
Keesokan paginya, Samsul datang bersama 5 anak buahnya yang selalu setia menemani kemanapun dia pergi.
Saat Samsul berjalan hendak masuk ke dalam markasnya, dia kaget melihat 2 anggotanya tergeletak ditanah, dan sudah menjadi mayat.
Dengan cepat Samsul pun lari masuk ke dalam ruang markasnya, ke 5 anak buahnya mengikutinya.
Di dalam ruangan, Samsul terhenyak kaget, wajahnya marah melihat 6 anggotanya sudah menjadi mayat.
"Setaaan !! Siapa yang berani ngacak ngacak markasku dan membunuh anggotaku !!" Teriak Samsul melampiaskan amarahnya.
Seorang anak buahnya masuk ke dalam ruangan, dia menemukan mayat mayat anggota lainnya.
Dengan wajah pucat dan takut, dia pun kembali mendekati Samsul.
" Di dalam juga ada mayat mayat anggota kita bos." Ujar Anak buah Samsul.
"Siaaal !! Cari sampai dapat, siapa orang yang udah berani datang ke sini dan membunuh anak buahku !!" Bentak Samsul penuh amarah.
"Baik Bos." Ujar salah seorang anak buah Samsul.
Samsul berdiri menatapi mayat mayat anggotanya, wajahnya menyimpan amarah yang besar.
Dia marah dan dendam pada orang yang sudah berani datang dan membunuh anak buahnya.
Bagi Samsul, itu adalah penghinaan langsung pada dirinya sebagai pemimpin mafia yang nomor satu dan paling di takuti.
Dia menganggap, pembunuhan pada anak buahnya ,berarti itu sebuah tantangan untuknya.
Dan Samsul tidak bisa menerimanya, dia tak bisa berdiam diri, sebagai kepala mafia nomor satu dan paling di segani dia tersinggung.
----
Di dalam gudang tempat biasanya dia mengerjakan orderan patung Lilin dengan menyamar sebagai Yanto, Gavlin terlihat sedang menyiapkan peralatan untuk aksi berikutnya.
Di depannya, ada 1 tong berukuran besar, lalu disampingnya, tergeletak dilantai 4 Sak Semen.
Gavlin menyiapkan semua itu, karena dia tengah merencanakan sesuatu untuk aksi balas dendam berikutnya.
---
Gatot terlihat sedang membahas kasus pembunuhan Linda dengan Teguh di dalam ruang kerjanya.
"Ternyata benar Pak, Logo yang Bapak temukan di baju pelaku yang membunuh korban Linda itu logo serigala, dan logo itu milik "Wolf Genk", Mafia jaringan terbesar Narkoba." Ujar Teguh.
"Oke, kalo gitu, kita harus bisa menemukan pelakunya, agar pembunuhan ini cepat terungkap !" Ujar Gatot pada Teguh.
"Siap Pak, Laksanakan !" Ujar Teguh memberi hormat pada Gatot.
Teguh lantas pergi meninggalkan Gatot sendirian, Gatot tampak sedang berfikir keras.
Di ruang kerjanya, Maya sedang melamun, dia teringat dengan kata kata Ayahnya pada Gavlin yang meminta Gavlin untuk mau bertemu dia membahas tanda lahir Gavlin.
Maya pun lantas menghela nafasnya dengan berat, dia tersadar dalam lamunannya, lalu dia berfikir.
"Apa mungkin, Ayah sedang curiga sama Gavlin? Atau Ayah mengira, Kalo Gavlin itu anak kecil yang dulu dia tolong?" Bathin Maya.
Dia tampak resah, ada tanda tanya besar di hatinya saat ini.
"Kalo memang benar Gavlin itu anak yang dulu di tolong Ayah, itu artinya, Gavlin...Yanto ?!" Bathin Maya berkata kata.
"Kalo dia Yanto, berarti Gavlin teman kecilku dulu...!" Gumam Maya.
Maya terdiam, dia melamun lagi, Maya teringat kata kata Gavlin yang mengatakan , bahwa Gavlin mencintai teman masa kecilnya, hingga sekarang cinta itu tetap ada di hati Gavlin.
