
Richard masuk ke dalam ruang tengah di rumah bawah tanah milik Gavlin, dia menghampiri Gatot, yang sedang serius memeriksa berkas berkas kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Jafar saat ini.
"Benar benar biadab! Peter berani menantang saya!" ujar Richard, geram dan marah.
Gatot menghentikan pekerjaannya memeriksa berkas kasus pembunuhan berantai, dia menatap lekat wajah Richard yang berdiri didepannya sambil bertolak pinggang dan wajahnya yang memerah karena marah besar.
"Kenapa memangnya dengan Peter?" tanya Gatot heran.
"Peter bawa kabur Herman, dia juga membantai seluruh anggota kepolisian yang berjaga jaga di depan kamar ruang ICU Herman!" ujar Richard geram dan marah.
"Dari kamera cctv rumah sakit yang ada di lorong rumah sakit, tampak jelas bagaimana Peter menyuruh anak buahnya membunuh anggota kepolisian kita!" tegas Richard menjelaskan.
"Lalu, dari rekaman cctv saya liat, Peter memapah Herman dan membawanya keluar dari ruang ICU menuju lift!" ujar Richard geram dan marah.
"Saya cari dia di kantornya, tapi Peter gak ada ! Dan sudah saya bebas tugaskan Peter , dia tidak lagi menjabat sebagai Kapolda dan menjadi buronan karena sudah melarikan tersangka!" tegas Richard.
"Oh, begitu." ujar Gatot, mengangguk mengerti.
"Maaf, Aku beberapa minggu ini di sibukkan dengan kasus pembunuhan berantai." ujar Gatot.
"Pembunuhan berantai? Apalagi itu?!" ujar Richard marah.
"Ya, Pembunuhan dengan motif perampokan, dan kamu pasti kaget, jika aku mengatakan siapa pelakunya!" tegas Gatot.
"Siapa?" tanya Richard , dengan wajah ingin tahunya.
"Jafar ! Jafar pelakunya, banyak sekali bukti bukti yang mengarah padanya, dari sidik jarinya, dari ****** yang ditemukan di tubuh gadis muda yang dia bunuh, jelas kalo semua milik Jafar!" ujar Gatot menjelaskan.
Richard pun lantas duduk di sofa, di samping Gatot, lalu dia melihat berkas berkas kasus pembunuhan yang dikatakan Gatot.
"Ini semua berkasnya?" tanya Richard.
"Ya." ujar Gatot.
Richard membaca berkas berkas tersebut, dia juga melihat photo mayat mayat yang menjadi korban pembunuhan Jafar.
"Kebetulan sekali, sudah lama kita mencari dan melacak keberadaan Jafar, akhirnya dia muncul dengan sendirinya." ujar Richard.
"Ya, begitulah. Jafar kambuh lagi hasrat membunuhnya seperti 18 tahun lalu." ujar Gatot.
"Dan pembunuhan yang terakhir dia lakukan, di tempat bar dan karaoke, sama seperti 18 tahun lalu, dia juga membunuh wanita pemandu lagu!" jelas Gatot, dengan wajah serius.
"Biaaadaab Jafaar!!" ujar Richard geram dan marah.
"Lantas, kamu sudah tau, dimana Jafar berada?" tanya Richard, dengan wajah serius dan penasarannya.
"Saat ini belum tau, tapi aku udah tugaskan tim untuk mencari Jafar!" jelas Gatot.
"Mudah mudahan Jafar tertangkap sebelum batas akhir kasus pembunuhan dia 18 tahun lalu kadaluwarsa." ujar Richard serius.
"Ya. Aku dan tim akan bergerak cepat memburu Jafar!" tegas Gatot.
"Ok, kita bagi tugas ! Kamu memburu Jafar, Saya dan Pasukan Kepolisian lainnya akan memburu Herman dan komplotannya!" ujar Richard.
"Mereka pasti bersembunyi di suatu tempat, sebab, Saya sudah datangi kantor dan rumah Peter, tapi dia gak ada ! Herman juga sama, Dia juga gak ada di kantor dan rumahnya!" jelas Richard.
"Bagaimana dengan Jack?" tanya Gatot.
"Jack masih ada di kantornya dan masih menjalankan tugasnya, Saya belum bisa menangkap Jack, karena belum menetapkan kasus apa buat menjeratnya." ujar Richard serius.
__ADS_1
"Jack kan komplotan Herman, pasti dia juga turut andil dalam melarikan Herman dari rumah sakit!" tegas Gatot.
"Tidak ada bukti saat ini atas keterlibatan Jack dalam melarikan Herman dari rumah sakit, yang ada hanya Peter, dan anak buahnya!" jelas Richard.
"Anak buah Peter yang membunuhi pasukan polisi dirumah sakit sudah saya masukkan ke penjara semua!" tegas Richard, memberi penjelasan.
