
Moses masih berdiri kebingungan, anak buah yang memberitahu kedatangan Gatot tadi tampak perlahan lahan berjalan mundur, dengan tubuh gemetar dan wajah ketakutan, dia bermaksud untuk pergi dari tempat itu. Moses menoleh kepadanya.
"Yadi ! Gotong orang itu !" Tegas Moses.
Yadi kaget dipanggil Gatot, dia pun tampak gugup melihat Moses.
"Goo...tong...ke...mana...Bos?!" Tanya Yadi gugup dan gemetar ketakutan.
"Masukkan ke mobil pick up itu ! Dan kamu, ikut aku !" Ujar Moses memberi perintah pada Yadi.
"Bbb...baik...Bos." ujar Yadi gugup.
Moses lalu berjalan ke arah mobil pick up yang terparkir di sudut halaman markasnya. Yadi pun dengan susah payah menggotong tubuh Gatot yang pingsan dan berdarah.
Moses naik ke dalam mobil pick up, dinyalakannya mesin mobil, lalu, dia jalankan mobil, mendekat ke arah Yadi yang menggotong tubuh Gatot.
Moses lalu keluar dari dalam mobil, lalu, dia berjalan kebelakang mobil, di bukanya pintu belakang bagasi. Setelah terbuka, dengan cepat Yadi meletakkan tubuh Gatot di belakang pick up tersebut.
"Kamu naik!" Ujar Moses.
Yadi hendak berlari ke depan mobil, Moses mencegahnya.
"Mau kemana kamu? Naik di belakang, jagain orang itu!" Hardik Moses kesal.
"Oh, i...iya...Bos." ujar Yadi.
Yadi tampak bingung dan gugup, juga takut, dia lantas naik ke atas pick up, lalu duduk di pinggiran mobil pick up tersebut.
Moses menutup pintunya kembali, lalu dia segera berjalan ke depan mobil, Moses masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama, mobil itu pun berjalan, dan pergi meninggalkan markas Moses.
Di dalam ruang kantor Moses, tampak Ronald sedang berdiri menari nari mengikuti alunan musik yang lembut dan syahdu. Ditangannya ada segelas minuman beralkohol.
"Akuuu bahaaaagiaaa...akuuu puuuaaaasss...!!" ujar Ronald teriak dan tertawa terbahak bahak.
Ronald dengan sikap dinginnya terus menari nari mengikuti irama musik, wajahnya tampak tersenyum puas. Dia terus menari, seolah, tak ada yang terjadi tadi.
Ronald benar benar psikopat yang berdarah dingin, setelah dia menikam Gatot, dia tampak kesenangan, seperti sangat menikmati perbuatannya pada Gatot tadi.
---
Mobil Moses berhenti di halaman sebuah rumah sakit, Moses lalu mengeluarkan kepalanya di pintu depan mobil.
"Yadi!" Teriak Moses memanggil anak buahnya.
"Ya, Bos." Ujar Yadi.
Yadi yang ada dibelakang mobil pick up mendekati Moses.
"Cepat buang orang itu!" Perintah Moses.
"Baik, Bos!" Ujar Yadi.
Moses lalu masuk kembali kedalam mobil, Yadi langsung mengangkat tubuh Gatot, dari atas mobil, dia pun melemparkan tubuh Gatot ke aspal halaman rumah sakit.
Moses dari kaca spion mobilnya melihat, tubuh Gatot yang pingsan sudah tergeletak di halaman rumah sakit, dengan cepat, Moses pun menjalankan mobilnya kembali, dia pergi cepat dari halaman rumah sakit tersebut.
Orang orang yang lewat kaget melihat Gatot yang tergeletak di aspal jalanan halaman rumah sakit. Mereka berteriak histeris, dan ada juga yang ketakutan melihatnya.
Teriakan histeris mereka mengundang perhatian petugas keamanan rumah sakit, Petugas keamanan segera keluar, dan melihat ke halaman rumah sakit.
Petugas Keamanan kaget, melihat ada sosok orang terluka parah dan berdarah, pingsan, tergeletak di halaman rumah sakit, dengan cepat dia pun lantas meminta bantuan.
Tak berapa lama kemudian, para petugas medis keluar dari dalam rumah sakit dengan membawa brankar dorong.