Maya pun mengingat perkataan Gavlin yang mengatakan, bahwa dia tahu siapa dan dimana teman masa kecilnya, saat itu, Gavlin juga bilang, bahwa dia dekat dengan temannya itu, namun, teman masa kecilnya itu tak menyadari kehadirannya di dekat dirinya selama ini.
Maya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Dia mencoba menepiskan ingatannya akan perkataan Gavlin.
Namun, sesaat kemudian, Maya kembali tercenung.
"Masa iya sih, yang dimaksud Gavlin teman masa kecilnya itu aku? Gak mungkin !" Gumamnya.
"Ah, ini pasti cuma perasaanku aja." Ujar Maya.
Dia lantas menarik nafasnya dalam dalam, berusaha membuang fikirannya yang tertuju pada Gavlin terus.
Maya tak menyadari, jika cinta sedang bersemi dihati dia, Maya tak tahu, jika dirinya mencintai Gavlin.
Dia hanya merasa aneh, dengan getaran getaran hati dan di dadanya saat bertemu dan berada di dekat Gavlin.
"Ah, lama lama di sini bisa stress aku mikirin yang belum tentu benar." Ujar Maya bicara pada dirinya sendiri.
Maya lantas mengambil tasnya di atas meja, Dia lalu pergi keluar dari ruang kerjanya.
---
Patung Lilin Dewi Hera berdiri dengan megah dan indahnya di tengah tengah Lobby Hotel Hera.
Bramantio berdiri di depan patung lilin yang tinggi besar itu.
Wajah kekaguman terlihat pada diri Bramantio.
Bramantio sangat puas dan kagum dengan hasil karya Yanto, Seniman Patung Lilin yang membuat patung Lilin Dewi Hera tersebut.
Para tamu tamu hotel yang ada di ruang lobby hotel berdecak kagum melihat patung tersebut.
Patung Lilin Dewi Hera yang begitu sempurna, bagaikan hidup dan seperti raksasa, sebab patung tersebut tinggi besar.
"Terima kasih bung Yanto, ini benar benar Masterpiece !" Ujar Bramantio bersemangat penuh kebanggaan dan kekaguman dihatinya.
Dia senang dan bangga, karena para tamu terlihat kagum dengan hasil karya Yanto tersebut.
Sementara Yanto hanya diam dan bersikap tenang dan santai pembawaannya.
"Ohya, katanya, bung Yanto ada hadiah khusus buat saya sebagai bonus ?" Tanya Bramantio pada Yanto.
"Iya." Jawab Yanto dengan sikap dinginnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, mari keruangan saya bung." Ujar Bramantio tersenyum senang.
Lalu, Bramantio dan Yanto pun pergi meninggalkan Patung Lilin berukuran tinggi besar yang terletak di tengah tengah Lobby Hotel Hera yang luas.
Para tamu Hotel mendekati patung tersebut, mereka semua masih berdecak kagum.
Mereka masih tak percaya dengan hasil karya Yanto, benar benar begitu sempurna.
Patung yang tinggi besar, mewah, dan megah berdiri kokoh ditengah lobby.
Manager Hotel meminta Petugas Keamanan untuk berjaga di depan patung, agar para tamu hotel tidak melewati garis batas pelindung patung.
2 Petugas Keamanan Hotel berdiri di depan patung, berjaga dan melindungi patung, agar tamu hotel tidak terlalu dekat dengan patung lilin tersebut.
Di dalan ruang kantor Bramantio yang luas, Yanto sedang menata sebuah patung dengan modifikasi baja dan lilin.
Patung itu berwujud sosok Bramantio sendiri, berdiri gagah, Yanto meletakkannya di atas meja kerja Bramantio.
Yanto mengatur letak patung tersebut sedemikian rupa, agar enak dipandang, dan jelas terlihat.
Bramantio tersenyum bangga melihat patung dirinya berdiri di atas meja kerjanya.
Dia semakin puas dan kagum dengan kerja serta karya Yanto, Bramantio benar benar meyakini, bahwa Yanto memang seorang seniman besar dan terkenal, yang selalu membuat Masterpiece pada karya patungnya.
