VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pertikaian 2 Saudara Kandung


__ADS_3

Masayu yang terikat dan tergantung di atas pohon tampak menahan kesakitan di lehernya yang terjerat tali tambang, di bawah, di atas tanah, Bramantio berdiri dengan sikap dingin dihadapannya. Tatapan mata Bramantio tajam, penuh amarah.


"Sejak kapan kamu membodohiku dengan berselingkuh sama Jafar?!!" Bentak Bramantio penuh amarah membara di dalam jiwanya.


"Masayu diam, dia bukan tak mau menjawab, namun, dia kesulitan bicara, karena tali tambang yang menjerat di lehernya sangat kuat.


"Aarrghh...aaarrghhh...!!" Erang Masayu, berusaha bernafas dan bicara.


"Aku kecewa sama kamu, aku pelihara kamu, aku penuhi semua kebutuhan hidupmu! Tapi kamu berkhianat!!" Bentak Bramantio penuh amarah.


"Aku gak bisa memaafkanmu!! Jika kamu masih hidup, aku akan tetap mengingat perbuatanmu itu!!" Teriak Bramantio melampiaskan emosi amarahnya.


"Kamu harus mati ditanganku!! Aku akan tenang, jika kamu udah lenyap dari dunia ini!!" Bentak Bramantio penuh amarah membara.


Bramantio lantas dengan cepat pergi meninggalkan Masayu sendirian, tergantung di atas pohon dalam posisi seluruh tubuhnya terikat.


Bramantio berjalan cepat, dia masuk ke dalam rumahnya, di jalanan, depan rumah Bramantio, berhenti sebuah mobil.


Mobil itu milik Jafar, Jafar datang ke rumah Bramantio, Jafar menghentikan mobilnya, mobil parkir di pinggir jalan, samping rumah Bramantio.


Jafar lalu keluar dari dalam mobilnya, dia berjalan menuju ke rumah Bramantio. Wajahnya tampak khawatir, dia khawatir dengan Masayu.


Bramantio keluar dari dalam rumahnya, dia membawa sepotong besi di tangannya, ujung besi itu runcing, seperti tombak bentuknya.


Dengan wajah penuh amarah dan cemburu yang berapi api, Bramantio melangkah cepat menghampiri Masayu.


Bramantio berdiri di hadapan Masayu yang tergantung di atas pohon, dia mendongak, mengangkat kepalanya ke atas, melihat wajah Masayu yang tergantung.


"Aku akan memberimu pelajaran!!" Bentak Bramantio marah.


"Karena kamu gak bisa menahan nafsumu, dan dengan mudahnya kamu menyerahkan tubuhmu pada Jafar, maka, aku akan menusuk alat vitalmu itu!! Agar kamu gak bisa lagi berzinah sama Jafar!!" Teriak Bramantio penuh amarah.


Jafar membuka pintu pagar rumah Bramantio, lalu dia berjalan ke halaman rumah Bramantio, Jafar kaget melihat Bramantio berdiri dengan memegang sebilah besi.


Dia lantas melihat ke atas pohon, wajahnya begitu kaget, karena dia melihat, Masayu tergantung di atas pohon.


Bramantio memegang erat besi yang mirip tombak di tangannya, dia mengarahkan besi tersebut ke kaki Masayu.


Lalu, perlahan lahan, besi itu masuk ke dalam rok Masayu, dicelah celah kedua kaki Masayu yang tergantung di atas pohon.


Melihat perbuatan Bramantio, mata Masayu pun terbelalak lebar, dia takut dengan apa yang akan dilakukan Bramantio pada dirinya.


"Besi ini akan menembus kelaminmu, Masayu!!" bentak Bramantio penuh amarah.


Melihat Bramantio akan menyakiti Masayu dengan besi ditangannya, Jafar pun geram dan marah.


"Braaaaaaammmm!!" Teriak Jafar penuh amarah.


Jafar berteriak marah, lalu, dia berlari cepat ke arah Bramantio, Bramantio kaget dengan teriakan Jafar.


Belum sempat dia menusukkan besi ke alat kelamin Masayu, Jafar menerjangnya. Dengan penuh amarah, Jafar menendang Bramantio.


Bramantio jatuh tersungkur di tanah, besi terlepas dari tangannya. Jafar menghampiri Bramantio, dia kalap, Jafar menghajar habis habisan Bramantio yang terbaring di tanah.


Dengan kedua tangannya, Bramantio bertahan dari pukulan Jafar, Jafar terus memukuli dengan membabi buta, Bramantio berguling dan menghindar dari serangan Jafar.


