
Andre bertemu dengan seorang Jaksa Penuntut, Jack dari balik tembok mengintip, dia melihat Jaksa Penuntut berjabat tangan erat dengan Andre, dan di tangannya, dia memegang sebuah map. Jack curiga, bahwa map itu berisi tentang kasus kejahatan dia dan Herman serta Peter, Andre sengaja memberikannya pada Jaksa tersebut, agar kasus segera naik ke meja pengadilan.
Jack tampak geram, dia terus mengamati Andre dan Jaksa Penuntut yang terlibat pembicaraan serius.
Lantas, Jack melihat, Andre pergi meninggalkan Jaksa Penuntut, Andre berjalan ke arah lain.
Jack bergegas keluar dari persembunyiannya di balik tembok, lantas dia segera menghampiri Jaksa Penuntut yang hendak pergi menuju ruang kerjanya.
"Apa yang kamu bicarakan dengan komisaris Andre, Samuel?" tanya Jack.
Nama Jaksa Penuntut tersebut 'Samuel' , Samuel menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan tersenyum pada Jack yang berdiri dihadapannya.
"Oh, Andre tadi ngundang saya, ke pesta ulang tahun anaknya." jelas Samuel , berbohong.
"Oh, ya? Sepertinya ada yang lain kalian bicarakan saya perhatikan tadi?" ujar Jack.
"Bapak perhatikan kami dari mana?" tanya Samuel, menyelidiki Jack yang salah ucap.
"Ah, bukan apa apa. Permisi." ujar Jack.
Dia langsung pergi untuk menutupi kegugupannya karena salah ucap mengatakan dia memperhatikan mereka bicara. Samuel tersenyum sinis memandang kepergian Jack.
Dia tahu, Jack ingin mengorek informasi dari dirinya, untuk itu dia menghindar dan berbohong, dia tak ingin Jack tahu, kalau yang dia bahas bersama Andre tadi mengenai kejahatan Herman dan komplotannya.
Samuel, sang Jaksa Penuntut, sahabat baik Andre lalu berjalan menuju ruang kerjanya sambil membawa map berisi berkas kasus kejahatan Herman dan komplotannya.
Jack berjalan keluar dari dalam gedung kantor kejaksaan agung, wajahnya tampak geram, ada juga kecemasan dalam dirinya.
Dia cemas, Samuel dan Andre akan menyelidiki dan membuka kasus kejahatan mereka lagi.
"Aku harus cepat cepat bertemu dengan Herman dan Peter!" Gumam Jack, sambil berjalan cepat menuju ke mobilnya yang ada di halaman parkir gedung kejaksaan agung.
Jack tidak menyadari, jika Gavlin sedang mengintai dirinya. Dari belakang sebuah mobil, Gavlin mengintai dan mengawasi Jack yang berjalan menuju ke mobilnya.
Saat ini Gavlin menyamar, dia merubah dirinya dengan menjadi pemuda gemuk dan kutu buku, dengan memakai rambut wig ikal berwarna coklat.
Jack masuk ke dalam mobilnya, lalu, Gavlin yang menyamar dan mengawasi Jack juga bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Gavlin menyalakan mesin mobil, dia menunggu mobil Jack keluar dari parkirannya. Beberapa saat kemudian, mobil Jack melintas melewati mobil Gavlin yang menyamar sebagai pemuda gemuk, Gavlin pun lantas segera menjalani mobilnya, dia mengikuti Jack.
Gavlin ingin tahu, kemana Jack pergi. Dia sengaja mengintai dan mengawasi Jack, agar dia tahu, apa saja yang di lakukan Jack, dan kemana saja dia pergi setiap harinya, agar Gavlin bisa membaca situasi, dan menentukan, kapan dan dimana saat yang tepat menghabisi Jack nantinya.
Mobil Jack melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya, di belakangnya, sedikit jauh dari mobil Jack, karena menjaga jarak agar tak diketahui Jack kalau dia mengikuti, mobil Gavlin melesat, dan terus mengikuti mobil Jack.
Tampak wajah Jack tegang, cemas dan geram, dia tampak gelisah menyetir mobilnya, Jack tegang karena dia melihat Andre sudah bergerak cepat untuk membuka kembali kasus mereka, Jack sadar ternyata Andre tak main main mengancam, dia membuktikannya, dengan bergerak cepat menemui Jaksa Penuntut untuk menyelidiki dan membawa kasus mereka ke pengadilan tinggi.
"Mau kemana kamu sebenarnya Jack?" Gumam Gavlin, sambil menyetir mobilnya.