"Indah, Indah sekali bung Yanto !" Ujar Bramantio tersenyum senang.
Yanto hanya diam tak menjawab, sikapnya dingin berdiri dihadapan Bramantio.
"Saya berterima kasih bung, karena sudah memberikan bonus patung lilin saya sendiri, sebuah kebanggaan buat saya mendapatkan hadiah ini dari bung Yanto." Ujar Bramantio tersenyum.
Yanto hanya mengangguk mengiyakan dan tersenyum kecil tanpa berkata kata.
"Karena sudah selesai semua tugas saya, saya pamit." Ujar Yanto dengan suara berat dan sikap dingin.
"Oh, baik, silahkan, dan terima kasih sekali lagi saya ucapkan." Ujar Bramantio menyalami Yanto.
Yanto pun dengan malas malasan menyalami Bramantio, mencoba untuk tersenyum ramah pada Bramantio, walaupun senyumannya itu terpaksa dilakukannya.
Sesaat kemudian, Yanto pun pergi keluar dari ruang kerja Bramantio, Bramantio lantas duduk di kursi kerjanya.
Bramantio memandangi patung lilin berbentuk dirinya itu. Wajahnya begitu bangga.
Bramantio semakin terlihat sombong, dia merasa, dengan adanya patung lilin Dewi Hera di lobby hotelnya, maka kejayaannya akan semakin nyata.
"Benar benar sempurna ! Aku gak nyangka, kalo seniman itu benar benar bisa mewujudkan keinginanku, membuat patung lilin yang begitu sempurna !!" Ujarnya.
Dia pun terlihat semakin bangga pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Yanto, yang sedang duduk di dalam mobilnya, depan stir mobil, memegang ponselnya.
Dari ponselnya itu dia bisa melihat jelas Bramantio yang sedang berada didalam ruang kantor hotelnya.
Yanto memakai Headset Bluetooth Wireless di telinganya, dia juga mendengar dengan jelas semua ucapan Bramantio didalam ruang kantornya.
Ternyata Patung sosok Bramantio yang di berikan Yanto sebagai bonus dan hadiah darinya pada Bramantio sudah di letakkan kamera pengawas (Cctv ).
Yanto menyimpan cctv mini di kedua mata patung sosok Bramantio yang terpajang di samping meja kerjanya.
Ya, Yanto ternyata sudah merencanakannya semua, saat dia mendapatkan order membuat patung lilin Dewi Hera, Yanto pun langsung mencari ide, agar dia bisa mengintai dan mengawasi Bramantio selama berada didalam ruang kantor hotelnya.
Yanto yakin, dia nanti pasti akan mendapatkan hasil yang baik dari rencananya itu.
Yanto lantas menyimpan ponselnya di dalam dashboard, lantas, dia pun menyalakan mesin mobil sport mewahnya.
Sesaat kemudian, mobil Yanto pun keluar dari tempat parkirnya, saat mau keluar dari halaman parkir yang luas itu, mobil Yanto berpapasan dengan mobil Mike.
Mike yang menyetir mobilnya tidak melihat Yanto, sementara Yanto dari dalam mobilnya melirik Mike.
Wajah Yanto terlihat sinis melihat Mike, lantas, mobil Yanto pun keluar dari halaman parkir hotel.
Mike yang baru datang ke hotel milik papahnya, tercengang melihat patung Dewi Hera yang berdiri kokoh dan tinggi besar.
Ada kekaguman pada diri Mike saat melihat patung lilin tersebut, lantas, Mike pun berjalan menuju lift yang ada di sudut lobby hotel.
Bramantio tengah bersiap siap mau pergi, Mike masuk ke dalam ruang kantor dan menghampiri papahnya.
"Patung itu sengaja Papah letakkan ditengah lobby?" Tanya Mike.
"Iya, megah kan? Patung Itu simbol kemegahan dan kejayaan bisnis Papah !" Ujar Bramantio dengan bangga.
Mike hanya diam tak menjawab.
"Kamu ikut Papah." Ujar Bramantio.
"Kemana?" Tanya Mike heran.
"Markas Wolf Genk, nemui Samsul !" Ujar Bramantio.
