
Gavlin masuk ke dalam rumahnya yang terlihat bagus, luas dan mewah itu, dia bergegas menuju kamar dengan menenteng senjata bom roket di tangannya.
Dengan wajah kesal dan marah, karena gagal membunuh Bramantio, dia membuka pintu kamar, lalu masuk ke dalam kamar.
Gavlin lantas berjalan menuju sebuah lemari besar dan panjang, yang ada di dalam kamar yang juga cukup luas itu.
Saat lemari terbuka, nampaklah di dalamnya, begitu banyaknya bermacam macam jenis senjata senjata tergantung, lengkap dengan pelurunya.
Selain senjata senjata laras panjang dan pistol, ada juga senjata senjata tajam, Gavlin menyimpan senjata bom roket di dalam lemari tersebut.
Gavlin lantas menutup pintu lemari tersebut. Ya. Kamar yang luas ini sengaja di gunakan Gavlin untuk menyimpan segala macam senjata miliknya, yang akan dia gunakan untuk membalas dendam pada musuh musuhnya.
Gavlin lantas mengambil ponsel dari kantong celananya, dia kemudian segera menelpon Teguh.
"Hallo? Gimana hasilnya, bang Bro?" tanya Gavlin, bicara di telepon.
"Sorry, Yan. Aku dan Tim gagal nangkap Ronald, dia gak ada di kamar hotelnya saat aku dan tim datang menyergap kamarnya!" Jelas Teguh, dari seberang telepon.
Mendengar penjelasan Teguh, wajah Gavlin pun menahan amarahnya, dia tampak geram, karena Ronald juga berhasil melarikan diri.
"Ok, Bang Bro. Serahkan padaku, biar aku yang memburu Ronald!" tegas Gavlin, di telepon.
"Kita sama sama kejar Ronald, Yan! Aku dan tim, mengejarnya sesuai dengan cara kami sebagai polisi, dan kamu, mengejar Ronald dengan caramu sendiri!" Ujar Teguh, dari seberang telepon.
"Gak masalah, jika Ronald berhasil kamu ringkus dan bunuh, Yan!" Tegas Teguh, dari seberang telepon.
"Ok, bang Bro." ujar Gavlin, di telepon.
"Oh, ya Yan! Aku baru dapat kabar dari kantorku, rumah Bramantio katanya hancur, meledak dan terbakar!" Ujar Teguh, dari seberang telepon.
Mendengar perkataan Teguh, Gavlin pun tersenyum kecut.
"Apa kamu ada hubungannya, Yan?!" tanya Teguh, dari seberang telepon.
"Ya. Aku yang meledakkan rumahnya, tapi Bram lolos, dia berhasil melarikan diri!" Tegas Gavlin, di telepon.
"Oh, Ok. Aku sekarang mau ke lokasi rumah Bramantio bersama tim." ujar Teguh, dari seberang telepon.
"Ya." jawab Gavlin singkat, di telepon.
Gavlin lantas mengakhiri bicaranya dengan Teguh di telepon, dia menutupnya, lalu, Gavlin segera menyimpan ponsel di kantong celananya.
"Bram, Ronald, Jafar! Kalian gak akan lolos dariku!!" Teriak Gavlin marah.
Gavlin tampak geram dan sangat marah sekali, karena musuh musuhnya berhasil lolos dari buruannya.
---
Bramantio tampak duduk di ruang tamu di sebuah rumah besar dengan bangunan klasik, dia datang kerumah itu malam malam, sebab, rumahnya sudah hancur berkeping keping.
Duduk santai di sofa, Sutoyo, dia menatap tajam wajah Bramantio yang tampak panik dan ketakutan itu.
"Aku gak tau lagi, dimana aku harus bersembunyi." ujar Bramantio lirih.
"Aku izinkan kamu hanya malam ini saja di rumahku!! Selanjutnya, besok, kamu harus pergi." ujar Sutoyo tegas.
Sutoyo ini adalah Kepala kepolisian, yang menjadi pimpinan Gatot dan juga Teguh. Dia lah orangnya yang selama ini ada di belakang Bramantio.
Sejak muda mereka sudah berteman baik, segala macam sepak terjang kejahatan Bramantio, Sutoyo lah yang melindunginya.
Sutoyo juga terlibat dalam kasus pembakaran rumah Gavlin dulu, serta, dia juga terlibat langsung dengan kasus fitnah yang menjebak Bapak Gavlin sebagai pembunuh dan pemerkosa.
Sutoyo jugalah orang yang di minta Bramantio dulu, untuk membebaskan Jafar, dari segala macam tuduhan membunuh sekretaris dan pacarnya dulu.
