VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Terbakar Api Cemburu


__ADS_3

Bramantio memukulkan tangannya ke meja kerjanya, wajahnya sangat marah.


Bramantio marah karena dia mendapat kabar tentang kematian Surya, Asisten Manager yang sangat dia percayai itu.


"Tampaknya orang itu sudah lebih dulu bergerak , dia sengaja membantai orang orang dekatmu bang Bram." Ujar Ronald tersenyum sinis.


"Keparaaaat, aku benar benar akan membunuh orang itu !!" Ujar Bramantio geram.


"Kenapa kamu gak segera bergerak mencari orang itu? Kenapa kamu terus di sini mengikutiku?" Ujar Bramantio kesal pada Ronald.


"Santai Bang Bram. Gak usah kamu suruh, aku sedang bergerak mencarinya, dan caraku berbeda dengan caramu." Ujar Ronald cuek.


"Bagaimana aku bisa santai, jika orang itu terus membantai orang orang dekatku !! Lama lama habis sudah orang orang dekat dan orang kepercayaanku dibunuhnya !!" Bentak Bramantio marah.


"Tunggu saja, aku pasti menemukan orang itu secepatnya. Kasih aku waktu seminggu, aku akan menyeret orang itu ke hadapanmu !!" Ujar Ronald dengan sikap santai dan cueknya.


"Terserah, aku gak mau tau bagaimana cara kamu menemukan orang itu ! Yang penting buatku, jika kamu berhasil menangkapnya, seret dia kehadapanku, aku sendiri yang akan membunuhnya !!" Ujar Bramantio geram.


"Siap, aku pasti membawanya." Ujar Ronald cuek.


Bramantio tampak sangat geram dan menahan amarahnya, dia tak dapat menerima kematian Surya, orang kepercayaannya.


Di ruang kamar sempit Yanto bertepuk tangan menonton Bramantio dan Ronald melalui layar monitor.


"Silahkan Bramantio, cari aku, temukan aku, aku mau liat, bagaimana kamu akan membunuhku nanti." Ujar Yanto tertawa tawa.


Dari layar monitornya, Yanto melihat, Bramantio keluar dari ruang kerjanya bersama Ronald.


Yanto pun lantas mematikan monitornya.


Lalu Yanto bergegas keluar dari dalam ruang kamar sempit tersebut.


---


Di ruang pengecekan rekaman cctv, Gatot tampak sedang mengamati rekaman cctv yang dia dapatkan dari jalanan sekitar rumah Surya.


Dari rekaman cctv yang dia dapatkan, Gatot menemukan keberadaan sosok pembunuh Surya.


Gatot menghentikan gambar rekaman cctv, lalu dia sedikit memperbesar gambar rekaman cctv.


Didalam layar monitor, terekam jelas wajah sang Pembunuh.


Gatot terdiam memperhatikan, keningnya berkerut, dia heran, siapa sosok orang tersebut.


Dalam rekaman cctv itu, sosok pria berpakaian hitam hitam mengenakan topi hitam, dia berkumis dan berjenggot serta memakai jaket kulit.


Gatot sama sekali asing dengan orang tersebut, dia sama sekali tak mengenali sosok orang tersebut.


"Siapa orang ini?" Bathin Gatot.


Gatot lantas menarik nafasnya dalam dalam. Dia berfikir keras, dia ingin tahu, siapa sosok orang yang terekam di cctv tersebut.


Gatot pun menugaskan petugas Polisi untuk mencari tahu siapa sosok yang terekam di cctv tersebut.


---


Gavlin tampak sedang menerima telepon dari seseorang, wajah Gavlin tampak serius mendengarkan penjelasan si penelpon.


"Sebaiknya kamu lebih berhati hati lagi, sosok dirimu yang menyamar sebagai Yanto tertangkap kamera cctv, dan Polisi sedang mencari tau, siapa sosok tersebut." Ujar si penelpon misterius.


"Baik, Makasih infonya, aku akan lebih berhati hati lagi." Ujar Gavlin bicara di teleponnya.


Lantas, Gavlin menutup teleponnya, dia lalu menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya.


Untuk sesaat Gavlin terdiam, wajahnya tampak geram dan marah.


"Gatoott...kamu ternyata benar benar mau menghalangiku ! Baiklah, jika itu mau kamu, aku akan sedikit bermain main denganmu nanti." Ujar Gavlin geram dan marah.


---


Teguh menghampiri Gatot yang duduk di kursi meja kerjanya sedang mempelajari berkas kasus pembunuhan yang terjadi selama ini.


