VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Gavlin Melewati Masa Kritis


__ADS_3

Andre datang bersama Masto dan beberapa petugas kepolisian, mereka mendekati Chandra yang sedang duduk melamun di bangku tunggu depan kamar ruang ICU tempat Gavlin yang baru saja mendapatkan perawatan dan di tangani oleh Dokter specialis.


"Bagaimana kondisi Gavlin?" tanya Andre, pada Chandra.


Chandra bangun dan berdiri dari duduknya, dia menyambut kedatangan Andre dan Masto serta para petugas kepolisian, Chandra berdiri dihadapan Andre.


"Belum sadarkan diri, sejak Dokter tadi selesai mengoperasinya." jelas Chandra.


"Oh, begitu." ujar Andre.


"Maaf, Chan, sebaiknya, kamu jangan di sini." ujar Andre, dengan wajah serius menatap Chandra.


"Mengapa?" tanya Chandra, dengan wajah heran menatap Andre yang berdiri dihadapannya.


"Saya rasa, pihak organisasi Inside pastinya tetap berusaha mengejarmu, dan jika mereka tau kamu ada di rumah sakit ini, itu bisa membahayakan nyawamu dan juga nyawa Gavlin yang sedang di rawat." jelas Andre, dengan serius menjelaskan.


"Lantas, mau kemana aku? Balik ke rumah gak mungkin, karena rumahku bukan lagi tempat yang aman." ujar Chandra, dengan wajah bingungnya.


"Untuk sementara waktu, kamu tinggal saja di rumah aman, tempat rumah perlindungan bagi saksi saksi pihak kepolisian." ujar Andre.


"Oh, begitu, baiklah, Aku bersedia tinggal disana." ujar Chandra.


"Baik. Masto, kamu antar Chandra ke rumah aman kita." ujar Andre.


"Baik, Pak." jawab Masto.


"Mari ikut saya." ujar Masto pada Chandra .


"Baik, Tapi, bagaimana dengan Gavlin?" tanya Chandra, dengan wajah khawatirnya.


"Kamu tenang saja, saya akan menempatkan para petugas kepolisian untuk berjaga dan melindungi Gavlin di sini." ujar Andre menjelaskan.


"Oh, begitu, syukurlah, kalo Gavlin mendapatkan penjagaan ketat dari pihak kepolisian, dengan begitu, organisasi Inside gak bisa datang ke sini menangkap Gavlin." ujar Chandra, dengan wajah leganya.


"Ya. Memang saya sengaja menjaga Gavlin, karena, jika organisasi tau Gavlin masih hidup dan dirawat di rumah sakit ini, pasti kelompok Inside berusaha membunuhnya dengan mengutus orang untuk datang ke tempat ini." ujar Andre, menjelaskan.


"Ya." Angguk Chandra.


"Baiklah, kalo begitu, aku pergi, ku tititipkan Gavlin pada kalian di sini, tolong, lindungi dan jaga dia, Gavlin sudah menyelamatkan nyawaku." ujar Chandra.


"Ya, kamu tenang saja." ujar Andre.


Chandra hendak pergi bersama Masto, tiba tiba, alarm kamar ruang ICU tempat Gavlin di rawat berbunyi, alarm tanda bahaya dari pasien.


Chandra, Andre dan juga Masto serta petugas kepolisian bereaksi mendengar bunyi alarm, mereka saling pandang dengan wajah yang heran.


"Ada apa ini?" tanya Andre heran.


Belum sempat Chandra menjawab, terlihat Suster dan Dokter berlari lari cepat ke arah kamar, Chandra heran melihatnya, Dokter dan Suster bergegas masuk ke dalam kamar ruang ICU.


"Sepertinya Gavlin dalam bahaya." ujar Chandra, dengan wajah cemasnya.


Andre melihat ke arah pintu kamar ruang ICU yang tertutup, mereka ingin tahu, apa yang terjadi dengan Gavlin di dalam kamar, namun, karena pintu kamar di tutup rapat, mereka tak bisa melihat apapun juga dari luar kamar.


"Kira kira apa yang terjadi di dalam sama Gavlin?" ujar Chandra dengan wajah cemas dan penuh rasa khawatirnya.


"Semoga Gavlin baik baik saja, kita tunggu hasil pemeriksaan Dokter." jelas Andre.


Chandra pun mengangguk lemah, wajahnya masih memperlihatkan rasa khawatir yang sangat mendalam, dia cemas dan takut, telah terjadi hal buruk pada diri Gavlin.