Sutoyo dan Bramantio benar benar sangat dekat, sudah sangat banyak sekali Sutoyo menikmati uang haram dari Bramantio, sehingga, sebagai kepala kepolisian, dia mempunyai harta kekayaan yang begitu berlimpah, rumahnya pun sangat luas dan mewah.
Karena hal itulah, Bramantio datang ke rumah Sutoyo, untuk meminta perlindungan langsung padanya.
Sebab, Bramantio berfikir, hanya Sutoyo yang dapat menyelamatkan nyawanya, dari buruan Gavlin yang sedang mengincar dirinya.
"Hotelku meledak, sekarang rumahku, aku gak tau, besok, apakah perusahaan perusahaanku juga di ledakkan anaknya Sanusi?!!" Hardik Bramantio marah.
"Anak Sanusi? Apa maksudmu?!" Tanya Sutoyo, dengan wajah serius.
Sutoyo kaget, karena Bramantio menyebut nama 'Sanusi', Bapak kandung Gavlin yang mereka fitnah dulu.
"Ya, anak Sanusi, yang bernama Yanto ternyata masih hidup, dulu, dia gak mati terbakar di dalam rumahnya!" tegas Bramantio.
"Sekarang, dia mau menuntut balas, dia, tau, aku salah satu pelakunya, makanya dia mengejarku, dan mau membunuhku!" hardik Bramantio marah.
"Darimana kamu tau?!" Tanya Sutoyo, heran.
"Dia ternyata berani mendekatiku dengan sengaja, selama ini, aku di bodohinya!" Tegas Bramantio penuh amarah.
"Apa maksudmu?!" Tanya Sutoyo, semakin tak mengerti dengan perkataan Bramantio.
__ADS_1
"Dia ternyata Seniman terkenal pembuat patung lilin!" Ungkap Bramantio, dengan wajah penuh amarah.
"Oh, ya?! Kenapa kamu baru cerita sekarang sama aku?!" ujar Sutoyo kaget.
"Aku pikir saat itu, buat apa kamu tau." Jelas Bramantio.
"Karena aku mengagumi karyanya, aku suruh dia buatkan patung lilin untuk hotelku !" lanjut Bramantio, menjelaskan.
"Dan ternyata, dia menanam bom di dalam patung lilin, lalu meledakkan hotelmu !" Tegas Sutoyo.
"Ya, begitulah." ujar Bramantio geram.
"Aku tau kasus itu dari laporan anak buahku di kepolisian." ujar Sutoyo, dengan wajah serius.
"Aku yakin, yang meledakkan rumahku, pasti Yanto, anaknya Sanusi!" ujar Bramantio marah.
Sutoyo diam, dia tampak berfikir, mendengarkan perkataan Bramantio tentang Yanto tersebut.
"Aku yakin, bukan hanya aku, dan juga Wijaya yang jadi target Yanto, tapi kamu pasti juga jadi targetnya, Sutoyo!" ujar Bramantio marah.
"Kenapa aku jadi target balas dendamnya? Selama ini, gak ada yang tau, kalo aku membantumu." ujar Sutoyo, cuek dan santai.
"Ya, aku cuma ingatkan kamu aja, jangan lengah, berhati hatilah. Siapa tau aja, Yanto mendapatkan informasi, siapa yang ada dibelakangku, yang membantu bisnis haramku selama ini." tegas Bramantio.
"Kalo dia datangi aku, artinya dia bunuh diri! Dia gak akan bisa berbuat apapun sama kepala kepolisian!" ujar Sutoyo, angkuh.
Bramantio terdiam, dia meringis, tiba tiba dia merasakan nyeri di bagian perutnya, akibat banyak terkena tendangan Jafar.
---
Gavlin baru saja sampai di rumah sakit, untuk menemani Maya menjaga Ayahnya yang masih koma. Gavlin berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Maya duduk di bangku tunggu, dengan wajah yang sedih. Di kejauhan, tampak Gavlin berjalan tergesa gesa ke arah Maya.
Maya melihat Gavlin, wajahnya pun tampak senang, dia lalu berdiri, dan menyambut Gavlin. Gavlin mendekati Maya.
"Maaf, May, aku kemalaman datang." ujar Gavlin.
"Gak apa, Vlin." ujar Maya tersenyum senang.
"Bagaimana Ayahmu?!" tanya Gavlin.
"Masih belum ada perkembangan, Vlin. Suster ada di dalam ruangan, sedang mengganti air infus Ayah." Jelas Maya.
