
Sekali lagi Rasid menyiramkan air got ke wajah Teguh, beberapa saat kemudian, Teguh pun mulai tersadar dari pingsannya, Rasid membuang ember ke lantai.
Dengan samar samar lalu perlahan lahan pandangan matanya jelas, Teguh pun kemudian melihat wajah Gunadi dan Rasid berdiri di hadapannya.
"Bangkeeee kaliaaan !!" teriak Teguh marah.
Dia marah karena dirinya di ikat, dan sadar, sudah masuk dalam perangkap licik dan jahat Gunadi, juga Rasid.
"Gak usah banyak bacot!! Cepat katakan, dimana Gavlin sembunyi!!" Teriak Rasid, membentak Teguh.
Teguh tak menjawab, dia malah meludah jijik ke arah Gunadi dan Rasid. Perbuatan Teguh tentu saja membuat Gunadi murka.
"Keparaaaat !!" Bentak Gunadi marah.
Gunadi pun menghantam wajah Teguh dengan pukulan tinjunya, bibir Teguh berdarah, Teguh tetap tenang, dia tersenyum sinis menatap wajah Gunadi dan Rasid.
"Kami tau, selama ini kamu kerjasama dengan Gavlin!! Dan kami juga tau, kamu itu abang tiri Gavlin!!" Bentak Rasid.
"Jadi, gak ada gunanya kamu pura pura gak tau tentang Gavlin!! Karena kami udah tau semuanya!!" Bentak Rasid penuh amarah.
Teguh tak menjawab, dia terus tersenyum sinis mendengar perkataan Rasid itu. Melihat Teguh yang tetap diam, Gunadi pun tampak semakin marah.
"Kamu mau mati?!! Cepat bilang, dimana si Gavlin!!" Bentak Gunadi marah.
"Sampai kapanpun, aku gak akan bilang sama kalian!!" Ujar Teguh sinis.
"Kalian bunuh aku pun, aku akan tetap bungkam!!" lanjutnya menantang.
"Kalo kalian membunuhku, bukan saja Gavlin, adikku memburu kalian sampe ke dasar tanah ! Tapi juga pak Gatot !! Dia akan mencari kalian, karena dia tau aku bersamamu Rasid !!" Bentak Teguh emosi marah.
"Apa maksudmu?!" Hardik Rasid, sambil menodongkan pistol milik Teguh ke dahi Teguh.
"Sebelum berangkat ke sini, aku buat pesan sama Pak Gatot, aku bilang, aku pergi denganmu Rasid, ke lokasi Jafar dan Bram !!" Ungkap Teguh tertawa sinis.
"Aku rasa, Gatot sudah melacak kalian !! Dan sebentar lagi, dia pasti datang menghajar kalian berdua!!" Teriak Teguh penuh amarah.
"Bedeebbbaaaaaahhhh, Seeeetaaaaaannn, Kepaaaaraaaattt!!" Teriak Rasid marah.
Dengan mengamuk membabi buta, Rasid menembakkan pistol di tangannnya ke tubuh Teguh. Gunadi kaget, namun dia tak menghentikan perbuatan Rasid yang kalap.
Teguh pun mendapatkan luka luka tembakan di tubuhnya, enam peluru menembus di tubuhnya, dan, tubuhnya pun mengeluarkan darah segar.
"Siaaaalll !! Aku gak tau, kalo si Teguh sempat nulis pesan ke Gatot! Kita harus bagaimana sekarang?!" ujar Rasid panik dan cemas.
"Apa lagi, kamu udah menembak Teguh, dan membunuhnya !! Gatot bakalan ke sini kalo benar yang di bilang Teguh !! Kita harus segera pergi dari sini !! Jangan sampai kita bertemu Gatot!!" Tegas Gunadi, dengan wajah tegang.
"Ayo, kita pergi!" Ajak Rasid.
Sebelum pergi, dengan sapu tangannya, dia menghapus sidik jarinya di pistol milik Teguh, yang dia pakai buat menembak Teguh.
Lalu, Rasid membuang pistol itu di lantai.
__ADS_1
Dengan cepat, Gunadi dan Rasid pun lari keluar dari dalam ruang gudang tua tersebut. Sementara, tampak Teguh lemah tak berdaya, nafasnya terengah engah, dia masih hidup ternyata.
Teguh tetap berusaha untuk sadar dan bernafas, dia mencoba untuk bertahan, menunggu, Gatot datang menolongnya, dia yakin, Gatot membaca pesannya, dan akan datang menolongnya.
Teguh pun lalu pingsan, karena dia semakin lemah tak ada daya, tubuhnya terkulai lemas, duduk di kursi dalam posisi terikat.