Diantara berkas berkas kasus, ada juga berkas kasus pembunuhan Surya, yang mati dibunuh baru baru ini.

__ADS_1


"Apa sudah ditemukan siapa sosok orang yang ada dalam rekaman cctv Pak?" Tanya Teguh pada Gatot.


"Belum, tim cyber sedang mencari tahunya." Ujar Bramantio.


"Bagaimana dengan kamu, selain menemukan bukti cctv di jalan, apa ada lagi yang kamu temukan?" Tanya Gatot.


"Tidak ada Pak." Jawab Teguh.


"Ya, sudah, kamu boleh kembali ke mejamu." Ujar Gatot.


"Baik Pak." Angguk Teguh memberi hormat.


Lantas Teguh pun meninggalkan Gatot, dia kembali duduk di kursi meja kerjanya. Sesekali Teguh melirik Gatot.


Dia melihat, Gatot sedang berfikir dengan seriusnya, Teguh tahu, bahwa saat ini Gatot benar benar ingin cepat menemukan si pelaku pembunuhan Surya.


---


Dirumahnya, Bramantio heran melihat Masayu, istrinya sudah berpakaian rapi.


"Mau kemana kamu malam malam begini Ma?" Tanya Bramantio heran.


"Ada urusan." Jawab Masayu ketus.


Masayu masih kesal pada Bramantio, sebab Bramantio sudah berbohong padanya, dengan merahasiakan kematian Mike, anak semata wayangnya.


"Urusan apa malam malam begini? Gak biasanya kamu pergi sendirian malam malam begini." Ujar Bramantio.


Bramantio menaruh curiga pada istrinya yang mau pergi, seakan istrinya sedang janjian dengan seseorang.


"Ah, udahlah, gak usah banyak tanya ! Urus saja dirimu sendiri !!" Ujar Masayu kesal dan marah.


Masayu lantas keluar dari dalam rumahnya, pergi meninggalkan Bramantio sendiri dirumahnya.


Untuk sesaat Bramantio tampak berfikir, dia curiga, istrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Bramantio lantas mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja, dengan cepat Bramantio keluar rumah.


Saat diluar rumahnya, dia melihat mobil Masayu sudah melaju keluar dan pergi dari rumahnya.


Bramantio lantas menjalankan mobilnya, pergi dari rumahnya.


Bramantio pun mengikuti mobil Masayu.


Sepanjang jalan raya, Bramantio terus mengikuti mobil Masayu, dia menjaga jarak di belakang mobil Masayu, agar Masayu tak melihatnya.


Masayu terus menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tak tahu, jika Bramantio, suaminya saat ini, sedang mengikutinya di belakang mobilnya.


Bramantio melihat mobil Masayu berbelok ke kanan diperempatan jalan besar.


Bramantio pun terus mengikutinya dengan tetap menjaga jarak antara mobilnya dengan mobil Masayu.


Kemana pun mobil Masayu melaju dan pergi, Bramantio terus mengikutinya.


Wajah Bramantio tampak menahan marah, saat ini dia terbakar cemburu, dia menduga, istrinya sedang ada janji dengan seseorang.


Bramantio juga menduga, kalau istrinya sedang berselingkuh di belakangnya, dan Bramantio ingin tahu, siapa orang yang berselingkuh dengan istrinya tersebut.


Mobil Masayu berbelok ke jalanan yang lebih kecil dari jalan sebelumnya, di belakang, Bramantio terus mengikuti mobil Masayu.


Di pertigaan jalan, mobil Masayu berbelok ke kiri, dengan cepat dan menghindari lampu merah, Bramantio pun tancap gas mengikuti mobil Masayu.


Mobil Bramantio berhasil lolos dari jeratan lampu merah, dia lantas mengikuti mobil Masayu lagi.


Bramantio heran, saat melihat mobil Masayu berbelok dan masuk ke sebuah Hotel berbintang lima.


Melihat kenyataan itu, Bramantio semakin terbakar api cemburu, wajahnya memerah, dia benar benar marah pada istrinya.


Bramantio pun masuk ke Hotel tersebut, lalu dia mengikuti mobil Masayu yang parkir di lantai tiga halaman parkir hotel.


Bramantio memarkirkan mobilnya agak jauh dari parkir mobil Masayu.


Lalu Bramantio diam di dalam mobilnya, dia menunggu istrinya keluar dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Masayu keluar dari dalam mobilnya, dia berjalan sambil menelpon.