"Oh, begitu." ujar Gatot.
"Ya, sudah, Saya mau pulang dulu, besok kita ketemu lagi di sini." ujar Richard.
"Baik." ujar Gatot.
Lantas, Richard pun segera pergi meninggalkan Gatot sendirian. Setelah kepergian Richard, Gatot pun kembali membaca berkas berkas kasus pembunuhan berantai yang di lakukan Jafar.
---
Di malam hari, tampak jafar di sebuah gang kecil yang gelap sedang membantai seorang Pria berusia 35 tahunan, Pria itu sudah terkapar di tanah dengan berlumuran darah, Jafar menggeledah kantong baju dan celana si Pria.
Jafar dengan cepat mengambil seluruh uang yang ada di dalam dompet si Pria, lalu melepaskan jam tangan dan cincin emas yang di pakai si Pria.
Saat Jafar berdiri sambil memegang pisau di tangannya, datang seorang wanita muda berjalan masuk ke gang tersebut.
Wanita muda syock dan kaget melihat mayat Pria berlumuran darah tergeletak di tanah., Wanita itu juga melihat Jafar memegang pisau yang berlumur darah ditangannya.
"Aaaarrrggghhh!!" teriak si Wanita Muda.
Mendengar teriakan Wanita Muda, Jafar pun tampak marah, dengan cepat dia berlari menghampiri si Wanita Muda.
Melihat Jafar mendekati dirinya, Wanita Muda pun berlari kencang, Jafar terus mengejarnya. Kejar kejaran terjadi di lorong gang sempit dan gelap itu. Di kiri kanannya hanya ada tembok tembok ruko.
Wanita Muda terus berlari dengan wajah penuh ketakutan, Jafar terus mengejarnya sambil memegangi pisau yang di pakainya membunuh.
Jafar pun lantas berhasil mengejar si Wanita Muda, Jafar langsung menarik rambut si Wanita Muda, Wanita Muda berhenti dan menjerit jerit kesakitan, karena rambutnya di tarik Jafar.
Dengan cepat, Jafar menghujamkan pisaunya berkali kali ke perut Wanita Muda tersebut, darah pun keluar dari perut si Wanita Muda, lalu, Jafar menggorok leher wanita muda.
Di lemparnya tubuh Wanita Muda ke tanah, wanita muda itu pun mati, terkapar di tanah dengan luka luka tusukan di perutnya, dan lehernya di gorok.
Dengan cepat, Jafar menggeledah isi tas wanita muda, dia lalu mengambil uang dari dalam tas dan dompet wanita, dan memasukkannya ke dalam kantong celananya.
Jafar kemudian, melepaskan kalung emas dan cincin emas dari leher dan jari tangan wanita muda. Lalu, dengan sikap tenang, Jafar pun berjalan, pergi meninggalkan wanita muda yang sudah menjadi mayat.
Dengan sikap tenang dan santai Jafar masuk ke dalam mobilnya, dia lantas merapikan rambut palsunya, Jafar masih menyamar sebagai sosok Pria lain.
Sesaat kemudian, mobil Jafar pun berjalan dan pergi meninggalkan tempat kejadian pembunuhan tersebut.
Sambil menyetir mobilnya, tampak Jafar tersenyum senang, karena dia sudah berhasil merampok dan membunuh, serta mendapatkan uang lagi.
Mobil Jafar terus melaju di jalanan yang gelap dan sepi, menyusuri jalanan sekitarnya.
---
Mobil Jafar berhenti di sebuah halaman rumah kayu, rumah itu terpencil, jauh dari keramaian dan penduduk sekitarnya.
Rumah kayu tersebut sebelumnya kosong tak berpenghuni, Jafar tak sengaja menemukan rumah tersebut, saat dia sedang mencari cari tempat persembunyian dan peristirahatan.
Karena tak punya uang untuk membayar sewa hotel, Jafar pun memutuskan untuk tinggal di rumah kayu tersebut, dia membersihkan rumah kayu yang sebelumnya kotor dan berdebu, lalu, dia pun tinggal di rumah kayu, untuk istirahat dan bersembunyi dari kejaran Polisi yang tengah memburunya.
Jafar keluar dari dalam mobil, lalu dia berjalan dan masuk ke dalam rumah kayunya.
__ADS_1
Tak ada perabotan apapun di dalam rumah kayu tersebut, hanya ada satu tikar saja yang tergelar di lantai.
Jafar pun lantas merebahkan tubuhnya di atas tikar, dia tampak sangat lelah, karena tenaganya habis terkuras, sebab membunuh dua orang malam ini.
Hanya sesaat saja, Jafar pun sudah terlelap tidur karena dia sangat capek dan lelah. Darah masih ada berbekas di bajunya. Jafar tidur dengan kondisi pakaian berlumur darah.
