
Gavlin masih tercenung duduk di sofa ruang tengah rumah bilik pak Sarono, dia mengambil flash disk dari dalam kantong celananya.
Flash disk yang dia dapatkan dari Chandra, yang berisi tentang rencana rencana kejahatan organisasi Inside, dimana ada pembicaraan Binsar yang memerintahkan untuk menghabisi Sanusi dan juga Syamsul Bahri, orang tua Gavlin dan juga Chandra.
Dalam rekaman cctv yang ada di dalam flash disk sangat jelas sekali, bahwa Binsar dan organisasi Inside sangat khawatir dengan Sanusi dan Syamsul Bahri yang mengancam akan membongkar segala tindak tanduk kejahatan organisasi Inside selama ini dalam mengatur dan menggerakkan negara dan pemerintahan presiden, agar melaksanakan semua keinginan dari Inside.
Gavlin tampak berfikir keras, dia memikirkan tentang apa saja yang sudah di perbuat organisasi Inside, baik dalam hal penjualan aset negara, mempermainkan perekonomian negara dengan mengubah ubah nilai pasar perekonomian, korupsi di setiap instansi pemerintahan yang terpenting, jual beli jabatan, praktek KKN, Nepotisme, bagi bagi jabatan antar partai politik pemenang pemilu, perdagangan gelap, bisnis fiktif yang digerakkan perusahaan yang dikelola Inside, dan banyak lagi kejahatan lainnya.
Dan semua anggota anggota Inside yang terlibat dalam kejahatan itu berasal dari para petinggi negara, dari dewan parlemen, kementrian, pejabat kejaksaan, kepolisian, kehakiman, dan juga para pengusaha pengusaha, hampir setiap lini dan divisi pemerintahan dikuasai oleh organisasi Inside, bahkan, apapun yang akan di laksanakan pemerintah harus atas persetujuan Inside terlebih dulu, yakni Binsar.
Binsarlah yang mengendalikan roda pemerintahan yang sebenarnya, bukan presiden, Presiden hanyalah sebuah nama jabatan, namun sebenarnya, dia tak punya kuasa untuk menetapkan sesuatu hal, karena semua menjadi keputusan Inside, yang di kendalikan oleh Binsar sebagai ketua umum, pemimpin tertinggi dari organisasi Inside.
Gavlin mengamati flash disk yang ada di tangannya, dia masih berfikir keras, bagaimana caranya dia mengungkapkan kejahatan Inside yang ada didalam flash disk tersebut , agar seluruh masyarakat mengetahui sepak terjang Binsar dan organisasinya selama ini.
"Bapakku orang jujur, dimataku, dia hebat, berani melawan segala macam kejahatan dan tidak mau terlibat di dalamnya." Gumam Gavlin.
"Bapak lebih memilih menjadi penyapu jalanan daripada memberi makan keluarganya dari hasil haram, yang didapat dari berbuat kejahatan dan merugikan negara." lanjutnya.
"Aku kagum sama kamu, Pak. Aku semakin yakin, bahwa kamu bukan pembunuh , apalagi pemerkosa." tegas Gavlin.
"Aku yakin dan bangga, kamu orang baik, Pak. Orang yang jujur, dan kamu gak pantas dituduh sebagai pembunuh dan pemerkosa, kamu gak layak dipenjara." ungkapnya, menahan geramnya.
"Bapak orang baik, namamu harus dibersihkan dari segala macam tuduhan tuduhan palsu itu, dan aku yang akan membersihkan namamu, Pak." ujar Gavlin.
Mata Gavlin mulai memerah, dia terlihat sangat menahan amarahnya, dengan geram digenggamnya flash disk yang ada ditangannya, Gavlin lantas menghela nafasnya, lalu dia bangun dan berdiri dari duduknya di sofa, dia lantas bergegas keluar dari dalam rumah bilik pak Sarono.
Gavlin menurunkan tas ransel berukuran besar dari atas motornya, lalu, dia menyimpan tas ransel besar itu di dalam kamar, kamar yang pernah dia tempati selama tinggal dirumah pak Sarono dulu.
Tas ransel berukuran besar yang didalamnya berisi senjata senjata diletakkan Gavlin diatas kasur. Lalu, dia mengambil dua buah pistol, enam granat, dan granat granat itu di masukkannya ke dalam tas pinggangnya.
Gavlin lalu bergegas kembali keluar dari dalam rumah, dia naik ke atas motornya, menyalakan mesin motor, memakai helm, lalu segera menjalankan motornya, Gavlin pergi meninggalkan rumah bilik pak Sarono, ada satu tujuan yang ingin dia datangi, sebelum dia kembali menjalankan aksi balas dendamnya.