Dari dalam mobilnya yang masih mengikuti mobil Jack, Gavlin menatap tajam ke depan, dia berfikir, apa yang akan di lakukan Jack, dan mau kemana dia? Gavlin penasaran, dia ingin tahu.
__ADS_1
Gavlin menambah sedikit kecepatan mobilnya, agar dia tak kehilangan mobil Jack yang melaju cepat di depannya. Gavlin terus mengikuti dengan tetap menjaga jarak dengan mobil Jack.
Mobil Jack berbelok dan masuk ke halaman sebuah restoran mewah, Gavlin yang mengikuti tersenyum sinis melihat mobil Jack masuk ke restoran mewah.
"Sepertinya ada pertemuan di restoran ini antara Jack dan komplotannya, baiklah. Akan aku selidiki kalian!" Gumam Gavlin tersenyum sinis.
Mobil Gavlin masuk ke halaman restoran mewah, dari dalam mobilnya, dia melihat mobil Jack masuk ke halaman parkir restoran, Gavlin pun bergegas mengendarai mobilnya masuk ke halaman parkir. Dia lantas memarkirkan mobilnya, tepat di samping mobil Jack.
Jack keluar dari dalam mobilnya, tanpa melihat ke mobil Gavlin, Jack bergegas jalan dengan langkah tergesa gesa menuju restoran mewah. Gavlin lantas keluar dari dalam mobilnya.
Gavlin yang menyamar sebagai pemuda gemuk berambut ikal, lalu segera berjalan ke arah restoran mengikuti Jack.
Jack masuk ke dalam restoran, dia terus berjalan masuk ke dalam ruangan, Gavlin yang juga masuk ke dalam restoran melihat Jack berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan, Gavlin pun lantas mengikutinya.
Gavlin bersembunyi di balik dinding pembatas ruangan, dia mengintip dan melihat, Jack masuk kedalam sebuah ruangan.
Gavlin dengan langkah kaki pelan mendekati ruangan yang baru saja dimasuki Jack, Gavlin berdiri di samping pintu masuk, dia mencoba menguping, untuk mendengarkan pembicaraan Jack di dalam ruangan, namun, dia tak mendengar apapun juga.
"Sial, aku gak tau, siapa yang ditemui Jack di dalam ruangan ini, dan apa yang mereka bicarakan!" Gumam Gavlin geram.
Dia diam sesaat, berdiri di samping pintu masuk ruang makan kelas mewah yang ada di dalam restoran mewah tersebut.
Gavlin melihat seorang pelayan berjalan ke arahnya sambil mendorong kereta makanan, Gavlin pun lantas menemukan ide. Dia tersenyum sinis, melihat pada Pelayan.
Gavlin berjalan cepat menghampiri Pelayan yang mendorong kereta makanan, dia menghentikan pelayan.
"Makanan untuk tamu di ruang VVIP itukah?" tanya Gavlin, sambil menatap wajah Pelayan.
"Saya penjaga keamanan tamu yang ada di dalam ruang VVIP itu." ujar Gavlin, berbohong pada pelayan restoran.
"Oh, begitu." jawab Pelayan.
Pelayan hendak bertanya lagi, tapi Gavlin dengan cepat menyergapnya, dia mencengkram leher Pelayan, lalu, di patahkannya leher sj pelayan.
Gavlin lantas menyeret Pelayan dan membawanya masuk ke dalam ruangan yang ada di sebelah ruangan dimana Jack masuk tadi.
Lalu Gavlin bergegas keluar dari ruangan, dan menarik kereta makanan, di bawanya masuk kedalam ruangan kereta makanan tersebut.
Di dalam ruangan makan, Gavlin cepat melepaskan pakaian si pelayan, lalu, dia mengganti bajunya, dam memakai baju pelayan.
Gavlin yang menyamar menjadi pemuda gemuk berambut ikal lalu berpakaian pelayan restoran. Gavlin berpura pura menjadi pelayan.
Gavlin mengeluarkan sebuah chips mikrophone mini dari dalam tas pinggangnya, dia lantas meletakkan chips mikrophone di bawah mangkok besar berisi sayuran yang ada di meja kereta makan itu.
Lalu, Gavlin membuka pintu ruangan, dan dia keluar ruangan sambil mendorong kereta makanan, Gavlin berjalan santai berpura pura sebagai pelayan restoran yang mengantarkan makanan pesanan Jack dan rekannya yang ada di dalam ruangan VVIP tersebut.