---
Keesokan paginya, diruang bawah tanah rumah Gavlin, terlihat Maya sedang menyapu ruangan. Dia menyapu sambil bernyanyi nyanyi kecil menghibur dirinya sendiri.
Pagi itu, tak ada siapa siapa, Ayahnya sudah berangkat kerja dan bertugas untuk menyelidiki kasus kasusnya, Pak Richard belum datang lagi, sejak pulang tadi malam, dan Gavlin, sudah 2 hari belum kembali kerumahnya itu.
Dan Maya tak tahu dimana Gavlin berada saat ini, karena tak ada kabar dari Gavlin, dan juga, Gavlin tidak bisa di hubungi, sebab, dia sudah tak mempunyai ponsel lagi.
Maya lantas membersihkan kaca lemari yang ada di sudut ruangan, saat dia membersihkan kaca lemari, matanya tertuju pada sebuah boneka kayu yang menempel di dinding lemari.
"Boneka Kayu?" Gumam Maya.
Maya pun lantas berjalan mendekati boneka kayu yang menempel di dinding lemari, di amatinya boneka kayu tersebut.
"Bonekanya sama seperti boneka kayu milikku yang di buat Yanto waktu kami kecil dulu." ujar maya, tersenyum senang.
Lalu, Maya pun hendak mengambil boneka kayu yang ada di dinding lemari, saat dia mau mengambil, boneka kayu tersebut tak bisa di ambil, karena menempel kuat di dinding lemari.
"Kok gak bisa di ambil? Apa Gavlin sengaja menempelkannya di sini?" ujar Maya, bicara pada dirinya sendiri.
"Lantas, Maya mencoba kembali mengambil boneka kayu, di tariknya boneka kayu, namun, boneka kayu tidak bergerak, kemudian, Maya pun menekan boneka kayu ke dinding lemari dengan wajahnya yang kesal.
"Huuu...gak bisa di ambil!" ujar Maya kesal, sambil menekan boneka kayu.
Tiba tiba saja lemari bergeser, Maya kaget melihat lemari bergerak dan bergeser. Maya lantas melihat ke samping, dia semakin kaget.
Maya melihat, disamping lemari, ada sebuah pintu rahasia, Maya pun mengkernyitkan keningnya, lalu, dia mengangguk angguk paham.
"Pantes boneka kayunya gak bisa di ambil, boneka itu dibuat sebagai pembuka pintu rahasia ini." ujar Maya.
Lantas, Maya pun berjalan ke pintu rahasia, dia memegang engsel pintu dan mencoba membukanya, pintu terbuka, karena tak terkunci, Maya pun senang, pintu tak di kunci.
Maya lalu membuka pintu, kemudian dia segera masuk ke dalam pintu rahasia tersebut.
Setelah berada di dalam, dia menutup pintu rahasia, ruangan tersebut sangat gelap sekali, Maya tak bisa melihat apapun juga.
Maya lalu mengambil ponselnya dari dalam kantong celana panjangnya, lantas, dinyalakannya lampu senter dari ponselnya.
Setelah lampu senter menyala dari ponselnya, diarahkannya lampu tersebut ke ruangan tersebut.
"Banyak banget ruang rahasia Gavlin." Gumam Maya, sambil mengarahkan lampu senter ponselnya ke depan.
Maya mencari cari tombol saklar lampu, sesaat kemudian, dia menemukannya, saklar lampu ada di dinding dekat pintu.
Maya lantas menekan tombol saklar dan menyalakan lampu ruangan tersebut, sesaat kemudian, lampu pun menyala, dan seketika, ruang rahasia itu menjadi terang benderang.
Maya berjalan dan masuk ke dalam ruangan, saat dia melihat ke depan, Maya terperanjat kaget, ponselnya terlepas dari tangannya, dia pun terduduk di lantai, wajahnya pucat, Maya sangat kaget sekali.
Mata Maya terbelalak lebar menatap ke depan, dia melihat, di depannya banyak sekali patung patung lilin berwujud manusia.
Tidak semua tubuh patung itu dibaluti lilin, hanya sebagian, dan sebagian lagi, masih dalam kondisi tubuh dan kulit manusia.
Hal itu yang membuat Maya syock dan sangat kaget, dia terduduk diam, tubuhnya gemetaran kaget.
__ADS_1
"A...apa...semua...ini...! Mengapa...patung...patung manusia ini ada di rumah Gavlin?" ujar Maya, dengan wajah heran dan syocknya.
Dia heran, sebab selama ini yang dia tahu, patung patung lilin milik Yanto , si seniman patung lilin, dan Maya kaget serta heran, mengapa patung lilin Yanto ada dirumah Gavlin.