VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pertemuan Ramon dan Gavlin


__ADS_3

Di depan rumah Binsar, tampak Gavlin sedang mengintai dari kejauhan, dia berada di pinggir jalan, di seberang rumah Binsar.


Gavlin berada di dalam mobilnya, dia menatap ke arah rumah Binsar, Gavlin sedang mengamati dan membaca situasi rumah Binsar melalui teropongnya.


Tak berapa lama tampak Ramon berjalan keluar dari dalam rumah, lalu, Ramon masuk ke dalam mobil, dari dalam mobilnya, Gavlin melihat Ramon yang masuk ke dalam mobilnya.


"Sepertinya, dia orang kepercayaannya Binsar, karena dia bebas keluar masuk ke dalam rumah Binsar aku perhatikan." Gumam Gavlin berfikir.


Gavlin terus melihat ke arah Ramon.


Mobil Ramon mulai berjalan dan pergi meninggalkan rumah Binsar.


Melihat kepergian Ramon, cepat Gavlin meletakkan teropongnya dalam dashboard mobilnya.


Lalu, dia menghidupkan mesin mobilnya, Gavlin melihat, mobil Ramon berbelok ke arah kiri jalan, beda jalur dengannya.


Dengan cepat Gavlin menyetir mobilnya , dia menjalankan mobilnya dan mengejar mobil Ramon yang sudah pergi menjauh.


---


Di dalam sel tahanan, Wicaksono berkumpul bersama Chandra, Gentong dan juga Pijar.


"Pijar ini salah satu anak buahku, dia ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara, karena membunuh laki laki yang memperkosa istri dan anaknya." ujar Wicaksono.


"Pijar jadi sedikit stress, karena anak dan istrinya bunuh diri, malu karena telah di perkosa." jelas Wicaksono.


Chandra kaget mendengar penjelasan Wicaksono tentang Pijar, dia baru tahu apa yang dialami Pijar sehingga dia mendekam dalam tahanan ini.


"Aku bertemu dengan Pijar, lalu meminta Sipir penjara ini, agar memindahkan Pijar dan menjadikannya satu sel denganku dan juga Gentong." ujar Wicaksono menjelaskan.


"Kalo Gentong? Apakah anak buah Bapak juga diluar?" tanya Chandra.


"Bukan, aku kenal bos di dalam tahanan ini, pas aku masuk ke sini udah ada bos Wicak." jelas Gentong.


"Kasus apa kamu sampe ditahan disini?" tanya Chandra.


"Makan daging orang hidup hidup." jelas Gentong.


Chandra terperanjat kaget mendengar pernyataan Gentong, dia tak menyangka Gentong seorang kanibal, yang memakan daging manusia.


"Gentong membunuh para rentenir yang menagih hutang bapaknya, dia memakan daging para rentenir karena kalap dan mengamuk, sebab, Bapaknya di siksa hingga mati." ujar Wicaksono.


"Gentong marah, dia lalu membantai para rentenir, dan memakan dagingnya." jelas Wicaksono.


"Daging mereka aku rebus, aku buat gulai, dan sate, nikmat!" ujar Gentong, tertawa menyeringai.


Chandra bergidik ngeri, dia baru kali ini bertemu langsung dengan seorang kanibal seperti Gentong.


Chandra baru paham, bahwa Wicaksono di temani dua orang sakit jiwa.


---


Sementara itu, Gavlin masih terus mengikuti mobil Ramon. Dia mengatur jarak antara mobilnya dan mobil Ramon, agar Ramon tak mengetahui, kalau dia sedang mengikutinya.



Mobil Ramon lantas berbelok masuk kehalaman sebuah restoran mewah. Mobil Gavlin mengikuti, dia juga masuk ke dalam halaman restoran mewah.


Ramon memarkirkan mobilnya, Gavlin juga ikut memarkirkan mobilnya, tidak jauh dari parkiran mobil Ramon.


Lalu, Gavlin diam sesaat di dalam mobilnya, dia melihat Ramon yang baru saja keluar dari dalam mobilnya dan berjalan masuk ke dalam restoran mewah.


Gavlin lalu cepat mengambil pistol dan juga pisau belati dari dashboard mobilnya, kemudian, dia membuka pintu mobil, lalu segera keluar dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Gavlin bergegas jalan masuk kedalam restoran mewah untuk mengintai dan mengawasi Ramon.


Gavlin masuk ke dalam restoran mewah, dia melihat Ramon duduk di kursi meja makan yang berada di sudut ruangan restoran.


Gavlin lalu berjalan santai dan tenang, dia melangkahkan kakinya mendekati Ramon.


Ramon yang duduk di kursinya tak menyadari kehadiran Gavlin, apalagi dia sama sekali belum pernah melihat wajah Gavlin secara langsung.


