VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Peter Menculik Chandra


__ADS_3

Samsudin menemui Binsar di sebuah restoran mewah, mereka berada di dalam ruangan yang tertutup, agar keberadaan mereka tak ada yang mengetahui. Di depan pintu masuk ruangan, dua pengawal pribadi Binsar berdiri dan berjaga jaga.


"Mengapa kita bertemu di sini, Pak?" tanya Samsudin, heran.


"Ada yang mau aku sampaikan padamu." ujar Binsar, dengan wajah serius menatap Samsudin.


"Aku sudah tau, siapa orang yang selama ini membocorkan rahasia Inside, dan membuat banyak anggota anggota Inside ditangkap dan di penjara karena kasus korupsi dan kejahatan yang pernah mereka lakukan!" jelas Binsar, dengan wajah seriusnya.


"Siapa pelakunya?" tanya Samsudin, penasaran dan ingin tahu.


"Chandra. Dia pelakunya selama in!" tegas Binsar, geram dan menahan amarahnya.


"Chandra? Yang kerja di sekretariat presiden ?" tanya Samsudin.


"Ya. Dia. Dan aku mendengar sendiri pembicaraan dia bersama pak Presiden." jelas Binsar.


"Dia ketemu presiden?!" Samsudin terhenyak kaget.


"Ya. Sepertinya, Presiden yang memanggilnya, dia datang bersama Andre dan Samuel." ungkap Binsar geram.


"Dari rekaman cctv yang aku pasang di ruang kantor presiden, aku bisa jelas menyaksikan pengakuan Chandra, bahwa dia lah yang memberikan bukti bukti kejahatan Inside." tegas Binsar.


"Gila, kita kecolongan ! Bagaimana mungkin Chandra bisa mengetahui segala macam tindakan Inside?!" ujar Samsudin kesal.


"Dia sepertinya sengaja menyusup masuk dan bekerja di sekretariat kepresidenan dengan tujuan untuk menyelidiki dan mengawasi organisasi Inside!" ujar Binsar.


"Sepertinya, dia sudah lama melakukan hal itu, melihat, begitu banyaknya anggota Inside yang di tangkapi sejak dia memberi kesaksian dan bukti. Dia pasti sudah sangat jauh menyelidiki Indside tanpa sepengetahuan kita!" tegas Binsar geram dan marah.


"Dan aku sudah menyuruh Peter, untuk melacak dan mencari tau tentang riwayat hidup si Chandra itu, agar tau, apa maksud dan tujuannya menyelidiki serta membongkar rahasia Inside !" lanjut Binsar, memberi penjelasan.


"Apa dia ada hubungannya dengan Inside? Apa mungkin keluarganya Pernah menjadi korban?" ucap Samsudin berfikir.


"Aku menduganya begitu, tapi, belum jelas, kita tunggu saja Peter yang sedang melacak riwayat hidupnya, nanti kita akan tau, siapa Chandra itu sebenarnya." ujar Binsar.


"Lantas, apa yang akan Bapak lakukan pada Chandra itu? Dia gak bisa di biarkan terus mengoceh dan membongkar rahasia kita, Pak." tegas Samsudin.


"Tenang saja, aku sudah menyiapkan semuanya, aku juga akan perintahkan Peter untuk menghabisi Chandra, membungkamnya!" jelas Binsar.


"Oh, baiklah kalo begitu, agar dia gak merepotkan kita, memang harus di bungkam!" ujar Samsudin, kesal dan marah.


"Kita harus bisa meredam dan mencegah Andre dan Samuel, agar mereka gak bisa menangkapi semua anggota Inside !" jelas Binsar, dengan wajah seriusnya.


"Ya, Pak. Karena itu, saya mencoba untuk menghasut salah satu polisi yang berprestasi agar mau bergabung dan menjadi mata mata kita." jelas Samsudin.


"Siapa dia?" tanya Binsar.


"Masto, dia salah satu polisi yang berprestasi, dan dia juga orang kepercayaan Andre. Saya yakin, dia pasti mau bergabung dengan kita, karena saya menjanjikan jabatan tinggi padanya di kepolisian." tegas Samsudin, serius menjelaskan.


"Bagus. Kamu atur saja sebaik mungkin, kalo dia bergabung dengan kita, kita bakal dapat informasi jelas, tentang apa saja yang sedang di selidiki Andre, dan langkah apa yang mau dia jalani, jadi, kita bisa bersiap siap melawannya." ujar Binsar.


"Ya, Pak, itu tujuan saya." ujar Samsudin.


