
Gatot menatap tajam wajah Gavlin yang tampak tersenyum dan bersikap tenang menghadapi Gatot.
"Dimana Yanto?!" Bentak Gatot marah.
"Yanto? Siapa Yanto? Aku gak ngerti maksud Om?" Ujar Gavlin cuek dan santai.
Maya terhenyak, dia kaget, Ayahnya bertanya pada Gavlin tentang Yanto. Maya berusaha untuk tetap tenang dihadapan Ayahnya.
"Jangan pura pura bego! Kamu pasti kenal sama Yanto!" Hardik Gatot.
"Apa apaan ini? Datang datang main asal nuduh aja. Apa buktinya, kalo aku kenal sama yang namanya Yanto itu!" Tegas Gavlin jengkel.
Aku tau, kamu pasti ada hubungannya dengan Yanto!" Tegas Gatot marah.
"Yah! Apa apaan sih! Gavlin gak kenal sama Yanto, mereka belum pernah ketemu selama ini !! Aku bisa menjamin !" Tegas Maya.
"Aku memang niat mau kenalin Yanto sama Gavlin, tapi belum sempat kenalin mereka, Yanto udah menghilang sejak apartemennya meledak !" Lanjut Maya kesal.
Gatot terdiam, dia menatap tajam wajah Gavlin, lalu Gatot juga menatap wajah Maya yang terlihat kesal padanya.
"Kamu selalu aja membela anak ini!!" Hardik Gatot pada Maya.
"Ya, karena Ayah fitnah Gavlin! Main tuduh aja!! Aku bukan membelanya ! Tapi aku cuma bilang ke Ayah, kalo Gavlin gak kenal Yanto!!" Ujar Maya dengan tegas.
Gatot terdiam, untuk sesaat dia berfikir, lalu, dia menatap tajam wajah Gavlin yang masih terlihat cuek dan tenang.
"Dimana kamu pagi tadi?" Tanya Gatot ingin tahu.
"Dirumah. Dari semalam sampai sekarang aku belum pergi dari rumahku!" Ujar Gavlin santai.
"Ada yang bisa buktikan, kalo kamu benar dirumah?" Tanya Gatot lagi.
"Tanya aja sama tanaman tanamanku itu!" Ujar Gavlin sinis.
"Kamuuu!!" Bentak Gatot.
Gatot marah, karena mendengar jawaban nyeleneh Gavlin, yang terkesan menyepelekan dirinya.
"Lagian Ayah ngada ngada nanyanya. Gavlin kan tinggal sendirian di sini! Mana ada yang liat dia dirumah atau nggak!" Tegas Maya membela Gavlin.
"Gavlin memang dirumah, Yah. Buktinya, aku datang tadi, Gavlin ada dirumah, dan Ayah juga bisa liat sekarang, kalo Gavlin ada di sini." Ujar Maya sinis.
Gatot kembali terdiam, dia mulai bingung, apa lagi yang harus dia tanya sama Gavlin, karena kecurigaannya pada Gavlin tak terbukti.
Gatot menyangka, Gavlin kenal dengan Yanto, dan mereka berdua bekerjasama, namun, dugaannya itu bisa di patahkan dengan mudah oleh Gavlin dan Maya.
"Sebenarnya, apa sih yang terjadi, Yah? Kenapa Ayah datang nemui Gavlin dan langsung menuduhnya kenal Yanto?" Tanya Maya penasaran.
"Apa Ayah curiga, kalo Gavlin sembunyikan Yanto, karena Yanto masih hilang dan Ayah belum berhasil menemukan Yanto?!" Tegas Maya.
"Bukan itu, Tadi pagi, Hotel Bramantio meledak, hancur semuanya!!" Tegas Gatot.
"Apa?!!" Maya kaget.
Gavlin juga pura pura kaget mendengar perkataan Gatot, Gatot melirik Gavlin, dia melihat, kalau Gavlin kaget mengetahui hotel Bramantio meledak.
"Ada yang sengaja meledakkan hotel Bramantio ! Dan Ayah curiga, Pelakunya Yanto!!" Tegas Gatot.
"Kenapa sih, Ayah selalu aja dengan mudahnya main asal tuduh? Apa karena Ayah udah capek, gak bisa juga nemukan pelaku dari kasus Ayah, jadi Ayah langsung tuduh Yanto?" Ujar Maya marah.
"Apa karena apartemen Yanto meledak, terus, Ayah menduga, Yanto balas dendam, dan meledakkan hotel Bramantio?!" Tegas Maya.