Dan Gavlin saat ini memakai topi sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Dengan cepat Gavlin lantas duduk di kursi yang ada di hadapan Ramon.


Ramon tersentak kaget, melihat Gavlin yang tiba tiba duduk di kursi meja makannya. Ramon marah, dia menatap tajam wajah Gavlin.


"Siapa kamu? Kenapa duduk di sini, ini tempatku!!" bentak Ramon marah.


"Santai, bung, jangan marah marah." ujar Gavlin, dengan cuek dan tenangnya.


Ramon geram, dia sangat marah atas sikap Gavlin yang tiba tiba duduk di kursi meja makannya. Ramon merasa terganggu dengan kehadiran Gavlin.


"Pergi kamu dari sini, sebelum aku marah!" hardik Ramon.


Gavlin tersenyum sinis menatap wajah Ramon yang marah padanya, lalu, Gavlin menggeser kursinya, mendekat ke meja, lalu, dia mendekatkan dirinya pada Ramon yang duduk dihadapannya.


"Tenang bray. coba diam, dan rasakan, apa yang menempel di selangkanganmu saat ini." ujar Gavlin tersenyum sinis.


Ramon tersentak kaget, dia merasakan, diselangkangannya terasa ada benda yang menempel dan menusuk nusuk.


Ramon lantas melihat kebawah, dia kaget, melihat pisau belati menempel dibagian selangkangannya.


"Siapa kamu?" tanya Ramon, menatap tajam wajah Gavlin.


Gavlin tersenyum sinis, dia tak mau menjawab pertanyaan Ramon, Gavlin menatap tajam wajah Ramon yang menahan amarahnya itu.


"Aku tau, kamu pasti anak buahnya Binsar, aku sengaja mengikutimu ke sini, sejak kamu pergi dari rumah Binsar." ujar Gavlin, dengan sikap dinginnya menjelaskan.


Ramon kaget, dia tak menyangka, jika ternyata Gavlin sudah mengikutinya sejak dia pergi dari rumah Binsar tadi. Dan dia belum tahu, kalau orang yang ada dihadapannya adalah Gavlin.


"Aku mau tanya sama kamu, dan aku harap, kamu jujur, kalo tidak, pisau belatiku akan menyayat selangkanganmu dan memotong kelaminmu!!" tegas Gavlin menatap tajam Ramon.


Ramon menelan ludahnya, mendengar perkataan Gavlin, muncul rasa takut dalam dirinya, dia takut, Gavlin benar benar melakukan apa yang dia katakan tadi.


"Apa yang mau kamu tanyakan?" ujar Ramon.


"Apa kamu salah satu tangan kanannya Binsar? Orang kepercayaannya, dan juga anggota Inside?" ujar Gavlin mulai bertanya.


"Hei !! Jangan main main sama aku,ya, Aku ini Polisi Militer! Apa apaan kamu nanya hal itu!!" bentak Ramon.


"Sssttt !! Jangan berisik dan membentakku, nanti aku kaget, terus nyayat dan motong alat kelaminmu, kan jadi berabe!" ujar Gavlin, tersenyum sinis menatap wajah Ramon.


Ramon terdiam, dia pun tersadar, kalau saat ini, pisau belati menempel di selangkangannya, dan siap menyayat dan merobek selangkangannya.


"Ya, aku salah satu tangan kanan dan orang kepercayaan Pak Binsar, aku juga anggota Inside, mau apa kamu?!" tanya Ramon.


"Oh, benar dugaanku." ujar Gavlin tersenyum kecil.


"Apa kamu tau soal pembunuhan mantan presiden di jalan cempaka beberap waktu lalu?!" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Ramon.


"Ya, aku tau." jawab Ramon.


Tak ada alasan buat Ramon berbohong dan tak mengakui, sebab saat ini, pisau belati menempel di selangkangannya.


"Dan aku tebak, kamu yang menjalani tugas dari Binsar, kamu yang mengeksekusi dan membunuh mantan Presiden, benar bukan?!" ujar Gavlin, menatap tajam wajah Ramon.


Ramon tersentak kaget mendengar perkataan Gavlin yang mengetahui kalau memang dia pelaku yang membunuh Adiwinata, sang mantan presiden.

__ADS_1


Ramon diam, dia tak mau menjawab pertanyaan Gavlin, dia khawatir, jika mengakuinya, Gavlin akan membunuhnya langsung, dia juga bertanya tanya siapa Gavlin.


"Siapa kamu? Mengapa kamu mengancamku dengan pisau belatimu?!" hardik Ramon.


"Husss... di sini aku yang bertanya, bukan kamu." ujar Gavlin, dengan sikap dinginnya.


"Dan ingat, jika kamu berbohong, apalagi gak mau menjawab pertanyaanku, tau sendiri akibatnya, selangkanganmu akan robek, dan kamu akan aku kebiri!!" tegas Gavlin mengancam.