Sementara itu, di dalam kamar ruang ICU, terlihat Dokter sedang menangani dan memeriksa kondisi Gavlin yang mengalami kejang kejang dan situasinya sedang dalam kondisi kritis.

__ADS_1


Wajah sang Dokter tampak serius sekali menangani Gavlin, dia dibantu oleh Suster yang juga datang tadi bersamanya saat alarm berbunyi.


Di depan kamar ruang ICU, Andre, Masto dan juga Chandra serta para petugas kepolisian yang berjaga jaga masih berdiri menunggu, mereka menunggu Dokter selesai memeriksa kondisi Gavlin di dalam kamar ruang ICU.


Tak berapa lama, Dokter keluar bersama Suster dari dalam kamar ruang ICU. Melihat Dokter, Chandra cepat menghampiri Dokter, Andre dan Masto mengikuti Chandra yang mendekati Dokter.


"Bagaimana kondisi pasien di dalam Dok?" tanya Chandra, dengan wajah tegang dan cemas serta ingin tahunya.


"Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya, dan tadi saya sudah menanganinya, pasien sudah diberikan obat, dan sekarang sedang tertidur." jelas Dokter yang memeriksa Gavlin.


"Apa pasien baik baik saja, Dok?" tanya Andre, menatap Dokter dengan wajahnya yang serius.


"Ya, saat ini pasien dalam kondisi baik baik saja, memang pasien sempat mengalami kejang dan kritis, namun, semua bisa di atasi." jelas Dokter.


"Oh, syukurlah." ujar Chandra, lega.


"Apa kami boleh masuk ke dalam untuk melihatnya sebentar Dok?" tanya Andre pada Dokter.


Dokter melihat Andre dan yang lainnya memakai seragam kepolisian, dia tahu, keberadaan Andre pasti ada hubungannya dengan Gavlin yang sedang di rawat di dalam kamar ruang ICU.


Dokter lantas menatap lekat wajah Andre yang berdiri dihadapannya.


"Bapak bisa melihatnya sebentar saja.Namun, pasien gak boleh diajak bicara, saat ini, pasien butuh istirahat banyak." jelas Dokter, pada Andre.


"Baiklah, Dok. Saya akan sebentar saja melihatnya." ujar Andre.


"Ya, silahkan masuk, dan saya tinggal dulu ya." ujar Dokter.


Andre mengangguk , mengiyakan perkataan Dokter, sang Dokter lantas pergi meninggalkan Andre dan Chandra serta Masto dan petugas kepolisian.


Seperginya Dokter dan pasien, Andre dengan cepat masuk ke dalam kamar ruang ICU, Chandra mengikutinya, dia juga masuk ke dalam kamar bersama Masto, sementara para petugas kepolisian yang datang bersama Andre tadi berdiri di depan pintu masuk kamar ruang ICU, para petugas kepolisian berdiri dan berjaga jaga disekitar kamar.


Chandra melihat, tangan kanan Gavlin di borgol pada ranjang, Chandra heran melihatnya, dia lantas menoleh dan menatap Andre.


"Mengapa Gavlin di borgol?" tanya Chandra, dengan wajah herannya.


"Buat berjaga jaga saja." ujar Andre.


"Berjaga dari apa? Gavlin masih lemah gak berdaya, dia belum kuat bangun, dan gak mungkin Gavlin pergi dalam kondisi yang sangat lemah." ujar Chandra.


"Mengapa harus di borgol? Gavlin kan bukan penjahatnya, dia malah korban." ujar Chandra, dengan wajah tak senang, sebab Gavlin di borgol.


"Gavlin itu buronan utama kepolisian selama ini, Saya memborgolnya, agar Gavlin gak bisa kemana mana, lagi pula, ini jalan terbaik buatnya." ujar Andre serius.


"Jalan terbaik? Apa maksudmu?!" tanya Chandra heran.


"Dengan di borgol dan Gavlin dalam pengawasan pihak kepolisian, maka pihak Inside saat ini gak akan bisa mendekati dan membunuh Gavlin, karena Gavlin berada dalam pengawasan dan penjagaan ketat pihak kepolisian saat ini." jelas Andre pada Chandra.


Chandra diam saja mendengar penjelasan Andre, dia melirik wajah Gavlin yang tidur di atas kasurnya, wajah Chandra tampak prihatin melihat kondisi Gavlin yang lemah tak berdaya itu.


"Apa Gavlin terus akan di borgol seperti ini?" ujar Chandra bertanya.


