
Gavlin turun dari motornya, dia lantas berjalan mendekati ketiga Pria bertubuh kekar.
"Cepat bawa gadis itu !" Perintah Amir.
"Siap!" ujar Hendro.
Hendro lantas menarik tangan Indri dan menyeret Indri, Indri pun kesakitan karena di seret paksa Hendro.
"Setaaaaaannnn !!!" teriak Gavlin marah.
Gavlin marah melihat Indri yang diseret paksa di tanah oleh Hendro dan teriak kesakitan, Gavlin lantas berlari cepat ke arah Tarman yang berdiri menghadangnya dengan gagah berani.
Gavlin melompat, lalu menerjang Tarman, Tubuh Tarman terjajar ke belakang karena di tendang keras Gavlin.
Gavlin mengamuk, dia cepat menyerang Tarman, di hajarnya Tarman dengan pukulan pukulan bertubi tubi, Tarman yang hanya bermodal badan besar dan kekar bagai binaraga tak mampu menghadapi Gavlin yang mengamuk marah dan kalap.
Berkali kali dia di hajar Gavlin, hingga akhirnya terjatuh. Hendro yang menyeret Indri, hendak mengangkat tubuh Indri dan menaikannya di atas motor yang dikendarai Amir.
Gavlin cepat berlari mendekat, lalu, di pegangnya tangan Hendro yang mencengkram tangan Indri, lalu, Gavlin menghajar wajah dan perut Hendro.
Pegangan tangannya di tangan Indri pun terlepas, tanpa ampun, Gavlin menghajar habis habisan Hendro, Gavlin semakin marah, melihat Indri kesakitan di tanah akibat di seret paksa.
Indri cepat bangun dari tanah, lalu dia menyingkir dan berlari mendekati Bapaknya. Indri memeluk erat tubuh Bapaknya dengan wajah yang penuh dengan rasa takut.
Saat Hendro terjajar karena di pukul Gavlin, Amir hendak turun dari motornya untuk membantu Herman. Namun, Gavlin lebih cepat bergerak, dia tiba tiba sudah di dekat Amir dan menghajar Amir.
Hantaman pukulan bertubi tubi mendarat di wajah Amir hingga mengeluarkan darah segar dari bibirnya. Gavlin tak perduli, dia terus memukuli Amir.
Hendro dan Tarman bangun dan berdiri, mereka berdua marah, karena di pukul Gavlin, lantas keduanya kembali menyerang Gavlin.
Mereka bertiga mengeroyok Gavlin, namun, Gavlin yang menguasai beberapa ilmu bela diri bisa melawan mereka bertiga.
Hendro terpental di hantam kaki Gavlin dengan kuat, dia terjatuh di tanah, Lalu Gavlin menyerang Tarman, di tangkapnya tangan Tarman, lalu di pelintirnya, kemudian di lemparnya tubuh Tarman ke arah Amir yang hendak menyerang dan memukulnya.
Amir lantas menghantam wajah Tarman dengan tangannya, dia kaget, bukannya Gavlin yang di pukul, tapi malah temannya sendiri.
Gavlin kalap, dia terus mengamuk, membabi buta menyerang ketiganya. Beberapa saat, ketika ada kesempatan dan Herman lengah, Gavlin pun menghajarnya, lalu Gavlin mengambil batu yang ada di tanah, lalu, dihantamkannya batu ke kepala Herman.
Seketika, Herman pun terjerembab jatuh ke tanah, dan kepalanya terluka serta berdarah.
Indri memalingkan wajahnya dan menutup kedua matanya, dia takut dan tak berani melihat ke arah Gavlin yang tampak buas menghantamkan batu di kepala Herman. Sarono juga kaget, dia tak menyangka Gavlin bisa seganas itu menyerang dan menghantam lawan lawannya.
Gavlin lantas menyerang Hendro, dia juga menghantamkan batu ditangannya, ke kepala Hendro, Hendro pun terkapar di tanah.
Melihat ke dua temannya tersungkur di tanah dan sudah tak berdaya, Amir marah, dia kalap lalu menyerang Gavlin, Gavlin menghindari pukulan Amir. Gavlin lengah, Amir lalu menangkap tangan Gavlin dan melepaskan batu ditangan Gavlin.
Batu terlepas dari tangan Gavlin, Amir menyerang, Gavlin menghindari pukulan Amir. Lalu, saat Amir lengah, Gavlin pun menendang tulang rusuk Amir, Amir terjajar kebelakang , Amir memegangi tulang rusuknya, dia meringis kesakitan, tulang rusuknya patah dihantam Gavlin. Gavlin menerjangnya lagi, lalu, Gavlin pun menangkap tangan Amir, memutarnya ke belakang, lalu, dengan tangannya, dihantamkannya tangan Amir dengan sekuat tenaga hingga tangan Amir patah.
