VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Gavlin Menghabisi Sang Hakim


__ADS_3

Gavlin melirik pada Hakim yang sudah pergi keluar dari dalam ruang persidangan bersama kedua asisten hakimnya.


"Kamu tunggu aku di luar, ya. Ada yang mau aku bereskan dulu sebelumnya." ujar Gavlin, menatap lekat wajah Chandra yang masih menahan kecewa dan amarahnya.


"Ya." Angguk Chandra.


Lalu, Gavlin bergegas pergi meninggalkan Chandra, Chandra masih berdiri diam dan terpaku di tempatnya, ada sesuatu hal yang sedang dia pikirkan saat ini.


Chandra lalu memandangi seluruh ruang persidangan, tanpa di sadarinya, dia menangis dengan sedihnya.


"Maafkan aku Pah. Aku gagal membalas dendam, Samsudin dibebaskan dari hukumannya, maafkan aku, aku gak bisa membalaskan dendammu." ujar Chandra, menangis terisak isak.


Lintasan bayangan wajah Papahnya dimasa lalu muncul dalam benak ingatan Chandra saat ini, dia semakin sedih mengingat saat saat kematian Papahnya dulu.


Chandra lantas menarik nafasnya dalam dalam, dia lalu menghapus air matanya dan berusaha untuk menenangkan dirinya dari segala kekecewaan dan kesedihan hatinya.


Raut wajahnya masih menunjukkan amarah yang begitu besar, dia tampak geram sekali pada Samsudin, lalu, dia pun melangkahkan kakinya dengan cepat, Chandra keluar dari dalam ruang persidangan dengan membawa segala rasa kecewa dan kesedihannya.


Sementara itu, di ruang kejaksaan, kantor Samuel, tampak Andre menemui Samuel. Wajah keduanya tampak kesal dan marah sekali.


"Sial !! Ternyata Hakim itu orangnya Inside juga, aku gak nyangka! Aku kira, Hakim itu bersih !" ujar Samuel geram dan marah.


"Kita memang gak bisa apa apa, sepertinya benar kata Chandra, bahwa Inside sudah menguasai semua bidang di negara ini, dengan mudah, Inside akan membebaskan anggota anggotanya yang lain, sama seperti kasus Samsudin tadi." jelas Andre.


"Tidak, kalo kita lebih dulu meringkus dan menangkap Binsar, gembong dari semua kejahatan Inside!" ujar Samuel.


"Jika kita bisa memegang kepalanya, maka badan dan ekornya gak akan bisa bergerak dan menyerang, dan kita pastinya akan mudah menangkapi anggota Inside lainnya, setelah pimpinannya lebih dulu ditangkap!" tegas Samuel, dengan wajah seriusnya.


"Aku gak yakin, Binsar bisa kita tangkap, apalagi selama ini dia berlindung pada Presiden, gak akan mudah menangkapnya, apalagi menjebloskannya kepenjara, mengingat siapa dia dan bagaimana tindakannya pada negara selama ini." ujar Andre menegaskan.


"Bagaimana pun, kita harus mencari cara, agar bisa menangkap Binsar, otak dan dalang dari semua kejahatan Inside!" tegas Samuel.


Andre diam saja, dia tak mau membantah perkataan Samuel, dia tahu, Samuel saat ini sangat marah sekali, dan dia merasa sudah di bohongi oleh pihak kehakiman, dengan memberikan Hakim dari orang Inside, sehingga Samsudin di bebaskan dari jerat hukum dan vonis bersalahnya.


---


Hakim masuk ke dalam ruang kantornya, dia lantas melepaskan jubah hakimnya dan meletakkannya di gantungan yang ada di dalam ruang kerjanya.


Lalu, dia duduk di kursi ruang kerjanya, dia lantas mengambil ponselnya dari dalam laci meja kerjanya, dan langsung menghubungi seseorang.


"Tugas sudah di laksanakan dengan baik, Samsudin bebas." lapor Hakim pada seseorang di telepon.


"Kerja bagus. Tunggu kabar lanjutnya dari saya." ujar Binsar, bicara dari seberang telepon.


"Baik, Pak." Jawab Hakim penuh hormat, bicara di teleponnya pada Binsar.

__ADS_1


Ternyata yang di hubungi sang Hakim adalah Binsar. Orang yang membayarnya dan menyuruhnya membebaskan Samsudin.


