VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Getar Asmara


__ADS_3

   Pagi harinya, kembali kampung Rawas di gegerkan dengan penemuan mayat.


Seorang warga yang hendak berangkat bekerja pagi itu menemui mayat Ningsih.


Mayatnya tergeletak di tengah jalanan kampung, menghalangi kendaraan yang berlalu lalang di jalanan itu.


Warga melihat mayat Ningsih dengan kondisi leher tersayat hampir putus itu.


Warga segera melaporkannya pada Kepala Desa dan Petugas Keamanan Kampung.


Warga warga telah berkerumun mengelilingi mayat Ningsih yang mati dalam keadaan mengenaskan itu.


Kepala Desa yang datang ke tempat ditemukan mayat Ningsih terlihat kaget dan marah.


"Ini tidak bisa di biarkan ! Jika tidak segera ditangkap pelakunya, dia bisa terus membunuh, lama lama bisa habis warga kampung kita." Ujar Kepala Desa geram.


"Kamu lapor Polisi, biar Polisi yang menyelidiki apa yang terjadi di kampung ini !" Ujar Kepala Desa memberi perintah pada petugas keamanan kampung.


"Siap Pak !" Ujar Petugas Keamanan kampung memberi hormat pada Kepala Desa.


Dia lalu berlari pergi meninggalkan kerumunan warga yang tengah menyaksikan mayat Ningsih tergeletak di tengah jalan dengan kondisi yang mengerikan.


   Siang itu, Maya sedang berada di sebuah cafe, dia duduk menunggu seseorang sambil menikmati minuman segar yang di pesannya.


Gavlin masuk ke dalam cafe, dia pergi ke meja kasir, memesan menu makanan dan minuman, lalu membayarnya.


Saat Gavlin berbalik hendak melangkahkan kakinya mencari tempat duduk, matanya melihat ke arah Maya yang sedang duduk santai di kursi mejanya.


Melihat Maya ada di situ, Gavlin tersenyum, dia segera berjalan mendekati Maya.


"Hai, ketemu lagi kita." Sapa Gavlin dengan senyum ramahnya pada Maya yang kaget melihat Gavlin sudah berdiri di sampingnya.


"Kita kok sering ketemu ya ? Kamu sengaja ngikuti aku ke sini ya ?!" Tanya Maya.


Maya curiga karena terus bertemu Gavlin, dia menatap lekat wajah Gavlin yang tersenyum mendengar perkataan Maya.


"Nggak tuh ! Cafe ini langgananku, tiap hari aku pasti makan di sini, rumahku juga gak jauh dari sini, di jalanan belakang cafe ini." Ujar Gavlin.


Dia tersenyum menatap wajah Maya yang lantas mengangguk paham.


"Oh ternyata begitu." Ujar Maya mengangguk angguk lalu meminum  jus digelas.


"Aku boleh duduk di sini ?" Tanya Gavlin menatap Maya.


"Duduk aja, gratis ini ." Ujar Maya cuek, Gavlin tersenyum lalu duduk di kursi, berhadapan dengan Maya.


"Kamu sengaja datang sendiri, atau sedang nunggu teman ?" Tanya Gavlin menatap Maya.


"Iih Kepo deh." Ujar Maya tertawa kecil, Gavlin pun ikut tertawa tipis lalu tersenyum.


"Bukan gitu, kalo kamu sedang nunggu teman, aku lebih baik pindah tempat, biar gak ganggu." Ujar Gavlin.


"Gak apa kok, tenang aja kali. Temanku pasti gak kan terganggu dengan adanya kamu." Ujar Maya pada Gavlin.


"Oke deh kalo gitu." Ujar Gavlin tersenyum.


Diam diam dia memperhatikan wajah Maya, dia menegaskan pandangannya pada Maya.


Dia merasa pernah mengenal Maya jauh sebelum mereka bertemu kemarin kemarin.


Hanya Gavlin tidak tahu dimana mereka pernah bertemu dan kapan waktunya.


"Waah beneran nih dia, hobbinya bengong !" Ujar Maya tertawa.


Maya melihat Gavlin yang duduk diam tercenung, mendengar ucapan dan tawa Maya, Gavlin tersadar dari lamunannya.


"Oh iya, maaf, gak tau nih, kenapa akhir akhir ini suka ngeblenk pikiranku." Ujar Gavlin mencoba tersenyum pada Maya.


"Butuh hiburan tuh." Ujar Maya santai dan cuek.


"Iya kali ya." Jawab Gavlin, mereka tertawa, keakraban semakin terjalin diantara mereka.