Gavlin lantas hendak duduk, namun, dia tidak jadi duduk, karena, bertepatan dengan Suster yang keluar dari dalam kamar ruang ICU.
"Ayah mbak, sudah siuman dari koma tadi, saya sekarang mau memberi tahu Dokter jaga, untuk memeriksa kondisinya." ujar Suster, memberi tahu Maya.
Mendengar Ayahnya sudah sadar, wajah Maya pun berubah senang, dia pun menangis bahagia.
"Ayah sadar, Sus?!" ujar Maya, menangis, penuh kebahagiaan.
"Iya.Saya lihat sendiri, makanya, saya buru buru keluar." Jelas Suster.
"Tapi, mbak belum boleh liat Ayahnya dulu, ya. Biar Dokter memeriksa kondisinya dulu. Jika sudah di bolehkan Dokter, baru mbak bisa menemuinya." Ujar Suster menjelaskan.
"Baik, Sus." ujar Maya tersenyum senang.
"Saya permisi." ujar Suster, pamit.
"Iya, Sus." Jawab Maya.
Suster lantas segera pergi meninggalkan Maya, Maya pun menghapus air mata bahagianya, Gavlin merangkulnya.
"Ayah udah sadar, Vlin, aku lega, Ayah udah gak koma lagi." ujar Maya, menangis bahagia, dalam pelukan Gavlin.
"Ya, May. Mudah mudahan, ini langkah awal, untuk Ayahmu kembali sehat seperti semula." Jelas Gavlin, penuh kasih sayang.
"Iya, Vlin." ujar Maya.
Maya kembali menghapus air mata bahagianya, tampak wajahnya begitu senang dan bahagia, hatinya lega, karena, Ayahnya akhirnya bangun dan sadar dari komanya.
Gavlin memeluk Maya, memberikannya kehangatan, pelukan Gavlin penuh kasih sayang pada Maya.
---
Di halaman rumah Bramantio yang meledak, dan sudah hancur berkeping keping akibat terkena dua bom roket yang di tembakkan Gavlin, tampak Teguh bersama tim kepolisian sedang menyelidiki penyebab terjadinya ledakan.
Tim penjinak bom masuk ke dalam reruntuhan rumah Bramantio, untuk memeriksa dan mencari sisa sisa bom, di dalam rumah.
Dari dalam rumah, seorang petugas polisi berlari lari, mendekati Teguh, yang berdiri di tengah halaman rumah Bramantio.
"Lapor, Pak. Tidak ada korban yang di temukan di dalam rumah." Lapor Petugas Kepolisian.
"Ok." Jawab Teguh singkat.
__ADS_1
Lantas, petugas kepolisian pun pergi meninggalkan Teguh. Teguh melihat, tim Forensik berjongkok di pojokan halaman rumah, dekat pohon besar yang ada di halaman rumah Bramantio.
Dia melihat, tim Forensik tengah mengambil sesuatu dan menyimpannya ke dalam kantong plastik kecil khusus untuk barang bukti.
Teguh lalu berjalan mendekati tim Forensik yang tengah serius mencari bukti bukti lainnya di tanah.
"Apa yang kalian temukan?" tanya Teguh, pada Petugas Forensik.
"Kami menemukan, ada ceceran darah, disekitar sini." Jelas salah satu Petugas Forensik.
"Pak Teguh !" Panggil seorang petugas Polisi.
Teguh berbalik badan, melihat ke arah Petugas Polisi yang memanggilnya, dia melihat, Petugas Polisi berdiri di depan pohon besar. Teguh pun mendekatinya.
"Ada apa?" Tanya Teguh, penasaran.
"Ini, Pak. Saya menemukan tali tambang, bekas sobekan pakaian dan darah yang ada di tanah, serta potongan besi tajam mirip tombak." Jelas Petugas Polisi.
"Bagus, jadikan barang bukti, selidiki, temukan sidik jari dari potongan besi tersebut!" Perintah Teguh.
"Siap, Pak!" hormat Petugas Polisi.
Petugas Polisi lantas mengamankan semua barang bukti, yang dia temukan di sekitar pohon.
Teguh berdiri dan diam, dia tampak berfikir keras, dia tahu, Gavlin yang menghancurkan rumah Bramantio, tapi, dia tidak tahu, bagaimana cara Gavlin meledakkan rumah Bramantio.
Teguh memandangi reruntuhan rumah Bramantio yang sudah hancur berkeping keping itu, dia lalu berjalan ke arah rumah tersebut.
Saat dia masuk ke teras rumah yang sudah hancur itu, tim penjinak bom keluar dari dalam rumah. Di tangan salah seorang petugas penjinak bom, memegang puing, bom roket.
