
Ronald masuk ke dalam ruang kantor markas Moses. Dia lantas menghampiri Moses yang tampak duduk dengan santainya di sofa sambil menikmati cerutu kubanya.
"Kamu benaran udah tau rumah si Gavlin itu?!" Tanya Ronald.
"Iya." Jawab Moses santai.
"Mana alamatnya, biar aku datangi anak itu!!" Ujar Ronald marah.
"Santai dulu kenapa. Tenang aja. Anak itu gak bakalan kemana mana." Ujar Moses cuek.
"Aku gak bisa santai sebelum aku memotong motong tubuh bedebah itu!" Bentak Ronald marah.
"Kamu ikut aku, antarkan aku ke rumahnya !" ujar Ronald pada Moses.
"Ok. Aku bawa anak buah gak?" Ujar Moses bertanya.
"Gak perlu, cuma ngadepin satu cecunguk kayak anak itu, ngapain bawa anggota, biar aku aja yang menghadapi bocah tengik itu!" Ujar Ronald geram.
"Okay." Angguk Moses.
Dia lantas mematikan cerutu kubanya, di letakkannya cerutu tersebut di atas asbak, lalu dia berdiri, dan mengikuti Ronald yang sudah berjalan keluar dari ruangannya.
Di rumah barunya, Gavlin tampak sedang berkemas kemas barang barangnya, dia menata dengan rapi semua barang barang yang di bawanya pindah.
Tak ada yang tahu, jika Gavlin pindah ke rumah barunya, Maya juga belum di kasih taunya alamat rumah barunya itu.
Tiba tiba, teleponnya berdering, dengan cepat, diambilnya ponsel dari dalam kantong celananya.
"Ya, bang Bro. Ada apa?" Ujar Gavlin bertanya di telepon.
"Kamu dimana sekarang?" Tanya Teguh dari seberang telepon.
"Di rumah baruku, habis pindahan, kenapa?" Tanya Gavlin di telepon.
"Oh, kirain masih dirumah lama. Soalnya aku dapat info, kalo Ronald udah tau rumahmu yang lama, aku yakin, dia pasti akan datang menemuimu!" ujar Teguh dari seberang telepon.
"Biar aja dia kesana, dia bakal nemui rumah kosong." Jawab Gavlin santai, di telepon.
"Yan. Setelah ini, apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Teguh dari seberang telepon.
"Rencananya aku juga mau nyerang Ronald, aku mau balas dendam sama dia, karena tempo hari, dia melukaiku!" tegas Gavlin di telepon.
"Sebaiknya jangan, buat Ronald lemah dan lengah dulu, jangan sekarang kamu lakukan balas dendammu sama Ronald!" Ujar Teguh dari seberang telepon.
"Kenapa?" Tanya Gavlin heran, di telepon.
"Soalnya, Gatot dan tim kepolisian, juga sedang memburu Ronald, mereka mau menangkap Ronald, jangan sampai, pas Gatot menyergap Ronald, kamu lagi bersama Ronald, kamu bisa di tangkap Gatot juga nanti."Ujar Teguh menjelaskan dari seberang telepon.
"Beres bang Bro. Tenang aja, aku akan hati hati. Gatot gak bakalan nangkap aku." Ujar Gavlin cuek.
"Kamu jangan nekat dan keras kepala Yan. Ikuti saja saranku! Kalo kamu bertindak gegabah terus, rahasiaku bisa kebongkar menjadi kaki tanganmu!" tegas Teguh dari seberang telepon.
Gavlin tak menjawab, dia malah menutup teleponnya. Lalu, dia menyimpan ponsel di kantong celananya.
Dengan cuek, Gavlin melanjutkan berbenah rumah barunya.
Gavlin tak perduli dengan perkataan Teguh yang mengkhawatirkan dirinya. Gavlin tidak mau, Teguh mengatur hidup dan menghalangi jalan yang sedang dia tempuh untuk membalas dendam.
Di ruang kerjanya, Teguh tampak kesal, karena Gavlin menutup teleponnya begitu saja. Gatot yang baru saja datang, heran melihat Teguh yang tampak kesal.
"Habis telpon siapa kamu? Kenapa kayak kesal gitu ?!" Tanya Gatot penasaran dan penuh curiga.
"Oh, itu, saudara saya telpon, mau minjam duit, Komandan, saya bilang gak ada, dia malah maksa dan marah marah ditelpon, langsung nutup telponnya!" ujar Teguh.
