
Sejak Ayahnya di tangkap polisi, Maya mengisi hari harinya dengan kesedihan dihatinya. Tak henti hentinya dia menangis sedih, karena merasa kehilangan Ayahnya.
Dia merasa sepi, karena tak ada Ayahnya yang selalu menemani hari harinya. Di dalam kamarnya, Maya terus menangis sedih.
"Vlin, kamu dimana? Saat ini, aku sangat kesepian, sudah seminggu lebih Ayahku di tahan polisi, aku sendirian, aku takut Vlin." ujar Maya, menangis sedih.
"Vlin, mengapa kamu gak hadir menemuiku? Aku sangat membutuhkanmu, Vlin. Hibur aku dari kesedihanku ini." lanjut Maya, menangis sedih.
Maya sangat merindukan kehadiran Gavlin, sejak terakhir kali dia bertemu Gavlin dirumahnya waktu itu, dia belum lagi bertemu Gavlin.
Maya sangat berharap, Gavlin hadir, menghibur dan menemani dirinya yang tengah bersedih hati, sebab Ayahnya di penjara polisi.
"Aku harap, semoga kamu baik baik aja , Vlin. Dan hatimu tergerak, untuk menemuiku." ujar Maya, lirih dan getir.
Maya lantas menghapus air mata sedihnya, dia lalu menghela nafasnya dengan berat. Dia pun tercenung, diam melamun dalam kamarnya.
Sementara itu, di dalam ruangan sempit, terlihat Gatot terikat dengan posisi menggantung, dengan kedua jari kakinya berjinjit, tidak bisa menapak kelantai, karena di gantung.
Ternyata, Gatot bukan di jebloskan Sutoyo ke dalam sel tahanan, namun, dia membawa Gatot ke dalam ruang penyiksaan.
Tampak tubuh Gatot lemah dan lemas, luka luka bekas cambukan terlihat banyak menggores seluruh punggungnya.
Dari bibirnya, keluar darah segar, dan pelipis serta wajahnya juga berdarah, Gatot benar benar mengalami penyiksaan yang cukup parah.
Dan penyiksaan itu dilakukan para petugas polisi yang menjadi anak buah Sutoyo, atas perintah Sutoyo langsung, petugas polisi menyiksa Gatot.
Pintu ruang penyiksaan terbuka, Sutoyo masuk ke dalam ruang penyiksaan tersebut, lalu, dengan sikap angkuh, dia berjalan mendekati Gatot yang tergantung di tengah ruang penyiksaan itu.
Sutoyo berdiri di hadapan Gatot yang tampak sudah lemas tak berdaya, wajah Sutoyo tersenyum sinis, menatap wajah Gatot yang berdarah penuh luka luka lebam dan memar.
"Apa kamu gak mau juga bilang, dimana buronan itu sembunyi, Gatot?!" Hardik Sutoyo marah.
Gatot tak bereaksi, dia tetap diam, dan tak melihat pada Sutoyo yang geram dan marah padanya.
"Kamu benar benar merelakan dirimu di siksa, dari pada mengatakan tempat persembunyian manusia laknat itu?!" bentak Sutoyo, geram dan marah.
Gatot tetap diam, dia tak mau menjawab perkataan Sutoyo, Gatot sangat jijik pada Sutoyo.
Dengan geram dan marah, Sutoyo menarik kuat rambut Gatot, dia lantas mengangkat kepala Gatot.
"Kalo kamu tetap bungkam juga, kamu akan mati di sini !!" Bentak Sutoyo, mengancam Gatot.
"Silahkan Sutoyo, aku gak takut mati." ujar Gatot, dengan suara lemahnya.
Mendengar perkataan Gatot, membuat Sutoyo semakin marah, dia pun lantas memberi perintah kepada anak buahnya.
"Cambuk dia !! Jangan berhenti sebelum dia pingsan !!" ujar Sutoyo, penuh amarah, dan melepaskan tangannya yang menarik rambut Gatot.
