
Gatot duduk di kursi meja kerjanya, dia sedang membaca berkas berkas kasus pembunuhan berantai Jafar. Wajahnya masih geram dan menyimpan amarahnya pada Jafar yang berhasil meloloskan diri.
Seorang Petugas kepolisian datang dan menghampiri Gatot yang tengah serius membaca berkas kasusnya di meja.
"Lapor, Pak. Bapak di panggil ke ruangannya Pak Richard, sekarang juga." ujar Petugas Polisi.
Gatot diam, dia berfikir sesaat, mengapa Richard tiba tiba memanggilnya, Gatot lantas merapikan berkas berkas kasusnya, lalu, dia menyimpan dalam laci dan mengunci laci meja kerjanya.
Gatot lantas berdiri dari duduknya, dia lalu berjalan pergi meninggalkan ruang kerjanya, Petugas Polisi pun mengikutinya, keluar dari dalam ruang kerja Gatot.
Pintu kantor Richard di ketuk, Richard yang duduk di kursi meja kerjanya menoleh ke pintu masuk.
"Ya, masuk !" ujar Richard.
Richard memegangi selembar kertas surat, tak berapa lama, pintu terbuka, Petugas Polisi masuk kedalam ruang kantor, Gatot lantas ikut masuk di belakang Petugas Polisi.
Mereka berdua berjalan menghampiri Richard yang duduk di kursinya dengan memasang wajah yang marah.
"Ada apa kamu memanggilku?" tanya Gatot.
Gatot berdiri di depan meja kerja, dia menatap tajam wajah Richard yang masih duduk di kursinya sambil memegangi lembaran kertas surat ditangannya, Petugas Polisi lalu berdiri di samping meja kerja Richard.
"Baca itu !!" ujar Richard.
Richard melemparkan selembar kertas surat yang di pegangnya, lembar kertas tergeletak di atas meja, Gatot heran, dia mengkernyitkan dahinya melihat lembaran kertas di atas meja.
"Surat apa itu?!" tanya Gatot heran.
"Baca saja ! Gak usah banyak tanya!!" hardik Richard, mulai marah pada Gatot.
Gatot pun geram dan menahan marahnya karena di bentak Richard, dia lantas mengambil lembaran kertas surat dari atas meja kerja Richard.
Gatot lantas membaca isi yang ada pada lembar kertas surat tersebut. Gatot kaget, saat dia membaca isi surat.
Surat tersebut adalah surat pernyataan dari Kejaksaan, yang meminta Gatot, sebagai Komandan Kepolisian untuk menemani dan menjaga serta melindungi mobil tahanan kejaksaan yang membawa para narapidana yang berisi penjahat penjahat dan juga Jafar.
Gatot heran dan bingung, sebab, dia baru tahu, jika ternyata pihak kejaksaan telah meminta pengawalan pada pihak kepolisian, dia baru tahu, kalau ada surat tersebut, sebab, Gatot merasa tak pernah menerima surat tersebut sebelumnya.
"Kenapa kamu mengabaikan permintaan kejaksaan untuk mengawal mobil tahanan kejaksaan yang membawa para napi napi itu?!!" bentak Richard marah.
"Apa apaan ini?! Aku gak pernah menerima surat permohonan untuk pengawalan !!" tegas Gatot, dengan wajah kesal dan marahnya.
"Kalo aku menerima surat ini, pasti mobil tahanan kejaksaan akan ku kawal ! Aku gak mungkin mengabaikannya!!" ujar Gatot kesal dan marah.
"Gak usah beralasan Gatot!! Kamu sengaja kan mengabaikannya?" ujar Richard sinis.
"Apa maksudmu? Jangan asal tuduh saja kamu!!" bentak Gatot marah.
"Kejaksaan marah pada pihak kepolisian! Karena mengabaikan permintaan mereka dan gak mengawal tahanan tahanan itu! Akhirnya para napi semua melarikan diri!" tegas Richard.
"Dan ini mutlak menjadi kesalahanmu sebagai Komandan Kepolisian yang diminta langsung kejaksaan untuk mengadakan pengawalan terhadap petugas kejaksaan yang membawa para napi!" bentak Richard marah.
"Hei ! Jangan meletakkan kesalahan di wajahku Richard !!" bentak Gatot marah.
"Kamu gak usah berkelit Gatot!! Aku sendiri yang menemukan surat itu di atas meja kerjamu!! Kamu gak ada di ruanganmu!! Kamu pergi dan sengaja mengabaikan surat itu kan?!!" bentak Richard marah.
