
Mobil Pablo berhenti di halaman sebuah rumah yang megah berlantai dua, di belakang mobilnya, berhenti juga mobil Gavlin.
Pablo lantas segera keluar dari dalam mobilnya, dan berdiri di samping mobil menunggu Gavlin serta Indri.
Sesaat kemudian, Gavlin dan Indri keluar dari dalam mobilnya, dengan raut wajah heran Gavlin dan Indri sama sama memandangi rumah megah yang ada di hadapan mereka. Rumah yang begitu besar dan luas, menandakan pemiliknya adalah salah seorang dari orang kaya raya di kota Paris, negara Prancis.
Dengan wajah heran Gavlin mengajak Indri berjalan dan mendekati Pablo, Pablo tersenyum ramah berdiri menunggunya.
"Rumah siapa ini?" tanya Gavlin pada Pablo.
"Rumahku." Jawab Pablo, tersenyum menatap wajah Gavlin yang berdiri di hadapannya bersama Indri.
"Untuk apa kita ke rumahmu? Bukannya kami tadi bilang mau menunjukkan sesuatu padaku di suatu tempat?!" tanya Gavlin menatap serius wajah Pablo yang tersenyum dan bersikap tenang itu.
"Iya. Dan di dalam rumahku ini lah aku akan menunjukkan sesuatu padamu." ujar Pablo, memberi penjelasan pada Gavlin.
Gavlin masih terheran heran dan tak mengerti dengan perkataan Pablo, namun, karena rasa penasaran dan ingin tahu apa yang akan di tunjukkan Pablo kepadanya, Gavlin mencoba untuk bersikap tenang. Sementara Indri hanya berdiri diam saja di samping Gavlin, Dia tak mengerti apa apa.
"Ayo kita masuk ke dalam rumahku sekarang." ujar Pablo, mengajak Gavlin.
"Ya." Angguk Gavlin.
Pablo lalu berjalan ke arah rumahnya, Gavlin sambil memegangi tangan Indri berjalan mengikutinya sambil terus matanya memandangi rumah Pablo dengan wajah herannya.
Pablo berdiri di depan pintu masuk rumahnya, Dia lantas menekan bel pintu, tak berapa lama, pintu terbuka, dan tampak Asisten rumah tangga berdiri di depan pintu menyambut Pablo dan juga Gavlin serta Indri.
"Mari masuk, Vlin." Ajak Pablo.
Gavlin mengangguk, lalu, Gavlin dan Indri masuk ke dalam rumah mengikuti Pablo yang sudah masuk terlebih dulu.
Asisten rumah tangga menutup pintu dan segera bergegas pergi meninggalkan mereka.
"Mari ikut Aku." ujar Pablo, mengajak Gavlin dan Indri.
"Kemana?!" tanya Gavlin heran, menatap wajah Pablo yang tersenyum berdiri dihadapannya.
"Ikut saja." Ujar Pablo, tersenyum penuh arti.
Gavlin semakin bingung dan bertanya tanya, apa maksud dan tujuan Pablo membawa Dia dan indri kerumahnya.
Namun, disimpannya rasa penasarannya itu dalam dirinya, mau tak mau, Gavlin mengikuti Pablo.
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan memasuki sebuah ruangan, lalu, Di depan sebuah kamar, Pablo lantas segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Gavlin semakin heran dengan sikap Pablo tersebut yang penuh dengan tanda tanya besar, tapi Dia tetap mengikuti Pablo.
Gavlin mengajak Indri ikut masuk ke dalam kamar tersebut.
Di dalam kamar, Pablo menutup kembali pintu kamar, lalu berjalan menuju sebuah ranjang, Gavlin dan Indri mengikutinya.
Di atas ranjang, tampak ada sosok Pria yang sedang berbaring di atas kasur. Pablo berjalan mendekat, lalu berdiri di samping ranjang.
Gavlin yang berjalan di belakang Pablo juga tiba, Gavlin melihat ke atas ranjang.
Saat melihat sosok Pria yang terbaring di atas kasur dengan bertelanjang dada dan perut yang di perban, Gavlin terperanjat kaget.
"Maliiikk?!!" Ujar Gavlin, tersentak kaget, menatap tajam wajah Pria yang terbaring di atas kasur.
Walaupun saat ini, Malik sudah sedikit berewokan karena kumis dan jenggotnya tumbuh dan tak di cukur, sebab Dia belum bisa bergerak karena luka di perutnya, Tapi, Gavlin sangat mengenali sosok Malik, sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri itu.
"Ya, Vlin. Dia Malik. Dialah yang ingin aku tunjukkan padamu." ucap Pablo, tersenyum ramah menatap wajah Gavlin.
Gavlin menatap tajam wajah lemah Malik yang terbaring di atas kasur, Dia seakan tak percaya dengan apa yang Dia lihat saat ini.
"Maliik...Syukurlah kamu masih hidup!" ujar Gavlin, memeluk tubuh Malik yang berbaring di atas kasur.
Malik kaget melihat Gavlin ada dihadapannya saat ini, wajah pucat Malik menatap tajam wajah Gavlin yang berdiri di samping ranjangnya.
"Ga...vlin?!!" Ujar Malik, tersentak kaget.
"Ya, ini Aku Gavlin. Aku selama ini mencarimu, Lik. Aku yakin kamu masih hidup dan gak tewas dalam pesawat yang meledak itu!!" ujar Gavlin, menatap serius dan penuh bahagia wajah Malik.
