VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Terkapar


__ADS_3

Gatot membawa masuk ke tiga orang yang menyerang dia tadi, Teguh yang melihat tangan ke tiga orang tersebut terikat, mendekati Gatot.


"Masukkan mereka ke dalam sel." Perintah Gatot pada dua Petugas Polisi yang ada diruangan tersebut.


"Baik, Komandan." Ujar Petugas Polisi.


Lantas, ketiga orang tersebut di bawa oleh dua petugas Polisi.


"Siapa mereka?" Tanya Teguh pada Gatot.


"Mereka mau menculik Maya, anakku!" Tegas Gatot marah.


"Menculik Maya? Apa tujuannya menculik Maya?!" Ujar Teguh heran.


"Pasti ada hubungannya dengan Gavlin, pacar anakku itu !" Ungkap Gatot geram dan marah.


"Gavlin?" Ujar Teguh kaget dan heran.


"Ya. Kalo bukan karena Gavlin, mana mungkin anakku mau di culik!" Tegas Gatot.


"Mereka anak buah Moses, salah satu dari mereka mengaku, kalo mereka di suruh Moses!" Ungkap Gatot kesal.


"Moses, teman Ronald ?!" Ujar Teguh.


"Iya!" Hardik Gatot kesal.


"Kamu interogasi mereka! Dapatkan informasi dari mereka tentang Moses, dan juga Ronald!" Ujar Gatot memberi perintah pada Teguh.


"Baik, Pak." ujar Teguh.


Teguh lantas beranjak pergi meninggalkan Gatot sendirian. Gatot memukul meja dengan tangannya, dia tampak sangat marah.


Dia tak bisa menerima, jika anaknya, Maya mau di celakai dan di culik Moses. Gatot geram pada Moses.


"Moses, berani kamu mau menculik anakku!! Akan ku datangi kamu!!" Ujar Gatot geram.


 


Di ruang kantornya, tampak Moses kesal dan marah, sementara Ronald duduk di sofa dengan cuek, dia asyik membersihkan pisau lipat dengan sapu tangannya.


"Bedebah !! Siaalaan !! Kenapa mereka ceroboh, hingga bisa di tangkap Gatot!!" Bentak Moses marah.


"Karena anak buahmu tolol semua!! Gak ada satu pun yang cerdas!!" ujar Ronald santai dan cuek.


"Kamu jangan merendahkan anak buahku, Nald !! Kalo kamu merendahkan anak buahku, sama saja artinya, kamu merendahkan aku!!" bentak Moses marah.


Ronald geram, dengan sikap dingin, dia pun berdiri dari duduknya, dengan masih memegang pisau lipat ditangannya, dia mendekati Moses.


Ronald menatap tajam wajah Moses yang marah, Ronald menyeringai jahat pada Moses.


"Kamu mau apa?! Kenyataan kan, anak buahmu tolol ! Kalo mereka cerdas, mereka gak akan tertangkap Gatot!!" Bentak Ronald marah.


Tatapan mata Ronald liar dan marah. Moses terdiam mendengar perkataan Ronald.


"Menculik seorang gadis saja tiga orang gak mampu! Apalagi di tugasi nangkap si Gavlin, apa anak buahmu gak tolol!" Hardik Ronald.


"Siapa yang menduga, kalo Gatot ada dijalan itu !" Ujar Moses marah.


"Ah, sudahlah ! Intinya anak buahmu gagal di beri tugas !" Hardik Ronald.


"Aku yakin, saat ini, Gatot mengorek keterangan dari ketiga anak buahmu, kalo sampe salah satu dari mereka membuka mulutnya, habis kamu Moses !" Ujar Ronald tertawa.


"Bukan aku aja ! Kamu juga ! Karena Gatot pasti tau hubungan baik kita !" Hardik Moses marah.

__ADS_1


"Kalo aku nyantai Moses, Kalo Gatot datang mau menangkapku, aku akan langsung membunuhnya dengan pisauku ini." Ujar Ronald menyeringai licik.


Dia menunjukkan pisau lipat yang ada ditangannya pada Moses, Moses diam menatap wajah licik Ronald.


Beberapa saat kemudian, datang seorang anak buah Moses, masuk ke ruangan dan menghampiri Moses.


"Maaf, Bos !" Ujar anak buah Moses.


"Ada apa kamu ke sini?!" Bentak Moses marah.


"Ada Polisi yang mau bertemu bos, dia nunggu di luar !" tegas anak buah Moses.


"Polisi ? Siapa namanya?!" Ujar Moses kaget.


"Gatot, Bos ! Dia datang sendiri ke sini!" Ujar Anak buah Moses.