Dengan sigap dan tanggap, para Petugas Medis mengangkat tubuh Gatot dan meletakkannya di atas brankar dorong, lalu, dengan cepat, mereka membawa masuk Gatot ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
Gatot pun segera di bawa ke ruang ICU karena kondisi luka parahnya dan pingsan, agar segera di tangani, dan di operasi oleh Dokter spesialis yang akan menanganinya.
---
Di jalanan, sambil menyetir mobilnya, Moses mengelap peluh yang mengalir di dahinya, wajahnya tampak lega.
"Benar benar kacau si Ronald! Kalo Gatot mati, bisa runyam urusannya!!" Bathin Moses bicara.
Moses kesal sama Ronald, tapi dia juga tak berani melawan Ronald, dia takut pada Ronald, yang psikopat berdarah dingin itu.
Yadi mengetuk kaca mobil pick up, lalu, dia duduk di pingiran mobil pick up, di dekat pintu depan, tempat Moses menyetir.
Sambil berpegangan tangan pada besi yang ada di mobil, Yadi melongok ke arah Moses yang menyetir mobil.
"Boss ! Apa gak berbahaya buang orang itu di rumah sakit tadi?!" ujar Yadi berteriak.
Dia bicara dengan berteriak, karena dia diluar, suaranya melawan angin yang kencang, sebab, mobil juga melaju dengan kecepatan tinggi.
"Kamu gak usah pikirin ! Yang penting orang itu belum mati!!" Teriak Moses dari dalam mobil sambil terus menyetir.
"Oke, Bos !" Ujar Yadi berteriak.
Lalu, dia pun duduk di pinggiran mobil pick up sambil berpegangan tangan, Moses terus menyetir mobilnya, dia menambah kecepatan laju mobilnya.
---
Di dalam kamar ruang ICU, tampak dokter dan dua Suster sedang menangani Gatot, yang mengalami pendarahan hebat karena luka tusuk di bagian perutnya.
Dokter berusaha untuk dapat menyadarkan Gatot, dan mengobati luka yang di alami Gatot tersebut.
---
Maya tampak sedang santai duduk di sofa ruang keluarga rumahnya malam itu, dia asyik membaca buku tentang kriminal.
Maya menoleh ke arah pintu rumahnya, dia kernyitkan keningnya karena heran, sebab, jika Ayahnya yang pulang, tak mungkin mengetuk pintu seperti itu.
Tiba tiba wajah Maya berubah takut, dia takut, jika yang datang dan mengetuk pintu rumahnya orang orang jahat yang mau menculiknya lagi.
Maya pun tampak cemas dan takut, dia diam sesaat duduk di sofa sambil memegangi bukunya. Ketukan pintu terus terdengar.
Dengan wajah takut dan cemasnya, Maya pun akhirnya berdiri, dia berjalan mengambil sapu dari dapur, lalu, dengan mengendap endap dan perlahan lahan, Maya pun berjalan ke arah pintu rumahnya.
Sebelum membuka pintu rumahnya, dia mengintip di jendela rumah, dari balik horden jendela.
Maya melihat keluar, dia melihat, diluar, di depan pintu masuk, teras rumahnya, Teguh berdiri menunggu.
"Mas Teguh?!" Gumam Maya.
Dia pun lega, sebab yang datang bukan orang jahat, tapi melainkan Teguh, anak buah Ayahnya yang seorang Polisi, dan juga abang tiri Gavlin.
Maya meletakkan sapu yang dia pegang di samping pintu, lalu dengan cepat, dia pun lantas membuka pintu rumahnya.
Pintu terbuka, Teguh berdiri tepat di depan pintu, Maya melihat, wajah Teguh tampak tegang, cemas dan sedih.
"Mas Teguh? Tumben datang ke sini gak sama Ayah?!" Ujar Maya dengan sikap ramahnya.
"May, Ayahmu..." ujar Teguh.
Dia tak sanggup melanjutkan ucapannya, wajahnya tampak menahan kesedihan, Maya jadi heran melihat sikap Teguh yang seperti itu.
"Ayah kenapa? Dimana Ayah?!" Ujar Maya bertanya.
Melihat sikap Teguh, Maya pun menjadi cemas pada Ayahnya.
"Ayahmu sekarang dirawat di rumah sakit, dia koma!" Tegas Teguh.
__ADS_1
"A...Apaa?!!" Maya syock dan kaget.