"Samsul ? Untuk apa?" Tanya Mike semakin heran.
"Samsul tadi kabari Papah, dia bilang, anak buahnya di bantai seseorang tadi malam , Banyak anak buahnya yang mati tadi malam." Ujar Bramantio dengan wajah serius.
"Di bantai? Siapa pelakunya?!" Tanya Mike kaget.
"Belum tau siapa pelakunya, katanya, Samsul dan anak buahnya masih nyari siapa pelaku pembantaian itu." Ucap Bramantio.
Mike terdiam, wajahnya terlihat sedang berfikir keras, dia memikirkan siapa pelaku pembantaian di markas wolf genk.
"Ayo, ikut Papah !" Ajak Bramantio.
"Iya Pah." Jawab Mike sedikit gugup.
Kemudian, Bramantio dan Mike pun keluar dari ruang kantor Bramantio.
---
Teguh berjalan dengan tergesa gesa menyusuri selasar koridor gedung kantor kepolisian.
__ADS_1
Wajahnya terlihat tegang, dia terlihat sangat terburu buru, Teguh lalu berbelok ke sebuah lorong, terus berjalan.
Gatot duduk di kursi meja kerjanya sambil matanya meneliti berkas kasus kematian Linda.
Teguh datang dan mendekati Gatot yang tampak sedang serius mempelajari berkas kasus.
"Saya dapat info Pak !" Ujar Teguh.
"Info apa?" Tanya Gatot.
Gatot meletakkan berkas kasus diatas meja, dia lalu menatap lekat wajah Teguh yang berdiri dihadapannya.
"Terjadi pembantaian di markas Wolf Genk tadi malam, banyak anggota Wolf genk yang tewas." Lapor Teguh.
"Wolf Genk?!" Tanya Gatot.
"Iya Pak." Jawab Teguh.
"Kamu cari tau, apa yang sedang terjadi disana, kenapa ada yang membantai anggota Wolf Genk."
"Selidiki, apa pembantaian itu karena perebutan kekuasaan antar mafia jaringan narkoba, atau dendam pribadi ?!" Ujar Gatot pada Teguh.
"Siap ! Laksanakan Pak !!" Ujar Teguh.
Teguh lalu pergi meninggalkan Gatot.
Gatot terdiam sesaat, dia tampak sedang berfikir keras. Dia lantas menarik nafasnya dalam dalam.
"Wolf Genk...Salah satu anggotanya terlibat pembunuhan terencana Linda dijalan Kartini..." Bathin Gatot.
"Apa pembantaian itu perkelahian antar kelompok mafia? Atau, ada hubungannya dengan kematian Linda?" Bathin Gatot lagi.
Gatot lantas mengusap wajahnya, dia terlihat resah, karena memikirkan kasus tersebut.
"Kalo ada hubungannya dengan Linda, siapa pelaku pembantaian anggota Wolf Genk? Apa hubungan pelaku dengan korban Linda?" Gumam Gatot.
"Jika memang benar, pelakunya ada hubungan dengan Linda, artinya orang yang kenal dekat dengan Linda. Pertanyaannya, siapa orang itu?!" Gumam Gatot bicara pada dirinya sendiri.
Gatot tampak berfikir keras, dia mencoba untuk menemukan hubungan dan keterkaitan pembantaian anggota wolf genk dengan kematian Linda.
---
Bramantio dan Mike tiba di Markas Samsul. Samsul terlihat wajahnya memerah karena masih sangat emosi.
"Kamu yakin, pelaku pembantaian anak buahmu karena mau mengincar dan membunuhmu ?!" Tanya Bramantio pada Samsul.
"Iya ! Aku yakin !! Ini pasti ulahnya kelompok Tiger, mereka sengaja membantai anak buahku untuk memberi peringatan padaku, agar aku mau melepaskan satu wilayah kekuasaanku buat mereka !" Ujar Samsul dengan geram.
"Sebaiknya, jangan langsung main tuduh, tenang, selidiki, cari tau kebenarannya , jangan langsung main serang membalas ke kelompok Tiger, nanti jadi tambah besar masalahnya !" Ujar Bramantio.