Dia berbohong pada Gatot, agar Gatot tak tahu, jika dia menelpon Gavlin.
"Oh, Tapi katamu, Saudara kamu di luar negri, gak ada yang tinggal di kota ini?" Ujar Gatot heran.
"Iya Komandan, yang telpon saudara saya dari luar negri, dia sedang ada di kota ini, liburan katanya sama teman temannya, terus kehabisan duit, minta ke saya." Ujar Teguh berbohong lagi.
"Oh, gitu. Ya sudah. Gimana perkembangan kasus peledakan hotel Hera itu?" Tanya Gatot dengan wajah serius.
"Selain sisa bom yang ditemukan, dan dugaan ada 10 bom yang di tanam dalam patung lilin raksasa, tidak di temukan bukti lainnya." ujar Teguh menjelaskan.
"Oh, baiklah. Kabari saya, jika tim Forensik menemukan bukti baru dari runtuhan hotel, dan juga runtuhan apartemen." Tegas Gatot.
"Siap Komandan!" Ujar Teguh.
Teguh lantas pergi meninggalkan Gatot sendirian, Gatot duduk di kursi meja kerjanya, di bukanya map berisi berkas kasus pengeboman hotel Hera milik Bramantio.
Dia berfikir, siapa pelakunya, apakah benar, pelakunya Yanto, seniman pembuat patung lilin yang saat ini menghilang.
__ADS_1
Hanya Yanto satu satunya yang bisa menjadi tersangka saat ini, sebab, bukti bukti mengarah pada dirinya.
Gatot menilai, Yanto yang telah membuat patung lilin raksasa untuk Bramantio, memiliki kesempatan emas, untuk memasang bom di dalam patung lilin, dan menyetel bom tersebut, agar sewaktu waktu, bisa dia ledakkan.
"Dimana kamu saat ini Yanto? Kenapa kamu menghilang?" Bathin Gatot bicara.
Gatot tampak berfikir keras, dia memikirkan dimana Yanto berada saat ini. Sejak meledaknya apartemen, dia belum juga menemukan batang hidung Yanto.
---
Mobil Moses berhenti tepat di depan rumah Gavlin lama, dengan wajah penuh amarah, Ronald pun cepat keluar dari dalam mobil. Dia mengambil pisau lipatnya dari kantong celananya.
Dengan memegang pisau lipat ditangannya, Ronald berjalan cepat masuk ke halaman rumah Gavlin. Moses mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di depan teras rumah Gavlin, Ronald langsung menendang keras pintu rumah lama Gavlin. Pintu pun terbuka dan rusak, karena di tendang Ronald.
Ronald langsung bergegas masuk ke dalam rumah dengan wajah emosi dan penuh amarah, Moses mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Keluaaar kaaamuuu setaaaan !!" Teriak Ronald marah di dalam rumah Gavlin.
Tak ada siapa siapa, rumah itu terlihat sepi dan kosong, Ronald heran, karena tak ada perabotan apapun di dalam ruangan.
Ronald lantas menoleh dan menatap tajam wajah Moses yang berdiri di sampingnya, Moses kaget, melihat keadaan rumah yang kosong tanpa ada perabotan di dalamnya.
"Ini benar rumahnya si Gavlin, bedebah itu?!" Bentak Ronald marah pada Moses.
"Yakin, Nald ! Aku gak salah, anak buahku jelas jelas mengikuti Gavlin bersama pacarnya ke rumah ini waktu itu!" Ujar Moses menjelaskan.
"Tapi kenapa rumahnya kosong begini? Gak ada manusia di dalam rumah ini?!! Hardik Ronald marah.
"Ya, aku gak tau, Nald ! Tapi beneran, ini rumah si Gavlin itu!!" Tegas Moses.
"Aaaachhh, persetan !!" Teriak Ronald marah dan kesal.
Moses lantas masuk ke dalam ruangan, dia ingin mencari Gavlin, dia berfikir, Gavlin bersembunyi di dalam rumahnya.
Saat masuk kamar, Moses kaget, karena kamar itu pun kosong, tak ada barang barang di dalam kamar tersebut, begitu juga di bagian belakang rumah tersebut, kosong melompong, tak ada satu pun barang barang yang tertinggal.
Rumah tersebut benar benar dalam keadaan kosong, Ronald tampak kesal dan marah, karena dia gagal bertemu Gavlin, dia pun lantas keluar dari dalam rumah Gavlin.
