
Di dalam kamar ruang ICU tempat Gatot di rawat, tampak Maya duduk di tepi ranjang. Wajahnya sedih menatap wajah Ayahnya yang terbaring lemah tak berdaya, dalam keadaan tak sadarkan diri karena koma.
Melihat Ayahnya terbaring lemah dan sakit, hati Maya seperti teriris, perih terasa dihatinya, melihat kondisi lemah Ayahnya tersebut.
Maya pun tak tahan, dia lantas menangis sedih.
Ya, Sakit adalah hal yang umum dialami setiap orang, namun seberapa parah atau ringannya penyakit yang dialami berbeda-beda.
Kala seseorang sakit, mereka butuh dukungan dari orang sekitarnya untuk bisa melaluinya hingga sembuh, tak terkecuali orang tua.
Berapa pun umur seorang anak, ketika orang tua sakit, mereka pasti akan cemas dan sedih. Sedangkan sebagai orang tua yang sakit, mereka juga akan sedih dengan keadaan mereka, karena telah membuat orang di sekitarnya ikut gelisah.
"Ayah, Maya berharap sepenuh hati agar Ayah segera pulih sepenuhnya." ungkap Maya lirih dan menangis sedih.
"Ayah gak perlu khawatir, cintaku akan memberimu kekuatan untuk melawan sakitmu, cepat sembuh ya, Yah, biar kita becanda lagi di rumah." Ucap Maya tersenyum getir.
"Maya yakin, Ayah akan kembali lebih kuat dan lebih sehat, gak ada yang bisa memenangkan tekad dan kekuatan Ayah!" Tegas Maya menangis.
"Melihat Ayah terbaring lemah di sini, aku merasa kehilangan suasana bahagia yang Ayah ciptakan dengan kelembutan kasih sayangmu padaku." ungkap Maya getir.
"Maya rindu canda tawa Ayah, Maya gak terbiasa tanpa diri Ayah. Semoga Ayah cepat sembuh dan dapat kembali bersama aku lagi secepatnya." Ucap Maya lirih penuh harapan dihatinya.
Maya membelai lembut rambut Ayahnya, dia pun tersenyum getir, memandangi wajah pucat Ayahnya yang sedang koma.
"Aku sungguh terluka melihat Ayah lemas tak berdaya seperti ini. Aku sangat menyayangi Ayah. Aku mohon ke Ayah, segeralah sembuh dan kembali sehat, sehingga bisa pulang ke rumah. Aku akan selalu menjagamu dengan sekuat tenaga." Ujar Maya menangis sedih.
"Jangan biarkan tubuh Ayah terus merasakan sakit. Ayo Yah. Lawan rasa sakitmu, bangunlah !" tegas Maya memberi semangat pada Ayahnya yang koma.
"Maya akan selalu mendoakan ayah, agar semua ini bisa segera dilalui." Lanjutnya lirih.
"Maya yakin, kesembuhan akan datang kepadamu untuk menumpas semua luka lukamu itu!" ungkap Maya penuh harap.
"Ayah, aku menyayangimu sampai akhir hidupku, meski aku tau, aku selalu mengecewakanmu. Maafkan aku yang belum bisa membuatmu bahagia." Ujar Maya menangis sedih.
"Ayah, Aku gak pernah melihat ada sesuatu sekuat dirimu, aku gak pernah melihat siapapun setegar dirimu, aku ingin suatu hari, aku menjadi seperti dirimu!" tegas Maya.
"Maya menderita saat Ayah menderita. Mari kita hadapi bersama dan bertarung habis-habisan!" Ungkap Maya lirih.
"Ayah, izinkan aku memeluk hatimu, agar aku merasakan apa yang Ayah rasakan dari sakit yang tak menangis." ujar Maya lirih.
"Ayah tau apa yang paling membuatku sedih? Melihat orang yang paling aku sayangi merasakan kesakitan, orang tersebut adalah Ayah." Tegas Maya menangis pilu.
Gavlin masuk ke dalam kamar ruang ICU dengan memakai baju steril, Teguh menunggu di luar, dia sengaja tidak ikut masuk, dia memberikan waktu pada Gavlin dan Maya untuk melihat Gatot, dan dia tak mau mengganggu.
Gavlin berdiri di depan pintu kamar ruang ICU, dia melihat Maya yang menangis sedih duduk ditepi ranjang. Gavlin pun ikut sedih, melihat Maya menangisi Ayahnya.
"Maya akan menemani Ayah di sini, hingga Ayah sembuh!" Tegas Maya menangis.