"Ayahmu terluka cukup parah, perutnya robek akibat tersayat pisau, saat ini, Dokter berusaha menyadarkan Ayahmu." Ujar Teguh menjelaskan.
"A...Ayaah koma ?!" Maya pun menangis sedih.
Dia sangat sedih mendengar Ayahnya terluka, dan sedang koma serta dirawat di rumah sakit.
"Sebaiknya, kamu ikut aku, May. Lihat Ayahmu, temani dia, disana." ujar Teguh lirih.
"I...iya...Mas." ujar Maya menangis terisak isak.
Maya pun lantas menghapus air matanya, dia kemudian lari ke dalam rumahnya, Teguh berdiri di teras rumah, menunggu Maya berganti pakaian.
Wajah Teguh tampak sedih dan prihatin, di samping itu, dia juga geram dan marah, dia tak bisa menerima kenyataan, Gatot terluka parah.
Beberapa menit kemudian, Maya pun datang dan menghampiri Teguh yang berdiri di teras rumah. Maya sudah rapi. Tidak lupa Maya membawa tas kecilnya.
"Ayo, Mas." Ujar Maya sambil menutup dan mengunci pintu rumahnya.
Teguh mengangguk, lalu, Teguh dan Maya pun segera pergi dari rumah Maya.
Teguh masuk ke dalam mobilnya di ikuti Maya, lantas, mobil Teguh pun kemudian melaju, pergi meninggalkan rumah Maya tersebut.
---
Moses masuk ke dalam ruang kantornya, wajahnya tampak masam, dia melihat, Ronald duduk santai di sofa tamu, di meja, ada beberapa minuman beralkohol tergeletak, dia tahu, Ronald mabuk mabukan di ruang kantornya.
"Gimana Ses?! Udah di amankan?!" Tanya Ronald dalam kondisi mabuk berat.
"Udah aku buang !" Ujar Moses dengan sikap dingin.
"Baguuuusss !! Kerja bagus Moseess!!" Ujar Ronald tertawa senang.
Moses lantas duduk di kursi meja kerjanya, dia menatap wajah Ronald yang mabuk berat itu, Moses tampak geram dan marah pada Ronald.
"Sialan kamu, Nald ! Gara gara ulahmu ! Aku bakal terlibat madalah besar sama polisi !!" Bathin Moses bicara.
Dia sengaja mengatakan, kalau Gatot di buangnya, jika Ronald tahu, Moses membuang Gatot di halaman rumah sakit, pasti Ronald marah padanya.
Moses sengaja meletakkan tubuh Gatot di depan rumah sakit, dengan tujuan, agar Gatot mendapatkan pertolongan, dia tak mau Gatot mati.
Sebab, dia berfikir, jika Gatot mati dalam kondisi luka parah, maka, para kepolisian akan bergerak cepat mengusut kasus kematian Gatot.
Dan karena dia tak mau mendapatkan masalah besar karena perbuatan Ronald, dia pun mencoba menyelamatkan nyawa Gatot, dengan mengantarkannya ke rumah sakit.
Hanya itu satu satunya cara dan jalan yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan Gatot dari kematiannya.
Lantas, Moses melihat Ronald, Ronald yang mabuk berat, sudah tertidur di sofa tamu. Moses benar benar kesal melihat kelakuan Ronald.
---
Setelah menjenguk dan melihat kondisi Ayahnya di dalam kamar ruang ICU, Maya, dengan memakai baju khusus steril keluar dari ruang ICU.
Di luar ruang ICU, Teguh berdiri menunggu, Maya yang baru saja keluar dari dalam ruang ICU, melangkah gontai mendekati Teguh.
"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Ayah, Mas Teguh?!" Tanya Maya lirih dan getir.
"Entahlah, May. Aku juga belum tau." ujar Teguh getir.
Maya pun menangis, dia tak dapat menahan kesedihannya, dia tak tega melihat kondisi Ayahnya yang terluka parah dan koma itu.
"Kamu tenang, ya May. Aku janji, aku akan segera menyelidikinya, aku akan mencari tau, siapa yang melukai Ayahmu!" Ujar Teguh dengan tegas.
Dia mencoba meyakinkan dan menenangkan Maya, agar tak terus khawatir dan bersedih atas keadaan Ayahnya. Maya terus menangis sedih.
__ADS_1