
Andre dan Masto tiba di rumah Herman, mobilnya di parkir di halaman rumah Herman. Dengan cepat, Andre keluar dari dalam mobilnya, dengan di ikuti Masto.
Mereka berjalan menuju halaman teras rumah Herman, namun, Andre dan Masto terkesiap kaget, mereka melihat, ada 6 petugas polisi yang berjaga di halaman rumah Herman terkapar di tanah, sudah tak bernyawa.
Andre mendekati mayat seorang petugas polisi yang terkapar di tanah, dia melihat, luka di kepala akibat tertembus peluru.
"Sepertinya, mereka semua di bunuh." ujar Andre, berdiri di samping Masto.
"Iya, Pak. Apa Richard yang membunuh mereka, karena merasa dihalangi saat dia mau ketemu Herman?" ujar Masto, berfikir.
"Entahlah. Ayo kita tanya Herman, mungkin dia ada di dalam rumahnya." ujar Andre.
"Baik, Pak." ujar Masto.
Mereka berdua lantas berjalan meninggalkan mayat mayat para petugas polisi yang sudah mati itu.
Para Petugas Polisi itu ada di rumah Herman, karena Peter yang menugaskan mereka untuk menjaga rumah dan melindungi Herman serta keluarganya.
Andre dan Masto melangkahkan kakinya ke teras rumah Herman, saat mereka berdua berjalan mendekati pintu rumah, mereka kaget karena di balik pilar tiang tembok teras rumah Herman, duduk Richard dengan seluruh tubuhnya di balut timah, hanya leher dan kepalanya saja tidak tersentuh timah.
Andre kaget, dia lantas berjongkok mendekati Richard yang sudah tak bernyawa itu.
"Richard mati. Tubuhnya di baluri timah." ujar Andre.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Masto.
"Entahlah. Sebaiknya kamu panggil petugas forensik dan tim penyidik kepolisian untuk menyelidiki kematian Richard." ujar Andre.
"Baik, Pak." jawab Masto.
"Oh, ya, sama petugas medis dan mobil Ambulance juga." tegas Andre.
"Iya, Pak." Angguk Masto.
Masto lantas mengambil ponselnya dari kantong celananya, lalu dia pun menelpon. Pistol masih ada di tangan kanannya.
Andre memandangi Richard yang duduk di lantai teras bersandar ke tiang pilar tembok teras rumah Herman dalam kondisi mati.
"Sepertinya Richard di benamkan ke timah yang sedang di masak, sehingga kulit tubuhnya melepuh semua lalu timah timah menempel di tulang tulang tubuhnya karena mengering dan mengeras." Gumam bathin Andre.
"Ulah siapa ini? Apakah Gavlin?!" Andre bergumam sambil berfikir keras.
"Saya sudah hubungi tim forensik dan tim penyidik serta paramedis, Pak." lapor Masto.
"Kalo gitu, kita masuk ke dalam rumah Herman sekarang." ujar Andre.
"Siap, Pak." ujar Masto.
Masto lantas mengetuk pintu rumah Herman, mereka menunggu, namun, pintu tak ada yang membukanya dari dalam.
"Sepertinya gak ada orang di dalam rumahnya, Pak." ujar Masto.
"Dobrak pintunya ! Siapa tau, Herman bersembunyi di dalam dan memang sengaja gak mau membukakan pintunya!" tegas Andre, memberi perintah.
"Baik, Pak." jawab Masto.
Masto pun bersiap siap untuk menendang dan mendobrak pintu Herman. Namun, tiba tiba, lampu jauh mobil menyinari Andre dan Masto. Masto pun tak jadi mendobrak pintu.
__ADS_1
Andre dan Masto berbalik badan dan melihat ke arah datangnya mobil, yang lampu depan mobilnya menyilaukan pandangan mereka.
Lampu mobil mati, Herman keluar dari dalam mobilnya, Andre yang melihat Herman , langsung berjalan menghampirinya, Masto pun mengikuti sambil ditangannya masih memegang pistolnya.
