
Di dalam kamar Gatot, karena Maya terus menolak keinginannya, Ronald pun semakin marah, dia lantas memukul wajah Maya dengan gagang pistolnya, Maya pun terjerembab di atas kasur, dari pipinya keluar darah segar.
"Wanita sundeeeelll!! Kamu berani menolakku!!" Bentak Ronald marah.
Dia lantas membalikkan tubuh Maya dengan paksa, Maya pun tengkurap, dengan cepat, Ronald menarik rok Maya, Maya pun berteriak.
"Lepaaaaskaaaan !! Bajiiingggaaaannn!!! Lepaaaassskaaaan!!" teriak Maya sekuat kuatnya.
Ronald tak perduli, dia berusaha melepaskan rok Maya. Maya terus meronta ronta, dengan tangannya, dia pegangin roknya, agar Ronald tidak bisa melepaskan roknya.
Di luar rumah, Gavlin yang sedang mengamati mobil, kaget mendengar teriakan Maya yang keras dari dalam rumah dengan berkata kasar.
"Biaaadaaaabbb, lepaaasskkkaaan!!" teriak Maya, dari dalam rumahnya.
"Mayaaa?!! Siiiaaall!!" ujar Gavlin, mendengar teriakan Maya.
Dengan cepat, Gavlin pun berlari ke arah rumah Maya, dia melihat pintu rumah Maya rusak, karena di tendang kuat.
Gavlin pun marah, dia tahu, nyawa Maya sedang terancam di dalam rumah, dengan cepat, Gavlin lari masuk ke rumah.
"Bedeeeebaaaaahhh, IIbbiiisss!!" teriak Gavlin marah.
Gavlin pun menerjang Ronald yang tengah berusaha melepaskan rok Maya. Ronald terjungkal jatuh kelantai.
"Dia punya pistol, Vlin!!" teriak Maya, memberi tahu Gavlin.
Gavlin kaget, dia pun mengurungkan niatnya menyerang Ronald, dengan cepat, Gavlin bersembunyi di balik dinding, bersamaan dengan Ronald menembakkan pistol di tangannya ke arah Gavlin.
Gavlin mencabut pistolnya yang ada di pinggangnya, dia pun bersembunyi di balik dinding kamar.
Ronald cepat memakai celana dan ikat pinggangnya, lalu, dia segera bangun dan berdiri, Maya juga merapikan roknya yang sudah turun ke bawah.
Ronald dengan cepat menarik rambut Maya sekuat kuatnya, Maya pun teriak kesakitan, Ronald tak perduli, dia membawa dan menyeret Maya, Maya pun turun dari ranjangnya sambil meringis kesakitan , karena rambutnya di tarik Ronald.
"Jangan sakiti dia setan!! Urusanmu sama aku, bukan dengan dia!!" bentak Gavlin marah.
"Aku gak perduli! Dia bersekongkol denganmu!! Karena itu!! Dia juga harus mampus ditanganku!!" bentak Ronald berteriak.
"Jangan jadi pengecut Ronald!! Jangan bisanya mengancam wanita!!" Ejek Gavlin, dari tempat persembunyiannya.
Ronald pun semakin marah mendengar ejekan Gavlin yang mengatakan dirinya seorang pengecut.
Ronald lalu menyeret Maya dengan menarik rambutnya, dia menuju ke belakang rumah Maya, Gavlin mengintip dari balik dinding.
Gavlin melihat, Ronald membawa Maya ke belakang rumah, dengan berhati hati sambil mengarahkan pistol ditangannya ke depan, Gavlin pun berjalan mengikuti Ronald dan Maya.
Ronald membuka pintu belakang rumah Maya, dia lantas menarik rambut Maya, Maya pun terjatuh kelantai.
Ronald tak perduli, dia terus menarik rambut Maya dengan sekuat kuatnya, di seretnya tubuh Maya keluar rumah.
Gavlin menyusul Ronald yang sudah keluar membawa Maya dari belakang rumah. Gavlin pun lantas keluar dari dalam rumah.
Di belakang rumah, tepatnya di kebun Gatot yang cukup luas, Ronald mengangkat tubuh Maya dan membuatnya berdiri.
Ronald mencekal leher Maya dengan lengan tangannya. Maya tampak meringis, karena susah bernafas.
Ronald berdiri sambil mencekal leher dan mendekap tubuh Maya, pistol di arahkannya ke kepala Maya.
Gavlin pun tiba di kebun itu, dia berdiri, tidak jauh dari posisi Ronald dan Maya.
"Kalo kamu Jantan, hadapi aku , Ronald!! Jangan pake pistol!!" bentak Gavlin, marah, menantang Ronald.