"Bagaimana hasilnya?!" Tanya Teguh, penasaran.
"Kami menemukan sisa puing bom roket ini." Jelas seorang Petugas Penjinak bom.
Dia menunjukkan puing sisa pecahan bom roket yang sudah di amankannya dengan memasukkannya di dalam kantong plastik khusus. Teguh terdiam.
"Saya yakin, Pelaku meledakkan rumah ini, dengan menggunakan senjata bom roket!" Tegas Petugas Penjinak Bom.
"Oke, Kerja yang bagus!" Ujar Teguh, memberikan pujian.
Lalu, Tim Petugas Penjinak bom pun meninggalkan Teguh, Teguh berdiri terdiam, dia kemudian berfikir.
"Dari mana kamu menembakkan senjata bom roket itu, Yan? Sehingga tepat sasaran, dan rumah Bramantio hancur berkeping keping, gak bersisa begini." Ujar Bathin Teguh bicara.
Mata Teguh menyusuri seluruh area pekarangan rumah Bramantio, dia tengah mencari sesuatu, yang tidak bisa di temukan timnya.
Lalu, pandangan Teguh tertuju pada sebuah pohon yang tinggi besar, pohon itu ada tepat di seberang jalan, depan rumah Bramantio.
Teguh berfikir sesaat, lalu, dia pun berjalan cepat, ke arah pohon besar yang ada di luar rumah Bramantio.
Teguh menyeberang jalan, lalu, dia mendekati pohon yang tinggi besar serta rindang itu, dia lalu berdiri tepat di depan pohon.
Teguh melihat ke arah atas pohon yang tinggi besar itu, lalu, dia menoleh ke arah rumah Bramantio. Teguh kemudian naik ke atas pohon tersebut.
Di atas pohon, Teguh melihat ke arah rumah Bramantio, lalu, dia berdiri diantara cabang batang pohon. Tangannya di arahkannya ke depan, seolah olah memegang senjata.
Dari atas pohon tempatnya dia berdiri saat ini, Teguh sedang memperagakan menembakkan senjata bom roket ke arah rumah Bramantio.
Sesaat kemudian, Teguh pun turun, dari atas pohon tersebut. Teguh pun akhirnya tahu, bahwa Yanto, menembakkan senjata bom roket dari atas pohon tersebut.
"Cerdik kamu, Yanto. Dengan begitu, Gak ada yang tahu aksimu." Ujar Teguh tersenyum senang.
Tiba tiba matanya melihat sebuah kalung emas tergeletak di atas tanah, dia segera memungutnya, Teguh perhatikan kalung emas tersebut.
"Ini milik Yanto!" tegas teguh.
Dia tahu, kalung emas itu milik Yanto, atau Gavlin, karena, ada nama Gavlin tertulis pada liontinnya.
Dengan cepat, Teguh pun menyimpan kalung emas tersebut di dalam kantong celananya, dia tak ingin, timnya menemukan kalung emas milik Gavlin, atau Yanto.
Karena ingin melindungi adiknya, Teguh pun terpaksa melenyapkan barang bukti yang dia temukan. Dia tak ingin, Gavlin, atau Yanto di tangkap timnya, karena mereka menemukan bukti kalung emas milik adiknya.
Dengan langkah kaki yang cepat, Teguh lantas bergegas masuk kembali ke halaman rumah Bramantio, tampak Tim Penjinak Bom, Tim Forensik, dan para petugas kepolisian bersiap siap hendak pergi.
"Sudah gak ada lagi yang ditemukan?!" Tanya Teguh, pada seorang petugas Forensik.
"Gak ada lagi." ujar Petugas Forensik.
"Kami akan segera meneliti semua barang bukti yang ditemukan, tunggu kabar dari kami." jelas Tim Forensik.
"Baik." Jawab Teguh.
Lalu, petugas forensik segera pergi meninggalkan Teguh, dia masuk ke dalam mobil tim forensik, lalu, mobil tersebut berjalan dan pergi, di susul oleh mobil tim penjinak bom.
Teguh pun lantas masuk ke dalam mobilnya, dia juga pergi dari rumah Bramantio, di ikuti mobil mobil para petugas kepolisian lainnya.
__ADS_1
Di sekitar rumah Bramantio yang sudah hancur berkeping keping itu, tampak garis pembatas kepolisian terpasang.
Sebagai tanda, bahwa lokasi tersebut dalam penyelidikan ke polisian, dan tidak ada seorangpun yang boleh memasuki area tersebut.