
Herman dan komplotannya resah, karena sudah lebih dari dua jam, tapi Bramantio tidak juga datang menunjukkan batang hidungnya di ruang kerja Herman.
"Kemana dulu si Bram mampir? sudah dua jam, gak nyampe juga! Aku gak punya waktu cuma buat nungguin dia!!" hardik Herman marah.
"Teleponnya tersambung, tapi gak diangkat angkat Bram dari tadi!" tegas Peter.
Peter mencoba menghubungi Bramantio, namun, Bramantio tidak menerima panggilan telepon darinya, itu membuat Peter heran.
"Kita tunggu sebentar lagi, mungkin dia ada halangan di jalan." ujar Prawira.
"Mau sampe berapa lama lagi?!!" bentak Herman marah.
"Urusan kita bukan cuma Bram aja! Kita juga harus memikirkan nasib kita, keselamatan kita bukan?!" tegas Herman marah.
"Richard curiga dengan kita, dia membuka kembali kasus belasan tahun lalu, mau menangkap kita! Apa kita harus berdiam diri saja?!" bentak Herman.
"Apa kita cuma nolongin Bram aja tanpa perduli nyawa kita sendiri?!! Kalian kan tau, betapa ganasnya anaknya si Sanusi mau balas dendam! Dia udah bantai Sutoyo, dan aku yakin, giliran kita pasti tiba!!" bentak Herman, melampiaskan amarahnya.
"Tapi kamu gak bisa mengabaikan Bram begitu aja, Herman ! Kamu lupa? Bram berjasa !! Kalo bukan karena dia, kamu gak bakalan mendapatkan jabatan dan kekuasaan seperti sekarang!! Jangan lupa itu!!" bentak Dody.
Dody marah pada Herman, Dody membela Bramantio, dia menilai, Herman hanya mau mementingkan dirinya sendiri saja tanpa mengingat jasa jasa Bramantio dulu.
"Harusnya kamu berfikir, kenapa Bram telat berjam jam ke sini ! Mungkin aja dia bertemu si Gavlin, lalu, berusaha menghindar dan melarikan diri, menyelamatkan hidupnya!!" tambah Prawira, menegur Herman juga.
"Sudah, sudah!! Kenapa kalian malah bertengkar? Kalo begini terus, kubu kita akan terpecah dua, dan itu memudahkan musuh menghancurkan kita, paham kalian?!" bentak Jack Hutabarat marah.
"Aku gak perduli !! Kalo kalian masih mau menunggu Bram, silahkan saja!! Aku mau berfikir dan mencari cara, bagaimana bisa menjerat si Gavlin, juga Richard dan Gatot !" tegas Herman marah.
"Aku gak mau hanya diam aja, dan tiba tiba Richard datang lalu memborgolku dengan membawa bukti bukti kuatnya untuk menangkapku!!" tegas Herman.
Herman dengan penuh amarah lalu pergi keluar dari ruang kerjanya meninggalkan rekan rekannya. Herman bersikap demikian, karena dia sendiri saat ini sangat mengkhawatirkan nyawanya.
Dia merasa terancam, karena itu dia menjadi resah dan gelisah, dia tak ingin, dirinya tertangkap, apalagi sampai terbunuh, hanya karena membela satu orang saja.
Peter, Dody, Prawira dan Jack saling pandang, mereka bingung dengan sikap Herman yang marah dan pergi meninggalkan mereka di dalam ruang kerja Herman.
"Bagaimana ini sekarang? Masa hanya karena Bram gak datang kita terpecah dan jadi seperti bermusuhan? Ayolaah! Kalian semua bukan anak kecil!" tegas Peter.
"Ya, aku gak suka aja Herman seperti mau lepas tangan gitu! Bukannya khawatir, kenapa Bram gak datang juga, malah marah marah gak jelas, egois sekali!!" hardik Dody sewot karena kesal pada Herman.