Di jalan raya, tampak wajah Gatot tegang, dari anak buahnya yang dia minta untuk melacak keberadaan Gunadi dan Rasid saat ini, dia sudah mendapatkan titik lokasi mereka berdua.
Dengan cepat, Gatot menyetir mobilnya, mobilnya melesat cepat di jalan raya, Gatot sengaja mengendarai mobil dengan sangat kencang, agar dia bisa segera menolong Teguh.
Gatot lalu menelpon Gavlin, dia tampak tegang bicara di telepon.
"Teguh dalam bahaya, Vlin ! Kamu segera ke lokasi, alamatnya udah aku kirim tadi !" ujar Gatot, dengan wajah tegang dan serius.
Lalu, dia menutup teleponnya, kemudian, setelah meletakkan ponselnya di jok depan, di samping dia duduk, Gatot pun menyetir dan melanjutkan perjalanannya.
Di jalan lainnya, saat berbelok di sebuah jalan ke arah gudang tua tempat Teguh di tahan, tanpa di sengaja, dan tanpa disadari dan di ketahui Gatot, mobil dia berpapasan dengan mobil Gunadi serta Rasid.
Mobil keduanya berjalan berbeda arah dengan mobil Gatot, mereka sama sama tidak melihat, karena wajah mereka tampak tegang dan serius.
Mobil Gunadi dan mobil Rasid melesat cepat dan menjauh di jalanan, Mobil Gatot juga begitu, mobilnya dengan cepat melaju di jalanan, menuju gudang tua, titik lokasi Teguh berada saat ini.
Di jalan lainnya, tampak Gavlin mengendarai motornya, wajahnya terlihat tegang dan cemas, dia sangat cemas dengan Teguh yang dalam bahaya saat ini.
Gavlin pun ngebut, dia ingin segera tiba di lokasi yang dia dapatkan dari Gatot tadi. Wajahnya tampak tegang dan menahan amarah membara.
Mobil Gatot tiba di pekarangan halaman gudang tua yang tak terurus itu, rumput rumput ilalang sangat tinggi di sekitarnya.
Dengan cepat, Gatot keluar dari dalam mobilnya, dia memegang pistol di tangannya, lalu, dia segera berlari ke arah gudang tua.
Saat Gatot sudah masuk ke dalam gudang tua, dia pun kaget melihat Teguh, bersimbah darah duduk di kursi, dalam posisi terikat dan kondisi pingsan.
Dengan cepat, Gatot mendekati Teguh, dia tak melihat siapapun di dalam gudang itu, hanya ada Teguh saja seorang.
"Teguuuh !!" Teriak Gatot histeris.
Dengan cepat, Gatot pun melepaskan ikatan tali yang mengikat di sekujur tubuh Teguh. Setelah tali terlepas, tubuh Teguh pun ambruk, dengan cepat, Gatot menangkap dan memeluk erat tubuh Teguh.
"Guuhh !! Bangguuun Guuh, banguuun, kamu harus tetap sadaaar, banguuun !!" teriak Gatot panik.
Tak ada reaksi dari Teguh, dengan cepat, Gatot pun menggotong tubuh Teguh, dia lantas berlari membawa tubuh Teguh keluar dari dalam gudang tua.
Saat dia keluar dari dalam gudang tua sambil membopong tubuh Teguh, Gavlin tiba di tempat itu. Gavlin langsung melepas helmnya, lalu turun dari motornya, dan berlari menghampiri Gatot dan Teguh.
Gavlin syock melihat sekujur tubuh Teguh terluka parah akibat luka tembakan.
"Baaaanggg Teggguuuhh!!" teriaknya marah.
"Siapaaaa yang menembakmu, Bang, siaaaappaaa!!" Teriaknya lagi, mengamuk marah.
Gatot berhenti di hadapan Gavlin yang mengamuk marah, perlahan lahan, Teguh sadar, nafasnya terengah engah.
__ADS_1
Melihat Teguh sadarkan diri, Gatot pun lantas berjongkok, dan menurunkan tubuh Teguh yang dia gendong tadi, lalu, Gatot meletakkan tubuh Teguh di tanah.
"Gun...Guna...di...dan...Ra...Ras...Ras..iid, yang me...nem...bakku!" ungkap Teguh terpatah patah.
Lalu, Teguh pun terkulai lemas, dia lantas menghembuskan nafasnya, Teguh pun mati di hadapan Gatot dan Gavlin.
"Tiiiidaaaaaakkkkk !!" Teriak Gavlin histeris.
"Biaaaadaaaab, bedeeeebaaaah kaliaaaan !! Kaliaaaan membuuuunnuuuh abangkuuu, akan ku bunuuuuh kaliaaaan, akan kupenggal kepala kaliaaaaan !!" teriak Gavlin murka, dan mengamuk marah.
