
Mobil Jack masuk ke halaman parkir gedung kantor kejaksaan, Jack datang ke kantornya lebih pagi dari biasanya.
Jack keluar dari dalam mobilnya, lalu berjalan menuju gedung kantor kejaksaan, Gavlin tampak mengintai dari dalam mobilnya.
Jack tak sadar dengan kehadiran Gavlin, Gavlin sengaja datang lebih pagi lagi dari pada Jack dan menunggu Jack di kantornya.
Dari dalam mobilnya, Gavlin melihat, Jack berjalan santai masuk ke dalam gedung kantor kejaksaan agung.
Lalu, Gavlin pun bergegas keluar dari dalam mobilnya.
Gavlin cepat berjalan mendekati mobil Jack, lalu, dia berjongkok, Gavlin lantas menempelkan alat pelacak di bawah mobil Jack.
Gavlin berfikir untuk melacak mobil Jack, sebab, dia mendatangi rumah Jack, Herman dan Peter, tapi satu pun diantara mereka tak ada dirumah.
Gavlin tahu, mereka bertiga pastilah bersembunyi di suatu tempat, untuk itu dia memasang alat pelacak, agar dia bisa mengikuti kemana pun Jack pergi, lalu, dia akan tahu, tempat persembunyian ketiganya.
Setelah memasang alat pelacak dibawah mobil Jack, Gavlin pun lantas bergegas pergi meninggalkan mobil Jack.
Gavlin masuk ke dalam mobilnya, sesaat kemudian, dia pun menjalankan mobilnya, lalu pergi dari gedung kantor kejaksaan.
"Sekarang, kamu gak bisa lagi bersembunyi dariku, Jack!" ujar Gavlin geram, sambil menyetir mobilnya yang melaju di jalanan raya yang sepi.
Jack masuk ke dalam ruang kantornya, dia lantas mengunci pintu ruangannya, agar tak ada yang bisa masuk begitu saja tanpa izin darinya.
Jack lantas duduk di kursi meja kerjanya.
Dia mengambil ponsel dari kantong celananya, lalu, dia pun menelpon Herman.
"Hallo, aku sudah sampai di kantorku." ujar Jack, memberi laporan di teleponnya.
"Bagaimana situasi di kantormu?" tanya Herman, dari seberang telepon.
"Sepi sepi saja, mungkin karena masih pagi, jadi belum banyak karyawan yang datang ke kantor ini." ujar Jack, di teleponnya.
"Ok. Aku juga mau siap siap ke kantorku bersama para pengawalku." ujar Herman, dari seberang telepon.
"Ok. Kita harus tetap berkomunikasi." ujar Jack, diteleponnya.
"Ya." jawab Herman, dari seberang telepon.
Lalu, Jack pun menutup telepon dan menyimpannya kembali ke dalam kantong celananya.
---
Di dalam ruangan kamar yang gelap dan sempit, Gavlin berdiri memandangi photo Jack, Herman dan Peter.
Dia lantas mundur beberapa langkah, lalu, diambilnya pisau belati yang ada di atas meja. Gavlin mengarahkan pisau belati pada photo photo ketiga musuhnya yang menempel di papan tulis besar.
Gavlin bersiap siap, lalu, dia berbalik badan, membelakangi papan tulis yang berisi photo photo para musuhnya.
Sesaat kemudian, dengan gerakan cepat, dia melemparkan pisau belati sambil bergerak balik badan, pisau belati menancap di satu photo yang ada di papan tulis tersebut.
Gavlin lantas berjalan mendekati papan tulis, dia berdiri tepat di depan photo Herman dan Jack serta Peter. Dia melihat pisau belatinya menancap di photo Peter.
Gavlin lantas tersenyum sinis memandangi photo Peter yang tertancap pisau belatinya.
__ADS_1
"Peter, target pertama yang harus ku bunuh!" Gumam Gavlin, tersenyum sinis.
Gavlin lantas melepaskan pisau belati yang menancap di photo Peter, Photo Peter bolong di bagian wajah Peter, karena tertancap pisau belati.
Gavlin menyimpan pisau belatinya ke dalam sarung pisau yang ada di pinggangnya. Dia lantas beranjak keluar dari dalam ruang kamar itu.
Gavlin lantas masuk ke dalam kamar khusus menyimpan senjata senjatanya, seperti biasanya, dia pun memasukkan senjata senjata yang di butuhkannya ke dalam tas ransel besar dan panjang.