__ADS_1
"Aku gak terima atas tuduhanmu ! Akan kutemui pihak kejaksaan, memastikan tentang surat ini!! Kalo aku memang bersalah !! Aku siap bertanggung jawab !!" ujar Gatot geram dan marah.
Richard lantas berdiri dan menggebrak meja kerjanya, dia melampiaskan amarahnya pada Gatot.
"Gak perlu kamu temui kejaksaan!!" bentak Richard.
"Semua sudah jelas ! Kamu gak becus bekerja!! Mengawal mobil kejaksaan saja gak kamu lakukan!! Apalagi menangkap buronan!! Pantas saja sampai detik ini si Gavlin lolos !! Karena kamu gak mau menangkapnya dan membiarkannya!!" bentak Richard penuh amarah.
"Hei !! Kenapa kamu malah membawa bawa masalah Gavlin?!" bentak Gatot marah.
"Karena kamu memang gak becus! Kamu sudah mengkhianati kepolisian dengan bekerjasama dengan buronan Gavlin!! Kamu gak bisa berkelit, Aku tau semuanya!!" bentak Richard.
Gatot pun terdiam, dia sadar, Richard memang tahu, bagaimana kedekatannya dengan Gavlin selama ini, dia merasa menyesal, karena membiarkan Richard mengenal dan mendekati Gavlin, hingga dia tahu kedekatan dia dan Gavlin, Gatot sama sekali tak menyangka, kalau itu hanyalah cara Richard untuk menangkap Gavlin dan mencari tahu siapa yang ada di belakang Gavlin selama ini.
Gatot tahu, Richard sangat berambisi untuk mendapatkan jabatan tertinggi di kepolisian, sebab itu dia memakai segala cara untuk bisa mewujudkannya.
"Serahkan lencana dan pistolmu!! Letakkan dimeja !!" bentak Richard.
"Apa maksudmu?!" tanya Gatot heran.
"Mulai saat ini, kamu akan di non aktifkan sebagai Komandan kepolisian, sampai batas waktu yang belum di tentukan !!" bentak Richard.
"Selama napi napi yang melarikan diri belum tertangkap dan kembali kedalam tahanan, kamu gak boleh menginjakkan kakimu di kantor kepolisian !!" bentak Richard dengan tegas dan wajah serius penuh marah.
"Sialan kamu Richard !! Demi kekuasaan, kamu rela mengorbankan persahabatan kita!! Keparat !! ujar Gatot geram dan marah.
Richard hanya diam tak menjawab perkataan Gatot yang mencaci maki dirinya, Gatot dengan kesal dan marah melepaskan pistol dari pinggangnya. Lalu, di letakkannya pistol dan lencana kepolisian di atas meja.
"Ambil semua ini!! Aku gak butuh!! Dan ingat Richard ! Jangan mengira dengan menon aktifkan aku sebagai komandan polisi aku jadi gak bisa berbuat apapun juga!!" bentak Gatot.
"Diam kamu!! Keluar dari sini !! Seret dia keluar!!" Perintah Richard pada Petugas Polìsi yang berdiri disamping meja kerja.
"Baik, Pak." ujar Petugas Polisi.
Petugas Polisi mendekati Gatot dan hendak memegang tangan Gatot, dengan kesal dan marah Gatot menepiskan tangan Petugas Polisi.
"Jangan coba coba memegangku!!" bentak Gatot marah.
Petugas Polisi pun diam berdiri di samping Gatot. Lalu, dengan wajah penuh amarahnya, Gatot berbalik badan, lalu bergegas pergi keluar dari dalam ruang kantor Richard dengan di ikuti Petugas Polisi.
Richard duduk di kursi meja kerjanya, dia tersenyum sinis melihat kepergian Gatot, dia melihat pistol dan lencana milik Gatot di atas meja.
"Mampus kamu Gatot, karirmu berakhir ! Sekarang, gak ada lagi yang bisa menghalangi niatku untuk menjadi penguasa di kepolisian ini!!" ujar Richard tersenyum penuh kelicikan dalam dirinya.
---
Maya sedang menyapu ruangan di dalam villa, Gatot masuk ke dalam ruangan villa dengan wajah penuh amarah.
"Cepat bereskan semua barang barangmu, kita pergi dari sini sekarang juga!!" ujar Gatot, dengan wajah marah.
"Loh, kenapa Yah?" tanya Maya heran.
Maya bingung sekaligus heran, sebab, Ayahnya datang datang dengan marah menyuruhnya membereskan barang barangnya.