Tentu saja Hakim menuruti permintaan Binsar, karena dia tahu, siapa Binsar, dan bagaimana sepak terjangnya selama ini dalam mengendalikan negara dan menekan Presiden, hingga Presiden harus mengikuti semua cara dan aturan Binsar.


Selain itu, jika dia menolak permintaan Binsar, resikonya akan fatal dia dapatkan , bukan tak mungkin Binsar akan membunuhnya, jika dia sampai menolak apalagi melawan Binsar.


Sebab itu dia patuh dan menjadi salah satu kacung Binsar akhirnya karena takut mati , selain itu, dia mendapatkan uang yang sangat banyak sebagai bonus dari Binsar karena sudah membebaskan Samsudin , tangan kanan dan orang kepercayaan Binsar dalam organisasi Inside.


Sang Hakim lantas menutup teleponnya. Lalu dia menyimpan ponselnya kembali ke dalam laci meja kerjanya.


Tiba tiba saja, pintu ruang kantornya terbuka, dan dua orang petugas yang berjaga di depan pintu masuk terlempar masuk ke dalam ruangan dengan kondisi leher terluka parah dan berdarah. Kedua penjaga itu mati terbaring di lantai.


Sang Hakim kaget melihat dua penjaga terbujur kaku dan mati di lantai ruang kantornya , tak berapa lama, masuk Gavlin masih dengan menyamar sebagai kakek tua renta.


Gavlin menutup dan mengunci pintu ruangan, lalu dia berjalan dengan sikap dingin mendekati Hakim.


Jalan Gavlin seperti biasanya, tidak lagi seperti kakek tua renta, hanya penampilannya saja yang masih memakai topeng kakek kakek.


Hakim ketakutan melihat Gavlin dengan tatapan mata yang dingin sambil memegang pisau belati ditangannya yang berlumuran darah, dia semakin takut melihat Gavlin yang semakin mendekat padanya.


"Siapa kamu? Mau apa kamu ke sini?!!" Bentak sang Hakim, dengan raut wajah penuh rasa takut dan panik.


"Mengapa kamu membunuh penjaga penjaga itu?!" bentak Hakim pada Gavlin.


Gavlin tak menjawab pertanyaan Hakim, dengan sikap dinginnya Gavlin menghentikan langkah kakinya, lalu, dia pun berdiri disamping Sang Hakim yang duduk di kursi kerjanya.


"Mau apa kamu?!" tanya Hakim gemetar ketakutan menatap wajah Gavlin yang menyamar sebagai kakek tua renta.


"Bagaimana? Senangkah menjadi pengkhianat yang mengingkari sumpahmu sebagai hakim untuk berbuat keadilan dalam hukum?" ujar Gavlin, bertanya dengan suara datar dan sikap dinginnya.


"Apa maksudmu? Aku gak mengerti dengan apa yang kami bilang?!" bentak Hakim marah.


"Jangan pura pura bodoh, aku tau, kamu orang suruhannya Binsar, ketua Inside, dan kamu ditugaskan sebagai hakim untuk membebaskan Samsudin, iya kan?!" hardik Gavlin, mulai menunjukkan kemarahannya pada sang Hakim.


"Kamu jangan memfitnahku , mana buktinya jika aku orangnya Inside!" tegas Hakim menantang.


"Gak usah berusaha membantah, aku tau bagaimana kamu bermain mata dengan Samsudin saat di dalam ruang persidangan, aku perhatikan kalian, dan aku melihat jelas, bagaimana kamu saling kenal dengan Samsudin!" ujar Gavlin dengan geramnya menatap wajah Hakim yang terduduk lemas di kursi kerjanya.


"Ya, aku memang dibayar untuk melakukan hal itu , aku terpaksa melakukannya , karena kalo tidak, Binsar akan membunuhku dan semua keluargaku , aku di ancam!" tegas Hakim, berusaha membela dirinya.


"Omong kosong!! Tapi kamu senang mendapatkan uang dari Binsar kan?!" bentak Gavlin marah menatap tajam wajah Hakim.


Hakim tersentak kaget dibentak Gavlin, dia semakin gemetar ketakutan, dan tak berani menatap Gavlin yang masih berdiri disampingnya.


Tanpa berlama lama lagi, Gavlin pun akhirnya menyelesaikan tugasnya, dengan geram dan penuh amarah, Gavlin tiba tiba mencengkeram leher Hakim hingga susah bernafas.