---
Di kantor kepolisian, terlihat Andre bersama Masto sedang memantau rekaman cctv dari koridor rumah sakit.
Dimana dalam rekaman cctv terlihat jelas saat saat, sosok Pria datang menyerang dan menembak kedua petugas polisi yang berjaga di depan pintu masuk kamar rawat Gavlin saat itu.
Dari rekaman cctv juga terlihat jelas, bahwa sosok pria berpakaian serba hitam dan memakai masker penutup wajah itulah yang sudah membantu Gavlin melarikan diri dari rumah sakit.
__ADS_1
Andre menghentikan tayangan rekaman cctv tepat di wajah sosok pria berpakaian serba hitam saat keluar dari dalam kamar rawat rumah sakit, Andre dan Masto mengamati sosok pria tersebut, mereka menegaskan pandangan pada sorot kedua mata sosok pria tersebut.
"Wajah orang itu gak terlihat, Pak, kita gak bisa mengenalinya." ujar Masto pada Andre.
"Ya, dia sepertinya hafal letak cctv dirumah sakit, dan tau, posisi penjaga di depan ruang rawat itu." ujar Andre.
"Saya yakin, orang yang membantu Gavlin melarikan diri pasti tau seluk beluk rumah sakit, dan dia pasti tau, kalo Gavlin akan dibawa ke kantor polisi, makanya dia cepat membebaskan Gavlin, agar gak dipenjara." ujar Andre, mencoba mengambil kesimpulan.
"Pertanyaannya, siapa orang itu, Pak? Yang kita tau, selama ini Gavlin bergerak sendirian, gak ada satu orang pun yang membantunya dalam menjalankan misi balas dendamnya." tegas Masto.
"Itu yang menjadi pe'er kita, Kita harus mencari tau, siapa orang dekat Gavlin yang sudah membantunya melarikan diri, dan kita harus mencari tau hubungan mereka berdua." jelas Andre, dengan wajah seriusnya.
"Maaf, Pak. Saya curiga dengan Chandra, saya perhatikan gerak geriknya sedikit aneh sehari sebelum Gavlin melarikan diri dari rumah sakit." ujar Masto, dengan serius menjelaskan.
"Kamu jangan asal tuduh jika gak punya bukti. Dari mana kamu bisa berfikir, kalo Chandra yang membebaskan Gavlin?" ujar Andre, menegur Masto.
"Ya, ini cuma perasaan dan dugaan saya saja Pak. Bisa benar, dan bisa saja salah. Tapi saya yakin, Chandra lah orang yang telah membebaskan Gavlin." tegas Masto dengan penuh keyakinan.
"Kamu bisa membuktikan ucapan dan tuduhanmu itu?" tanya Andre.
"Tidak, Pak. Saya gak ada buktinya. Hanya prasangka dan praduga saya saja." ujar Masto dengan jujur.
"Jika kamu curiga dengan Chandra, sebaiknya diam diam kamu selidiki, apakah selama dalam rumah perlindungan itu Chandra ada berkomunikasi dengan Gavlin, atau dia pergi keluar sendirian?" ujar Andre.
"Dia juga mengaku kalo dia gak keluar dari rumah itu, dan saya sudah bertanya pada para penjaga yang ada di rumah perlindungan itu, untuk menyamakan perkataan Chandra, dan menurut para penjaga kita, memang Chandra gak pernah pergi keluar rumah, menurut penjaga, Chandra diam di dalam rumah itu." ujar Masto, memberi penjelasan pada Andre.
"Kalo begitu, ya gak mungkin Chandra yang membantu Gavlin bukan?" ujar Andre.
"Kalo Chandra keluar dari rumah itu, penjaga penjaga pasti melihat dan mencegahnya pergi, dan dia pasti akan ketahuan!" tegas Andre.
"Iya, Pak." ujar Masto.
"Ah, sudahlah, mungkin cuma perasaan saya saja yang salah." ucap Masto, mencoba menepis pikirannya tentang kecurigaannya pada Chandra.
"Oh iya, Pak. Chandra bertanya pada saya, katanya, mengapa kita gak focus dengan organisasi Inside dan malah sibuk mengejar Gavlin, bukan mengejar Binsar dan kelompoknya." ujar Masto.
"Kata Chandra, apa lagi yang di tunggu, bukti bukti kuat sudah di miliki, dan kenapa Binsar belum juga di tangkap? Begitu katanya, Pak." jelas Masto.