Linda masuk ke dalam cafe, dia berjalan ke arah Maya yang di lihatnya duduk di sudut cafe bersama Gavlin, Linda berjalan mendekati Maya.


"Hai May, sori aku telat." Ujar Linda, Maya segera menoleh melihat Linda yang berdiri di sampingnya.


"Gak apa kok, aku juga baru nyampe." Ujar Maya pada Linda.


"Haai Gavlin, kita ketemu juga, kok kamu ada disini." Ujar Linda menyapa ramah dan tersenyum manis pada Gavlin yang juga tersenyum padanya.


"Hai Lin." Sapa Gavlin dengan senyum ramahnya, Maya heran karena Gavlin dan Linda sudah saling mengenal.


"Kok kalian bisa saling kenal sih ?" Tanya Maya penasaran pada Linda, dia lalu melirik wajah Gavlin yang duduk santai dan tersenyum.


"Aku kenal dia dirumahku, pas nganterin papahnya Mike nemui papahku." Ujar Linda.


"Dia ini yang kumaksud sama kamu waktu di telpon May." Ujar Linda.


"Karena Gavlin aku jadi berani nolak lamaran papahnya Mike, dan itu juga yang buat papahnya Mike marah besar sama aku." Ujar Linda.


Linda tertawa lepas, Gavlin hanya diam meliriknya, Maya ikut tertawa.

__ADS_1


"Terus, kamu gimana setelah tau papahnya Mike ngamuk karena ditolak lamaran anaknya ?" Tanya Maya pada Linda.


"Biasa aja kali, ngapain juga di urusin, lagian hari gini masih maen jodoh jodohan segala." Ujar Linda mencibir.


Raut wajahnya terlihat menunjukkan ketidak senangan dia dengan sikap dan cara yang dilakukan Mike bersama kedua orang tuanya.


"Anaknya di tolak kok ngamuk, maksa !" Ujar Linda nyengir.


Maya tertawa menatap Linda, Gavlin masih diam saja duduk di kursinya, dia hanya menjadi pendengar di situ.


"Eh, tapi, aku penasaran deh, kok kalian bisa sama sama di sini, apa kalian ini..." Ujar Linda memberi kode sepasang kekasih pada Maya dan Gavlin.


"Aah, nggak kok, kami gak kayak yang kamu pikir." Ujar Maya melotot menatap Linda.


Maya malu karena Linda menganggap dirinya pacaran dengan Gavlin.


"Kebetulan aja kami ketemu di sini, karena aku kenal Maya, gak ada salahnya aku nemani dia nunggu kamu." Ujar Gavlin menjelaskan pada Linda.


"Ooohh...ku kira kalian pacaran." Ujar Linda pada Maya, dia lalu melirik Gavlin yang tersenyum.


Ada rasa suka dihati Linda pada diri Gavlin, benih benih cinta mulai muncul dihatinya melihat sosok Gavlin yang kalem, tenang, baik, ganteng dan ramah itu.


Seorang pelayan datang menghampiri Gavlin, memberikan bungkusan berisi makanan dan minuman yang dipesan Gavlin.


Gavlin menerima bungkusan makanan, dia mengambilnya dari tangan pelayan.


"Terima kasih ya Mas." Ujar Gavlin ramah pada pelayan yang mengangguk tersenyum, lalu meninggalkan Gavlin, Maya dan Linda, kembali ketempatnya.


"Aku duluan ya, silahkan dilanjut." Ujar Gavlin berdiri dari duduknya.


"Looh, kamu mau kemana Vlin ? Di sini aja sama kami." Ujar Linda sedikit kecewa karena Gavlin hendak pergi meninggalkan dirinya bersama Maya.


"Iya, gak apa kok kamu disini, maaf deh kalo kamu merasa dicuekin karena kami asyik ngobrol berdua barusan." Ujar Maya menatap wajah Gavlin.


"Nggak kok, aku memang sengaja mesan makanan buat dibawa pulang, gak makan disini." Ujar Gavlin.


"Tadi sambil nunggu pesananku selesai, pas liat kamu, ya aku langsung duduk disini aja nemani kamu." Ujar Gavlin.


Gavlin memberi penjelasan, bahwa dia tidak merasa diabaikan oleh Maya dan Linda.


"Sampe ketemu lagi ya. Silahkan di lanjut. Ingat ! Jangan ngomongin aku yang jelek jelek loh." Ujar Gavlin tertawa tipis.


Dia menatap wajah Maya dan Linda yang tertawa mendengar perkataannya.


"Nggak kok, nggak dikit maksudnya!" Ujar Maya tertawa, becanda pada Gavlin yang juga ikut tertawa, Linda tersenyum.