"Apa yang terjadi Yah? Kenapa mendadak kita harus pergi? Bukankah kita tinggal disini agar aman?" tanya Maya heran.
__ADS_1
"Mulai sekarang kita gak tinggal di sini lagi!! Ayah muak sama Richard! Dia sama busuknya dengan Herman, Sutoyo, Peter dan yang lainnya!!" ujar Gatot penuh amarah dalam dirinya.
Maya pun terdiam, dia tampak berfikir, Maya kaget, mendengar perkataan Ayahnya, lalu, Maya pun mendekati Ayahnya dan bertanya.
"Ayah ribut dengan pak Richard?"tanya Maya.
"Ya, Dia menyalahkan Ayah karena para napi mèlarikan diri, sebab katanya Ayah gak mengawal mobil kejaksaan yang membawa napi!! Ujar Gatot geram.
"Ayah di fitnah, Richard pasti sengaja melakukannya, untuk bisa menyalahkan Ayah, lalu menon aktifkan Ayah sebagai komandan polisi!!" ujar Gatot menjelaskan.
"Ayah di non aktifkan?!" ujar Maya, terhenyak kaget.
"Ya. Gak masalah Ayah gak jaďi polisi lagi! Ayah akan tetap mengusut kasus Herman dan komplotannya !" tegas Gatot.
"Lantas, kalo gak tinggal disini, kita mau kemana Yah?" tanya Maya bingung.
"Kita pulang kerumah kita lagi!!" tegas Gatot.
"Kerumah? Apa aman?" tanya Maya cemas.
"Tempat yang paling aman ya di rumah kita!! Herman dan komplotannya gak akan tau, kalo kita kembali kerumah, mereka mengira, kita pindah ketempat lain, Ayah yakin itu!" tegas Gatot, dengan wajah serius dan geram.
"Oh, ya udah kalo gitu. Maya akan membereskan barang barang Maya." ujar Maya.
"Ya, Ayah juga akan membereskan semua barang barang milik Ayah." ujar Gatot.
Lantas, Gatot bergegas pergi meninggalkan Maya yang masih berdiri dan tercenung sesaat, Gatot masuk ke dalam kamarnya, Maya lantas meletakkan sapu di dinding ruangan, dia kemudian berbalik badan dan berjalan menuju kamarnya, untuk bergegas merapikan semua barang barang miliknya.
---
Di rumah bilik kayu Sarono, tampak Indri sedang melepaskan perban perban yang membalut luka luka di seluruh tubuh Gavlin.
Indri duduk di hadapan Gavlin yang juga duduk di atas tikarnya, Gavlin sudah bisa duduk dengan sempurna, dan dia sudah tak merasa sakit lagi, karena luka lukanya sudah mengering dan berangsur angsur sembuh.
Indri memegangi luka luka Gavlin yang sudah mengering itu, Lalu dia menekan luka Gavlin, Gavlin meringis menahan sakit.
"Masih sakit ya?" tanya Indri, dengan wajah polos dan lugunya.
"Ya sakitlah kalo ditekan kuat begitu!" ujar Gavlin tertawa kecil.
"Hehe, Aku iseng, mau tau, masih sakit apa nggak." ujar Indri, tertawa kecil.
"Kamu ini, kamu sengaja nyakiti aku, mau balas aku ya, karena aku membuat tanganmu sakit waktu itu?!" tanya Gavlin, menatap wajah Indri dengan serius.
"Nggak kok, siapa juga yang mau membalas." ujar Indri, tersipu malu.
Dia lantas segera berdiri, karena mulai merasa canggung dan grogi berlama lama di hadapan Gavlin, apalagi Gavlin menatap wajahnya dengan tersenyum lembut padanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Gavlin heran.
"Membuang perban perban ini." ujar Indri, sengaja beralasan, untuk menghindari Gavlin.
Dengan cepat Indri pun pergi meninggalkan Gavlin sendirian, Gavlin tertawa tawa kecil melihat kepergian Indri.
"Terima kasih In. Udah merawatku selama ini, aku gak bisa membalas semua kebaikanmu, tapi aku janji, aku akan selalu ingat padamu dan juga Bapakmu, aku akan melindungi kalian !" Bathin Gavlin bicara sendiri.
__ADS_1
Gavlin menarik nafasnya dalam dalam, dipeganginya luka lukanya yang sudah mengering, lalu, dia pun menatap seluruh ruangan rumah bilik kayu Sarono, Gavlin prihatin melihat kondisi rumah Sarono yang terlihat tua, dan kayunya banyak yang sudah lapuk dan usang.