
Mulyono menjadi gelap mata dan nekat mau membunuh Herman sebab kematian anak semata wayangnya.
Dia pun akhirnya harus mempertaruhkan nyawanya, dan pada akhirnya mati ditembak para petugas kepolisian.
Mengapa Mulyono senekat itu? Untuk mengetahui awal mula penyebab Mulyono bertekat untuk membalas dendam atas kematian anak semata wayangnya. Kita akan mundur kebelakang untuk sesaat.
Flash Back.
Kembali ke beberapa waktu yang silam.
Saat itu, Herman keluar dari dalam rumah Mulyono setelah dia menyaksikan pertemuan antara Richard dan Mulyono.
Herman berjalan keluar dari dalam rumah Mulyono, lantas dia masuk ke dalam mobilnya, di dalam mobilnya, Herman mengambil ponsel dari kantong celananya, lalu, dia pun menelpon.
"Bunuh mereka berdua! Saya gak percaya Herman!" tegas Herman, memberi perintah di teleponnya.
Lantas, Herman mematikan ponselnya, dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya.
Mobil Herman lantas berjalan, pergi meninggalkan rumah Mulyono, sementara di dalam rumahnya, tampak Mulyono sedang menelpon anaknya, seperti yang sudah di ceritakan dalan bab sebelumnya.
Di dalam mobil, Seorang Pemuda , anak buahnya Herman, baru saja selesai bicara dengan Herman di telepon, dia lantas menyimpan ponsel di kantong bajunya, lalu, melanjutkan menyetir mobil.
Tiba tiba telepon berdering, anak Mulyono mengambil ponsel dari kantong bajunya, Anak buah Herman yang duduk di depan mobil, di samping temannya yang menyetir mobil mendengar telepon berbunyi, dia pun langsung menoleh ke jok belakang, lalu dia pun mengarahkan pistolnya pada anak Mulyono.
"Jangan bicara macam macam, atau ku bunuh kalian!" bentak Anak buah Herman.
Anaknya Mulyono, katakanlah namanya Minto, segera mengangkat teleponnya.
Seperti pada bab sebelumnya, Minto, anaknya Mulyono pun mengabarkan kalau dia dan istrinya sudah di bebaskan Herman dan komplotannya dan sekarang sedang dijalan mau pulang.
Setelah dia bicara dengan Papahnya di telepon, Minto menutup ponselnya dan menyimpannya ke dalam kantong bajunya lagi
Istri Minto yang duduk di sampingnya tampak sangat ketakutan, wajahnya pucat pasi, Minto menggenggam jemari tangan istrinya, mencoba memberikan ketenangan pada istrinya.
Anak buah Herman yang menyetir mobilnya lalu menepikan mobil ke pinggir jalan, setelah mobil berhenti di pinggir jalan, dia pun lantas cepat mengambil pistol dari pinggangnya, lalu, dia memberi isyarat pada temannya.
Kemudian, mereka berdua pun menembak kepala Minto dan istrinya, dua peluru tepat menembus kepala Minto dan istrinya.
Minto dan istrinya pun seketika mati di dalam mobil, lalu seorang anak buah Herman bergegas keluar dari dalam mobil, lalu, dia membuka pintu dan cepat mengeluarkan mayat Minto dan istrinya.
Tubuh Minto dan istrinya yang sudah mati di letakkannya di pinggir jalan, lalu, dia kembali masuk ke dalam mobil, lantas, mobil pun segera pergi, meninggalkan mayat Minto bersama mayat istrinya di pinggir jalan.
---
Malam itu, Mulyono baru saja pulang habis bertemu dengan Richard di sebuah gedung perkantoran, saat dia masuk ke dalam rumah, dia menemui istrinya.
"Minto udah pulang?" tanya Mulyono, pada istrinya.
"Belum. Memang katanya mau ke sini?" tanya Istri Mulyono.
"Cuma bilang mau pulang aja di telepon." ujar Mulyono.
Mulyono tidak cerita pada istrinya, jika Minto dan istrinya baru saja di culik Herman, dia tak mau membuat istrinya panik dan cemas jika mengetahui hal itu.
"Mungkin Minto balik ke rumahnya, Pah." ujar Istri Mulyono.