Binsar mengangguk angguk tersenyum senang, dia lantas menatap lekat wajah Samsudin yang duduk dihadapannya itu.


---


Di hari lainnya, terlihat Peter sedang menemui Binsar di markas organisasi Indside, dia ingin memberikan laporan dari hasil yang sudah dia dapatkan tentang Chandra.

__ADS_1


"Bagaimana ?" tanya Binsar.


"Saya sudah dapatkan riwayat hidup Chandra, Pak. Semua lengkap di dalam map ini." ujar Peter.


Peter menyerahkan map yang ada ditangannya pada Binsar, Binsar lantas mengambil map dari tangan Peter, dia membuka map dan membaca berkas yang ada di dalam map tersebut.


Dahi Binsar berkerut, wajahnya berubah memerah menahan geram dan amarahnya setelah dia membaca berkas riwayat hidup Chandra yang di berikan Peter padanya.


"Kurang ajar, ternyata Chandra itu anaknya Syamsul Bahri?!!" ujar Binsar , geram dan marah.


Dia melemparkan map berisi berkas riwayat hidup Chandra ke atas meja kerjanya, Peter yang berdiri di depan meja kerjanya hanya terdiam menatap wajah Binsar yang duduk di kursi kerjanya dengan wajah penuh amarah.


"Begitulah , Pak. Saya juga gak menyangka, jika dia ternyata anak Syamsul Bahri, yang dulu kita bunuh, sebab mau mengungkap rahasia Inside bersama Sanusi!" tegas Peter.


"Pantas saja selama ini dengan diam diam dia menyusup di dekatku dan menyelidiki organisasi Inside ! Ternyata, dia mau membalas dendam kematian bapaknya!!" ujar Binsar geram dan marah.


"Apa dia tau, kalo Bapaknya mati karena kita bunuh? Bukannya dulu, kematian Syamsul Bahri dinyatakan akibat serangan jantung, dan Dody, waktu itu bertugas sebagai polisi yang menyelidiki kematiannya juga sudah menyatakan, bahwa Syamsul Bahri mati karena serangan jantung!" ujar Peter, dengan wajah serius menjelaskan.


"Sepertinya dia tau, kalo Bapaknya mati di bunuh, karena itu dia mau balas dendam dan mengungkap segala macam perbuatan organisasi Inside!" tegas Binsar, menahan amarahnya.


"Wah, gawat kalo gitu, Pak. Pantas saja, tiba tiba Pihak Polisi dari tim penyidik yang di pimpin Andre bekerja sama dengan Jaksa penuntut Samuel menangkapi anggota anggota kita !" tegas Peter.


"Ya. Aku akan berikan tugas khusus padamu." ujar Binsar, menatap tajam wajah Peter.


"Tugas apa itu, Pak? Saya siap melaksanakannya!" tegas Peter.


"Habisi Chandra, bunuh dia, dan buang mayatnya ke tempat yang gak ada seorang pun bisa menemukan mayatnya!!" tegas Binsar, memberi perintah.


"Baik, akan saya laksanakan, Pak!" ujar Peter, memberi hormat.


"Ya, secepatnya, lenyapkan Chandra!" ucap Binsar, dengan wajah penuh amarah.


"Ya." Angguk Binsar, yang duduk di kursi kerjanya.


"Saya permisi, Pak." ujar Peter.


"Ya, silahkan." jawab Binsar.


Lalu, Peter pun bergegas keluar dari dalam ruang kerja Binsar di markas organisasi Inside, Binsar terlihat geram dan marah.


"Chandra, beraninya kamu membongkar rahasia Inside ! Akan ku habisi kamu, sama seperti aku menghabisi Bapakmu dulu!!" ujar Binsar, geram dan marah.


---


Samsudin yang ada dalam ruang kantornya sedang duduk santai melihat laptop di meja kerjanya, pintu di ketuk.


"Ya, masuk." ujar Samsudin.


Tak berapa lama, pintu terbuka, lalu, Mardi masuk ke dalam ruang kantor Samsudin, dia menutup pintu dengan pelan, lalu, berjalan mendekati Samsudin yang duduk di kursi kerjanya, Mardi berdiri didepan meja kerja Samsudin.


"Saya baru dapat kabar dari Masto, Pak." ujar Mardi, memberi laporan pada Samsudin.


"Apa katanya?" ujar Samsudin, menatap tajam wajah Mardi yang berdiri dihadapannya.


"Masto menolak tawaran Bapak." ujar Mardi.


"Apa ?!!" Samsudin terhenyak kaget.