__ADS_1


"Kamu pantas mati karena kepicikanmu itu!!" ujar Gavlin, berbisik ditelinga sang Hakim.


Lalu, dengan wajah bengisnya, Gavlin lantas menggorok leher Hakim, Hakim kelojotan karena lehernya digorok hingga mengeluarkan darah segar.


Dengan santainya Gavlin menggorok leher Hakim, seolah dia saat ini sedang menyembelih seekor kambing saja.


Sang Hakim pun akhirnya tewas terbunuh di tangan Gavlin, dia mati dengan kondisi leher di gorok hampir putus.


Gavlin lantas melepaskan cengkraman tangannya dari leher Hakim yang sudah dia gorok, Gavlin lantas menghapus darah yang menempel ditangannya dengan baju kebesaran sang Hakim.


Lalu, Gavlin bergegas pergi keluar dari dalam ruang kantor Hakim , dia terlihat puas karena sudah membunuh Hakim yang memberikan vonis bebas pada Samsudin.


Atas kesalahannya membebaskan Samsudin, dia harus mati dengan cara sadis , dia yang memilih untuk berkhianat pada jabatannya agar tak di bunuh Binsar, malah harus meregang nyawa pada akhirnya ditangan Gavlin.


Bukan hanya sang Hakim saja yang dibantai dan di bunuh Gavlin , kedua asisten hakim yang bersama sang Hakim memimpin persidangan pun tak luput dari incaran Gavlin.


Gavlin mendatangi kedua asisten hakim , dan lalu membunuhnya dengan cara yang sama, menggorok leher keduanya dengan pisau belati miliknya.


Setelah dia puas membunuh para hakim yang sudah berbuat curang dan mempermainkan hukum, Gavlin pun bergegas pergi meninggalkan mayat mayat itu.


Lalu, Gavlin membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, dia mencoba untuk menghilangkan semua darah yang menempel ditangan dan badan serta bajunya.


Mau tak mau, Gavlin melepaskan pakaian luarnya, dan pada akhirnya , Gavlin hanya memakai baju kaos saja dan celana panjang. Namun, dia belum melepaskan penyamarannya, wajahnya masih sebagai sosok kakek tua renta.


Setelah merasa dirinya sudah bersih dan darah sudah tak ada lagi di tubuhnya, Gavlin bergegas keluar dari dalam kamar mandi, dia ingin menemui Chandra yang menunggunya di luar gedung persidangan saat ini.


Gavlin yang masih menyamar sebagai kakek tua renta yang mengenakan baju kaos berlari lari menyusuri lorong dan koridor gedung pengadilan tinggi, tempat berlangsungnya sidang Samsudin.


Dia ingin cepat menemui Chandra, dia merasa cemas pada Chandra, instingnya Menyatakan, bahwa Chandra masih akan berbuat nekat, karena itu dia berlari dan ingin cepat menemui Chandra.


Agar dia bisa mencegah perbuatan nekat Chandra.


Di luar gedung pengadilan , tepatnya di halaman gedung, Samsudin berjalan bersama para pengacaranya dan empat pengawal pribadinya, mereka berjalan menuju parkiran yang ada di gedung pengadilan tinggi tersebut.


"Pak Samsudin." ujar Chandra.


Langkah kaki Samsudin dan yang lainnya terhenti saat mendengar panggilan dari arah belakang mereka, lalu, dengan bersamaan mereka berbalik badan, mereka melihat Chandra berdiri tegak menatap tajam wajah Samsudin.


"Oh, ternyata kamu Chandra, aku kira siapa?" ujar Samsudin tersenyum sinis.


"Apa kamu menemuiku untuk meminta maaf, karena sudah memberi pernyataan kesaksian dan tuduhan palsu padaku?!" ucap Samsudin dengan angkuh dan sombongnya.


"Mendekatlah dengan merangkak kehadapanku , jika kamu melakukannya dan bersujud mencium kakiku , aku mungkin akan memaafkan kamu." ujar Samsudin sinis.


Mendengar perkataan Samsudin yang sangat merendahkan harga dirinya membuat Chandra semakin geram dan marah, dia menatap tajam wajah Samsudin yang berdiri angkuh di hadapannya, agak sedikit jauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Dengan tangan bergetar karena menahan segala macam amarahnya yang meluap luap, perlahan lahan, Chandra pun mengambil pistol dari pinggangnya. Dia mengambil pistol dan berniat membunuh Samsudin saat ini juga.


__ADS_2