"Gatot ?!" Moses terhenyak kaget.


Dia melirik Ronald, Ronald menyeringai licik, dia menatap tajam wajah Moses yang tampak kebingungan.


"Kenapa? Kamu takut nemui Gatot?! Kalo kamu takut, biar aku yang nemui dan langsung membunuhnya!" Ujar Ronald geram.


"Jangan, Nald! Biar aku yang urus! Kamu diam aja di sini, jangan sampe Gatot tau, kalo kamu ada di sini bersamaku!" Tegas Moses.


"Oke." Jawab Ronald cuek dan santai.


"Kamu ikut aku!" ujar Moses pada anak buahnya.


Anak buah Moses mengangguk, lalu, Moses dan anak buahnya pergi keluar dari ruang kantor Moses. Ronald kembali duduk di sofa, dengan sikap dingin dan cueknya dia memutar mutar pisau lipat ditangannya. Ada yang tengah di pikirkan Ronald saat ini.


Di luar markas Moses, tampak Gatot berdiri menunggu di halaman Markas tersebut, beberapa saat kemudian, datang Moses bersama anak buahnya yang memberi laporan tadi.


Melihat kedatangan Moses, dengan wajah kesal dan penuh amarah, Gatot langsung mendekati Moses. Gatot lantas mencekal kerah baju Moses.


"Hei, ada apa ini?!" Ujar Moses santai.


"Kamu yang perintahkan ketiga anak buahmu untuk menculik anakku kan?!" Bentak gatot marah.


"Apa maksudmu? Aku gak ngerti sama sekali yang kamu katakan!" Hardik Moses.


Dia menepiskan tangan Gatot yang mencekal kerah bajunya. Gatot melepaskan cekalan tangannya di kerah baju Moses. Wajahnya geram menatap Moses yang mencoba bersikap tenang di hadapannya.


"Anak buahmu mengaku, kalo mereka di suruh kamu Moses!" Bentak Gatot.


"Lantas, kamu percaya?! Bisa saja mereka spontan nyebut namaku, karena ketakutan." Ujar Moses santai.


"Siapapun orangnya akan mencoba mengaku dengan menyebut nama orang asal asalan, sebab, sebelum ditanya, kamu pasti memukuli, menghajar mereka hingga tak berdaya, iyakan ?!" Hardik Moses.


"Biadaaab!" Bentak Gatot penuh amarah.


"Kamu jangan pura pura bego Moses !" Bentak Gatot marah.


"Keparaaat !! Apa buktinya kamu nuduh aku?!! Apa alasan aku nyulik anakmu?!! Kenal juga nggak, ada masalah juga nggak sama anakmu atau kamu!!" Bentak Moses marah pada Gatot.


"Kamu pasti sekongkol dengan Ronald, Ronald teman baikmu, kalian berdua yang meledakkan apartemen Yanto, Kamu dan Ronald juga aku liat datang kerumah Gavlin !!" Bentak Gatot penuh amarah.


"Aku tau, kalian berdua datang kerumah Gavlin, karena mencari Gavlin, Gavlin musuh kalian berdua!! Dan karena kalian gak menemukan Gavlin, kalian arahkan sasaran pada Maya, anakku, karena kalian tau, Maya pacar Gavlin!!" Bentak Gatot berteriak marah.


"Jangan membual Gatot! Kamu harusnya malu sebagai Polisi, tanpa bukti kuat, kamu mudahnya menuduhku! Aku bisa menuntutmu, dengan pencemaran nama baik!" Tegas Moses.


"Dan aku bisa menuntut balik kamu, karena udah menuduh aku tanpa bukti kuat!" lanjut Moses mengancam.


"Silahkan, aku gak takut ancamanmu Moses ! Silahkan tuntut aku! Akan ku hadapi kamu dipengadilan!!" Bentak Gatot penuh amarah.

__ADS_1


"Weleeeh weleeeh, Pak Polisi kenapa marah marah di sini, ntar kena serangan jantung loh." Ujar Ronald dengan sikap cueknya.


Moses kaget melihat Ronald, dia kesal, karena Ronald tak bisa di kasih tahu, dan malah tetap keluar menemui dia dan Gatot.


Gatot semakin geram dan marah melihat kehadiran Ronald, dia tampak emosi, melihat Ronald berjalan santai dan tenang, mendekatinya.


Ronald berjalan santai mendekati Gatot dan Moses, satu tangannya berada di belakang tubuhnya, dan tangannya yang di kebelakanginya, memegang pisau lipat.


"Ada apa ini Pak Gatot?" Ujar Ronald bertanya santai.


