
Saat malam harinya, Richard menemui Gavlin yang tengah membersihkan pisau belatinya di sofa ruang tengah Villa.
Richard meletakkan 5 lembar photo berukuran post card di atas meja.
Gavlin berhenti membersihkan pisau belatinya, dia meletakkan kain lap dan pisau belati di atas meja.
"Photo apa ini?" tanya Gavlin, heran.
Gavlin mengambil ke lima photo berukuran post card dari atas meja.
"Liatlah. Itu photo photo Herman dan komplotannya!" ujar Richard.
Mendengar perkataan Richard, Gavlin pun langsung melihat photo photo tersebut yang dipegangnya. Richard lalu duduk di sofa, di hadapan Gavlin.
"Dengan photo photo itu, kamu bisa mengenali wajah wajah musuh musuh yang menjebak dan membunuh Bapakmu dulu." ujar Richard.
"Sesuai janji saya, dalam kesepakatan kerjasama kita mengungkap kebenaran tentang kasus Bapakmu dulu, Saya akan memberikan info yang kamu butuhkan!" ujar Richard dengan wajah serius menjelaskan.
Gavlin diam tak menjawab, dia terus mengamati photo photo yang ada ditangannya. Di tiap tiap lembar photo, ada tertulis nama nama mereka.
"Herman, Prawira, Jack Hutabarat, Dody Mulyadi, Peter." ujar Gavlin, membaca satu persatu nama nama di photo.
"Apa ini udah lengkap mereka semua?" tanya Gavlin, dengan wajah serius.
"Ya, itu mereka semua, yang ada dibelakang Bramantio selama ini, yang membantu Sutoyo, untuk menjebak dan merubah wajah hukum!" tegas Richard.
"Terima kasih photonya." ujar Gavlin.
Richard tersenyum ramah dan mengangguk, mengiyakan, Gavlin lantas menyimpan photo photo tersebut di kantong kemejanya.
Richard lantas mengeluarkan secarik kertas dari dalam kantong kemeja lengan panjangnya.
"Ini lokasi persembunyian Bramantio, dan ada data data juga, kemana saja Bramantio selama ini pergi. Anggota saya sudah lama mengintainya!" jelas Richard.
"Baru baru ini, menurut laporan anggota saya yang memata matainya, Bramantio mendatangi Herman di kantornya, sepertinya mereka akan menyusun rencana buat menangkapmu!" tegas Richard, dengan serius menjelaskan.
Gavlin mengambil secarik kertas dari tangan Richard, lalu, dia pun lantas membaca tulisan yang berisi lokasi persembunyian Bramantio, wajah Gavlin pun tampak geram menahan amarahnya.
"Bram...Akan ku bunuh kamu!!" ujar Gavlin geram, sambil meremas secarik kertas ditangannya.
"Ingat Vlin, jika kamu mau membunuh Bramantio, jangan gegabah, saya yakin, saat ini, Bram pasti minta perlindungan sama teman temannya, dan pasti, polisi menjaga tempat persembunyiannya." ujar Richard mengingatkan.
"Sebaiknya, kamu jangan menyerang Bramantio di tempat persembunyiannya, karena sangat berbahaya, kamu bisa celaka." tegas Richard dengan serius.
"Sebaiknya, saran Saya, kamu pancing Bram, atau, sebelumnya, kamu awasi dia, lalu, ikuti dia , dan, jika udah jauh dari lokasi persembunyiannya, dan dia sendirian, kamu bisa menyergap dan membunuh Bramantio!" lanjut Richard, memberi saran pada Gavlin.
Gavlin pun diam, dia tampak berfikir, dia pun merasa, ada benarnya semua saran yang disampaikan Richard padanya.
Mengingat waktu itu, Bramantio pernah hampir menjebaknya, dengan memakai polisi polisi menjaga rumahnya, Gavlin pun yakin, kali ini, Bramantio juga pasti akan meminta Polisi Polisi untuk menjaganya.
"Ya, Aku akan membunuh Bram di luar, bukan di tempat persembunyiannya!" tegas Gavlin, dengan wajah geram dan menahan amarahnya.
"Ya, sudah, Saya mau istirahat dulu." ujar Richard.
"Ya, sekali lagi, terima kasih pak Richard." ujar Gavlin, bersungguh sungguh.
Richard pun tersenyum senang, karena kali ini, Gavlin menyebut namanya dengan panggilan 'Pak', dengan begitu, Gavlin sudah bisa menerima kehadirannya sebagai teman, yang bekerja sama meringkus komplotan Herman dan Bramantio.