Dalam amukan amarahnya, Gavlin pun menangis sejadi jadinya, dia pun bersimpuh di hadapan mayat Teguh, Gavlin meratap menangis.
"Kamu selalu ingatkan aku agar hati hati, dan gak sembrono, gak gegabah ! Tapi, kenapa kamu malah yang gegabah, Bang!! Kenapa kamu mudah masuk perangkap manusia biadab itu, kenapaaa?!!" Teriak Gavlin, menangis marah.
Gatot hanya tertunduk diam, sambil menangis sedih atas kematian Teguh, dia pun menutup kedua mata Teguh dengan tangannya.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Om? Kenapa bang Teguh sendirian di tempat ini?!" Tanya Gavlin marah dan geram, di sela sela isak tangisnya.
"Rasid menjebak Teguh, bilang, kalo di sini Jafar dan Bram bersembunyi, karena percaya sama omongan Rasid, Teguh menurut dan mengikuti Rasid ke sini, karena dia berambisi mau menangkap Jafar dan Bram untukmu, Vlin!" ungkap Gatot, lirih dan menangis.
"Teguh pintar, walau dia percaya sama omongan Rasid, untuk mendatangi Jafar dan Bram, tapi, sebelum pergi, Teguh menulis pesan padaku, bilang, kalo dia sama Rasid ke lokasi persembunyian Jafar dan Bram!" Lanjut Gatot menjelaskan.
"Karena merasa aneh, aku pun melacak telpon Gunadi dan Rasid, aku temukan titik lokasi keberadaan mereka di sini, makanya aku cepat kesini! Namun, semua terlambat!" Ungkap Gatot, dengan lirih dan getir.
"Bedebaaah Gunadi dan Rasiiid !! Akan ku balas kalian berdua!! Teriak Gavlin, melepaskan emosi amarahnya.
"Sekarang, kita bawa Teguh pergi dari sini, Vlin. Nanti aku suruh tim ke sini, untuk melacak dan mencari bukti bukti pembunuhan Teguh." Jelas Gatot, dengan wajah serius.
"Iya, Om." Jawab Gavlin, lirih dan getir.
Gavlin lantas menghapus air matanya, begitu juga dengan Gatot, dia juga menghapus air matanya yang mengalir, Gatot menangis sedih, karena selama ini, dia sudah menganggap Teguh seperti anaknya sendiri, Teguh sudah menjadi bagian keluarganya selama ini.
Gatot pun tak bisa menerima perbuatan Gunadi dan Rasid, dari mulut Teguh sebelum mati tadi, dia dan Gavlin mendengar langsung, bahwa yang menembak Teguh adalah Gunadi dan Rasid.
Gatot dendam dan marah, namun, sebagai pihak berwajib, dia tak bisa bertindak sesuka hati dan sewenang wenang, dia harus tetap menjalani sesuai dengan prosedur kepolisian, dalam mengungkap kasus penembakan Teguh hingga mati ini.
Gatot dan Gavlin menggotong tubuh Teguh, dan memasukkannya ke dalam mobil Gatot, Di rebahkan tubuh Teguh di jok belakang mobil Gatot, lantas, Gatot menutup pintu mobilnya.
"Vlin, aku serahkan Gunadi dan Rasid padamu! Kamu boleh berbuat sesuka hatimu pada mereka berdua, tapi ingat! Jangan gegabah, jangan membantai mereka di tempat umum!!" Tegas Gatot, mengingatkan Gavlin.
Gavlin diam, dia tak menjawab perkataan Gatot, tak ada reaksi apapun dari Gavlin, dia berdiri diam dan kaku di tempatnya.
Gatot tahu, saat ini, jiwa Gavlin sangat terguncang hebat, karena kematian Teguh, abang tirinya, yang selama ini sangat dekat dengannya, dan membantu dia membalas dendam.
Gatot pun tak mau mengusik Gavlin, dia membiarkan Gavlin berdiri diam dan terpaku di tempatnya.
Gatot lantas masuk ke dalam mobilnya, lalu, sesaat kemudian, mobil Gatot pun pergi, meninggalkan Gavlin.
Setelah kepergian Gatot, tampak Gavlin menyeringai geram, tangannya terkepal kuat, wajahnya merah padam, amarahnya telah memuncak dan membakar di dalam jiwanya.
Gavlin berbalik badan, dia naik ke atas motornya dan memakai helmnya, lalu, dia pun segera mengendarai motornya.
__ADS_1
Motor Gavlin melaju dengan kecepatan tinggi, pergi meninggalkan lokasi gudang tua, tempat eksekusi Teguh.
Di atas motor, tampak wajah Gavlin marah dan menangis sedih, dia benar benar dendam, dan tak bisa menerima kematian Teguh.