Herman kaget, melihat para penjaga sudah menjadi mayat terkapar ditanah. Dua Pengawal yang selalu menemani kemana pun Herman pergi juga keluar dari dalam mobil , mereka berdiri di belakang Herman, wajah ke dua pengawal kaget saat melihat mayat mayat bergelimpangan di tanah.
Herman melihat Andre dan Masto berjalan mendekati dirinya, Herman tampak marah melihat Andre dan juga Masto.
"Apa kamu yang membunuh para penjaga penjagaku ?!" bentak Herman marah pada Andre.
Andre tersenyum sinis, dia berdiri dihadapan Herman, ditatapnya wajah Herman yang marah itu.
"Mayat mayat itu udah ada sebelum kami datang ke sini!" tegas Andre, tersenyum sinis.
"Mau apa kalian kesini?!" bentak Herman marah.
"Apa kamu gak tau siapa aku?" bentak Herman penuh amarah.
"Saya tau, siapa Bapak. Orang nomor satu di departemen ke hakiman. Tapi, saya datang ke sini karena menjalani tugas ." ujar Andre, dengan sikap tenangnya.
"Tugas apa?!" hardik Herman marah.
"Kami mendapatkan informasi, bahwa Richard ada di rumah Bapak malam ini, karena itu, saya langsung ke sini!" ujar Andre dengan wajahnya yang serius.
"Apa hubungannya Richard sama aku? Dia gak ada di sini!! Cepat kalian pergi !" bentak Herman.
"Maaf, Pak. Kami gak bisa pergi, karena kami menemukan mayat Richard diteras rumah Bapak!" tegas Andre, dengan wajahnya yang serius.
"Apa ?!" Herman kaget.
Herman berjalan menerobos Andre dan Masto yang berdiri dihadapannya, dia berjalan menuju teras rumahnya, sementara dua pengawalnya masih diam berdiri ditempatnya.
"Gilaaa !! Siapa yang meletakkan mayat Richard di sini?!" bentak Herman mengamuk marah.
Andre berjalan mendekati Herman, sementara Masto masih berdiri ditempatnya sambil memegang pistolnya, dia menjaga, agar dua pengawal tidak menyerang Andre secara tiba tiba.
"Justru saya mau bertanya pada Bapak, mengapa Richard di sini dan sudah jadi mayat." ujar Andre serius.
"Mana aku tau! Aku saja baru pulang !!" bentak Herman, marah pada Andre.
"Maaf, Pak. Sebaiknya, Bapak ikut saya ke kantor Polisi." ujar Andre.
"Kurang ajar !! Kamu menuduhku yang membunuh Richard, begitu?!" bentak Herman, makin emosi marah.
"Sementara ini, Saya hanya mau meminta keterangan Bapak saja sebagai saksi, jika ditemukan bukti lainnya, bisa saja Bapak berubah menjadi tersangka, bahkan terdakwa!" jelas Andre.
"Karena jelas jelas, mayat Richard ada di teras rumah Bapak." tegas Andre.
"Kurang ajar kamu!!" bentak Herman marah.
Andre tak perduli Herman marah marah, dia mengambil borgol dari pinggangnya, lalu, dengan cepat dia memegang tangan Herman dan memborgolnya.
"Kamu akan menyesal karena telah menuduhku Andre !" bentak Herman marah pada Andre.
Andre diam saja, dia tak mau menanggapi ocehan Herman, dia membawa Herman ke mobilnya.
"Hubungi Pengacaraku dan juga Jack!" perintah Herman pada Pengawalnya.
__ADS_1
"Siap, Pak!" jawab salah seorang Pengawal.
Dia lantas segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Pengacara pribadi Herman dan juga Jack, sebagai Jaksa Agung dan sahabat Herman.
Herman di masukkan Andre kedalam mobilnya. Mobil mobil petugas penyidik kepolisian datang, di susul dengan mobil dari tim ahli forensik dan juga mobil ambulance milik para petugas medis.
Herman terdiam duduk di dalam mobil dengan kedua tangannya di borgol, dia geram dan marah pada Andre, karena merasa sudah di tuduh dan di fitnah sebagai pembunuh Richard.
Para Petugas Penyidik kepolisian, tim ahli forensik, dan juga petugas paramedis langsung bergerak cepat dan bekerja.