"Kamu maklumi aja lah Herman begitu, mungkin aja dia panik, karena ternyata si Richard sialan itu diam diam selama ini menyelidiki kita!" tegas Jack.
"Dia khawatir sama keselamatan dirinya, takut ditangkap Richard, jadi kayak uring uringan gitu!" lanjut Jack, menjelaskan.
"Ya, tetap aja gak bisa gitu!! Bram itu tetap bagian dari kita, gak bisa kita abaikan! Apalagi mengabaikannya, hanya karena alasan mau nyelamati diri sendiri!!" tegas Prawira.
"Herman kira, hanya dia yang cemas, panik? Aku juga ! Tapi aku berusaha untuk santai, karena aku yakin, dengan bersatunya kita semua!! Kita akan bisa membungkam Richard dan Gatot, juga si Gavlin!!" tegas Prawira.
"Aku yakin ! Dulu kita bisa mengendalikan kekuasaan, apalagi sekarang? Dengan kekuasaan ditangan kita, gampang kan? Harusnya Herman berfikir begitu!!" tegas Prawira marah.
"Ya, sudah, sebaiknya, kita semua tenangkan diri, jangan langsung tersulut emosi, mari berfikir jernih, dan yang terpenting, mari kita tetap bersatu melawan musuh musuh kita!" tegas Peter.
"Ya, aku setuju dengan Peter. Jangan sampe Richard tertawa, karena tau, kita terpecah belah." ujar Jack Hutabarat, mengingatkan rekan rekannya.
Dody dan Prawira pun diam, mereka tampak menuruti perkataan Peter dan Jack, walau pun mereka belum bisa menerima sikap Herman seperti itu.
"Sekarang, kita bubar, nanti kita kumpul lagi, untuk membahas rencana kita lagi, sambil menunggu kabar dari Bram." tegas Peter.
__ADS_1
Mereka pun mengangguk, mengiyakan perkataan Peter, lalu, mereka semua segera pergi keluar dari ruang kerja Herman.
---
Di dalam sebuah rumah yang sudah hangus terbakar, dan hanya menyisakan sebagian bangunan bangunan yang tak terbakar, tampak Bramantio menggantung di tengah ruangan dengan keadaan kedua tangan dan kakinya terikat.
Seluruh tubuhnya, dari wajah hingga kakinya terluka parah dan mengeluarkan darah, akibat dia di seret sepanjang jalan oleh Gavlin.
Bramantio sangat lemah, dia sudah tak bertenaga dan lemas, Bramantio tak berdaya, dia kini hanya bisa pasrah dengan dirinya yang saat ini di ikat dan di gantung.
Gavlin berjalan mendekati Bramantio, tatapan mata Gavlin tajam dan dingin melihat Bramantio, wajahnya terlihat marah, Gavlin menggeretakkan giginya, pertanda sangat geram pada Bramantio.
Di samping Gavlin berdiri, ada sebuah ember yang cukup besar tergeletak di lantai. Gavlin lantas mengangkat ember tersebut.
Gavlin lantas menyiramkan cairan dalam ember tersebut, seketika, Bramantio pun tersadar dari pingsannya, dia lalu kaget, saat mencium cairan yang membasahi tubuhnya.
"Apa maksudmu menyiramkan bensin ketubuhku?!" Tanya Bramantio, dengan sisa sisa tenaganya.
Gavlin tak menjawab pertanyaan Bramantio, dia hanya tersenyum sinis, lalu menyeringai jahat. Diletakkan Gavlin ember besar yang sudah kosong itu di lantai.
Gavlin lantas menatap tajam wajah Bramantio yang terlihat geram padanya, dengan kondisi lemas dan tak berdaya, Bramantio masih bisa marah pada Gavlin.
Telepon Bramantio kembali berdering, Gavlin pun dengan sikap dingin dan tenang mendekati Bramantio yang tergantung itu.