__ADS_1
"Maafkan Maya, Ayah. Maya sangat sibuk dengan aktivitas saat ini, hingga jarang menanyakan bagaimana kabar dan kesehatan Ayah. Setelah ini, aku berjanji, akan sering mengabarimu sesibuk apapun itu." Ungkap Maya lirih.
"Berkat Ayah, aku bisa bekerja. Dan berkat Ayah pula, Maya bisa tumbuh menjadi sosok gadis yang tegar." lanjut Maya getir.
"Ayah, bangunlah ! Aku gak kuat lagi jika melihat Ayah berlama-lama dalam keadaan seperti ini." ujar Maya menangis sejadi jadinya.
Maya tak bisa membendung tangis kesedihannya, dia pun melepaskan segala kedukaan yang menyelimuti hatinya, Maya menangis dengan sedihnya.
Gavlin semakin iba dan prihatin melihat Maya yang menangis tersedu sedu, Gavlin pun lantas mendekati Maya. Gavlin memegang lembut bahu Maya, memberinya kekuatan.
"May, jangan menangis lagi, ya? Aku gak tahan melihatmu menangis seperti ini." ujar Gavlin lirih dan bersedih.
Maya menghapus air matanya, dia pun menahan tangisnya, Maya menoleh pada Gavlin, yang berdiri di sampingnya, Gavlin tersenyum lembut pada Maya.
"Aku gak tega melihat Ayah begini, Vlin, hatiku perih." Ungkap Maya lirih dan getir, menahan tangisnya.
"Iya, May. Aku tau, aku tau perasaanmu sedih." ujar Gavlin dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Maya kembali menghapus air matanya, lalu, dia memandangi wajah Ayahnya yang masih tak sadarkan diri, terbaring di atas kasur.
"Aku sangat sedih mendengar kabar tentang Ayah yang terluka parah, Maya berharap, Ayah akan kembali pulih dengan cepat." ujar Maya lirih.
"Aku benar-benar sedih melihat Ayah terbaring lemas di kasur karena sakit. Aku akan selalu berdoa agar luka Ayah cepat sembuh. Aku akan selalu menantikan kesehatan Ayah pulih kembali!" tegas Maya dengan getirnya.
"May, gak ada penyakit kalau gak ada obatnya. Aku yakin, dokter udah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Ayahmu. Hanya tinggal, kamu berdoa, agar Tuhan mengizinkan kesembuhan tersebut!" ujar Gavlin.
Gavlin mencoba menghibur hati Maya yang bersedih. Maya pun menarik nafasnya dalam dalam.
"Ayah, aku rela melakukan apa aja untuk Ayah, meskipun nyawaku taruhannya, walau Maya tau, itupun belum bisa membayar segala jasamu Ayah!" tegas Maya.
"Maya memang gak bisa merasakan rasa sakit Ayah. Namun, melihat Ayah terbaring gak berdaya di ranjang rumah sakit ini, membuatku merasa sedih." Ungkap Maya getir.
"Sangat sedih bagiku melihat orang yang sudah merawatku sejak kecil hingga dewasa terbaring lemas di dalam rumah sakit." ungkap Maya lirih.
Gavlin hanya bisa diam mendengarkan perkataan Maya, dia tahu, Maya sangat mencintai Ayahnya, sebab, Ayahnya lah yang telah menyelamatkan nyawa Maya saat kecil dulu.
Lalu, Ayahnya yang merawat Maya, mengasihi, mendidik, merawat, dan menyayangi Maya sepenuh hatinya.
"Aku tau, hari ini memang bukanlah yang terbaik untuk Ayah, karena kamu harus terbaring lemah. Itulah yang aku pikirkan dan khawatirkan tentang diri dan keadaan Ayah, dan aku hanya bisa berharap supaya Ayah lebih cepat pulih." Ungkap Maya menahan tangisnya.
Gavlin tak tahan lagi, melihat Maya yang begitu bersedih dengan kondisi Ayahnya yang tak sadarkan diri juga. Gavlin pun pergi keluar dari kamar ruang ICU, dia meninggalkan Maya.
Gavlin keluar dari dalam kamar ruang ICU, wajahnya tampak geram dan marah, Gavlin membuka baju steril yang dia pakai, lalu, baju itu dia letakkan di atas bangku tunggu.
Teguh heran melihat Gavlin pergi begitu saja tanpa melihat dia.
Teguh pun dengan cepat berlari, mengejar dan menyusul Gavlin yang berjalan cepat.