"Ya, Vlin. Berkat bantuan Pablo, Aku selamat dari pesawat itu, jika Pablo gak datang menolongku , Aku pasti sudah tewas." ujar Malik, menjelaskan dengan suaranya yang lemah.
"Apa maksudmu? Dan mengapa kamu sampai terluka begini?" ujar Gavlin, sambil melihat luka di perut Malik yang di perban.
"Apa yang terjadi pada Malik?!!" Tanya Gavlin, menatap tajam wajah Pablo yang berdiri di sampingnya itu.
"Mari kita duduk di kursi itu, Akan Aku ceritakan semua kejadiannya dari awal hingga akhir." ujar Pablo, tersenyum ramah pada Gavlin.
"Ya." Angguk Gavlin.
Malik menggerakkan tubuhnya, Dia ingin bangun dari kasurnya dan turun dari ranjangnya, Pablo yang melihatnya langsung dengan cepat mencegahnya.
__ADS_1
"Kamu jangan bergerak dulu, nanti jahitan di lukamu terbuka lagi, karena belum benar benar kering." ujar Pablo, memegang dan menahan tubuh Malik agar tak bergerak dan bangun dari kasurnya.
"Tapi, Aku ingin jelaskan juga semuanya pada Gavlin, apa yang terjadi padaku saat membawa Binsar ke pesawat itu." ungkap Malik, menatap serius wajah Pablo yang masih memegangi tubuhnya.
Pablo diam sesaat, Gavlin terus memandangi wajah Malik, Dia tampak senang melihat Malik masih hidup, walau pun saat ini dirinya sedang terluka, dan sepertinya Pablo sedang merawatnya.
"Hmm...Sebentar, Aku ambil kursi, kita ngobrol di sini saja kalo begitu." ujar Pablo.
Pablo lantas bergegas mengambil kursi yang ada di dalam kamar itu.
Kamar tersebut seperti hotel, dengan fasilitasnya yang lengkap, Pablo sepertinya orang yang sukses, sebab memiliki rumah yang megah. Kamar bagaikan hotel kelas mewah, yang ada ruang tamunya segala.
Gavlin yang melihat Pablo mengangkat kursi lantas cepat membantunya, Gavlin juga mengambil dan mengangkat satu kursi , lalu membawanya ke dekat ranjang dimana Malik berada saat ini.
Tiga kursi sudah tersedia di samping ranjang, kursi untuk Pablo, Gavlin dan juga Indri, sementara Malik di atas kasurnya, berbaring.
"Duduklah, Vlin." ujar Pablo pada Gavlin.
"Ya." Angguk Gavlin.
Gavlin dan Indri lantas duduk di kursinya masing masing, begitu juga dengan Pablo, Dia juga duduk di kursi yang Dia ambil sendiri tadi.
Malik dari atas ranjangnya menatap lekat wajah Gavlin, sorot matanya terlihat ada rasa bersalah pada diri Gavlin.
"Vlin. Maafkan Aku. Karena memukul dan membuatmu pingsan, lalu mengikatmu dirumah." ujar Malik, dengan suara lemahnya meminta maaf pada Gavlin.
"Aku gak marah sama kamu, Lik. Aku tau alasanmu melakukan itu, kamu ingin menghentikan niatku melakukan aksi bom bunuh diri di dalam pesawat bersama Binsar, karena itu kamu membuatku pingsan, agar kamu bisa menggantikanku." ungkap Gavlin, memberi penjelasan pada Malik.
"Iya, kamu benar , Vlin. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghentikan niatmu itu." ucap Malik, menatap lekat wajah Gavlin yang duduk di kursinya.
"Tapi, sejujurnya, Aku menggantikan dirimu membawa Binsar ke pesawat itu, bukan karena aku akan melakukan aksi bom bunuh diri pada diriku sendiri, Tidak , Vlin. Aku gak sebodoh itu!" ungkap Malik, tersenyum menatap wajah Gavlin.
"Gak mungkin Aku melakukan hal gila itu, Aku menentangmu melakukan bom bunuh diri, masak aku lalu melakukannya? Aku gak segila itu!" Ungkap Malik, memberi penjelasan pada Malik.
"Ya, Lik. Syukurlah, kamu gak melakukan hal itu. Lantas, apa yang terjadi padamu? Bagaimana kamu mendapatkan luka seperti ini?!" ujar Gavlin, bertanya pada Malik.
"Dan , Jika kamu gak melakukan aksi bom bunuh diri, tidak memakai bom itu pada tubuhmu, lantas, mengapa pesawat itu bisa meledak, dan menewaskan pilot pesawat bersama Binsar dan juga satu sosok mayat lagi, yang di duga polisi adalah Aku, karena mereka menemukan kartu tanda pengenal diriku di dalam kantong celana korban itu!" Ujar Gavlin bertanya dengan wajahnya yang serius pada Malik.
"Akan Aku ceritakan semua kejadiannya, dan mungkin, Pablo akan menambahkan kelanjutannya, bagaimana akhirnya aku ada di rumah Pablo terbaring lemah dengan luka yang diperban." Ujar Malik, dengan suara lemahnya menjelaskan pada Gavlin.
"Ya. Jelaskan semuanya, ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu.Aku akan mendengarkannya." ujar Gavlin, menatap serius wajah Malik.
__ADS_1
Gavlin benar benar penasaran, Dia ingin tahu, bagaimana caranya Malik masih hidup dan selamat dari ledakan pesawat, karena yang Dia tahu, Malik membawa Binsar ke pesawat tersebut lalu pesawat pun lantas terbang, dan Dia bersama Indri sempat melihat pesawat berangkat terbang saat itu.