"Aku udah sampe, kamu tunggu dikamarmu." Ujar Masayu ditelepon.


Melihat Masayu sedang menelpon seseorang, Bramantio pun dengan cepat keluar dari dalam mobilnya.


Dia segera mengikuti Masayu yang masuk ke ruangan tempat lift berada.


Bramantio bersembunyi, menunggu pintu lift tertutup, setelah pintu tertutup dan Masayu sudah tak ada, Bramantio cepat mendekati lift.


Dia melihat lantai yang di tuju Masayu saat ini. Lalu, Bramantio pun menekan tombol naik lift satunya lagi.


Sesaat kemudian, pintu lift pun terbuka, dengan cepat, Bramantio masuk ke dalam lift.


Dia menekan nomor lantai yang sama di tuju Masayu tadi.


Dengan wajah tegang, dia berdiri diam di dalam lift.


Pintu lift terbuka, Bramantio tiba dilantai yang dia tuju, dengan cepat Bramantio keluar dari dalam lift.


Matanya mencari cari di sekitar koridor kamar kamar hotel.


Lalu dia melihat istrinya berbelok ke sebuah lorong koridor, dengan cepat, Bramantio pun mengejar Masayu.


Dengan wajah tegang penuh amarah dan dada yang berdebar debar menahan api cemburu yang membakar jiwanya, Bramantio terus mengikuti Masayu, istrinya itu.


Bramantio benar benar ingin tahu, siapa orang yang akan ditemui istrinya.


Dan jika istrinya benar benar berselingkuh, Bramantio bertekat akan membunuh pria selingkuhan istrinya tersebut.


Dia marah, dan dia tak bisa menerima, jika istrinya berselingkuh, Bramantio berpikir, dia harus mengambil sikap tegas pada istrinya, jika istrinya benar benar ketahuan dia sedang berselingkuh di kamar hotel.


Di depan pintu kamar hotel bernomor kamar 12765, Masayu berdiri dan mengetuk pintu kamar.


Bramantio bersembunyi dibalik dinding, dia mengintai Masayu yang saat ini sedang berdiri menunggu di bukakan pintu kamar.


Sesaat kemudian pintu terbuka, tak terlihat wajah orang yang membuka pintu kamar dari dalam.


Bramantio pun kesal, sebab dia tak bisa melihat sosok pria tersebut.


Bramantio melihat, Masayu masuk ke dalam kamar tersebut.


Bramantio mendekati kamar tersebut, dia berdiri di depan pintu kamar.


Dia gelisah, Bramantio berusaha untuk menguping, mencoba mendengar pembicaraan istrinya di dalam kamar.


Namun, Bramantio tak mendengar apa apa, wajah Bramantio semakin kesal dan marah.


Hatinya terluka, dia benar benar terbakar cemburu, dia tak menyangka, jika istrinya tega mengkhianati dirinya dan berselingkuh.


Bramantio benar benar sangat kecewa pada istrinya tersebut, dia menilai istrinya tidak setia, tidak bisa menjaga kepercayaannya, istrinya dengan mudahnya berkhianat dan berpaling dari dirinya.


Bramantio benar benar marah dan cemburu, karena merasa dikhianati sang istri.


Di dalam kamar, Masayu berdiri dan tersenyum senang menatap tajam sosok pria yang duduk di sofa yang ada di dalam kamar.


"Senang, aku bisa melihatmu kembali." Ujar Masayu tersenyum senang.


Belum sempat sosok Pria tersebut bicara pada Masayu, tiba tiba pintu di dobrak, Bramantio menendang kuat pintu tersebut.


Dengan sekuat tenaga, akhirnya Bramantio pun berhasil mendobrak pintu kamar hotel tersebut.


Masayu dan sosok pria didalam kamar kaget melihat pintu kamar hancur di dobrak paksa.


Dan Masayu semakin terkejut saat dia melihat Bramantio masuk kedalam kamar dengan wajah merah menahan geram.


"Keterlaluan kamu Masayuuuu!!" Bentak Bramantio melampiaskan marahnya.


"Hei, ada apa ini marah marah?" Ujar sosok pria yang ditemui Masayu.


"Kamu?!" Ujar Bramantio.


Bramantio terhenyak kaget saat melihat siapa sosok pria yang sedang ditemui Masayu, istrinya tersebut.

__ADS_1


Bramantio sama sekali tak menyangka, jika yang di temui Masayu adalah orang yang sangat dia kenal selama ini.


Bramantio pun terdiam memandangi wajah pria yang tersenyum senang melihatnya.


__ADS_2