__ADS_1
"Yantooo!! Tunggu !! Kamu mau kemana?!" Ujar Teguh.
Teguh memegangi tangan Gavlin agar tak bisa pergi, Gavlin menghentikan langkahnya, dia lalu menatap tajam wajah Teguh yang melihatnya dengan rasa heran.
"Aku mau datangi markas Moses!! Aku mau buat perhitungan sama dia!!" Bentak Gavlin marah.
"Yan, tenang dulu, sabar, jangan tergesa gesa !" Ujar Teguh, menenangkan Gavlin.
"Gimana aku bisa tenang, Bang?! Aku gak bisa diam saja, melihat Maya terus terusan menangis sedih melihat Ayahnya yang koma!" Bentak Gavlin marah.
"Turunkan suaramu, jangan berteriak, kita di rumah sakit!" tegas Teguh.
Gavlin pun tersadar, jika dia saat ini berada dalam rumah sakit, karena tak mau mengganggu para pasien yang ada dirumah sakit, dia pun lantas meredakan emosi marahnya.
"Sebaiknya, kamu tunggu kabar dariku, Yan! Hari ini juga, aku akan datang ke markas Moses bersama timku ! Aku akan menyeret Moses!" Ujar Teguh menjelaskan.
"Lalu, dia di penjara?! Enak banget! Moses harus merasakan apa yang dirasakan Om Gatot, bang !" Ujar Gavlin geram menahan amarahnya.
"Dia gak pantas berada dalam penjara ! Tempatnya di kerak neraka!!" Tegas Gavlin marah.
Namun, dia tidak berteriak seperti tadi, Gavlin menekan suaranya saat marah, agar tak terdengar keras, dan mengganggu ketenangan rumah sakit.
"Yan. Aku tau, kamu marah. Tapi aku mohon, jangan lantas kamu bertindak gegabah. Sesuatunya harus di pikirkan matang matang dulu!" ujar Teguh.
"Yan, aku mau, berfikirlah dulu, sebelum kamu berbuat dan mengambil tindakan, jangan kamu berbuat, ataupun bertindak lebih dulu, baru berfikir!" Tegas Teguh mengingatkan.
Gavlin pun lantas terdiam mendengar perkataan Teguh itu. Dia menatap lekat wajah Teguh yang tampak serius bicara padanya.
"Tunggu kabar dariku, setelah aku menangkap Moses, aku janji, aku gak akan langsung membawa Moses ke kantorku! Aku akan membawa dia padamu! Agar kamu bisa membalaskan semua rasa sakit Maya dan Ayahnya!" tegas Teguh menjelaskan.
"Benarkah begitu?!" ujar Gavlin bertanya pada Teguh.
"Aku serius, Yan! Kamu kan percaya padaku ! Aku pasti menyerahkan Moses padamu!!" Jelas Teguh dengan tegasnya.
"Baiklah, aku turuti maumu, aku akan menunggu kabarmu, Bang! Aku harap, Moses gak melarikan diri saat kalian menyergapnya!" Ujar Gavlin geram.
"Iya, Yan ! Aku akan berusaha keras, untuk meringkus Moses!" Tegas Teguh.
Gavlin pun mengangguk, mengiyakan, wajahnya tampak geram menahan amarah yang tengah meluap dalam dirinya saat ini.
Teguh menatap wajah Gavlin yang penuh amarah, dia tahu, saat ini, Gavlin begitu marahnya, dia marah, karena tak tega melihat Maya bersedih hati, untuk itu dia ingin membalas dendam.
Namun, Teguh tak ingin Gavlin terluka seperti tempo hari, dia tak mau, Gavlin bertindak gegabah lagi, karena itu, dia berusaha untuk mencegah Gavlin, meyakinkan diri Gavlin, agar Gavlin mau mendengarkan dan menuruti semua perkataannya.
"Yan ! Aku balik ke kantorku dulu, untuk menyiapkan penyergapan Moses." ujar Teguh.
"Ya, bang Bro. Aku akan tetap ada di sini, menemani Maya, menjaga Om Gatot." ujar Gavlin.
__ADS_1
Teguh pun mengangguk, mengiyakan. Lalu, Teguh berlalu, dia pergi meninggalkan Gavlin sendirian di depan kamar ruang ICU.
Wajah Gavlin tampak geram, tatapan matanya tajam, penuh amarah dan dendam dalam jiwanya. Gavlin benar benar murka saat ini pada Moses, yang telah menyerang dan melukai Gatot, orang yang telah menyelamatkan hidupnya dulu saat dia kecil.