Amir teriak kesakitan, Gavlin langsung memelintir dan memiting leher Amir dengan lengan tangannya. Amir berusaha melepaskan diri, Gavlin terus memiting dan mencengkram leher Amir.
Sarono kaget melihat Gavlin yang tengah memiting dan mencengkram leher Amir, dia pun lantas berteriak.
"Lepaskan dia Gavlin ! Jangan bunuh!!" teriak Sarono.
Namun terlambat, Gavlin sudah lebih dulu mematahkan leher Amir, seorang Gavlin, jika sudah murka, tak akan ada yang bisa menghentikan aksinya, dia pasti akan membunuh lawan lawannya dan tak akan melepaskannya begitu saja.
__ADS_1
Gavlin melemparkan tubuh Amir yang sudah mati dengan lehernya yang patah. Di tanah, Herman dan Hendro yang meringis kesakitan karena kepalanya terluka dan berdarah kaget melihat Amir mati.
Mereka berdua hendak berdiri, Gavlin cepat mendatangi mereka, lalu, Gavlin pun menarik rambut Hendro dengan kuat, Gavlin lantas menyeret Hendro di tanah, sama persis seperti Hendro menyeret Indri tadi.
Hendro teriak kesakitan dan meronta ronta karena rambutnya di tarik kuat dan di seret, Gavlin tak perduli, lalu, di tendangnya kepala Hendro berkali kali sambil tetap rambutnya di cengkram kuat tangan Gavlin.
Bagai menendang nendang bola, Gavlin menendangi kepala Hendro, lalu, dia pun memelintir leher Hendro dan mematahkannya, Hendro pun mati.
Sarono tertunduk, dia tak tahan melihat Gavlin yang membunuh Amir dan Hendro, dan Indri masih menutup mata, tak mau melihat, karena dia takut.
Tinggal Herman yang tersisa, Herman tampak menyembah nyembah pada Gavlin agar tidak di bunuh, Herman tampak ketakutan pada Gavlin, yang dengan sikap dinginnya membunuh kedua temannya.
"Ampuni aku...jangan bunuh aku..." ujar Herman memohon sambil menyembah Gavlin di tanah.
"Lepaskan dia Gavlin !" teriak Sarono.
Gavlin tak menghiraukan teriakan Sarono, Gavlin saat ini dalam keadaan yang tak sadar, dia bukan Gavlin, melainkan sosok kepribadian lain, Iblis yang ada di dalam dirinya, untuk itu dia mengabaikan teriakan Sarono, baginya, Herman harus mati.
Herman semakin takut saat Gavlin semakin mendekat, Gavlin lantas berjongkok dihadapan Herman yang menyembah di tanah dengan wajah ketakutan.
"Ss...sii...sia...pa ...kamu?" tanya Herman tergagap gagap dan takut.
"Aku Iblis." ujar Gavlin dingin.
Herman terhenyak kaget, Gavlin menepuk nepuk wajah Herman, dia tersenyum sinis, lalu menyeringai jahat menatap tajam wajah Herman, kemudian, Gavlin mencengkram leher Herman dan mencekiknya, Herman susah bernafas, tangannya berusaha menggapai tangan Gavlin, agar melepaskan cengkraman tangannya di leher.
Gavlin semakin kuat mencekik leher Herman, hingga akhirnya Herman kehabisan nafas dan pingsan, Gavlin lantas berdiri, dia menarik rambut Herman dengan satu tangannya, lalu, Gavlin menginjak leher Herman kuat.
"Kreekk"
Gavlin lantas berdiri, dia menatap ketiga pria bertubuh kekar yang sekarang sudah menjadi mayat, terbaring di atas tanah.
Gavlin lantas terdiam sesaat, dia tampak seperti menenangkan dirinya, kemudian, dia kembali tersadar, dia sudah kembali pada sosoknya sebagai Gavlin.
Gavlin melihat Sarono yang terduduk di tanah, lalu, dia juga melihat Indri yang memeluk Sarono dengan wajah di tutupi tangannya karena ketakutan.
"Bapak, Indri, kalian gak apa apa?" tanya Gavlin, mendekati Sarono dan Indri.
"Kami gak apa apa." ujar Sarono.
Gavlin lantas mengangkat tubuh Sarono dan membantunya berdiri, lalu, Gavlin juga mengangkat tubuh Indri, Indri pun lantas berdiri disamping Bapaknya.
"Siapa mereka, Pak?" tanya Gavlin dengan wajah dingin dan serius.
"Mereka datang menagih hutang pada Bapak." ujar Sarono.
"Hutang? Berapa hutang Bapak sama mereka, sampai mereka menyiksa Bapak dan Indri?" tanya Gavlin geram.