Ronald menyeringai jahat, dia menatap tajam wajah Gavlin yang sudah sangat marah itu.
Terlihat jelas, Gavlin begitu marahnya, karena Maya dilecehkan dan di sandera Ronald, apalagi dia melihat, wajah Maya terluka dan berdarah.
"Kalo kamu gak lepaskan Maya! Aku akan menembakmu!!" bentak Gavlin, penuh amarah.
"Silahkan, akan ku tembak dia!!" ujar Ronald geram.
Dengan penuh amarah, Ronald menekankan ujung pistolnya ke kepala Maya. Maya pun memejamkan matanya, karena takut di tembak.
Melihat Maya menangis ketakutan dan gemetaran, Gavlin semakin meradang, wajahnya semakin memerah, darahnya bergejolak, amarahnya meluap luap.
Karena Ronald tidak juga mau menuruti permintaannya untuk duel satu lawan satu tanpa pistol, Gavlin pun cepat berfikir, mencari cara lain, agar Maya bisa lepas dari cengkraman Ronald.
"May, kamu ingat, Ayahmu pernah mengajarkan kamu melepaskan kunci?" ujar Gavlin.
Saat mengatakan 'kunci' , mata Gavlin berkedip, memberi kode, Maya pun paham, yang dimaksud Gavlin dengan kata 'kunci' adalah lengan tangan Ronald yang mencekal kuat lehernya, dan seperti mengunci lehernya.
Maya pun tersenyum, dia memberi isyarat dengan kedipan satu kali matanya, Gavlin pun bersiap siaga.
__ADS_1
Dia menatap tajam wajah Ronald.
"Nald!! Lepaskan Maya ! Ayo, hadapi aku!!" ujar Gavlin.
"Diam kamu!!" bentak Ronald, sambil mengarahkan pistolnya pada Gavlin.
Ronald marah, dia menatap tajam wajah Gavlin yang berdiri tidak jauh darinya dan Maya. Dengan cepat, Maya pun melepaskan cengkraman lengan tangan Ronald.
Dengan jurus cara melepaskan kuncian tangan dari leher yang di ajarkan Ayahnya, Maya pun berhasil melepaskan diri.
Dengan cepat, Maya mencekal tangan Ronald, lalu memutarnya, kemudian, dengan sekuat tenaga, Maya membanting Ronald.
"Maaaaampuuuuussss kamuuu Iiibbbliiisss!!" teriak Maya sambil membanting tubuh Ronald.
Ronald pun terbanting, tubuhnya terhempas ke tanah, dengan cepat, Maya berlari ke arah Gavlin, dan Gavlin cepat berlari mendekati Ronald.
Ronald meringis kesakitan di atas tanah, karena dia di banting kuat Maya. Tanpa menunggu Ronald bangun dan berdiri, Gavlin langsung menyerang Ronald.
Gavlin menendang pistol di tangan Ronald. Pistol pun terlepas dari tangan Ronald, lalu, Dengan gerak cepat, Gavlin menghajar Ronald.
Dia menendang tubuh Ronald, Maya cepat mengambil pistol Ronald yang terjatuh di tanah, dia lantas memegang pistol, di arahkannya pistol pada Ronald.
Ronald menahan kaki Gavlin yang mau menginjak tubuhnya, dengan cepat, Ronald melemparkan kaki Gavlin, Gavlin pun terjajar ke belakang.
Dengan cepat, Ronald bangun dan berdiri, dia pun bersiap siaga, Gavlin berdiri di depannya, kini, mereka saling berhadapan dengan tangan kosong.
Ronald menatap tajam wajah Gavlin, dia tersenyum sinis dan menyeringai jahat, Sementara Gavlin ,tampak tenang, dan bersikap dingin, menatap wajah Ronald.
Dengan wajahnya yang tegang, Maya sambil memegang pistol dan mengarahkannya ke Ronald, mengamati Gavlin yang berhadapan dengan Ronald.
Dengan rasa was was dan penuh khawatir, Maya pun mendekati Gavlin dan berbisik di telinga Gavlin.
"Hati hati, Vlin, aku liat, di kantong celananya ada pisau lipat." ujar Maya berbisik pelan.
Gavlin mengangguk, mengiyakan perkataan Maya.
"Kamu menyingkir dan menjauh May, biar ku hadapi Iblis laknat ini!!" ujar Gavlin penuh amarah.
Ronald menyeringai jahat, Maya pun lantas mundur teratur, lalu, dia mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dan berlindung.
"Bersiaplah menyambut kematianmu, Ronaaaalddd!!" teriak Gavlin , meluapkan emosi amarahnya.
"Kamu yang akan mati ditanganku, Gavliiin!!" teriak Ronald.