Dia berdiri sangat dekat dengan Gatot, Moses cemas, dia khawatir, Ronald bertindak macam macam, Gatot tampak geram menatap wajah Ronald yang cuek dan santai itu.


"Bedebah kamu Ronald! Kamu gak ada kapoknya, setelah mendekam berlumutan 15 tahun di penjara, kamu mau bikin ulah lagi?!" Bentak Gatot marah.


"Ingat Nald! Aku udah tau, kalo kamu pelaku pengeboman apartemen! Hati hati saja, begitu aku dapat bukti kuat, aku akan jebloskan ke penjara!" Bentak Gatot lagi.


Ronald tersenyum menyeringai jahat, dia menatap tajam wajah Gatot yang marah itu.


"Terima kasih Bapak Polisi yang terhormat, dengan senang hati, aku akan ikut kamu ke penjara, karena, aku merasa nyaman di dalam penjara, penjara itu rumah keduaku, aku betah disana!!" ujar Ronald dengan sikap dingin dan cueknya.


"Gila kamu Ronald!!" Bentak Gatot berteriak.


Ronald tampak menahan marahnya, dia tak suka dan paling benci orang membentak dirinya, namun, Ronald berusaha untuk tetap tenang dihadapan Gatot.


Moses hanya bisa diam, dia memperhatikan Ronald, mata Moses melihat ke belakang tubuh Ronald, dia melihat, tangan Ronald yang disembunyikannya dibelakang tubuhnya, memegang pisau lipat.


Moses tahu, Ronald tengah merencanakan sesuatu pada diri Gatot saat ini, ada kekhawatiran pada diri Moses, dia khawatir, karena nyawa Gatot saat ini sedang terancam ditangan Ronald.


"Sebelum, Pak Polisi Gatot yang terhormat menangkap dan membawaku ke penjara, aku mau berikan hadiah khusus buatmu." Ujar Ronald berbisik di telinga Gatot.


"Jangan bermain main denganku Ronald!" Bentak Gatot berteriak.


Karena posisi Ronald sangat dekat sekali dengan Gatot, dan dia habis berbisik di telinga Gatot, telinga Ronald pun berdenging, dia mengorek telinganya, karena telinganya berbunyi sebab mendengar teriakan bentakan Gatot.


Ronald geram, dia menatap tajam wajah Gatot yang tampak sangat marah itu, Moses berdiri diam saja. Dia membiarkan Ronald yang marah itu.


"Terimalah hadiahku ini!" Bisik Ronald di telinga Gatot.


Lalu, tiba tiba saja, tangan Ronald yang ada dibelakang badannya, melesat ke depan, dan pisau lipat ditangannya langsung menghujam perut Gatot.


Gatot terkesiap kaget, dia mendapat tusukan pisau di perutnya, mata Gatot terbelalak lebar, dia geram dan marah.


"Biadaaab kamu Ronald!!" Ujar Gatot meringis menahan sakitnya.


Ronald kembali menghujamkan pisau ke perut Gatot, Gatot mendapatkan tusukan pisau Ronald hingga tiga kali. Darah segar keluar dari perut Gatot yang robek.


Gatot terhuyung, dari mulutnya keluar darah kental dan segar. Moses panik melihat Gatot terluka parah. Ronald dengan santainya membersihkan darah di pisaunya dengan sapu tangannya.


Anak buah Moses yang ada di situ syock, melihat Gatot di tikam Ronald, dia tampak gemetar, ketakutan.


Gatot terjajar jajar dan terhuyung, dia tampak kesakitan, sesaat kemudian, Gatot pun roboh, dia terjatuh ke tanah dengan bersimbah darah.


"Bawa tubuhnya dari sini!!" Ujar Ronald pada Moses.


"Bawa kemana?! Harus ku bawa kemana? Dia Polisi?!! Kalo ketauan orang, aku jadi buronan, karena di sangka udah menikam polisi!!" Ujar Moses berteriak panik.


"Terserah kamu mau bawa kemana!! Yang penting dia gak ada disini lagi!!" Bentak Ronald marah.


"Kalo dia mati dijalanan?!" Ujar Moses bingung.


"Tinggal kamu buang mayatnya!! Susah banget mikir gitu aja!!" Hardik Ronald.


Ronald lalu dengan sikap dingin dan cueknya masuk kembali ke dalam markas Moses. Moses tampak kebingungan, dia melihat Gatot yang terkapar di tanah bersimbah darah.

__ADS_1


"Ah, si Ronald!! Bikin masalah aja!!" Ujar Moses kesal.


Moses terdiam, dia tampak bingung, tak tahu, harus berbuat apa dengan Gatot yang bersimbah darah itu. Anak buah Moses masih berdiri gemetar ketakutan.


__ADS_2