"Hutang Bapak 4 juta nak Gavlin, dulu Bapak terpaksa minjam uang sama rentenir Amir, karena buat modal dagang." ujar Sarono.
"Setelah jatuh tempo , Bapak belum bisa bayar, dan hutang Bapak malah bertambah banyak, karena Amir menambahkan bunga di hutang Bapak, hingga membengkak menjadi 9 juta." ujar Sarono, dengan wajah sedihnya.
"Begitu rupanya, tapi tetap mereka gak bisa berbuat kasar dan seenaknya saja, apalagi Bapak orang tua, gak sepantasnya mereka berbuat kasar, apalagi sampai memukul Bapak dan melempar Bapak hingga terjatuh dan terluka." tegas Gavlin.
Sarono diam, dia hanya mengangguk lemah, Gavlin menatap wajah Indri yang masih terlihat takut memegangi tangan Bapaknya.
__ADS_1
"Kamu gak apa apa In?" tanya Gavlin.
"Ng...nggak...aku gak ...apa apa." ujar Indri gugup.
Indri masih takut sama Gavlin, karena dia melihat sosok Gavlin yang berbeda, dia ngeri melihat Gavlin tadi mengamuk dan kalap membabi buta serta membunuh ke tiga pria bertubuh kekar.
"Terima kasih nak Gavlin, kalo gak ada nak Gavlin, mereka pasti sudah membawa Indri, sebagai jaminan hutang Bapak." ujar Sarono.
"Iya, Pak. Mereka pantas mati! Orang seperti mereka hanya menyusahkan orang saja!" ujar Gavlin geram.
"Berpura pura baik memberikan pinjaman hutang, lalu memberikan bunga sebesar besarnya, mereka sengaja menjebak, agar orang yang meminjam gak bisa terbebas dari hutang yang terus melilit dan semakin bertambah karena bunganya!" tegas Gavlin.
"Ya, Nak Gavlin. Bapak terpaksa meminjam pada rentenir Amir, karena dulu, Bapak sangat butuh modal." ujar Sarono, menyesal.
"Iya, Pak. Saya paham." ujar Gavlin.
"Lain kali, jangan berurusan dengan orang orang seperti mereka lagi, Pak." jelas Gavlin.
"Iya, nak Gavlin." Angguk Sarono.
"Lantas, mau di kemanai mayat mayat mereka nak Gavlin?" tanya Sarono cemas.
"Bapak takut, warga warga melihat mayat mereka, dan melaporkan pada pihak berwajib, kalo di sini ada mayat." ujar Sarono takut dan cemas.
"Bapak tenang saja, Saya akan menyingkirkan ketiga mayat itu." ujar Gavlin.
"Saya boleh pinjam mobil Bapak? Saya akan bawa mayat mayat itu, dan menyingkirkannya dari sini." ujar Gavlin.
"Silahkan, pakai saja mobil Bapak nak Gavlin." ujar Sarono.
Sarono lantas memberikan kunci mobilnya pada Gavlin, Gavlin pun lantas mengambil kunci mobil dari tangan Sarono, Gavlin memasukkan kunci mobil ke dalam kantong celananya.
"Oh, ya. Selain mereka bertiga itu, apa ada teman temannya yang lain dan sering datang ke sini menagih Bapak?" tanya Gavlin serius.
"Ada, Amir punya beberapa anak buah." ujar Sarono.
"Bapak tau, dimana tempat mereka meminjamkan uang?" ujar Gavlin bertanya.
"Tau, Bapak pernah datang ke tempatnya langsung, saat meminjam uang. Karena memang Amir selalu bertransaksi meminjamkan uang di tempatnya." ujar Sarono menjelaskan.
"Bisa kasih tau alamatnya ke saya?" tanya Gavlin serius.
"Untuk apa?" tanya Sarono heran.
"Saya akan menyelesaikan urusan Bapak, agar kedepannya, gak ada lagi yang datang kerumah ini menagih hutang sama Bapak!" tegas Gavlin serius.
"Oh, begitu. Baiklah, nanti Bapak tuliskan alamatnya nak Gavlin." ujar Sarono.
"Ya, Pak." jawab Gavlin.
"Ya, sudah, Bapak dan Indri masuk ke dalam, biar saya bereskan mayat mayat itu." ujar Gavlin.
"Ya, nak Gavlin." Angguk Sarono.
Lantas, dia pun pergi bersama Indri meninggalkan Gavlin sendirian. Setelah Sarono dan Indri masuk ke dalam rumah bilik kayunya, Gavlin pun lantas cepat mengangkat tubuh Herman dan memasukkannya ke bagasi belakang yang terbuka , di mobil pick up Sarono.
__ADS_1
Setelah itu, dia juga memasukkan tubuh Amir juga Hendro, lalu, dia juga mengangkat motor Amir dan Hendro dan memasukkannya ke dalam mobil.