Dia mencoba menasehati dan menenangkan hati Samsul.
"Selama ini yang berani melawanku dan mau merebut kekuasaanku cuma Steve ! Pemimpin Genk Tiger! Pasti dia Pelakunya !!" ujar Samsul menahan amarahnya.
"Aku minta kamu jangan langsung perintahkan anak buahmu nyerang kelompok Tiger, serahkan padaku, biar aku yang mencari tau kebenarannya." Ujar Bramantio.
Samsul diam tak menjawab, wajahnya memerah menahan amarah yang sudah semakin membuncah di dalam dirinya.
"Zulfan mana? Kenapa aku gak liat dia?" Tanya Mike pada Samsul.
"Dia udah mati ! Lehernya di gorok dan perut serta dadanya hancur karena tusukan pisau berkali kali!" Ujar Samsul dengan marah.
Mendengar Zulfan mati, Mike terhenyak kaget, dia terdiam, kakinya sedikit bergetar.
Dia tak menyangka, Zulfan juga menjadi korban pembantaian malam itu.
"Kenapa kamu?!" Tanya Bramantio pada Mike.
Bramantio heran melihat sikap Mike yang tampak wajahnya terlihat tegang dan sedang menahan kegugupannya.
"Ah, nggak, gak apa Pah." Ujar Mike sedikit gugup.
Mike berusaha bersikap tenang dan tidak gugup, Samsul yang duduk di sofa melirik wajah Mike yang berdiri di dekat Bramantio.
Samsul curiga melihat sikap Mike, dia melihat wajah Mike tegang, dan dia juga gugup saat mengetahui Zulfan tewas.
"Kamu tau siapa pelaku pembantaian anak buahku?!" Tanya Samsul pada Mike.
Matanya menatap tajam wajah Mike yang berdiri disamping Bramantio.
Mike sedikit kaget karena Samsul bertanya padanya, Mike diam tak menjawab, Bramantio menoleh pada Mike.
"Kamu jangan diam, kalo kamu tau, cepat bilang, biar Papah sama Samsul tau !" Ujar Bramantio dengan suara sedikit keras.
Bramantio kesal melihat Mike hanya diam tak menjawab pertanyaan Samsul.
Samsul berdiri dan mendekati Mike serta Bramantio, dia menatap tajam wajah Mike.
"Aku tau, kamu menyembunyikan sesuatu dariku." Ujar Samsul menahan geramnya.
Mike masih diam, dia lantas menarik nafasnya dalam dalam, lalu, di tatapnya wajah Samsul yang berdiri didepannya.
"Aku memberi tugas pada Zulfan sebelumnya." Ungkap Mike.
"Tugas apa? Dan kenapa aku gak tau? Lancang sekali, Zulfan berani mengambil job tanpa seizin dariku!" Bentak Samsul marah.
"Aku membayar Zulfan untuk membunuh seseorang, aku merencanakan pembunuhan dengan cara, membuat kecelakaan, dan menyuruh Zulfan menabrak targetku. Aku sengaja membuat kecelakaan, agar polisi gak tau, kalo itu sebenarnya pembunuhan !" Ungkap Mike.
Samsul dan Bramantio sama sama terhenyak kaget mendengar penjelasan mereka.
"Siapa yang kamu bunuh ?!" Bentak Bramantio marah pada Mike.
"Linda Pah, anak Wijaya !" Ungkap Mike.
"Lindaa ?!!" Bramantio terhenyak kaget.
Sementara Samsul diam, dia pun tahu, pembantaian terjadi pasti ada hubungannya dengan pembunuhan Linda, pelaku datang membalas dendam sama Zulfan, dan membantai anak buahnya yang sedang ada di Markas.
__ADS_1
Bramantio terdiam menatap tajam wajah Mike yang tegang.
Bramantio saat ini diam, dia tak tahu harus bagaimana menyikapi semua ini, apakah dia senang dengan kematian Linda , karena dia juga dendam sama Linda? Atau dia marah pada Mike, karena bertindak sendiri tanpa memberitahu dia sebelumnya ? Bathin Bramantio bergejolak, dia menahan amarahnya saat ini.