Gavlin merogoh kantong celana panjang Bramantio, lalu, di ambilnya ponsel Bramantio dari dalam kantong celana.
Gavlin lantas melihat kelayar ponsel, tertera nama 'Peter' sebagai orang yang menelpon Bramantio.
Gavlin pun tersenyum sinis, lalu, dia membatalkan panggilan tersebut, kemudian, di matikannya telepon Bramantio, lalu, di simpannya ponsel Bramantio di dalam kantong celananya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Gavlin lantas berbalik badan, dengan sikap tenang dan dingin, Gavlin melangkahkan kakinya dengan santai, menjauh dari Bramantio.
Gavlin tak perduli dengan teriakan Bramantio, dia terus berjalan pelan dan santai, menjauh dari Bramantio.
"Anaaak Seeetaaan !! Kamu pasti mati!! Kawan kawanku akan membunuuuhmuuu!!" teriak Bramantio penuh amarah.
Gavlin tetap tak perduli, dia terus menutup rapat rapat mulutnya, Gavlin tak mau bicara apapun dengan Bramantio, Gavlin sudah sangat muak, jijik dan benci pada Bramantio.
Lalu, Gavlin pun menghentikan langkah kakinya, dia berbalik badan, Gavlin berdiri di dekat pintu keluar, matanya menatap tajam wajah Bramantio yang tergantung ditengah tengah ruangan rumah tersebut.
Gavlin tersenyum sinis, dia lantas menyeringai jahat, lalu, perlahan lahan, di ambilnya korek gas dari dalam kantong bajunya.
Gavlin lantas menyalakan korek gas ditangannya, api menyala di korek gas, Mata Bramantio terbelalak lebar melihat api di tangan Gavlin.
Bramantio panik, dia takut, karena dirinya dipenuhi bensin, Bramantio tahu, Gavlin akan membakarnya.
"Lepaskan aku !! Lepaskaaan aaakuuu!!" teriak Bramantio panik dan ketakutan.
Gavlin tak perduli, dengan sikap tenangnya, dia berjongkok, api masih menyala dari korek gas ditangannya.
Lalu, di arahkannya korek gas yang apinya sudah menyala itu ke lantai yang basah dengan bensin. Gavlin melumuri seluruh lantai dengan bensin sebelum dia menyiram tubuh Bramantio dengan bensin tadi.
Api lalu menyala dan membesar, kemudian dengan cepat menjalar kedepan, melahap garisan garisan bensin yang ada di lantai.
Gavlin pun lantas berdiri, dia diam memperhatikan api terus menjalar ke arah Bramantio yang tergantung dalam posisi terikat.
Api terus menjalar cepat ******* bensin di lantai, dengan cepat mengalir ke arah Bramantio, lalu, seketika, api itu menjalar dan menyambar kaki Bramantio yang terkena siraman bensin.
__ADS_1
Kaki Bramantio pun terbakar, Gavlin dengan tatapan mata tajam dan sikap dingin terus memandangi Bramantio.
Api semakin naik dan membakar kaki Bramantio, menjalar terus membakar tubuhnya, Bramantio teriak kepanasan dan kesakitan.
"Aaaarrrrggghhh!!! Toooollooonnnggg!! Jangan bakar aku, tolooong!!" teriak Bramantio ketakutan.
Seluruh tubuhnya mulai terbakar api, karena tubuhnya di penuhi bensin yang di siramkan Gavlin tadi.
Dengan sikap dinginnya, Gavlin terus memandangi Bramantio yang terbakar, dengan kejam dan sadisnya, Gavlin membakar hidup hidup Bramantio.
Tanpa ampun lagi, Gavlin membalas dendam pada Bramantio dengan cara membakar tubuhnya hidup hidup, itu di lakukan Gavlin, karena Bramantio lah otak yang menyuruh dan membayar para warga untuk membakar rumahnya, agar dirinya mati terbakar di dalam rumah dulu.