Bramantio segera berdiri dan hendak menyerang Jafar, namun, gerakan Jafar lebih cepat dari dia, belum sempat Bramantio berdiri dengan sempurna, Jafar sudah menerjang dan menendangnya.


Bramantio terjajar jajar mundur ke belakang dan terjatuh kembali di tanah. Wajah Jafar memerah, dia sangat marah pada Bramantio.


Masayu yang tergantung di atas pohon, tampak senang, melihat Jafar datang untuk menyelamatkan dirinya dari Bramantio.


Bramantio tampak melemah, dengan susah payah, dia berusaha bangun dan berdiri, Jafar tak memberinya kesempatan.


Jafar segera mendekati Bramantio, dia lantas memukul Bramantio, berkali kali Bramantio harus menerima pukulan dari Jafar.


Seluruh wajah, mata, bibir, dan perut Bramantio tak luput dari hantaman tangan Jafar. Jafar terus menghajar Bramantio, dia melampiaskan amarahnya.


Dengan satu pukulannya, Jafar pun berhasil merobohkan Bramantio, Bramantio terjatuh kembali ke tanah, dia terkulai lemah, tak berdaya.


Darah segar mengalir di pelipis serta bibir dan pipinya. Bramantio kalah, dia tak mampu melawan Jafar, yang marah kesetanan.


Jafar sangat marah pada Bramantio, karena dia telah menyiksa Masayu, dengan menggantungnya di atas pohon, dan akan menyakiti tubuh Masayu dengan sepotong besi.


Dengan cepat, Jafar melepaskan tali tambang yang mengikat di badan batang pohon besar, perlahan lahan, dia pun menurunkan Masayu.


Jafar menangkap dan memeluk tubuh Masayu yang terjatuh ke tanah, lalu, dengan cepat, Jafar melepaskan semua tali yang mengikat tubuh Masayu.


"Kamu terluka, Yu!" tegas Jafar cemas.

__ADS_1


"Iya, Far, aku terluka, karena di seret dia!" Ujar Masayu menangis ketakutan.


Masayu memeluk erat tubuh Jafar, dia menangis karena sangat takut, untung saja Jafar datang, jika tidak, nyawanya pasti sudah melayang di tangan Bramantio.


Dengan kondisi lemah tak berdaya, dan nafas yang terengah engah, serta tak mampu berdiri, Bramantio yang terduduk lemas di tanah melihat Jafar dan Masayu berpelukan.


Wajah Bramantio tampak geram, dia marah melihat Jafar dan Masayu berpelukan, namun, dia tak punya tenaga lagi, untuk melawan Jafar.


Jafar melepaskan pelukan Masayu, dia lantas memegangi wajah Masayu, Jafar tersenyum lembut pada Masayu.


"Kamu tunggu di sini." ujar Jafar tersenyum.


"Iya, Far." Angguk Masayu lemah.


Masayu lantas menghapus air matanya, Jafar kemudian berdiri, dan dia pun berjalan, menghampiri Bramantio.


Jafar berjongkok tepat di hadapan Bramantio yang duduk lemas di tanah, mata Bramantio menyiratkan kemarahan pada Jafar.


"Kali ini aku ampuni kamu! Jangan kira, karena kamu abangku, aku gak bisa membunuhmu, Bram!!" hardik Jafar marah.


"Selama ini, kamu tau, siapa aku?! Bagaimana aku?!! Dan kamu pasti tau, aku gak akan segan segan membunuh orang yang menghalangiku dan mencoba melawanku!!" Bentak Jafar marah.


"Sebaiknya kamu menyingkir jauh, Bram!! Jangan sampai kita ketemu lagi, karena, kalo kita ketemu, aku pasti akan membunuhmu!!" Bentak Jafar penuh amarah.


Jafar lantas berdiri, dia hendak pergi meninggalkan Bramantio yang terengah engah dalam kondisi lemas tak berdaya.


"Sejak kapan kalian berselingkuh diam diam tanpa sepengetahuanku?!" Tanya Bramantio, dengan suara lemah dan terengah engah.


Jafar tersenyum sinis, dia pun menatap tajam wajah Bramantio yang meringis kesakitan itu.


"Kamu mau tau Bram?!" ujar Jafar tersenyum sinis.


Masayu berdiri, dia lalu berjalan dan mendekati Jafar, Masayu lantas memegang tangan Jafar, dia menatap wajah Bramantio penuh kebencian.


"Sebenarnya, kami gak pernah berselingkuh, Bram!! Kamu menuduh, aku yang jahat, karena aku berselingkuh dengan istrimu, kamu merasa, aku merebut istrimu, kan?!!" Teriak Jafar membentak marah.