__ADS_1
"Iya mungkin. Ya sudah, besok aku coba datang ke rumahnya." ujar Mulyono.
"Memang ada apa sih Pah? Tumben nanyain Minto? Minto kan pengantin baru, Papah jangan ganggu dia, biarkan dia senang senang menghabiskan waktunya sama istrinya." ujar Istri Mulyono.
"Iya, Aku cuma mau ketemu Minto aja, karena ada yang mau aku tanyakan padanya, soal kerjaan." ujar Mulyono berbohong.
"Oh." Jawab Istri Mulyono.
Lalu, istrinya pun pergi meninggalkan Mulyono, Mulyono masih berdiri, dia tampak sedang memikirkan anaknya.
---
Keesokan harinya, Mulyono mendatangi rumah anaknya, dia ingin bertemu dan memastikan jika anaknya baik baik saja setelah di culik Herman dan komplotannya.
Namun, Mulyono kecewa, sebab, rumah Minto kosong, Minto dan istrinya tidak ada di rumahnya, Mulyono pun heran.
"Kemana Minto dan istrinya? Apa mereka pulang kerumah mertua Minto?" Gumam Mulyono berfikir.
Lantas, dia pun masuk ke dalam mobilnya, dengan wajah kecewa karena tak bertemu anaknya, dia pun lantas menjalankan mobilnya, mobil pun melaju pergi dari rumah anaknya.
----
Sore harinya, Mulyono mendapatkan kabar yang mengejutkan dirinya, Petugas Polisi mengabarkan kematian anaknya beserta istri.
Mulyono pun syock dan terhenyak kaget, dia tak percaya jika anaknya mati, wajahnya pun tampak sangat sedih. Lantas, dia pun segera keluar dari dalam ruang kerjanya.
---
Mulyono melihat mayat anaknya di ruang kamar jenazah. Mulyono pun tampak menangis memandangi wajah anaknya yang sudah menjadi mayat.
Di dahi kepala anaknya berlubang, dan Mulyono tahu, bahwa itu bekas tembakan peluru. Mulyono pun tampak geram dan sangat marah.
Mulyono sakit hati, karena dia di khianati Herman, setelah di bantu, Herman malah membunuh anak semata wayangnya, Mulyono tak bisa menerima perbuatan jahat Herman.
Dari sini lah awal mula Mulyono merencanakan untuk membunuh Herman, agar sakit hatinya terbalaskan, dan dia bisa membalaskan dendamnya pada Herman yang telah membunuh anaknya.
---
Kita kembali ke Masa sekarang.
Di mana saat ini, petugas medis membawa jenazah Mulyono masuk ke dalam mobil ambulance. Gatot berdiri disamping Richard yang masih bersedih.
Mereka berdua melihat, tubuh Herman yang ada di atas tandu di bawa masuk ke dalam mobil ambulance, sementara, banyak para petugas kepolisian mengamankan halaman gedung kementrian kehakiman, mereka membuat garis pembatas di sekitar lokasi kejadian penembakan.
Gatot lantas merangkul bahu Richard, dia mencoba memberikan ketenangan pada Richard, agar Richard tidak terus menangis sedih atas kematian Mulyono.
"Sebaiknya kamu pulang, tenangkan dirimu." ujar Gatot.
"Nggak, aku harus kerumah sakit, untuk memastikan, Herman masih hidup atau sudah mati!" tegas Richard geram dan marah.
"Mana mungkin kamu ke rumah sakit dengan baju yang penuh dengan darah begini, sebaiknya, kamu pulang, setidaknya ganti dulu bajumu!" ujar Gatot, menasehati Richard.
Richard pun diam, dia melihat bajunya yang berlumuran darah milik Mulyono, Richard pun menghela nafasnya dengan berat.
"Baiklah, aku pulang, aku minta tolong, kamu awasi Herman di rumah sakit, jangan biarkan satu orang pun menemuinya." tegas Richard.
__ADS_1
"Baik, aku akan menugaskan anggotaku untuk menjaga Herman, agar gak ada yang mendatanginya." jelas Gatot, dengan wajahnya yang serius.
"Aku pulang, kabari aku jika ada perkembangan." jelas Richard.
"Ya." Jawab Gatot.