Linda terus menatap wajah Gavlin, seakan dia tidak mau melepas pandangannya, dia tidak ingin Gavlin pergi.


Tatapan matanya begitu menunjukkan bahwa dirinya terpesona dengan sosok Gavlin.


"Heei, kamu kenapa ? Malah bengong ? Waah, ketularan Gavlin nih." Ujar Maya, Linda tersadar dari lamunannya.


"Eeh, Sori...sorri May." Ujar Linda tersipu malu pada Maya, sahabatnya itu.


"Emang Gavlin suka bengong gitu ?" Tanya Linda penasaran pada Maya.


"Iyaa, aku sering liat dia tiba tiba diam bengong, aku takut aja dia kesambet terus mencak mencak kesurupan.hiii...serem deh." Ujar Maya becanda.


Mendengar omongan Maya yang dirasanya lucu, Linda langsung tertawa terbahak bahak.


"Ngaco aja kamu." Ujar Linda sambil mendorong tubuh Maya, mereka tertawa, lalu Linda terdiam, dia menghela nafasnya.


"Aku kecewa sama Mike, kedekatanku selama ini dengan dia disalah gunainnya." Ujar Linda kesal.


"Masa dia mengambil kesempatan buat bisa nikahi aku. Ujar Linda.


"Padahal udah sering aku bilang, kalo aku gak suka dia, aku cuma nyaman jadi sahabatnya, eeh malah terus terusan nyari cara." Linda kesal.


"Pake minta bantuan orang tuanya segala lagi, manfaatin kedekatan orang tuanya sama papahku biar bisa nikahi aku dan besanan." Ujar Linda panjang lebar mengomel.


Maya hanya diam tersenyum mendengarkan Linda yang menumpahkan kekecewaannya itu.


"Terus, gimana hubungan kamu dan Mike sekarang ?" Tanya Maya pada Linda.


"Mike minta ketemuan, katanya mau bicara denganku, tapi selalu aku tolak." Ujar Linda.


"Aku gak mau bahas soal pernikahan. Apa apaan, aku udah gak mau kok masih terus ngarepin." Linda sewot.


"Jadi males banget ketemu,apalagi liat mukanya." Ujar Linda mencibir kesal, Maya tersenyum melihat sahabat baiknya yang sedang kesal itu.


"Eeh tapi May, jujur ya, aku suka sama Gavlin, kayaknya aku naksir dia deh." Ujar Linda.


Linda menatap Maya yang kaget tak percaya dengan yang dia dengar, Maya menatap lekat wajah Linda.


"Masa sih ? Serius kamu ?" Tanya Maya ingin memastikan keseriusan ucapan Linda.


"Serius ! Gak tau aja, kok aku terus ingat Gavlin sejak kami ketemu pas dia ngasih saran aku buat berani nolak lamaran Mike." Ujar Linda.


"Sejak saat itu aku kepikiran dia terus." Ujar Linda menatap Maya, terlihat dia bersungguh sungguh mengatakan semua itu.


"Hatiku bergetar, jantungku berdegup pas tadi ketemu lagi sama Gavlin." Maya tersipu.

__ADS_1


"Wajahnya itu May, aku gak nahan, pengen meluk dia langsung, beneran !" Ujar Linda dengan penuh semangat.


Maya hanya tersenyum melihat Linda yang begitu sangat menyukai Gavlin.


"Eh May, kira kira Gavlin suka gak ya sama aku ? Mau gak ya dia kalo aku jujur bilang suka dia, pengen jadi pacarnya ?" Ujar Linda bertanya pada Maya.


"Kamu gak malu , ngeduluin nyatain perasaanmu ke dia ?" Tanya Maya menatap lekat wajah Linda.


"Ngapain mesti malu, kan memang aku naksir berat, gak salah kan kalo cewek duluan yang nyatain cintanya." Ujar Linda.


"Kalo aku cuma diam aja, Gavlin mana tau aku suka dia apa nggak." Ujar Linda lagi pada Maya.


"Ya gimana baiknya aja menurut kamu, aku dukung niatmu." Ujar Maya pada Linda.


"Serius May ? Kamu gak apa apa kalo aku nyatain cinta ke Gavlin ?" Tanya Linda menatap serius wajah Maya yang merasa jengah ditatap Linda.


"Diih, ngapain aku terganggu." Ujar Maya jengah.


"Beneran kamu gak ada rasa suka sama Gavlin ? ntar aku jadian sama dia kamu kecewa, berubah sama aku." Ujar Linda.


"Ya nggaklah." Jawab Maya.