Richard lantas pergi meninggalkan Gavlin sendirian di ruang tengah Villa. Dia masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Gavlin pun lantas membaca kembali secarik kertas yang sudah diremasnya tadi, setelah membaca alamat lokasi persembunyian Bramantio, dia pun lantas mengantongi secarik kertas tersebut di kantong kemejanya.
Lalu, Gavlin mengambil pisau belatinya, lalu, dimasukkannya pisau belatinya ke dalam sarungnya yang ada di pinggang.
Kemudian, Gavlin berdiri, dan dia bergegas melangkahkan kakinya keluar, Gavlin membuka pintu, lalu segera keluar dari dalam Villa.
Dengan bergegas, Gavlin pun berjalan ke arah mobilnya yang parkir di halaman Villa. Gavlin lalu masuk ke dalam mobilnya.
Tak berapa lama, mobilnya pun berjalan, dan pergi dari Villa tersebut.
Di kamarnya, Maya terbangun karena mendengar suara mobil Gavlin.
Maya pun lantas bangun dan beranjak dari ranjangnya, dia segera keluar dari dalam kamarnya.
"Vliiin." Panggil Maya.
Namun, dia tak melihat Gavlin di ruang tengah Villa, hanya ada kain lap di atas meja. Maya pun bergegas ke depan Villa.
Lalu, Maya mengintip dari balik horden jendela, dia melihat keluar rumah, tak ada mobil Gavlin parkir di halaman Villa. Maya pun tahu, Gavlin pergi.
Maya lantas berbalik badan, dan berjalan kembali ke arah kamarnya, wajahnya terlihat murung, karena Gavlin pergi dengan diam diam.
Gatot yang terbangun dari tidurnya hendak ke dapur untuk minum karena merasa haus, melihat Maya yang berjalan murung, dia pun mendekati Maya.
"Kamu kenapa, May?" tanya Gatot, heran.
"Gavlin pergi diam diam, Yah." ujar Maya, dengan cemberut.
"Biar aja, mungkin dia mau nenangkan dirinya diluar." ujar Gatot.
"Apa Gavlin mau menyiapkan peralatannya untuk memburu Bramantio?" ujar Maya berfikir.
"Iya, Yah." Jawab Maya.
Maya lantas berjalan dan masuk ke dalam kamarnya, Gatot pun berjalan masuk ke dapur untuk mengambil air minum karena haus.
---
Mobil Gavlin berhenti di pinggir jalan, lalu, Gavlin segera keluar dari dalam mobilnya, dia kemudian berjalan dan membuka bagasi mobil.
Diambilnya Kamera Drone beserta remote controlnya, lalu, Gavlin menutup bagasi mobil kembali.
Gavlin menyalakan Kamera Drone, lalu, di letakkannya kamera Drone di tanah. Lantas, Gavlin pun mulai mengoperasikan remote control.
Kamera Drone pun lalu terbang, dan melayang menjauh, sesuai dengan arah panel di remote control yang digerakkan Gavlin.
Kamera Drone terus terbang menuju lokasi persembunyian Bramantio. Ternyata, Malam ini juga, Gavlin langsung mendatangi lokasi persembunyian Bramantio.
Setelah dia mendapatkan titik lokasi persembunyian Bramantio, dia pun langsung mendatangi Bramantio.
Namun, sebelum menyergap Bramantio, dia ingin memastikan terlebih dulu, apakah benar, di lokasi persembunyian Bramantio sedang di jaga ketat, seperti yang dijelaskan Richard.
Karena itu, Gavlin menggunakan Kamera Drone untuk mengintai dan mencari tahu kebenarannya. Agar Gavlin bisa menyusun rencana selanjutnya untuk membekuk Bramantio.
Kamera Drone terus melayang terbang tinggi dan sudah berada di lokasi persembunyian Bramantio.
Sebuah rumah bangunan klasik, yang banyak menunjukkan ornamen sundanya, di tempat itulah Bramantio selama ini bersembunyi dari kejaran Gavlin.
Dari atas , Kamera Drone menangkap jelas, bahwa sangat banyak sekali petugas kepolisian yang berjaga jaga di seluruh area rumah persembunyian Bramantio.
__ADS_1
Wajah Gavlin pun tersenyum sinis, melihat dari kamera, bahwa Bramantio mendapat penjagaan ketat.
