itu, May, lagi pula, tugas mereka kan nyelamati korban, Sutoyo salah satu korban, jadi wajib mendapatkan pertolongan." ujar Gatot, menjelaskan pada Maya.
"Seperti biasa, kalo ada kejadian yang serius, pasti petugas medis, tim forensik, beserta tim penyidik kepolisian datang kelokasi, mencari bukti bukti di sekitar kejadian, May." ujar Gatot, memberi penjelasan pada Maya.
"Oh, begitu." ujar Maya.
Maya pun lantas Mengangguk mengerti dan paham, dengan apa yang telah di jelaskan Ayahnya itu. Maya diam, dia tampak sedang memikirkan sesuatu hal.
__ADS_1