"Aku liat kalian akrab sih, makanya aku nanyain ini ke kamu." Ujar Linda pada Maya yang terlihat tersipu malu.


Maya berusaha menyembunyikan perubahan wajahnya itu pada Linda.


"Aku gak ada perasaan apapun sama Gavlin, yakin deh, aku cuma anggap dia teman." Ujar Maya mencoba meyakinkan Linda.


Mendengar ucapan Maya itu membuat Linda menjadi sangat lega.


"Lega aku dengernya May, makasih ya." Ujar Linda tersenyum pada Maya yang juga tersenyum padanya.


"Oh iya, aku belum pesan makanan, kamu mau makan apa May ?" Tanya Linda.


"Apa aja deh, terserah kamu." Ujar Maya tersenyum.


Linda mengangguk lantas dia beranjak dari duduknya menuju ketempat memesan makanan.


Sementara Linda memesan makanan, Maya terlihat menghela nafasnya, ada sesuatu hal sebenarnya dia rasakan dihati saat mendengar Linda naksir Gavlin.


Sebenarnya, di hatinya dia juga ada perasaan yang sama, rasw suka pada Gavlin.


Tapi karena dia lihat Linda begitu menyukai dan mencintai Gavlin, dia pun mencoba menutupi dan membuang perasaan sukanya pada Gavlin.


   Di dalam sebuah ruang kamar yang dalam keadaan gelap, terlihat di sebuah papan tulis yang besar di dinding terpajang banyak photo photo.


Photo photo itu berisi gambar denah denah lokasi perkampungan Rawas.


Ada juga photo ke tiga warga yang mati tergantung di pohon, photo photo warga warga kampung Rawas.


Wajah wajah di photo photo itu dilingkari dan di silang dengan tinta merah.


Lalu ada photo warga tiga yang mati , disamping photonya ada photo warga empat yang juga sudah mati.


Lalu ada photo Ningsih, wanita tua berusia 50 tahun yang baru baru ini mati dibunuh.


Semua photo photo orang orang yang sudah mati itu dilingkari dan diberi tanda silang, menandakan jika mereka telah mati.


Mata sosok yang berdiri menatap photo photo itu mengarah kesebuah photo, photo wajah Guntur, pria tua yang mati saat diacara peresmian hotel Bramantio.


Lalu disampingnya, ada photo Bramantio, supir pribadi Bramantio yang lama , bernama Sumantri.


Di atas photo photo itu diberikan tanda tanya, lalu mata sosok orang misterius itu menatap ke photo Wijaya, bapak Linda yang juga terpajang.


Dia memberikan tanda tanya dengan spidol hitam yang dipegangnya.


Selain itu, ada juga photo Mike dan Linda terpajang di papan tulis besar itu.


Lalu dia memberikan garis yang menghubungkan photo photo Bramantio, Guntur yang sudah mati dan Wijaya pada photo orang tuanya,Sanusi.


Sanusi mati bunuh diri di dalam sel penjara karena di fitnah sebagai pembunuh dan pemerkosa.


Dia menuliskan sebuah kalimat diantara photo photo itu " Siapa yang memfitnah bapak sebagai pembunuh dan pemerkosa?" Begitu dia menuliskan kalimat pertanyaan.


Dari sorot matanya terlihat menahan rasa amarah dan dendam yang begitu besar meluap luap.


Sosok orang misterius itu mengenang kembali saat bapaknya bunuh diri.


Dari kilasan ingatannya, orang misterius itu mengingat Bapaknya yang menggantung dirinya di dalam sel yang sempit, mati bunuh diri.


Beberapa saat setelah kenangan itu hilang dari ingatan, dia meremas spidol yang ada didalam genggaman tangannya.


Terlihat mulutnya menyeringai tajam menahan geram dan amarahnya.


Dia lalu mencengkram kuat kuat spidol ditangannya, kemudian tanpa sadar, spidol itu patah terbelah dua.


Dia melampiaskan amarahnya dengan mematahkan spidol ditangannya.


Lalu dia melemparkan spidol yang sudah patah terbelah dua ke photo Bramantio yang terpajang di papan tulis besar dinding rumah. Amarahnya meluap luap saat itu.


"Aku pasti akan membunuh kalian! Tunggulah, kamu berikutnya !" Ujar sosok orang misterius itu dengan suara menahan geramnya.

__ADS_1


Matanya melotot tajam, bola matanya terlihat merah menahan amarah yang memuncak didalam dirinya.


Mulutnya menyeringai, terdengar suara gemeretak gigi beradu keras dari mulutnya, dia menggeretakkan giginya dengan geram.


__ADS_2