"Nggak Bram, disini, bukan aku penjahat kelaminnya, tapi kamu! Kamu lah penjahat kelamin sesungguhnya!!" Bentak Jafar penuh amarah.


Bramantio terhenyak kaget mendengar perkataan Jafar, dia menatap tajam wajah Jafar, dia tampak geram dan marah.


"Apa maksudmu?!!" tanya Bramantio, terengah engah lemah tak berdaya.


"Aku dan Masayu bahagia menjadi sepasang kekasih, tapi kamu menghancurkan kebahagiaan kami, Bram!! Dengan paksa, dan mengancam orang tua Masayu, kamu mengambil Masayu dariku!!" Bentak Jafar melampiaskan amarahnya.


Jafar memukul wajah Bramantio, Bramantio terjatuh ke tanah, lalu, dengan susah payah, dia bangun dan duduk kembali di tanah.


Masayu memegang kuat tangan Jafar, dia berdiri di belakang Jafar. Jafar tampak sangat marah pada Bramantio.


"Tapi kami gak menyerah begitu aja, Bram! Biarpun kamu menikahi Masayu, tapi hati dan seluruh tubuhnya tetap milikku!!" Hardik Jafar.


Mendengar perkataan Jafar itu, Bramantio sangat marah, ingin rasanya, dia menghajar Jafar, namun, dia tak sanggup melakukannya saat ini.


"Kamu mau tau, satu kebenaran yang akan membuatmu kaget, Bram?!" Ujar Jafar tersenyum sinis.


Bramantio diam, dia menatap tajam wajah Jafar yang tersenyum sinis padanya.


"Mike itu anakku, Bram! Dia darah dagingku!!" Hardik Jafar penuh amarah.


Mendengar perkataan Jafar, Bramantio pun marah, dia mengumpulkan sisa sisa tenaganya, Bramantio pun membentak Jafar.


"Omong kosooong!!" Bentak Bramantio marah.


"Ya, Bram. Mike anak Jafar, aku hamil oleh Jafar, bukan denganmu!" tegas Masayu dengan wajah sinis.


"Saat kamu menikahiku, aku udah hamil kurang lebih dua bulan, dan kamu gak tau hal itu!" tegas Masayu menjelaskan.


"Ingat, Bram, setelah menikah, kamu hanya sekali menyentuhku, karena kamu lebih sibuk kerja dan mementingkan bisnismu, kita sangat jarang bersetubuh!" Lanjut Masayu menjelaskan.


"Tapi, aku tetap melakukannya dengan Jafar, tanpa sepengetahuanmu, aku selalu berhubungan badan dengan Jafar.Sampai Mike lahir, dan Jafar tau, Mike anaknya!" Tegas Masayu.


"Jafar menyuruhku tutup mulut, membiarkan, agar kamu mengira, Mike anak kandungmu!" Ungkap Masayu.


"Ya, Bram. Aku sengaja, agar semua hartamu jatuh ke tangan Mike, dan otomatis akan menjadi milikku dan Masayu juga!!" Hardik Jafar sinis.


"Biaaaadaaaab kaliaaaan!!" Teriak Bramantio di sisa sisa tenaganya yang melemah itu.


Begitu sakitnyq hati Bramantio, mendengar kenyataan dari Masayu, bahwa, ternyata, Mike bukanlah anak kandungnya, tapi anak kandung Jafar.


Bramantio benar benar sakit hati, dia semakin marah dan benci pada Masayu, juga Jafar. Karena mereka telah mempermainkan dirinya selama ini.

__ADS_1


Bramantio terdiam, dia sangat geram, Bramantio sangat marah, dia pun begitu dendamnya pada Jafar, yang sudah menipu dirinya selama ini.


Andai saja dia tahu, Jafar sejahat itu padanya, dulu, dia tak akan menyelamatkan Jafar, dia tidak akan membebaskan Jafar dari tuduhan pembunuhan.


Bramantio merasa menyesal, sudah membantu dan menolong Jafar dulu, sehingga, dia terbawa masalah, dan dia jadi sasaran balas dendam Yanto, atau Gavlin.


Jafar menatap geram wajah Bramantio, lalu, Jafar pun menendang wajah Bramantio, seketika, Bramantio jatuh tersungkur ke tanah, lalu, dia pun pingsan.


Melihat Bramantio jatuh pingsan, Masayu pun lega, dia senang, Jafar sudah menyelamatkan dirinya.


"Terima kasih, Far, kamu menolongku." ujar Masayu senang.


"Ya, saat kamu telpon dan bilang, Bram pulang dengan wajahnya yang marah, dan kamu takut, aku jadi kepikiran kamu." Jelas Jafar.