"Dasar pengecut kamu, Bram!" ujar Gavlin dengan geram.
Setelah dia tahu, bahwa memang benar, rumah persembunyian Bramantio di jaga ketat, Gavlin pun menarik pulang kamera Dronenya.
Setelah kamera Drone kembali padanya, dia langsung menyimpan kamera drone ke dalam bagasi mobil.
Setelah menutup bagasi mobil, Gavlin lantas masuk ke dalam mobilnya. Dia duduk diam di dalam mobil.
Gavlin tidak pergi, dia terus mengintai Bramantio. Jarak antara mobilnya dan rumah persembunyian Bramantio kurang lebih 70 km.
Gavlin benar benar tidak mau membuang buang waktunya, dia ingin segera menangkap dan membunuh Bramantio.
---
Keesokan harinya, Dua petugas Intelijen, bersama Dody masuk ke dalam sebuah ruang yang gelap.
Di dalam ruang yang gelap itu, seperti biasa, sudah berkumpul Herman, Peter, Jack dan juga Prawira, karena mendapat kabar dari Dody, bahwa anak buahnya sudah menemukan mata mata , mereka segera berkumpul.
Dody masuk ke dalam ruang yang gelap bersama kedua petugas intelijen, anak buahnya. Mereka membawa seorang mata mata, yang sudah dalam keadaan terikat, dan wajahnya penuh luka luka.
Kedua petugas intelijen melemparkan tubuh sang mata mata, hingga terjatuh dan tersungkur di lantai.
"Jadi ini mata matanya?" ujar Herman dengan geram.
Dia mendekati Pria yang menjadi mata mata itu, lalu, dengan kejam, Herman menginjak jari tangan Pria mata mata itu. Sang Mata mata pun berteriak kesakitan.
"Siapa yang menyuruhmu memata matai kami?!!" bentak Herman dengan marah.
"Dia anggota dari divisi Kepolisian kriminal dan pembunuhan, Pak. Dia salah seorang kepercayaan Richard, yang selama ini ditugaskan menyamar dan menjadi mata mata!" jelas seorang petugas intelijen.
"Richaaardd?!!" Bedebaaah!!" teriak Herman geram dan marah.
Herman kaget, begitu juga Peter, Prawira, Jack , mereka sangat marah begitu mendengar, bahwa mata mata itu orang suruhan Richard, Wakil Kepala Kepolisian Pusat, yang sekarang menjabat sebagai pejabat Kepala Kepolisian pusat sementara, menggantikan Sutoyo yang telah meninggal.
"Kenapa kalian gak ada yang tau, kalo ternyata selama ini Richard itu musuh kita?!!" bentak Herman, meluapkan kekesalan dan amarahnya.
Peter, Jack dan Prawira serta Dody tertunduk diam, mereka juga baru tahu, dan tak pernah menyangka, apalagi mencurigai, mereka syock, mengetahui Richard mengawasi mereka selama ini.
"Jelas sekarang! Pasti Gatot di selamatkan Richard ! Karena Richard tau rencana kita dari anak buahnya yang memata matai kita, dia menyembunyikan Gatot!!" ujar Herman marah.
"Biaadaaab Richard ! Akan ku habisi dia!!" ujar Peter dengan penuh amarahnya.
Peter hendak pergi ke luar dari ruang gelap itu, namun, Herman mencegahnya.
"Mau kemana kamu?! Jangan gegabah!! Biar saja dulu, liat, sejauh mana Richard udah mengawasi kita!! Sebaiknya, kita susun rencana buat menyingkirkan Richard!!" tegas Herman dengan wajahnya yang geram dan marah.
Peter pun tak jadi pergi keluar, lalu, dia mengambil pistol dari sarung pistol yang menempel di pinggangnya.
Kemudian, dengan sikap dingin dan kakunya, Peter menembak pria mata mata yang terbaring dilantai sambil merintih kesakitan karena jari tangannya di injak kuat Bramantio.
Seketika, Pria mata mata itu pun mati terkapar di lantai, karena ditembak Peter dengan pistolnya.
Herman, Prawira, Jack dan Dody serta dua petugas Intelijen hanya diam saja, mereka tak menghalangi dan tidak juga menegur Peter yang membunuh anak buah Richard.
"Dia pantas mati!!" ujar Peter geram.
Wajah Peter tampak geram dan sangat marah, dia marah pada Richard, yang diam diam mengawasi mereka selama ini.
__ADS_1