VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Orang itu, Adalah Teguh


__ADS_3

Di sepanjang jalan, wajah Herman tampak masih sangat marah, dia merasa tersinggung dan marah pada Andre yang sudah mengancamnya.


Jack duduk diam di depan, di samping supir, sementara, Pengacara pribadi Herman yang duduk di belakang Herman juga diam.


"Lancang sekali si Andre itu ! Mentang mentang baru di pindah tugaskan dan naik jabatan mengganti posisi Gatot, dia langsung sok sokan!" ujar Herman, ngomel marah marah.


"Sudah, kamu santai aja, Andre berani gak melakukan ancamannya, aku ragu, kalo dia punya bukti bukti tentang kejahatan kita." ujar Jack, santai.


"Iya, Pak. Sebaiknya Bapak tenang, kalo bapak uring uringan, apalagi marah sama Andre yang mengancam bapak, secara gak langsung, Bapak udah mengakui, kalo Bapak pernah berbuat kejahatan seperti yang dituduhkan Andre." ujar Pengacara menjelaskan.


"Kita liat saja nanti, apakah bukti bukti yang di bilang Andre itu kuat, atau hanya gertakan Andre saja." lanjut Pengacara.


"Ya, tapi tetap aku tersinggung, si Andre udah menginjak injak harga diriku, dia meremehkan dan merendahkan aku!!" ujar Herman dengan penuh amarah.


"Kalo Andre punya bukti, dia tentu akan membuka kasus kita, dan agar bisa kasus kita itu di ungkap Andre, dia butuh izin dan bantuan Jaksa Penuntut!" ujar Jack.


"Aku akan menyuruh anak buahku , para Jaksa Penuntut, agar menolak permintaan Andre nantinya!" tegas Jack.


"Baiklah, aku serahkan padamu!" ujar Herman, menahan geram dan amarahnya.


"Bagaimana dengan kedua pengawalku yang ditangkap?" tanya Herman.


"Mereka juga sudah di bebaskan, Pak." jawab Pengacara.


"Oh, baguslah, berarti mereka bisa menjaga saya lagi." ujar Herman senang.


"Iya, Pak." jawab Pengacara pribadi Herman.


---


Di dalam ruang kamar khususnya, Gavlin berdiri menatap Papan tulis besar yang menempel di dinding.


Di papan tulis, banyak sekali photo photo terpajang, dan semua photo photo yang menempel di papan tulis besar itu sudah ditandai silang sama Gavlin. Pertanda, bahwa orang orang yang ada di photo photo tersebut sudah mati semua, karena dia bunuh.


Photo photo itu berisi wajah wajah musuh musuh Gavlin, yang saat dia kecil sudah menghancurkan kebahagiaan kehidupannya dulu.


Gavlin lantas melingkari dan menyilang photo Richard yang juga di pajangnya di papan tulis, dia tersenyum sinis memandangi photo Richard.


Lalu, Pandangan kedua matanya tertuju pada tiga photo yang juga terpajang di papan tulis besar itu.


Dia menatap tajam ketiga photo, Photo itu milik Herman, Jack dan juga Peter.


Wajah Gavlin tampak geram dan menahan amarahnya saat menatap ke tiga photo musuh musuhnya tersebut.


"Kalian bertiga gak akan ku ampuni, kalianlah yang sudah menghancurkan kehidupan Bapakku, dengan tuduhan tuduhan palsu yang kalian sengaja buat, dan kalian juga sudah menghancurkan kebahagiaan masa kecilku bersama kedua orang tuaku." ujar Gavlin geram.


"Kejahatan kalian gak akan bisa di ampuni, kalian harus menerima balasan dari perbuatan kalian!" lanjut Gavlin, menatap tajam ketiga photo.


Gavlin lantas diam, namun kedua matanya tetap tertuju pada ketiga photo, seakan dia sedang memilah milah, mana yang lebih dulu dia bunuh , diantara ketiga musuhnya itu.


---


Mobil melaju dijalanan, Herman mengamati jalanan dari dalam mobilnya. Dia lantas melihat supir pribadi Jack.


"Jangan bawa aku ke rumahku." ujar Herman.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Jack heran, menoleh ke belakang, melihat Herman yang duduk di jok belakang bersama Pengacaranya.


"Antar saja aku ke Hotel, aku gak mau pulang , pasti di rumahku banyak polisi polisi yang masih berjaga dan menyelidiki, serta mengangkut mayat mayat penjaga dan juga mayat Richard!" ujar Herman dengan wajah yang serius.


"Oh, begitu, baiklah." ujar Jack.


"Kita ke Hotel De'luxe." ujar Jack pada supir pribadinya.


"Baik, Pak." jawab supir pribadi Jack.