Mereka berdua yang sama sama menyimpan amarah dan dendam, berusaha untuk bisa menghabisi lawannya.
Dengan membabi buta, Ronald menyerang Gavlin, Gavlin pun meladeni serangan Ronald, jual beli pukulan terjadi, dan perkelahian itu sangat seru. Karena keduanya sama sama tangguh.
Ronald benar benar lawan yang sepadan untuk Gavlin, sebab, Ronald cukup kuat dan tangguh, dia memang jago berkelahi.
Berkali kali Gavlin menghindari pukulan dan tendangan Ronald, lalu, sesekali, dia pun memberikan pukulan dan tendangannya pada Ronald.
Saat Gavlin hendak menyerang dan memukul wajah Ronald, Ronald menunduk, lalu, dia menghantamkan tangannya ke perut Gavlin, Gavlin pun terjajar mundur, terkena pukulan Ronald.
"Gaaavvliiin!!" teriak Maya histeris dan cemas.
Maya cemas melihat Gavlin terkena pukulan Ronald, Gavlin pun berdiri tegak, dia menahan rasa sakitnya, lalu, dia bersiap siap kembali untuk memberi perlawanan pada Ronald.
Ronald tersenyum sinis, dia tampak meremehkan Gavlin.
"Segitu aja ternyata kemampuan ilmu bela dirimu, bocah tengik!!" bentak Ronald geram dan marah.
Gavlin diam tak menjawab, dia lantas menyerang Ronald, Ronald pun menghindar. Gavlin terus menghantam dan menyerang Ronald dengan pukulan dan tendangannya.
Dan saat ada kesempatan, Gavlin pun melompat, dia mengarahkan tangannya ke arah wajah Ronald, Ronald segera menghindar, dan dia menunduk, agar tidak terkena pukulan tangan Gavlin.
Tiba tiba tendangan kaki Gavlin menghantam wajahnya yang sedang tertunduk karena menghindari pukulan tangan Gavlin.
Ronald pun tersungkur jatuh ke tanah, dia tak menyangka, Gavlin menendang dirinya. Gavlin membuat gerakan tipuan pada Ronald.
Seolah dia akan memberi pukulan, padahal dia bersiap untuk memberi tendangan taekwondonya pada Ronald.
Ronald meringis kesakitan di tanah, Gavlin segera menghampirinya, dengan penuh emosi amarah, dia memukuli Ronald yang terbaring di tanah.
Ronald pun mendapatkan hujanan pukulan dari Gavlin, hidung, mulut dan pelipisnya berdarah, dengan kalap, Gavlin terus memukulinya.
Diam diam, Ronald mengambil tanah, di genggamnya tanah, lalu, dengan cepat, Ronald melemparkan tanah ke wajah Gavlin.
Gavlin pun kesakitan, dia menghentikan aksinya memukuli Ronald, terlihat jelas, Gavlin kesakitan, karena matanya kemasukan tanah.
Gavlin berdiri dan mundur, dia berusaha menghilangkan tanah dari kedua matanya. Maya tampak cemas melihat Gavlin.
__ADS_1
Namun, dia tak berani keluar dari persembunyiannya, dia hanya pasrah, dan diam menunggu di tempat persembunyiannya, sambil tetap mengamati Gavlin dan Ronald.
Maya berfikir sesaat, dia lantas berlari masuk ke dalam rumahnya, untuk mengambil sesuatu.
"Biadaaaab !! Kamu main curang Baaaangkee!!" teriak Gavlin marah, sambil mengucek matanya.
Ronald dengan cepat bangun dan berdiri, lalu, dia pun menyerang Gavlin, yang tengah sibuk menghilangkan tanah tanah yang masuk ke dalam matanya.
Karena tak siap, Ronald pun dengan mudah memukuli Gavlin. Dengan buas dan kalap membabi buta, Ronald memukul dan menghajar Gavlin.
Gavlin pun terjajar jajar terkena pukulan kuat Ronald, wajahnya pun mulai berdarah, akibat kena pukulan tangan Ronald.
Kini berbalik, Gavlin yang menjadi bulan bulanan Ronald, Dengan penuh amarah, Ronald pun terus menghantam Gavlin.
Maya keluar dari dalam rumahnya, lalu, dia melemparkan botol plastik berisi air pada Gavlin.
"Ambil air ini Vlin!!" teriak Maya.
Gavlin dengan gerak refleksnya langsung menoleh pada Maya dan menangkap botol plastik berisi air.
Dengan cepat, Gavlin membuka tutup botol, lalu, di siramkannya air ke mata kiri dan kanannya, lalu, dibasuhnya wajahnya dengan sisa air.