"Ya, dia akan tetap di borgol, dan jika Gavlin sudah mulai sehat, Saya akan membawanya ke kantor polisi untuk di proses." ujar Andre, serius menjelaskan.


Mendengar perkataan Andre yang akan membawa Gavlin ke kantor polisi dan akan menahannya jika sudah baikan, Andre pun terdiam, dia terlihat memikirkan sesuatu hal pada diri Gavlin. Chandra lantas menghela nafasnya berat.


"Baiklah kalo begitu." ujar Chandra.


"Ayo kita pergi ke rumah aman itu." ujar Chandra pada Masto.


"Baik." Angguk Masto.

__ADS_1


Lantas, Chandra dan Masto memberi hormat pada Andre, lalu, mereka bergegas jalan keluar dari dalam kamar ruang ICU, Andre menatap lekat wajah Gavlin yang tertidur pulas diatas kasurnya. Andre menarik nafasnya dalam dalam, lalu, dia pun bergegas pergi keluar dari dalam kamar ruang ICU. Meninggalkan Gavlin sendirian yang tertidur nyenyak diatas ranjangnya


Di luar kamar ruang ICU, Masto berdiri bersama Chandra, Andre keluar dari dalam kamar dan mendekati Chandra.


"Kamu mau pergi sekarang?" tanya Andre.


"Ya." Angguk Chandra.


"Baiklah, kabari saya jika sudah sampai dirumah perlindungan kita." ujar Andre pada Masto.


"Baik, Pak. Akan saya kabari nanti." ujar Masto.


"Baiklah, silahkan pergi, dan hati hati dijalanan." ujar Andre.


"Siap!" Jawab Masto.


"Aku pergi." ujar Chandra.


"Ya." Angguk Andre.


Lantas, Chandra dan Masto pun bergegas pergi meninggalkan Andre, Andre berdiri mengamati kepergian Chandra dan Masto.


"Kalian tetap jaga di sini, jangan lengah!" ujar Andre pada petugas kepolisian yang berjaga di depan pintu masuk kamar.


"Siap, Pak!" ujar petugas kepolisian.


"Jangan biarkan orang lain masuk ke dalam kamar ini, gak ada yang boleh masuk kecuali Dokter dan Suster." tegas Andre.


"Siapa pun yang datang dan mau melihat Gavlin, wajib mendapatkan izin saya terlebih dulu, kalian bisa melaporkannya pada saya, jika ragu dan mencurigai, segera ambil tindakan tegas!" ujar Andre, memberi penjelasan.


"Baik, Laksanakan!" ujar petugas kepolisian.


"Ya sudah, saya tinggal dulu." ujar Andre.


"Siap!" jawab para petugas kepolisian bersamaan.


Andre lantas bergegas pergi meninggalkan tempat itu, setelah kepergian Andre, para petugas kepolisian berdiri dan berjaga jaga disekitar depan kamar ruang ICU Gavlin.


Di halaman parkir, Andre masuk ke dalam mobilnya, teleponnya berdering, dia segera mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, lalu, dia menerima panggilan telepon.


"Ya Sam, aku di rumah sakit, liat Gavlin." ujar Andre, ditelepon bicara.


"Bagaimana kondisi Gavlin?" tanya Samuel, dari seberang telepon.


"Dia masih lemah dan gak berdaya saat ini." ujar Andre, diteleponnya.


"Oh, begitu. Tapi kalian menjaganya kan?" tanya Samuel, dari seberang telepon.


"Ya, Anak buahku menjaganya."ujar Andre, ditelepon.


"Ok. Jangan sampe Gavlin lolos lagi, dia harus kita hentikan, Jika Gavlin berkeliaran terus, kita akan susah menangkap Binsar dan anak buahnya, karena Gavlin pasti berusaha mencampuri urusan kita, karena dia mau menuntut balas." ujar Samuel, dari seberang telepon.


"Ya, rencananya, jika sudah baikan, aku akan bawa Gavlin ke kantor untuk segera ditahan dan di proses." jelas Andre, ditelepon.


"Ok, kabari aku, jika ada hal penting lainnya nanti." ujar Samuel, dari seberang telepon.


"Baik, akan aku kabari." ujar Andre.


Lantas, Andre mematikan ponselnya, dia lalu meletakkan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya.


Andre lantas menyalakan mesin mobilnya, lalu, beberapa saat kemudian, mobil pun bergerak, Andre menjalankan mobilnya, dia pergi meninggalkan halaman parkir rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2