Lantas, di sebuh putaran, Sang Supir pun segera memutar balik mobilnya, lalu mobil melaju ke arah sebaliknya, menuju hotel yang di katakan Jack tadi.


Mobil lantas melaju dengan kecepatan sedang, Herman tampak duduk diam, dia masih terlihat kesal dan marah, Herman tetap tak bisa melupakan perbuatan Andre yang memborgolnya, dan membawanya ke kantor polisi, menginterogasi bagai seorang penjahat yang tertangkap.


Herman tak bisa menerima sikap Andre yang telah merendahkan dirinya, dia pun menjadi dendam pada Andre. Ingin membalas dan menghancurkan Andre.


---


Di rumahnya, Andre duduk di meja kerjanya, dalam ruang tengah, dia sedang mengamati berkas berkas kasus tentang pembunuhan yang terjadi 18 tahun lebih yang lalu, dimana Bapak Gavlin sebagai korban sekaligus tersangka.


Selain itu, ada juga berkas berkas kasus lainnya, berkas kasus bisnis ilegal Bramantio dan komplotannya, yang didalamnya termasuk Herman, Jack dan juga Peter, kasus pencucian uang /money laundry yang tak pernah sempat di ungkap dan di proses. Lantas, kejahatan korupsi jual beli jabatan yang dilakukan Herman serta Jack. Dan kasus kasus lainnya, dan semuanya berisi tentang Herman dan Jack serta Peter sebagai tersangka yang tak pernah tersentuh.


Andre diam, tiba tiba, dia teringat akan sesuatu, di pandanginya berkas berkas kasus tersebut, lalu, dia teringat akan seseorang.


Ya, orang yang memintanya khusus, untuk melanjutkan proses penyelidikan kejahatan Herman dan komplotannya.


Andre tampak diam, dia pun lantas melamun, mengingat satu kenangan di masa lalu.


Dan saat itu, kita kembali ke beberapa waktu lampau.


Andre duduk di meja kerjanya, di meja kerjanya, terpampang papan namanya 'Letnan satu Andre Sarafagil'.


Saat itu, Andre masih menjabat sebagai Letnan satu, di divisi kejahatan dan anti teror, berbeda dengan divisi Gatot, yang khusus di divisi kriminal dan kejahatan berat, seperti pembunuhan dan sebagainya.


Pintu ruang kerjanya di ketuk, Andre yang sedang membaca berkas berkas di atas meja kerjanya menoleh ke pintu.


"Ya, masuk." ujar Andre, mempersilahkan masuk.


Tak berapa lama, pintu ruang kerjanya terbuka, lalu, masuk seorang Pria muda dan gagah, dengan berpakaian dinas kepolisian, berjalan masuk menghampiri Andre.


Andre diam sesaat, dia melihat orang yang masuk kedalam ruang kerjanya, wajah Andre tampak sangat senang sekali.


Andre lantas berdiri dari kursi kerjanya, dia lalu bergegas menghampiri Pemuda itu, Lantas, mereka berdua pun berdiri saling berhadapan di depan meja kerja Andre. Mereka berdua saling berpelukan erat, tampak sudah sangat akrab, lantas, mereka melepaskan pelukan, dan saling menatap dan tersenyum senang.


"Apa kabar, Pak." ujar Pemuda tersebut.


"Kabar baik, Seperti mimpi rasanya, kamu tiba tiba berdiri di hadapan saya, dan kita bertemu lagi." ujar Andre tersenyum senang.


"Maafkan saya, Pak. Sejak saya di pindah tugaskan dari divisi Bapak ke divisi pak Gatot, saya belum sempat menemui Bapak lagi, karena, ternyata, banyak sekali kasus yang harus kami selesaikan." jelas Pemuda, Perwira Polisi itu.


"Gak apa apa, saya senang, kamu menjadi orang kepercayaan Gatot, Gatot gak salah memilihmu, meminta saya, agar mengizinkan kamu menjadi bagian dari timnya yang saat itu, Gatot sedang mengumpulkan tim terbaik di divisinya." jelas Andre, tersenyum senang.


"Ya, Pak." Angguk Pemuda Perwira Polisi.


"Ayo, kita duduk. Biar enak ngobrolnya." ujar Andre.

__ADS_1


Andre lantas mengajak pemuda itu duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerjanya itu. Pemuda Perwira Polisi lantas duduk di sofa, bersama Andre.


Pemuda Perwira Polisi meletakkan Map Map yang dia bawa ke atas meja kerja, Andre melihat Map Map itu.


"Map map apa itu, Teguh?" tanya Andre.