"Gak semudah itu menangkap orang seperti Binsar, apalagi kita dan Samuel, pihak jaksa penuntut tau, bagaimana kekuasaan Binsar di dalam pemerintahan!" ujar Andre.
"Untuk menangkap orang seperti Binsar, penjahat kelas kakap, harus hati hati, gak bisa gegabah, karena, kalo terburu buru, akan menjadi bumerang, masalah akan berbalik menghantam kepolisian dan kejaksaan, dan Binsar malah akan bebas selamanya." tegas Andre menjelaskan.
__ADS_1
"Karena itu, Saya dan Samuel berhati hati mengungkap kejahatan Binsar, kami mulai bergerak menangkapi satu persatu anggota Inside terlebih dulu, agar Binsar kehilangan dukungan dari para anggotanya yang tertangkap, selain itu, kami juga berencana untuk mengadu domba presiden, agar beliau tidak lagi mau menjadi boneka Binsar dan berani melawannya!" ungkap Andre dengan wajah seriusnya.
"Dengan begitu, mudah menjatuhkan Binsar dan menangkapnya, lalu mengadilinya di persidangan. Semua sudah kami rencanakan dengan matang, tinggal tunggu waktu pelaksanaannya saja." ujar Andre.
"Oh, begitu. Baiklah, Pak. Saya mengerti dan paham." ujar Masto.
"Dan kenapa saya mengejar Gavlin dan ingin menangkapnya? Agar Gavlin tidak lagi membunuh orang orang Inside, dan agar Gavlin gak jadi penghalang atas rencana yang sudah disusun pihak kepolisian dan kejaksaan dalam mengungkap semua kejahatan Inside, selama Gavlin berkeliaran diluar, dia pasti akan menjadi halangan besar buat kita nantinya." tegas Andre, menjelaskan pada Masto.
"Ya, Pak. Saya paham." ujar Masto mengangguk.
"Kamu bersiap saja dan tetap focus pada kasus yang kita sedang selidiki ini, dan tunggu perintah dari saya untuk bergerak!" tegas Andre.
"Untuk saat ini, kamu focus menjaga Chandra saja sementara dirumah perlindungan." ujar Andre.
"Siap, Pak. Akan saya laksanakan sebaik baiknya." ujar Masto.
"Kalo begitu, saya permisi, Pak." ucap Masto.
"Ya." Andre mengangguk.
Masto lantas pergi meninggalkan Andre, Andre menarik nafasnya dalam dalam, dihempaskannya tubuhnya di kursi kerjanya, dia lalu tercenung, memikirkan kasus yang sedang dia hadapi saat ini.
---
Di sebuah pemakaman umum, terlihat Gavlin datang mengunjungi makam Bapak dan Ibunya yang di kuburkan berdampingan.
Wajah Gavlin terlihat menahan kesedihannya saat dia membersihkan makam dan batu nisan Bapak dan Ibunya.
Setelah membersihkan makam Bapak dan Ibunya, Gavlin pun meletakkan rangkaian bunga pada makam Bapak dan makam Ibunya.
Gavlin berjongkok, dia berada ditengah, diantara makam bapak dan ibunya, Gavlin membelai lembut batu nisan bapaknya dan juga ibunya.
"Pak, Bu, Yanto datang mengunjungi kalian. Semoga kalian berdua baik baik saja di sana." ucap Gavlin, penuh kesedihan.
"Pak. Tunggulah, sebentar lagi, Yanto pasti akan menyelesaikan dendam Bapak, Yanto akan menghancurkan orang orang yang sudah memfitnah dan menghancurkan Bapak dan membunuh Bapak serta Ibu." ungkapnya dengan lirih dan getir.
"Yanto akan membalaskan dendam kalian, mudah mudah, Yanto lancar dalam menjalankan misi terakhir Yanto ini." ungkap Gavlin getir.
"Jika Yanto sudah berhasil membalas dendam, Yanto akan datang kembali ke sini melihat Bapak dan Ibu. Tunggu Yanto ya, Pak, Bu. Kita pasti akan berkumpul lagi nantinya." ujar Gavlin.
Gavlin lantas berdiri dan diam, dia menahan kesedihannya, berusaha agar tak menangis didepan makam kedua orang tuanya.
__ADS_1
Gavlin lantas menarik nafasnya dalam dalam, lalu dia berbalik badan dan pergi meninggalkan makam Bapak dan Ibunya.
Sudah bertahun tahun lamanya Gavlin tidak datang kepemakaman dan berkunjung pada makam kedua orang tuanya, baru kali ini lagi dia datang berkunjung, pamit pada orang tuanya untuk menjalankan misi terakhirnya, hidup atau mati.