Lantas, Richard pun pergi meninggalkan Gatot sendirian di halaman gedung, Gatot tampak prihatin memandangi kepergian Richard, lalu, Gatot pun berjalan menuju ke mobilnya.
Kemudian, Gatot pun masuk ke dalam mobilnya dan langsung menyalakan mesin mobil, sesaat kemudian, mobilnya pun sudah berjalan, keluar dari gedung kementrian kehakiman.
---
Di tempat lain, tampak Jafar yang masih menyamar dengan memakai rambut palsu dan kumis palsu menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Dia tampak bingung, Jafar mengambil dompetnya, dia melihat, isi dompetnya kosong, dia pun tampak kesal.
"Sial !! Aku kehabisan uang!! Aku kalah banyak !!" ujarnya dengan wajah kesal.
"Gimana caranya agar aku bisa mendapatkan uang?" ujarnya berfikir.
Lantas, sesaat kemudian, dia tampak senang, karena dia menemukan ide, untuk bisa mendapatkan uang.
"Ya, Aku harus menemui dia!! Mau dia marah, mencaciku, aku gak perduli!! Pokoknya aku harus mendapatkan uang darinya!" ujar Jafar, dengan wajah senang.
Lantas dia menyalakan mesin mobilnya, lalu, dengan cepat, dia menjalankan mobilnya, Jafar pun segera pergi dari tempat itu.
Di rumah sakit, dalam kamar ruang ICU, tampak Herman sedang di rawat, di depan pintu masuk, ada petugas kepolisian yang berjaga jaga, mereka adalah anak buah Gatot, mereka ditugaskan Gatot untuk menjaga Herman.
Ternyata Herman belum mati, dia juga berhasil melewati masa kritisnya, dan Dokter juga sudah mengeluarkan peluru di perut Herman dan menjahit luka di perut Herman akibat terkena peluru.
Dengan masih hidupnya Herman, Gatot yakin, pastilah diantara komplotannya ada yang datang menemui Herman di rumah sakit.
Untuk menghindari hal yang tak di inginkan, Gatot pun membuat penjagaan ketat di depan ruang ICU Herman, agar komplotan Herman tidak bisa masuk dan menemui Herman.
Sementara, di dalam kamar ruang ICU, tampak Herman tertidur nyenyak, karena dia mendapatkan suntikan obat bius dari Dokter, satu tangannya tampak di borgol, dan borgol itu mengikat pada besi yang ada di samping ranjang.
Herman tetap di borgol Gatot, sebab, dia menjadi tersangka pemalsuan buku data bukti kasus pembunuhan 18 tahun silam, walau Gatot dan Richard belum menemukan bukti perbuatan Herman, paling tidak mereka bisa berjaga jaga, dengan di borgolnya Herman, pastilah dia tak bisa melarikan diri.
Dan Gatot juga membuat penjagaan ketat, agar Herman tidak bisa di bawa lari komplotannya.
---
Mobil Jafar tiba di depan halaman rumah Bramantio, dia lantas keluar dari dalam mobilnya.
Jafar berdiri di samping mobilnya, dia terperanjat kaget, karena melihat kondisi rumah Bramantio yang sudah hancur berantakan dan bekas terbakar dan seperti habis meledak.
Jafar pun heran, dia mengingat, saat terakhir kali dia dirumah Bramantio, untuk menyelamatkan Masayu dari siksaan Bramantio, dan dia juga ingat, perkelahian dirinya dengan Bramantio, lalu dia pergi bersama Masayu.
"Kemana Bang Bram pergi? Dan siapa yang menghancurkan rumahnya ini?" ujar Jafar, dengan wajah heran.
"Siiiaaal !! Kalo begini, aku gak dapat uang!! Kemana aku harus mencari Bramantio !!" ujarnya, dengan wajah kesal dan marah.
Jafar sama sekali tak tahu, jika Bramantio sudah mati di bunuh Gavlin, dia masih mengira Bramantio hidup dan pergi bersembunyi.
__ADS_1
Jafar pun lantas berjalan dan masuk ke dalam mobilnya, lalu, di nyalakannya mesin mobil, kemudian, dengan wajah kesalnya, dia pun menjalankan mobilnya.
Mobil Jafar pun segera meluncur pergi meninggalkan rumah Bramantio yang sudah hancur itu.