"Yu, aku bertemu Bram di hotelnya, karena dia tau hubungan kita, Bram mau membunuhku, untung datang si Gavlin, kalo gak, mungkin, Bram udah menembakku!" tegas Jafar.


"Aku kepikiran, jangan jangan Bram akan menghabisimu, karena dia gagal membunuhku, makanya aku langsung datang ke sini, dan benar saja, kamu sedang di siksa Bram!" Ujar Jafar dengan wajah serius.


"Iya, Far." Angguk Masayu tersenyum senang.


"Sekarang, ambil semua pakaianmu, mulai saat ini, tinggalkan Bram, dan kita, bisa tinggal bersama!" Tegas Jafar.


"Baik, Far." Ujar Masayu tersenyum senang.


"Lantas, bagaimana dengan si Bram?" tanya Masayu.


"Biarin aja dia begitu, kalo dia berani datang nemuiku lagi, aku akan membunuhnya!" Tegas Jafar marah.


"Iya, Far." Jawab Masayu.


"Sebentar, Far. Aku akan mengambil pakaian pakaianku seperlunya." ujar Masayu.


"Ya." Angguk Jafar.


Masayu pun lantas segera pergi meninggalkan Jafar, dia masuk ke dalam rumahnya, Jafar berjalan mendekati tubuh Bramantio yang terbaring pingsan di tanah.


Dengan wajah geram dan marah, Jafar menendang nendang tubuh Bramantio, dia belum puas menghajar Bramantio, walau pun Bramantio sudah pingsan, Jafar terus menendangnya.


---


Di rumah Maya, di lantai ruang tamu, tampak Gavlin sudah sadarkan diri, dia membuka kedua matanya, Melihat Gavlin sudah sadar, Maya pun senang.


"Kamu udah sadar, Vlin." ujar Maya senang.


Dia mendekati Gavlin, Gavlin hendak bangun dan duduk, Maya membantunya duduk di lantai, Gavlin memegang lengan tangan kirinya yang tertembak.


Gavlin heran, karena ada perban di lengan tangan kirinya. Masayu tersenyum lembut padanya.


"Aku yang ngobati dan membalut lukamu, Vlin." ujar Masayu tersenyum.


Gavlin mengangguk lemah dan tersenyum getir, Gavlin hendak berdiri, Maya pun lantas memapahnya, dia membantu Gavlin berdiri.


Gavlin lalu duduk di sofa, dengan di bantu Maya. Gavlin meringis sakit, dia memegang perutnya yang tergores, terkena peluru yang menyerempet perutnya.


"Maaf, Vlin. Peluru masih ada di lenganmu, aku gak bisa ngambilnya." ujar Maya lirih.


"Gak apa, May, trima kasih ya, udah ngobati aku." ujar Gavlin tersenyum lembut.


"Iya, Vlin." Angguk Maya tersenyum.


"Kamu kenapa bisa tertembak, Vlin?" tanya Maya penasaran.


"Bram, Dia menembakku, May." ujar Gavlin geram.


"Bramantio maksudmu?!" Ujar Maya, menegaskan.


"Iya, dia ! Manusia busuk, yang udah menghancurkan hidupku selama ini!!" ujar Gavlin geram.


"Kalo aja, si Jafar, adiknya gak nolong Bram, aku pasti berhasil membunuh Bram!!" Geram Gavlin penuh amarah.


Maya hanya diam dan mendengarkan penjelasan Gavlin, Wajah Gavlin memerah, menahan amarah yang meluap luap di dalam dirinya saat ini.


"Vlin, sebaiknya, kamu lebih berhati hati lagi dalam menjalani aksi balas dendam, kamu udah berkali kali terluka, aku khawatir sama kamu, Vlin!" Ujar Maya, dengan wajah cemas.


"Iya, May. Kamu gak perlu cemas, aku akan berhati hati lagi nantinya." ujar Gavlin tersenyum pada Maya.


Maya pun lantas merangkul dan memeluk Gavlin, Gavlin diam, dia tercenung, Gavlin menyimpan amarah dan dendam yang begitu besar dalam dirinya.


"Bram, Jafar, tunggu aja. Aku akan menghabisi kalian !!" Bathin Gavlin berkata penuh amarah membara.

__ADS_1


Gavlin benar benar sangat marah pada Jafar, karena Jafarlah yang menabrak dirinya, hingga, dia gagal membunuh Bramantio malam itu.


Dan Gavlin bertekat, akan mendatangi Jafar dan Bramantio, untuk membunuh mereka berdua.


__ADS_2