"Pemikiran gila! Ayah kan tau, Yanto menghilang, dari mana Ayah tau dan bisa nuduh Yanto, kalo dia pelaku pemboman hotel Bramantio?!" Tegas Maya dengan marahnya.
"Karena yang meledak patung lilin raksasa yang ada di lobby hotel!! Dan cuma Yanto yang bisa membuat patung lilin seperti itu di kota ini!!" Bentak Gatot pada Maya.
__ADS_1
Gatot tampak kesal dan marah pada Maya, sebab, Maya berusaha menyalahkan dia, dan juga melawannya.
"Apa Ayah udah tanya sama Bramantio langsung?! Bisa aja kan, Bramantio membayar seniman lain dari luar negri untuk membuatkan patung lilin raksasa yang Ayah bilang itu?!" Tegas Maya kesal.
"Memang belum, Ayah belum tanya Bramantio!" Ujar Gatot.
"Lebih baik tanya dulu sama Bram, Yah! Dapatkan jawaban dari Bramantio, baru Ayah bisa menuduh!" Tegas Maya menyindir Ayahnya.
Gavlin hanya diam mendengar pertengkaran Maya dan Ayahnya, Gatot tampak geram, dia menahan marahnya pada Maya.
Gatot merasa terpojok dengan semua perkataan Maya itu. Dengan wajah kesal dan menahan marahnya, Gatot pun berbalik dan pergi.
Maya dan Gavlin melihat kepergian Gatot. Maya dan Gavlin saling pandang dan tersenyum senang. Mereka saling berpegangan tangan.
Mobil Gatot pun lantas pergi meninggalkan rumah Gavlin, Gavlin lalu menatap lekat wajah Maya.
"Makasih, May. Kamu membelaku." Ujar Gavlin tersenyum senang.
"Aku cuma gak mau aja, Ayahku terus menyalahkan kamu atas semua kasus kasusnya yang terjadi." Ujar Maya.
"Gak apa, May. Karena Ayahmu memang udah tau, kalo aku mau membalas dendam sama Bramantio, wajar dia jadinya curiga padaku!" tegas Gavlin.
"Kamu bilang ke Ayahku?" Tanya Maya heran.
"Ya, May. Dia pernah menemuiku, memintaku, agar aku gak membalas dendam, tapi aku menolaknya!" Ujar Gavlin tersenyum tenang.
"Sampai saat ini, Ayahmu gak pernah tau, kalo aku pelaku dari semua kasusnya. Dia cuma tau, aku mau balas dendam sama Bramantio aja. Sepertinya, karena dia belum dapat bukti!" Tegas Gavlin.
"Iya, Vlin. Kamu harus lebih hati hati lagi, Vlin. Jangan sampai, kamu tertangkap sebelum berhasil membalaskan dendam kamu!" tegas Maya.
"Iya, May. Aku akan lebih berhati hati lagi." Ujar Gavlin tersenyum.
"Oh, iya. Kamu ada apa datang kerumahku? Kamu gak kerja?" Tanya Gavlin.
"Lagi bete aja, terus, aku memang sengaja kerumahmu, karena aku mau liat perkembangan kesehatanmu." Ujar Maya tersenyum.
"Syukurlah." ujar Maya senang.
"May, kayaknya, aku mau pindah rumah, kalo aku terus di rumah ini, aku yakin, cepat atau lambat, Bramantio dan komplotannya akan menemukanku!" Ujar Gavlin.
"Kamu mau tinggal dimana?" Tanya Maya heran.
"Di pinggiran kota Tangerang. Aku ada tempat tinggal lain disana." ujar Gavlin.
"Jauh dong, aku gak bisa sewaktu waktu ketemu kamu." ujar Maya cemberut.
"Tenang aja, May. Kita tetap bisa ketemu kok. Biar tempat tinggalku jauh, aku pasti tetap menemui kamu." Ujar Gavlin tersenyum.
"Benar? Kamu janji, mau nemuiku terus?" Tanya Maya dengan wajah serius.
"Aku janji, kan aku ada motor, jadi gak akan terasa jauh!" Tegas Gavlin dengan wajah senangnya.
"Ya, udah gak apa, aku gak akan mencegahmu, itu untuk keselamatan dirimu." ujar Maya tersenyum.
"Iya, May." Ujar Gavlin tersenyum senang.
"Sekarang, kita mau kemana?" Tanya Gavlin menatap wajah Maya.
"Gak kemana mana, dirumah aja." Jawab Maya tersenyum kecil.