Gavlin bersiap siap untuk kembali beraksi, memburu dan membantai Peter, yang menjadi target awalnya, yang di pilihnya secara acak tadi.
---
Edo masuk ke dalam ruang kerja Andre, wajahnya tampak tegang dan ada kekhawatiran yang berlebihan juga pada dirinya. Andre heran melihat Edo yang seperti orang kebingungan dan cemas itu.
"Kenapa kamu?" tanya Andre heran.
"Gawat, Pak. Sepertinya kasus Herman suatu konspirasi besar. Banyak orang orang penting yang terlibat di dalam permainan kotor Herman, dan mereka semua terlibat dalam kasus pencucian uang, money laundry, serta bisnis fiktif Pak. " ujar Edo, dengan wajah tegang dan serius.
"Yang benar kamu?" ujar Andre, terhenyak kaget.
"Ini bukti bukti yang kami temukan saat menyelidiki lebih dalam lagi, dari mana berasal semua keuangan perusahaan milik Bramantio dan Jafar, Wijaya, juga Herman dan yang lainnya." ujar Edo, menjelaskan.
"Di dalam berkas itu, ada nama nama para petinggi yang terlibat lainnya, dan kebanyakan mereka dari kalangan anggota dan pengurus partai yang paling kuat." ujar Edo menegaskan.
Andre lantas mengambil map berisi berkas berkas kasus Herman yang di letakkan Edo diatas meja kerjanya.
Andre terhenyak kaget, saat dia membaca berkas berkas tersebut. Saat dia membaca nama nama para pejabat penting yang terlibat, kedua mata Andre terbelalak lebar.
Andre syock dan sangat kaget, mengetahui sebuah nama, ada dalam daftar nama yang terlibat dalam tindak kejahatan pencucian uang Bramantio dan Herman.
"Bapak Presiden?!!" Ujar Andre terhenyak kaget.
"Gila !! Ternyata luas sekali jaringan konspirasi mereka, para pejabat itu semua bekerja sama menghancurkan negara ini demi kepentingan perut mereka !!" ujar Andre geram dan marah.
"Kita harus bagaimana sekarang , Pak?" tanya Edo cemas.
"Maju terus, sekali melangkah ke depan, saya gak akan mundur selangkahpun !!" tegas Andre.
"Jika kita berada dalam sarang ular, saya akan menjadi ular juga, agar bisa melawan mereka semua!" ujar Andre dengan wajah tegas dan seriusnya.
"Apa kita harus menyelidiki Presiden?" tanya Edo, cemas.
"Kenapa? Kamu takut?!" tanya Andre menatap tajam wajah Edo.
"I...iya, Pak. Saya khawatir, masalah ini membesar, dan melibatkan negara pada akhirnya." ujar Edo.
"Memang sudah resikonya. Kita harus mengungkap kejahatan ! Siapapun pelakunya harus mendapatkan hukuman yang setimpal!! Itu aturan mainnya !! Sebagai Polisi, kita gak bisa membiarkan kejahatan terorganisir terus berjalan menggerogoti dan menghancurkan ekonomi negara ini!!" tegas Andre.
"Aku akan menemui Samuel di kejaksaan, dan kamu, ajak Masto, Temui Kepala Intelijen, laporkan penemuan kamu ini!!" Ujar Andre, memberì perintah pada Edo.
"Baik, Pak. Akan saya beri tahu Masto." ujar Edo.
"Oh, ya, dari mana kalian bisa mendapatkan bukti akurat sebanyak ini? Hingga membongkar konspirasi besar?" tanya Andre, penasaran dan ingin tahu.
"Dari salah satu rekan saya yang bekerja di kantor kepresidenan, Pak. Diam diam, dia yang membocorkan rahasia itu." ujar Edo.
__ADS_1
"Kalo gitu, beri perlindungan sama rekanmu itu, jika sampai perbuatannya di ketahui, nyawanya dalam bahaya, dia harus keluar dari gedung kepresidenan secepatnya, sebelum orang orang disana menyadari perbuatannya yang memberi informasi kejahatan presiden." ujar Andre.
"Ya, Pak. Dia juga kerja di kantor kepresiden sengaja, untuk mencari tahu sepak terjang dan keburukan serta kejahatan presiden, sebab, dulu, Bapaknya sebagai ketua tim sukses presiden, di bunuh, karena tak setuju dengan kecurangan dan kejahatan pencucian uang serta korupsi besar besaran untuk kemenangan dia sebagai presiden." ujar Edo, menjelaskan.