Perlahan, pandangan mata Gavlin pun kembali normal, Maya senang, karena dia berhasil membantu Gavlin, memberikan air buat mata Gavlin, agar bisa melihat jelas lagi.
Gavlin membuang botol plastik kosong ke tanah. Melihat Gavlin sudah bisa melihat lagi, Tak ada pilihan lain buat Ronald, dia harus melawan Gavlin dengan menggunakan senjata.
Dia menilai, Gavlin lawan yang sangat tangguh dan kuat, jika dirinya melawan Gavlin dengan tangan kosong, maka, dia tak akan bisa mengalahkan Gavlin.
"Ibliiisss pengecut!! Beraninya main curang!!" bentak Gavlin marah.
Ronald tersenyum sinis menatap wajah Gavlin yang marah itu. Lalu, dia pun mengambil pisau lipatnya dari dalam kantong celananya.
Ronald lantas tersenyum sinis dan menyeringai licik sambil memutar mutar pisau lipat ditangannya, dia menatap wajah Gavlin, dengan tatapan sinis.
"Sekarang kita duel dengan senjata!" ujar Ronald.
"Pengecut!! Beraninya main senjata!!" Bentak Gavlin, tersenyum sinis.
"Heeei!! Aku pake pisau ini, agar kamu cepat mampus di tanganku!!" bentak Ronald marah.
"Aku gak mau berlama lama lagi denganmu, aku akan menghabisimu, memotong tubuhmu dan mencincangnya!!" bentak Ronald penuh amarah.
"Setelah kamu mampus, akan kunikmati tubuh pacar cantikmu itu!!" Ujar Ronald menyeringai licik.
"Kalo kamu gak datang mengganggu, pacarmu itu pasti udah menikmati goyanganku!!" ujar Ronald tertawa.
Gavlin pun semakin geram dan marah mendengar perkataan Ronald yang melecehkan Maya.
"Manusia laknaaaattt!! Otak penuuuh maksiaaaat dan meeesuuumm!!" teriak Gavlin, penuh emosi marah.
Gavlin pun lantas mengambil pisau belatinya yang di sarungkannya di pinggangnya.
"Wooow, punya pisau tajam dan bagus juga rupanya." ujar Ronald, tersenyum sinis.
"Diiiaaam kamuu setaaaan!! Pisau ku ini akan mencabik cabik seluruh tubuhmu!!" bentak Gavlin, penuh amarah.
Ronald tertawa terbahak bahak mendengar perkataan Gavlin, dia tampak meremehkan Gavlin, Ronald sangat percaya diri, jika dia sudah memegang pisau lipatnya.
Pisau lipat menjadi satu satunya senjata Ronald selama ini membunuh korban korbannya, dan dia yakin, dia akan bisa membunuh Gavlin dengan pisau lipatnya.
Maya tampak marah melihat Ronald, wajah Maya pun terlihat jijik pada Ronald.
"Mammmpuuuusss kamuuu Gavvvvllliiiinn!!" teriak Ronald.
Ronald pun menyerang Gavlin dengan pisau lipatnya. gerakan tangannya menggunakan pisau sangat ahli sekali.
Terlihat jelas, jika Ronald sudah sangat terbiasa menggunakan pisau lipatnya untuk membunuh. Gavlin pun berusaha menghindari serangan Ronald.
Dia menepis tangan Ronald yang menghujamkan pisau ke tubuhnya, lalu, Gavlin membalas, dia menyerang balik Ronald.
Gavlin pun menyerang Ronald dengan pisau belati di tangannya, duel dengan menggunakan senjata tajam pun terjadi antara Ronald dan Gavlin.
Dari tempat persembunyiannya, Maya terus melihat Gavlin yang berkelahi dengan Ronald, wajahnya terlihat cemas, dia pun takut, Gavlin terluka, terkena sabetan pisau Ronald.
Dari tempat persembunyiannya, Maya hanya bisa berdiam diri, dan berdoa, agar Gavlin bisa mengalahkan Ronald, dan terpenting, Gavlin tak terluka.
Hujaman pisau dari kedua belah pihak masih terus terjadi, tiba tiba hujan pun turun dengan derasnya. Airnya langsung membasahi seluruh tubuh Gavlin dan juga Ronald.
Untuk sesaat, perkelahian pun berhenti, Gavlin dan Ronald berdiri tegak diatas tanah.
Tanah di kebun belakang rumah Gatot pun basah, dan menjadi licin, sebab, tanah di kebun itu tanah merah, jika terkena air, akan menjadi licin.
__ADS_1
Gavlin pun berdiri tegak di atas tanah, dia bersiap siap, memberi perlawanan lagi pada Ronald. Ronald tersenyum sinis menatap wajah Gavlin.