"Dirumah aja? Ngapain, katanya kamu bete, apa gak makin bete kamu kalo kita cuma dirumahku aja, gak kemana mana?" Ujar Gavlin heran.
"Nggak, aku pasti gak bete, malah pasti senang." Ujar Maya tersenyum simpul.
"Lebih baik, kita jalan jalan yuk. Kita ke tempat wisata, biar pikiran kamu segar." Ujar Gavlin tersenyum senang.
__ADS_1
"Gak, ah. Aku gak mau kemana mana." ujar Maya cemberut.
"Loh, aneh kamu, mau diajak senang senang, malah gak mau." Ujar Gavlin tertawa.
"Aku mau senang senang dirumah sama kamu." Ujar Maya tersenyum kecil.
"Gimana caranya kita bersenang senang di dalam rumah, May. Ada ada aja kamu." Ujar Gavlin tertawa lagi.
"Kok, kamu malah ketawain aku terus sih?!" Ujar Maya cemberut.
"Kamu gak mau, senang senang denganku di rumahmu?" Lanjut Maya jengkel.
"Ya, udah deh. Aku pulang aja." Tegas Maya kesal.
Maya hendak pergi meninggalkan Gavlin, dengan cepat, Gavlin memegang tangan Maya, Gavlin mencegah Maya pergi.
"Tunggu, May. Jangan pergi, kamu kok ngambek." ujar Gavlin tersenyum.
"Habisnya, aku kesal sama kamu!" Tegas Maya cemberut.
"Jangan kesal gitu, ah. Jangan cemberut, aku gak mau, kamu cemberut gini!" Ujar Gavlin tersenyum.
"Ayo, senyum dong." ujar Gavlin tersenyum.
Gavlin menatap lekat wajah Maya yang cemberut, perlahan lahan, wajah Maya yang tadinya cemberut, berubah menjadi tersenyum.
Gavlin pun senang, melihat Maya kembali tersenyum dan tidak cemberut lagi.
"Sekarang, apa yang bisa aku lakukan buat menyenangkanmu?" Ujar Gavlin.
"Jujur loh,May. Di rumahku gak ada makanan, karena aku belum belanja stock makanan dirumahku." Ujar Gavlin tersenyum.
"Aku gak mau makan." Tegas Maya.
"Terus, mau apa?" Tanya Gavlin heran.
"Aku mau dimakan!" Ujar Maya tersenyum genit.
"Dimakan? Ngaco kamu!" Ujar Gavlin.
"Aaah...kamu gak ngerti maksudku!!" Ujar Maya ngambek.
"Ya, habisnya, kamu gak jelas ngomongnya!" Ujar Gavlin tertawa.
"Aku mau, kamu menikmati tubuhku, aku mau tidur sama kamu, udah lama aku gak mendapatkan kenikmatan darimu." Ujar Maya dengan jujurnya.
"Aku mau, kamu setubuhi aku lagi, Vlin, aku kangen dengan itu semua. Mumpung cuma kita berdua, dan aku yakin, gak kan ada orang yang datang dan tau." Lanjut Maya lagi.
Gavlin terdiam, dia menatap lekat wajah Maya. Gavlin tersenyum melihat Maya ingin bercinta dengan dirinya.
"Ayo, Vlin. Aku datang, karena memang aku mau kita bersetubuh." Ujar Maya serius.
"Kamu gak mau, menyetubuhiku?!" Ujar Maya murung.
Gavlin tersenyum menatap wajah Maya yang murung dan tampak bernafsu itu. Tiba tiba saja, Gavlin mendekatkan wajahnya.
Gavlin lantas ******* bibir Maya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Wajah Maya pun memerah, dia senang, mendapatkan kecupan bibir Gavlin.
Tanpa berlama lama, Maya pun segera membalas, dia ******* bibir Gavlin juga. Maya merangkul Leher Gavlin. Mereka pun bergumul, saling beradu bibir.
Maya dan Gavlin melepaskan kerinduannya, Maya yang tengah terbakar nafsu birahinya, dengan sangat bernafsu, ******* bibir Gavlin.
Beberapa saat mereka tampak asyik bermesraan, bermadu kasih. Lalu, Gavlin pun menggendong tubuh Maya, dia membawa masuk Maya ke dalam rumahnya.
Pintu rumah Gavlin tertutup, dan dia mengunci pintu rumahnya. Gavlin merebahkan tubuh Maya di atas kasur. Gavlin tersenyum menatap wajah Maya yang sudah semakin bernafsu itu.
__ADS_1
Lalu, kemudian, terjadilah hubungan intim antara Gavlin dan Maya didalam kamar.