Moses berlari keluar rumah dan mengejar Ronald yang sudah berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di depan rumah Gavlin.
Saat Ronald dan Moses masuk ke dalam mobil, tidak jauh dari mobil mereka, datang mobil Gatot melaju ke arah mereka.
Saat mobil Gatot mendekat, mobil Moses pun berjalan, lalu pergi meninggalkan rumah Gavlin. Gatot menghentikan mobilnya di samping rumah Gavlin.
"Ronald dan Moses? Mau apa mereka dirumah Gavlin? Apa hubungan mereka dengan Gavlin?" Bathin Gatot berkata.
Gatot menghela nafasnya, lalu, dia pun keluar dari dalam mobilnya. Gatot lantas masuk ke halaman rumah Gavlin.
Setibanya dia di teras rumah Gavlin, dia kaget, karena pintu rumah Gavlin rusak dan terbuka.
"Ini pasti perbuatan Ronald dan Moses ! Apa mau mereka dengan si Gavlin?" Ujarnya, bicara sendiri.
Gatot lalu masuk ke dalam rumah Gavlin, dia kaget, karena rumah dalam keadaan kosong.
"Kemana si Gavlin? Kenapa rumahnya kosong begini?" Gumamnya.
"Apa Gavlin sengaja pindah, dan nyari persembunyian lain, karena tau, dia sedang di incar Ronald?" Gumamnya lagi.
"Tapi, apa masalahnya, dan apa hubungan si Gavlin dengan Ronald itu?" Ucapnya.
"Aku harus mencari tau, ada hubungan apa antara si Gavlin dan Ronald, mengapa Ronald datang kerumah Gavlin, dan seperti sedang mencari Gavlin." Ujarnya.
Gatot lantas menarik nafasnya dalam dalam, lalu dia pun berjalan keluar dari dalam rumah Gavlin. Gatot masuk kedalam mobilnya.
Sesaat kemudian, mobil Gatot pun berjalan, pergi meninggalkan rumah Gavlin yang dalam keadaan pintu terbuka dan rusak, serta kosong.
Di dalam mobil, sepanjang jalan, tampak Ronald sangat kesal dan marah. Moses yang menyetir, melirik Ronald yang duduk di jok depan, di sampingnya.
"Siaaal !! Lari kemana bocah tengik itu!!" Bentak Ronald marah.
"Kayaknya dia tau, kalo kamu sedang ngincar dia, Nald !" Ujar Moses sambil menyetir.
"Sebelum kamu berhasil menemukan tempat tinggalnya, dia udah pindah duluan, menghindar dan bersembunyi ketempat lain." Lanjut Moses menjelaskan.
"Aah, banyak bacot kamu!! Kamu bilang, anak buahmu ngikuti bedebah itu sampe kerumahnya, kenapa tau tau, rumahnya kosong?!" Bentak Ronald marah.
"Anak buahku ngikuti Gavlin sama pacarnya, tiga hari yang lalu, Nald. Bukan hari ini atau kemaren!" Tegas Moses sambil terus menyetir mobilnya.
"Aaah, sudahlah!! Sekarang, lebih baik kamu tugaskan lagi anak buahmu mencari si Gavlin itu !! Cepat temukan, di mana si bedebah itu sembunyi !!" Bentak Ronald dengan tegasnya.
__ADS_1
"Oke, Nald." Ujar Moses.
Moses lantas melanjutkan menyetir mobilnya, sementara Ronald diam, dan tampak sedang berfikir, tiba tiba, dia teringat sesuatu hal, dia pun lantas menoleh pada Moses yang menyetir.
"Ses. Kamu kan tadi bilang, anak buahmu ikuti si Gavlin sama pacarnya, berarti kamu tau dong, gimana wajah pacarnya si cecunguk itu?" Ujar Ronald kesal.
"Ada photonya si Nald, ntar deh, di markas aku kasih tau kamu photonya. Soalnya, photonya ada di kamera digitalku, dan kameranya aku tinggal di ruang kantorku." Ujar Moses.
"Okay !" Ujar Ronald .
Ronald lantas diam, Moses tetap menyetir mobilnya, wajah Ronald tampak menahan geram dan amarahnya pada Gavlin.
---
Gavlin memakai helmnya, lalu dia naik ke atas motor sportnya, dinyalakannya mesin motor, lalu, Gavlin pun bersiap siap pergi dari rumah barunya tersebut.