"Siap, bos!" jawab Petugas Polisi, yang menjadi pengikut dan anak buah Sutoyo.
Lalu, Petugas Polisi yang bertindak sebagai algojo itu pun mencambuk kuat punggung Gatot. Gatot menutup mulutnya rapat rapat, dia berusaha untuk tidak teriak kesakitan.
Sutoyo tersenyum sinis, melihat Gatot di cambuk berkali kali, lalu, dengan santainya, Sutoyo pun keluar dari dalam ruang penyiksaan itu.
Petugas Polisi terus mencambuk punggung Gatot, Gatot berusaha dengan sisa sisa tenaganya, menahan diri, untuk tidak kesakitan.
Dengan kejam, Sutoyo menyiksa Gatot, dan Gatot, demi menyelamatkan Gavlin, atau Yanto, dia rela mengorbankan dirinya untuk mendapat siksaan dari Sutoyo.
---
Pagi harinya, Maya tampak tak bersemangat untuk berangkat kerja, wajahnya masih tampak murung dan sedih.
Dia masih merasa sepi, karena tak ada Ayahnya di dalam rumah, biasanya, Ayahnya selalu menemani dia sarapan. Maya benar benar merasa kehilangan.
Dengan malas malasan, Maya mengambil tas kecilnya yang tergeletak di meja ruang keluarga. Lalu, Maya melangkahkan kakinya hendak keluar rumah.
__ADS_1
"May." panggil Gavlin.
Mendengar suara Gavlin, Maya pun tampak senang, dengan gerak cepat, dia berbalik badan, dan melihat ke arah suara Gavlin.
Dia melihat, Gavlin berdiri di balik dinding pembatas ruang dapurnya. Wajah Gavlin tersenyum senang menatap wajah Maya.
Maya pun berlari menghampiri Gavlin, lalu, dia memeluk erat tubuh Gavlin, Maya kemudian menangis sejadi jadinya dalam pelukan Gavlin.
Melihat Maya menangis tersedu sedu, Gavlin pun heran, dia mengelus lembut penuh kasih sayang rambut Maya.
"Kamu kenapa nangis, May? Ada apa?" tanya Gavlin heran.
Maya terus menangis terisak isak dalam pelukan Gavlin, Gavlin semakin heran, karena Maya tak menjawab pertanyaannya, malah terus menangis dengan sedihnya.
"May, kamu ada masalah apa? bilang padaku, May. Jangan menangis terus." ujar Gavlin, penuh kasih sayang.
Gavlin lantas melepaskan pelukan Maya dari tubuhnya, lalu dia menatap lekat wajah Maya yang masih menangis, berdiri di hadapannya.
Maya berusaha menahan tangisnya, dia lalu menghapus air matanya, kemudian, dia menatap sendu wajah Gavlin.
"Ayahku, Vlin. Dia di tangkap Polisi." ujar Maya, menangis getir.
"Apa?!!" Ujar Gavlin kaget.
"Sudah lebih seminggu Ayahku di tahan Polisi, waktu itu, Polisi datang kerumah, dan mereka langsung memborgol dan membawa Ayahku." ujar Maya, menjelaskan.
"Katanya, Ayah terbukti membantu kamu, Vlin. Seorang Polisi, menunjukkan bukti photo Ayah dan kamu, aku melihat photo itu." jelas Maya, menangis sedih.
"Apakah salah satu polisi itu ada yang tua, gemuk?" tanya Gavlin geram.
"Iya, aku rasa, dia pemimpinnya, karena, saat dia mendekati Ayahku dan menunjukkan bukti photo, polisi lainnya menaruh hormat padanya." ujar Maya, lirih dan getir.
"Sutoooyooo!! Ibliiiss Biadab!" Bentak Gavlin penuh emosi marah.
"Vlin, bagaimana jika Ayahku di jebloskan dalam penjara seumur hidup? Atau, dia di hukum mati? Aku takut, Vlin, takut!" ujar Maya menangis sedih.