Petugas Penyidik kepolisian lantas memasang garis pembatas kepolisian di sekitar depan rumah Herman, tepatnya di pagar rumah.
"Ada mayat di teras rumah!" jelas Masto pada penyidik kepolisian dan tim forensik yang berjalan melewati dirinya.
Petugas Penyidik kepolisian dan ahli forensik lantas bergegas menuju teras rumah, seperti yang dikatakan Masto.
Andre mengunci pintu mobilnya, lalu, dia meninggalkan Herman di dalam mobil. Andre mendekati tim forensik dan penyidik kepolisian yang sedang memeriksa mayat Richard di teras rumah Herman.
Para petugas paramedis sibuk membawa mayat mayat para petugas polisi yang mati ke dalam mobil ambulance.
Andre berjongkok di samping seorang ahli forensik yang sedang meneliti mayat Richard yang tubuhnya terbungkus timah.
"Sepertinya, mayatnya harus di bawa ke lab. Kami harus menyelidikinya lebih dalam lagi, agar diketahui penyebab kematian korban ini." jelas Ahli forensik pada Andre.
"Baik, silahkan bawa saja. Nanti kabari saya jika sudah ada hasilnya." jelas Andre.
"Pasti, Pasti akan saya kabari secepatnya." ujar petugas ahli forensik.
Petugas Penyidik yang ada di samping Andre bergegas menghampiri paramedis. Dia menyuruh paramedis untuk membawa mayat Richard.
Lantas, dua petugas paramedis pun bergegas lari sambil membawa tandu ke arah teras rumah.
Setelah sampai, mereka berdua langsung meletakkan mayat Richard di atas tandu, lalu, ke dua petugas paramedis segera membawa mayat Richard, mereka masukkan mayat Richard ke dalam mobil ambulance.
Andre lantas berjalan mendekati Masto yang masih berdiri di hadapan dua Pengawal pribadi Herman, sambil memegang pistolnya berjaga jaga.
"Suruh tim penyidik membawa kedua orang ini ke kantor, mereka juga harus di interogasi !" tegas Andre serius.
"Siap, Pak." ujar Masto.
Masto lantas pergi dan berlari menghampiri dua petugas penyidik kepolisian yang sedang mengawasi halaman rumah. Masto menyuruh keduanya untuk memborgol kedua pengawal dan membawa ke kantor.
Kedua Petugas Penyidik kepolisian langsung menghampiri Andre yang berdiri bersama dua pengawal Herman. lantas, mereka berdua segera memborgol tangan ke dua pengawal.
Kedua Pengawal hanya diam saja, mereka berdua membiarkan petugas penyidik kepolisian memborgol tangan mereka.
Setelah di borgol , kedua pengawal segera di bawa dua petugas penyidik kepolisian, ke dua pengawal lantas di masukkan kedalam mobil petugas penyidik kepolisian, untuk di bawa ke kantor polisi guna di interogasi Andre nantinya.
"Sepertinya bukan Herman yang membunuh Richard, Pak." ujar Masto, dengan suaranya yang pelan di dekat Andre.
"Ya, saya juga berfikir begitu. Saya menduga, ini ulah Gavlin." ujar Andre, dengan wajahnya yang serius.
"Gavlin?!" Masto heran.
"Ya, sepertinya, Gavlin bukan nolong Richard, tapi tujuannya menculik Richard, agar Richard tidak di penjara, dan Gavlin bisa membalas dendam dengan membunuh Richard !" jelas Andre, dengan seriusnya.
"Lantas, setelah membunuh Richard , dia letakkan mayat Richard di teras rumah Herman." lanjut Andre.
__ADS_1
"Nah, soal ini, saya belum tau, apa maksud Gavlin meletakkan mayat Richard di teras rumah Herman. Apa sebagai bentuk peringatan pada Herman, atau dia mau menjebak Herman, agar kita menangkap dan menuduh Herman sebagai pembunuh Richard !" ujar Andre, menjelaskan kesimpulannya dengan serius dan bersungguh sungguh.
Masto diam, dia mengangguk angguk mengerti dan paham, dengan semua yang baru saja di jelaskan Andre kepadanya.