Gavlin berhenti di depan pintu ruangan, dia mengetuk pintu, tak berapa lama, pintu ruangan terbuka, Gavlin lantas masuk ke dalam ruangan tersebut sambil mendorong kereta makanannya.
Di dalam ruangan, dia melihat Herman dan Peter duduk di kursi masing masing bersama Jack. Gavlin akhirnya tahu, siapa yang ditemui Jack dalam restoran tersebut.
__ADS_1
Gavlin yang menyamar dan berpura pura sebagai pelayan lalu meletakkan makanan makanan di atas meja, dia menatanya dengan rapi.
Peter memperhatikan wajah Gavlin yang menyamar dan sedang menata makanan di atas meja makan mereka.
"Saya baru lihat kamu di restoran ini, sejak kapan kamu kerja jadi pelayan di restoran ini?" tanya Peter curiga.
Gavlin sempat kaget mendengar pertanyaan Peter, namun Gavlin cepat menguasai dirinya dan bersikap tenang.
"Saya baru dua hari kerja di sini, Pak." jawab Gavlin.
"Oh, pantas, saya gak pernah liat kamu sebelumnya. Kami ini pelanggan khusus di restoran ini, dan kami kenal semua dengan pegawai restoran ini!" tegas Peter menjelaskan.
"Iya, Pak, saya paham." ujar Gavlin.
"Silahkan di nikmati makanannya, Pak. Saya permisi." ujar Gavlin.
Lantas dia segera pergi keluar membawa kereta makanannya yang sudah kosong dan tak ada lagi makanan yang tersisa.
Di luar ruangan, Gavlin berdiri sejenak di samping pintu masuk ruangan, dia tampak menarik nafasnya, dia terlihat lega, karena penyamarannya tak diketahui Peter.
"Peter curiga, hampir saja aku ketauan, ternyata sebagai Polisi, jeli juga pandangan dan ingatan si Peter." ujar Gavlin, tersenyum sinis.
Lalu, Gavlin bergegas pergi, sambil mendorong kereta makannya yang sudah kosong, dia berjalan cepat, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di samping ruangan makan VVIP tempat Jack berkumpul bersama Herman dan Peter.
Gavlin masuk kedalam ruangan, dia lantas menutup dan mengunci pintu kamar, dia lantas duduk di sebuah kursi yang ada di meja makan dalam ruangan tersebut.
Gavlin mengambil alat pendengar dari dalam tas pinggangnya, lalu, dengan alat itu, dia mencuri dengar semua pembicaraan yang sedang di lakukan Jack bersama Peter di dalam ruangan yang ada disamping ruangannya.
Sementara, Pelayan yang asli sudah terbujur kaku dan mati dengan kondisi lehernya patah, dia hanya memakai dalaman saja, sebab, seluruh pakaiannya di lucuti dan di pakai Gavlin.
"Seperti dugaanku, Andre benar benar bergerak cepat !" ujar Jack.
"Maksudmu?!" tanya Herman, dengan nada heran.
"Aku tadi melihat jelas, Andre menemui Samuel, Jaksa penuntut, dia menyerahkan sebuah file , dan aku yakin, file itu berisi berkas kasus kita !" jelas Jack dengan serius.
"Jadi, Andre bekerja sama dengan Samuel, Jaksa Penuntut, untuk membuka kasus kejahatan kita?!" ujar Peter.
"Sepertinya begitu." ujar Jack.
"Kurang ajar Andre !! Ternyata dia bukan sekedar mengancam kita!!" ujar Herman geram.
"Aku masih heran, darimana Andre mendapatkan bukti bukti dan berkas berkas kasus kejahatan kita!?" ujar Peter, dengan wajah heran.
"Entahlah, kita harus menyelidiki, siapa orang yang membantu Andre, dan memberikan bukti bukti kejahatan kita, sehingga dia berusaha untuk mengungkap kejahatan kita!" tegas Herman geram.
Jack dan Peter terdiam, mereka tampak berfikir keras tentang Andre yang telah mendapatkan bukti bukti dan berkas kasus kejahatan mereka.
Sementara, di dalam ruangan, disamping ruangan Herman dan komplotannya, Gavlin duduk di kursinya mendengarkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Dengan sangat jelas sekali, Gavlin mendengar semua pembicaraan mereka. Dan setiap pembicaraan Jack, Herman dan Peter yang di dengarnya melalui chip mikrophone mini yang diletakkannya di bawah mangkuk sayur, Gavlin merekamnya.
Dan Herman juga Peter serta Jack tidak menyadari, jika mereka sedang di intai Gavlin, dan mereka juga tak tahu, jika ada mikrophone kecil di dalam ruangan tersebut.