"Bagaimana caranya kamu bebaskan Ayahku, Vlin? Ayahku yang polisi aja gak bisa menolong dirinya sendiri dari tuduhan itu, apalagi kamu?" Ujar Maya, menangis sedih.
"Kamu meragukan aku, May? Kamu gak yakin padaku?!" ujar Gavlin, dengan wajah serius, menatap Maya.
"Aku selalu yakin dan percaya sama kamu, Vlin. Tapi aku takut, kamu juga akan tertangkap." ujar Maya menangis sedih.
"Gak kan terjadi apa apa sama diriku, kamu gak perlu khawatir, May." tegas Gavlin.
"May, tunggu aku, aku akan segera membawa Ayahmu kembali kerumahmu ini, aku janji!" Tegas Gavlin, bersungguh sungguh.
"Iya, Vlin." Angguk Maya lemah.
"Aku pergi dulu, May. Aku akan membebaskan Ayahmu." jelas Gavlin lagi.
Maya mengangguk, mengiyakan, lalu, dia menghapus air matanya, Gavlin mengecup dahi Maya, dia mencurahkan kasih sayangnya, agar Maya tenang, dan tidak menangis sedih lagi.
"Jangan menangis, May. Tegarlah. Yakinlah, Ayahmu akan kembali." Ujar Gavlin tersenyum, memberi semangat.
Maya tersenyum mengangguk, dia kembali menghapus air matanya, Gavlin lantas segera pergi meninggalkan Maya sendirian di dalam rumahnya.
Gavlin keluar dari arah belakang rumah Maya, Maya pun lantas menarik nafasnya dalam dalam, dia berusaha untuk menenangkan dirinya.
---
Bel sekolah berbunyi, para siswa dan siswi segera berhamburan keluar dari dalam kelas masing masing.
Citra, seorang gadis cantik, bertubuh tinggi semampai, berjalan diantara siswa dan siswi yang bubaran sekolah.
Citra, saat ini duduk dibangku kelas 11 SMA. Dia berjalan santai menuju mobil jemputannya, yang parkir di halaman parkir khusus jemputan anak sekolah.
__ADS_1
Citra masuk ke dalam mobilnya, dia duduk di jok belakang mobilnya, lalu, sang Supir pun menjalankan mobilnya. Mobil lantas pergi meninggalkan sekolahan.
Mobil Citra melintas keluar dari halaman sekolahan menuju jalanan, Dari dalam mobilnya, Gavlin yang sudah dari tadi menunggu, segera menjalankan mobilnya, Gavlin mengikuti mobil tersebut.
Citra adalah anaknya, Sutoyo, dari data yang pernah dia dapatkan, yang diberikan Gatot juga Teguh, dia mengetahui keluarga Sutoyo, bukan saja rumahnya.
Gavlin tahu wajah istri Sutoyo, dan dua anak gadis Sutoyo. Dan saat ini, Gavlin sedang mengikuti anak kedua Sutoyo, sebab, anak pertamanya sudah menikah dan bekerja di kedutaan besar.
Mobil Gavlin terus mengikuti mobil Citra, dia menjaga jarak, agar tidak diketahui Supir Citra, jika mobilnya sedang mengikuti dari belakang.
Saat mobil Citra berbelok di sebuah jalan kecil yang mengarah ke rumahnya, dengan cepat, Gavlin menyetir mobilnya.
Mobil Gavlin melesat cepat, dan berhasil menyusul mobil Citra, dengan cepat, mobil Gavlin menyalip mobil Citra.
Supir pun kaget, dia lantas membanting stir mobilnya, mobil menghantam ujung trotoar jalanan, Di dalam mobil, Citra berteriak histeris, dia ketakutan, karena mobilnya menabrak trotoar jalanan.