Ternyata, Pemuda Periwira Polisi itu adalah Teguh, Anak buah Gatot dan abang tiri Gavlin. Dia sudah sangat akrab dengan Andre, karena dulu, sebelum dia bergabung dengan Gatot , dia menjadi anak buah Andre, di divisi anti teror.Dan antara mereka berdua sudah seperti saudara, Teguh sangat menghormati Andre seperti orang tuanya sendiri , dan Andre sangat menyayangi Teguh, dan menganggapnya seperti anak sendiri. Keakraban mereka berdua terjalin, saat pertama kali Teguh menjalani pendidikan di academy kepolisian, Andre yang dulu sebagai pelatih sekaligus mentor, tertarik dengan kelihaian dan kecekatan serta kecerdasan Teguh, karena itu dia merekrut Teguh, dan bergabung di divisinya.


"Apa kedatanganmu kesini ada hubungannya dengan Map itu, Guh?" tanya Andre, menatap wajah Teguh yang diam tersenyum.


"Iya, Pak. Saya mau minta tolong sama Bapak." ujar Teguh.


"Hanya Bapak orang yang bisa saya percaya selama ini, dan saya, akan menyerahkan map map ini kepada Bapak." jelas Teguh.


"Apa isinya, Guh?" tanya Andre, heran melihat Map diatas meja.


"Berkas berkas kasus kejahatan Bramantio, Jafar, dan juga Herman, Jack, Peter dan yang lainnya, semua komplotan Bramantio dan Herman." jelas Teguh, dengan wajahnya yang serius.


"Ohya?" ujar Andre, terkesima mendengar penjelasan Teguh yang sangat lengkap tentang kasus yang dibawanya dalam map.


"Lantas, mengapa kamu serahkan berkas itu pada saya, divisi saya kan berbeda, Guh. Bagaimana caranya saya bisa membantu?" tanya Andre, menatap wajah Teguh.


"Saya gak meminta Bapak untuk ikut menyelidiki, saya hanya meminta Bapak, agar menyimpan berkas berkas file berisi kasus kejahatan Bramantio dan Herman serta komplotannya." ujar Teguh.


"Saya khawatir, jika saya hanya menyimpannya di ruang khusus penyimpanan data data dan bukti, berkas ini semua akan lenyap, seperti yang sudah sudah." lanjut Teguh, memberi penjelasan dengan serius.


"Lagi pula, apa yang sedang saya kerjakan dengan pak Gatot sangat berbahaya, setiap saat nyawa kami berdua terancam, saya khawatir, kami terbunuh saat bekerja, lalu, berkas itu musnah, dan Bramantio serta Herman serta lainnya tetap bebas dan tidak di proses secara hukum." ujar Teguh, dengan serius dan bersungguh sungguh.


"Hmm...baiklah, Guh. Karena kamu percayakan ke saya, saya akan menyimpan baik baik berkas ini, saya akan meletakkannya ditempat tersembunyi, yang gak kan ada satu orang pun bisa menemukannya." ujar Andre, tersenyum ramah.


"Terima kasih, Pak." ujar Teguh, senang.


"Oh,ya, satu lagi, Pak." ujar Teguh.


"Apa itu?" tanya Andre.


"Bapak ingat adik saya? Dulu Bapak sempat bertemu dia, saat pertama kali dia datang dari luar negeri dan menemui saya di kantor kita." ujar Teguh serius.


"Ya, saya ingat, hanya lupa namanya, kenapa Guh?" tanya Andre.


"Namanya Gavlin, Pak. Dalam map itu, ada satu kasus, yang berusia 18 tahun lebih, dan itu tentang kasus Bapak kandung Gavlin, adik angkat saya itu." jelas Teguh.


"Ohya?" ujar Andre kaget.


"Gavlin kembali ke Indonesia, karena mau menuntut balas sama Bramantio dan komplotannya." jelas Teguh.


"Saya minta tolong sama Bapak, jika suatu saat, Bapak berhadapan dengan Gavlin, tolong, jangan keras, atau sampai melukainya." ujar Teguh.


"Dia bertindak nekat, karena dendamnya kepada musuh musuhnya, jangan sampai nanti Bapak jadi musuh Gavlin." ujar Teguh lirih.


"Kamu sepertinya sangat menyayangi saudaramu itu." ujar Andre tersenyum.


"Ya, Pak. Saya mencintai dan menyayanginya, dan saya selalu melindungi Gavlin. Jujur, saya juga membantu Gavlin membalas dendam pada Bramantio, sambil saya mengusut kejahatan Bramantio dan komplotannya." ujar Teguh serius.


"Ya, saya paham, Guh!" ujar Andre tersenyum ramah pada Teguh.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak." ucap Teguh serius dan bersungguh sungguh.


__ADS_2