__ADS_1


Dia berdiri dari duduknya di kursi kerja, wajahnya terlihat kesal mendengar perkataan Mardi yang mengatakan bahwa Masto menolak tawarannya.


"Lancang sekali Masto, berani menolak tawaranku!! Apa dia gak mau jadi pejabat tinggi di kepolisian?!!" ujarnya marah.


"Masto bilang, dia nyaman sebagai penyidik kepolisian , Pak. Intinya, dia menolak semua permintaan Bapak." jelas Mardi.


"Kurang ajar !!" ujar Samsudin marah.


"Kamu habisi Masto, bungkam dia ! Agar gak ngoceh dan membongkar pertemuan aku dan dia saat itu !!" tegas Samsudin, memberi perintah.


"Katakan pada Masto, kalo aku mau ketemu dan bicara padanya, bawa dia ke gedung palace yang belum di resmikan itu, bawa ke lantai paling atas, lalu, bunuh dia , dan buang mayatnya !!" tegas Samsudin, memberi perintah.


"Baik, Pak." ujar Mardi, memberi hormat.


"Ya, sudah sana, cepat kamu lakukan!!" ujar Samsudin menatap tajam wajah Mardi yang masih berdiri dihadapannya.


"Baik, Pak. Saya permisi." ucap Mardi, memberi hormat.


Lalu, Mardi bergegas pergi keluar dari dalam ruang kantor Samsudin, Samsudin terlihat geram dan marah.


"Siiiaaalll !! Kamu sok suci Mastooo!!" teriak Samsudin, geram dan marah.


Samsudin lantas menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, wajahnya memerah, dia tersinggung, karena Masto sudah berani menolak tawarannya, dan memilih untuk tetap setia pada pihak kepolisian dan tidak mau menjadi mata mata organisasi Inside.


"Gagal rencanaku, membungkam dan menghalangi langkah Andre dan Samuel mengungkap rahasia organisasi Inside !" ujar Samsudin.


"Aku harus mencari cara lain, guna menghalangi Andre dan Samuel, jangan sampai, semua anggota Inside di tangkap !" lanjutnya, bicara dengan dirinya sendiri.


Samsudin diam, dia tampak sedang berfikir keras, memikirkan bagaimana cara membungkam dan mencegah Andre dan Samuel yang berusaha mengungkap kejahatan terselubung organisasi Inside.


---


Chandra berjalan keluar dari dalam gedung kantor sekretariat kepresidenan, dia menuju ke mobilnya yang terparkir dihalaman parkir.


Dari dalam mobilnya, Gavlin yang memantau dan mengawasi Chandra melihat, Chandra berjalan ke arah mobilnya, Gavlin lalu membuka pintu mobilnya, dia lantas keluar dari dalam mobil dan ingin menghampiri Chandra.


Namun, langkahnya terhenti, saat dia melihat, dari arah lain, Peter berjalan cepat mendekati Chandra yang sudah di dekat mobilnya.


"Peter ?!! Mau apa dia mendekati Chandra?!" gumam Gavlin.


Gavlin geram melihat Peter yang memakai seragam polisi mendekati Chandra yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


Peter mendekat, lalu, dia langsung menodongkan pistolnya ke pinggang Chandra, Chandra terkesiap kaget.


"Jangan macam macam, kalo gak mau aku tembak!" bisik Peter.


"Mau apa kamu?!" tanya Chandra marah.


"Jangan banyak tanya, ikut saja! Ayo cepat!!" ujar Peter, masih menodongkan pistolnya ke pinggang Chandra.


Dari mobilnya, Gavlin melihat, Chandra terlihat gugup dan mukanya memerah seperti menahan marah, Lalu, dia melihat, Chandra pergi di bawa Peter, selintas, Gavlin melihat, kalau Peter menodongkan pistol ke pinggang Chandra.


"Kurang ajar !! Peter pasti mau membunuh Chandra!! Aku harus menolongnya !" gumam Gavlin, geram.


Dia melihat, Chandra masuk ke dalam mobil Peter, lalu, Gavlin pun cepat masuk ke dalam mobilnya, dia segera menyalakan mesin mobilnya dan bersiap siap untuk pergi.


Sesaat kemudian, mobil Peter berjalan dan pergi meninggalkan halaman parkir gedung kantor sekretariat kepresidenan, Gavlin pun cepat menjalankan mobilnya, dan dia mengikuti mobil Peter yang membawa Chandra.

__ADS_1


Di dalam mobil, Supir menyetir mobil, dan di jok belakang, duduk Chandra bersama Peter yang masih menodongkan pistolnya pada Chandra.


__ADS_2