Dengan cepat, Gavlin memakai masker penutup wajahnya, lalu, dia bergegas keluar dari dalam mobilnya, kemudian, dengan sikap dingin, dia menembak sang Supir, dengan menggunakan pistol yang memakai peredam suara.
Sang Supir pun mati seketika, karena di tembak Gavlin, Citra teriak histeris dari dalam mobil.
"Tolooonggg...tolooonggg!!" teriak Citra, histeris dan panik.
Dengan sikap dingin , Gavlin membuka pintu belakang mobil, lalu, dia menodongkan pistolnya pada Citra.
"Jangan teriak ! Atau otakmu berhamburan karena peluru pistol ini!" bentak Gavlin marah.
Citra pun, diam, dia gemetar ketakutan dan menangis. Tubuhnya berkeringat dingin, karena menahan rasa takutnya.
"Keluar kamu! Cepat!!" bentak Gavlin.
Dengan takut takut, Citra pun keluar dari dalam mobilnya, lalu, Gavlin mendorong tubuh Citra dengan ujung moncong pistolnya.
"Jalan ke mobil berwarna merah itu!" Bentak Gavlin, menunjuk mobilnya.
Citra pun berjalan mendekati mobil Gavlin, dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Sambil menodongkan pistolnya, Gavlin lantas membuka bagasi mobilnya, lalu, dia pun menghajar wajah Citra dengan gagang pistolnya.
Pukulannya sangat keras dan kuat, hingga wajah cantik Citra berdarah dan terluka, lalu, Citra pun jatuh pingsan.
Dengan cepat, Gavlin masukkan tubuh Citra ke dalam bagasi mobilnya, lalu, dia mengambil lakban yang ada di dalam bagasi, kemudian, dia membungkam mulut Citra dengan lakban.
Kemudian Gavlin juga mengikat kedua tangan dan kedua kaki Citra, dengan menggunakan lakban, lalu, dia menutup pintu bagasi, kemudian, dia bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Gavlin lantas meluncur cepat, pergi meninggalkan mobil Citra yang bemper depannya hancur karena menabrak trotoar jalan, dan didalamnya, ada mayat sang Supir.
---
Sutoyo sedang duduk santai di ruang kerjanya, wajahnya tampak tenang, karena dia puas, sebab, Gatot berhasil ditangkapnya, dan di siksa.
Tiba tiba, pintu di ketuk, Sutoyo pun menyuruh masuk, seorang petugas Polisi masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Sutoyo.
"Ada polisi lalu lintas yang menitipkan flash disk ini buat Bapak. Katanya, barang bukti dari cctv, di sekitar rumah Gavlin." jelas Petugas Polisi.
Sutoyo tanpa menjawab, langsung mengambil flash disk tersebut, lalu, petugas Polisi segera keluar dari dalam ruang kerja Sutoyo.
Dengan santai, dan tak ada rasa curiga, dan mengira, bahwa yang memberikan petugas polisi lalu lintas, dia pun meletakkan flash disk pada laptopnya.
Sutoyo ingin melihat rekaman cctv yang katanya berisi bukti bukti di sekitar rumah Gavlin, saat terjadi ledakan dirumah Gavlin.
Sutoyo sama sekali tak tahu, jika Flash disk itu di kirimkan Gavlin, yang menyamar sebagai petugas kepolisian lalu lintas dan menyerahkan flash disk pada petugas polisi, untuk diberikan pada Sutoyo.
Saat rekaman video dari flash disk di nyalakan Sutoyo, mata Sutoyo pun terbelalak lebar, dia syock, panik, geram dan marah. Bercampur aduk, melihat rekaman video dari flash disk yang baru dia terima.
Dalam rekaman video, tampak jelas wajah anak keduanya, Citra, dalam posisi terikat kedua tangan dan kakinya serta tubuhnya disebuah kursi. Wajah Citra juga terluka dan berdarah, dan mulutnya di lakban.
__ADS_1
Sutoyo terhenyak, dia terdiam, tak bisa berkata kata, melihat anak kesayangannya, di culik.