Rumah baru Gavlin tampak lebih besar dan lebih bagus dari rumah sebelumnya, sebab, rumah baru Gavlin bangunannya minimalis, berbeda dengan rumah sebelumnya, yang hanya rumah kampung biasa saja.
"Tunggu aku Bram, dan kamu juga Nald, aku akan datang membantai kalian!" Bathin Gavlim bicara.
Tatapan matanya tampak tajam dan menahan marah.
Sesaat kemudian, motor Gavlin pun sudah berjalan, motor tersebut dengan cepatnya melaju di jalanan.
---
Gatot memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, lalu dia segera keluar dari dalam mobilnya, kemudian, Gatot pun berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah, tampak Maya sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menikmati cemilannya.
"Tumben masih sore, Ayah udah pulang kerja, gak lembur?" Tanya Maya santai.
"Ayah mau istirahat sebentar dirumah, nenangi otak Ayah yang panas dan mendidih." Ujar Gatot.
Dia lantas duduk di sofa yang ada di samping Maya. Maya menggeser duduknya, dia pun menatap wajah Ayahnya yang tampak capek dan lelah itu.
"Kenapa, Yah? Pusing ya, mikirin kasus yang gak beres beres juga?" Ujar Maya nyengir.
"Iya. Salah satunya itu. Yang bikin tambah pusing Ayah si Gavlin!" Tegas Gatot.
"Loh, emangnya kenapa lagi sama Gavlin? Kenapa sih, setiap kali nyebut nama Gavlin, Ayah keliatan sewot dan marah gitu?" Ujar Maya heran.
"Karena Ayah kesal ! Dia keras kepala, gak mau dengar nasehat Ayah ! Tetap berkeras mempertahankan egonya!!" Ujar Gatot kesal.
Maya diam, dia tak mau meladeni ucapan Ayahnya, sebab, kalau dia membantah, maka, pertengkaran pun akan terjadi diantara mereka berdua.
Maya akhirnya cuek, dia tak mau ambil pusing dengan apa yang dikatakan Ayahnya tentang Gavlin.
"Oh, ya May. Kamu tau, kalo Gavlin udah pindah rumah?" Tanya Gatot.
"Pindah?!!" Ujar Maya.
Maya pura pura kaget, padahal, dia sudah tahu, kalau Gavlin pindah rumah sejak kemaren sore.
"Kamu gak tau, Gavlin pindah rumah?" Tanya Gatot ingin memastikan pada Maya.
"Nggak, Maya gak tau." ujar Maya berbohong.
Gatot pun menghela nafasnya dengan berat, dia lantas menatap lekat wajah Maya yang sedang berpura pura kaget .
"Ayah tadi gak sengaja liat, ada dua orang yang baru keluar dari rumah Gavlin, terus pergi. Ayah tau siapa orang itu." Ujar Gatot menjelaskan pada Maya.
"Oh, ya? Siapa orang itu?" Tanya Maya penasaran.
"Dia Ronald, pembunuh berdarah dingin yang kejam dan sadis, yang suka memutilasi korbannya." Ujar Gatot.
"Oh." Jawab Maya.
Dia santai dan tak kaget, karena sudah tahu sebelumnya tentang Ronald yang seorang pembunuh sadis.
"Ronald itu tersangka pengeboman apartemen Yanto." tegas Gatot.
"Oh, ya?!" Ujar Maya kaget.
"Iya. Tapi Ayah sengaja gak menangkapnya sekarang, karena, Ayah masih butuh bukti kuat lainnya buat menangkap Ronald." Ungkap Gatot.
"Ayah heran, apa hubungannya Ronald sama Gavlin, kenapa Ronald datang kerumah Gavlin." Ujarnya.
"Ayah liat, Ronald kayak sedang mencari Gavlin, soalnya, Ronald menghancurkan pintu rumah Gavlin." Lanjutnya.
"Ayah tau, Gavlin pindah, karena penasaran ingin tau, Ayah juga masuk kerumah Gavlin yang kosong." Ungkapnya.
__ADS_1
Maya terdiam, dia tahu, Ronald mencari Gavlin, sebab, dia lah yang sudah melukai Gavlin, seperti yang sudah di ceritakan Gavlin padanya.
Maya memilih diam dan tidak cerita ke Ayahnya, sebab, dia khawatir, jika Ayahnya tahu, Gavlin akan mendapatkan masalah, Ayahnya pasti akan mengejar dan mencecar Gavlin dengan sejuta pertanyaan.