Jika dia tak bisa menyelamatkan diri bersama adiknya dan Maya dulu, mungkin saja dia sudah terpanggang, terbakar dirumahnya dulu.
Dan kini, Gavlin pun membalas perbuatan Bramantio, sekarang, dia membakar Bramantio hidup hidup.
Bramantio terus berteriak kesakitan, karena seluruh tubuhnya terbakar.
Gavlin masih berdiri diam di tempatnya, dia tetap melihat Bramantio, dia tak akan pergi sebelum tubuh Bramantio habis terbakar.
Bramantio meronta ronta ditengah tengah api yang membakar dan melalap tubuhnya, lalu, Bramantio pun diam tak bergerak.
Bramantio mati dalam kondisi terbakar dan tergantung. Karena tak tahan dengan api yang membakar seluruh tubuhnya, Bramantio pun mati dalam posisi tergantung.
Api terus menjalar dan membakar seluruh tubuh Bramantio, mulai dari ujung kakinya hingga ke ujung kepala.
Seluruh tubuh Bramantio di penuhi kobaran api yang terus membesar dan membakar tubuhnya yang sudah mati itu.
Gavlin tersenyum sinis melihat tubuh Bramantio habis terbakar, wajahnya masih terlihat geram dan marah, memandangi tubuh hangus Bramantio yang sudah terbakar.
Setelah memastikan, Bramantio mati terbakar hidup hidup, lalu, Gavlin dengan tenang berbalik badan, dia lantas berjalan pelan, keluar dari dalam rumah tersebut.
Gavlin berjalan di luar rumah, lalu, dia berhenti sejenak, kemudian, dinyalakannya korek gas ditangannya.
Kemudian, Gavlin pun membakar dinding dinding rumah dengan korek gasnya.
Dinding dinding rumah yang sebelumnya sudah di sirami Gavlin dengan bensin juga, langsung terbakar oleh api.
Gavlin pun berjalan menjauh dari rumah yang mulai terbakar itu. Kemudian, Gavlin berdiri tepat disamping mobilnya.
Gavlin berdiri diam, memandangi rumah yang terbakar itu, ternyata, rumah yang di bakar Gavlin saat ini adalah rumahnya dulu yang di bakar Bramantio dan komplotannya.
Rumah itu masih ada sisa sisanya, karena, sejak pembantaian massal yang dilakukan Gavlin pada para warga setempat dan membakar semua rumah, tempat tersebut menjadi tanah tak bertuan.
Tempat itu dibiarkan saja dalam kondisi habis terbakar, tak ada yang menyentuhnya, apalagi membangun ulang lokasi tersebut.
Dan Gavlin, memang sudah lama merencanakan niatnya, jika dia berhasil menangkap Bramantio, dia akan membawa Bramantio ke desa tempat tinggal dia saat dulu, desa Rawas.
Di samping mobilnya, Gavlin berdiri memandangi rumah yang terbakar, dan didalam rumahnya juga ada Bramantio yang juga hangus terbakar.
Terlintas kembali dalam benaknya, saat dulu, dimana dia berada didalam rumah, bersama adiknya dan Maya, berusaha untuk keluar dari rumahnya yang terbakar.
Lalu, Gavlin juga mengingat, saat dia terjatuh menggendong adiknya, lantas memohon, agar Bramantio sudi menolong dirinya dan adiknya, namun, malah Bramantio meludahinya.
Air mata Gavlin menetes dan jatuh di pipinya, dia terus memandangi rumah yang dibakarnya, Gavlin menangis, karena mengingat semua kejadian di masa lalunya.
"Pak, aku udah balas dendam, Iblis yang membakar rumah kita udah kubakar hidup hidup didalam rumah kita ini, Pak." ujar Gavlin, tersenyum getir.
__ADS_1
Gavlin menangis bahagia, karena dia akhirnya berhasil membunuh Bramantio sesuai rencananya, membakar hidup hidup Bramantio di rumah masa kecil Gavlin.