"Oh, ya? Siapa nama Bapaknya yang jadi ketua tim sukses presiden dulu saat kampanye?" tanya Andre, ingin tahu.
"Syamsul Bahri." ujar Edo.
"Pak Bahri?!! Beliau terkenal sangat vocal menentang kejahatan korupsi, pantas saja dia gak sejalan dengan Presiden dan antek anteknya lalu di bunuh!" ujar Andre.
"Ya, Pak. Kematiannya misterius, Dokter hanya bilang, beliau mati terkena serangan jantung. Padahal, menurut anaknya yang sengaja kerja di kantor kepresidenan, bapaknya gak punya riwayat penyakit jantung." ujar Edo.
"Ya, itulah Politik, menghalalkan segala cara, demi kepentingan perutnya sendiri dan kelompoknya!" tegas Andre sinis.
"Ya, sudah, cepat kamu lakukan yang tadi saya suruh." ujar Andre.
"Baik, Pak. Saya permisi." ujar Edo, memberi hormat.
"Ya." Jawab Andre.
Lalu, Edo pun bergegas pergi keluar dari dalam ruang kantor Andre, Andre menarik nafasnya dalam dalam, dia menatap berkas berkas yang diberikan Edo, dia memegang kepalanya.
"Semakin rumit saja kasus ini ternyata, pantas, dari belasan tahun lalu hingga sekarang, Gatot gak bisa mengungkap kejahatan Herman dan komplotannya, karena ternyata mereka terorganisir dengan baik." ujar Andre berfikir.
Dia lantas menutup map berisi berkas berkas yang ada di atas meja kerjanya, lalu, dia mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya. Andre lantas menelpon Samuel.
"Hallo, kamu dimana Sam?" tanya Andre, dengan wajah serius, di telepon.
"Aku lagi mau rapat, membahas langkah langkah untuk memulai membuka persidangan kasus Herman dan komplotannya." ujar Samuel, dari seberang telepon.
"Oh, kira kira, hari ini, jam berapa aku bisa bertemu kamu?!" tanya Andre serius, di teleponnya.
"Mungkin sore selepas ashar." jawab Samuel, dari seberang telepon.
"Ada apa Andre? Sepertinya kamu sangat serius." ujar Samuel,dari seberang telepon.
"Ya, ada berita besar yang mau aku sampaikan padamu, dan ini semua berhubungan dengan kasus Herman dan komplotannya!" tegas Andre, di teleponnya.
"Oh, ya? Kalo sangat penting, aku bisa membatalkan rapatku!" ujar Samuel, dari seberang telepon.
"Jangan, lanjutkan saja rapat kalian, karena itu juga penting! Nanti sore saja kita bertemu jam 4 di cafe seruni." ujar Andre, diteleponnya.
"Ok, Nanti sore aku pasti datang tepat waktu." ujar Samuel, dari seberang telepon.
"Siap, sampai ketemu nanti." ujar Andre.
Lalu, Andre pun menutup teleponnya, lalu, dia menyimpan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya.
Andre berdiri dari duduknya di kursi meja kerjanya, dia merapikan map berisi berkas berkas kasus kejahatan Herman.
Lalu, Andre bergegas pergi keluar dari dalam ruang kerjanya sambil membawa map berisi berkas kasus kejahatan Herman dan komplotannya.
Andre berjalan cepat menyusuri lorong koridor gedung kantor kepolisian, setiap dia berpapasan dengan para karyawan kepolisian, karyawan karyawan dan petugas kepolisian memberi hormat padanya.
Andre berjalan cepat keluar dari dalam gedung kantor kepolisian, wajahnya terlihat tegang, dia melangkahkan kakinya dengan cepat, berjalan menuju mobilnya yang ada di parkiran halaman gedung kantor kepolisian.
__ADS_1
Andre tiba di dekat mobilnya, dengan cepat dia membuka pintu lalu masuk kedalam mobilnya, Dia duduk di jok depan belakang stir mobil, lalu, di masukkannya map berisi berkas kasus kedalam dashboard mobil, lalu, dia memakai sabuk pengaman, dan menyalakan mesin mobilnya.
Sesaat kemudian, Andre pun lantas menjalankan mobilnya, dia pergi meninggalkan gedung kantor kepolisian dengan wajah tegang, memikirkan kasusnya yang semakin berat.