Mendengar kata dikebiri, Ramon bergidik ngeri dan takut juga, dia lalu menatap tajam wajah Gavlin yang bersikap dingin itu.


"Sebelum aku menjawab, boleh aku tau, siapa kamu, dan apa kepentinganmu mengancamku." ujar Ramon bertanya.


"Wah, bandel, sudah aku bilang, di sini, aku yang bertanya, bukan kamu!!" bentak Gavlin marah.


Ramon kaget mendengar bentakan Gavlin, Gavlin menatap tajam wajah Ramon, saat ini amarah Gavlin sudah meluap luap, dan sepertinya dia sudah tak bisa menahan dirinya.


Nafsu dan naluri membunuhnya sudah muncul dalam jiwanya, Gavlin menatap geram pada Ramon yang masih diam dan tak mau menjawab.


"Baiklah, kali ini aku bolehkan kamu bertanya, kamu mau tau, siapa aku?" ujar Gavlin dengan sikap dingin menatap wajah Ramon.


"Ya. Siapa kamu?" jawab Ramon.


"Aku Gavlin, musuh besar Binsar dan organisasi Inside, aku Gavlin, yang dulu, dikenal dengan nama Yanto, dan Bapakku dijebak dan dibunuh Binsar serta komplotannya!" ujar Gavlin menjelaskan.


Ramon tersentak kaget mendengar pengakuan Gavlin, dia tak menyangka bahwa orang yang ada dihadapannya dan sedang mengancam dirinya adalah Gavlin. Orang yang selama ini dia cari dan akan dia bunuh.


"Kamu Gavlin?" ujar Ramon menegaskan.


"Ya, kenapa?" ujar Gavlin menatap tajam wajah Ramon.


"Sudah, waktu bertanya buatmu sudah habis, sekarang, jawab pertanyaanku tadi." ujar Gavlin geram.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Ramon pura pura tak ingat.


"Jangan belagak bloon kamu!! Cepat katakan, atau, mau aku robek selangkanganmu sekarang juga!!" bentak Gavlin marah.


Gavlin menekankan pisau belati yang ada ditangannya ke ************ Ramon, lalu dia menyayat celana Ramon dengan pisau belatinya hingga robek.


Ramon pun menjadi takut, karena ternyata, Gavlin benar benar akan menyayat dan merobek selangkangannya serta memotong alat kelaminnya, di kebiri.


"Hentikan , hentikan !! Akan aku jawab !" ujar Ramon, dengan wajah penuh ketakutan.


Ramon mengeluarkan keringat dingin, karena takut, dikebiri Gavlin. Gavlin lantas tersenyum sinis menatap wajah Ramon yang mulai takut itu.


"Aku yang membunuh Adiwinata, aku bersama dua anak buahku, Anwar dan Salim." ujar Ramon.


Ramon menyerah, mau tak mau, daripada dia di kebiri, lebih baik dia mengaku pada Gavlin, dengan begitu, Gavlin tak memotong kelaminnya.


"Benar dugaanku, kamu yang disuruh Binsar membunuh mantan presiden." ujar Gavlin tersenyum penuh arti menatap wajah Ramon yang masih ketakutan itu.


Lalu, Gavlin menarik pisau belatinya dari ************ Ramon, Ramon pun lega, karena Gavlin tidak menyayat dan merobek selangkangannya.


"Terima kasih atas jawaban jujurmu, aku jadi tau, kalo Binsar yang membunuh Adiwinata, dan dia menyuruhmu ." ujar Gavlin tersenyum sinis.


Gavlin lantas berdiri dari duduknya, dia tersenyum menatap wajah Ramon yang duduk di kursinya.


"Silahkan nikmati makanmu." ucap Gavlin.


Ramon diam saja tak menjawab, Gavlin lalu berjalan, hendak pergi meninggalkan Ramon, dia berjalan melewati Ramon yang duduk di kursinya.


Ramon bersiap siap hendak menyerang Gavlin.


Namun, tiba tiba saja, Gavlin berbalik badan, lalu, dengan gerakan yang sangat cepat, Gavlin langsung menggorok leher Ramon dengan pisau belati ditangannya. Gavlin tahu, Ramon mau menyerangnya, karena itu dia duluan menyerang Ramon sebelum Ramon sempat berdiri.

__ADS_1


Darah segar keluar dari leher Ramon yang tersayat pisau belati, lalu Gavlin pergi meninggalkan Ramon yang sudah tak bernyawa, dengan kepala rebah di meja makan restoran.


Gavlin berjalan santai keluar dari dalam restoran mewah itu, tak ada yang tahu, jika saat ini Ramon sudah tak bernyawa dan mati. Karena para pengunjung yang ada didalam ruang restoran mewah itu sibuk menikmati makanan yang mereka pesan.


__ADS_2