VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kepribadian Ganda


__ADS_3

 Singkat cerita, Sumantri membawa keluar mayat Savitri dan Irmida dari dalam ruang kerja Jafar.


Sumantri dengan susah payah menyeret dua koper berukuran besar di tangan kiri dan kanannya, menyusuri koridor gedung perkantoran, masuk ke dalam lift.


Sumantri keluar dari dalam lift, mendorong dua koper besar keluar, dia berjalan menuju ke lantai paling bawah dari gedung perkantoran.


Lalu Sumantri segera berjalan menuju parkiran mobil membawa 2 koper ditangannya.


Saat dia melangkahkan kakinya mendorong dua koper besar dengan susah payah, datang seorang satpam menegur dan mendekatinya.


"Tunggu dulu." Tegur Satpam pada Sumantri yang terlihat berusaha menyembunyikan kegugupannya.


Satpam berjalan mendekati Sumantri.


"Bawa apa Pak ? Sepertinya berat, apa isi koper koper ini ?" Tanya Satpam melihat dua koper besar.


Sumantri berusaha bersikap tenang agar tidak gugup saat di depan Satpam.


"Biarkan dia ! Saya yang menyuruhnya membawa koper koper itu ke mobil saya." Ujar Bramantio yang muncul di belakang Sumantri dan Satpam.


Sumantri lega begitu mengetahui Bramantio datang tepat pada waktunya, jika tidak, bisa saja Satpam memeriksa isi koper ditangannya.


Satpam yang melihat kemunculan Bramantio lalu segera memberi hormat.


"Siap Pak !" Ujar Satpam pada Bramantio yang melangkah mendekati Satpam, dia berdiri di samping Sumantri.


"Silahkan di lanjut Pak. Permisi." Ujar Satpam pada Sumantri dan Bramantio.


Lalu Satpam pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian Satpam, Sumantri menghela nafasnya lega.


"Terima kasih pak." Ujar Sumantri pada Bramantio yang menepuk bahunya.


"Saya harus membantumu menyingkirkan semua itu, demi adik saya." Ujar Bramantio pada Sumantri.


"Ingat, rahasia ini jangan sampai ada yang mengetahuinya, sampai kapanpun kamu harus menutup mulutmu rapat rapat!" Ujar Bramantio.


"Jika tidak, tau sendiri akibatnya." Ujar Bramantio menegaskan.


Ada nada mengancam dalam ucapan Bramantio, dan Sumantri tahu itu, jika dia berbuat hal aneh, pastilah nyawanya terancam.


"Baik Pak, saya akan menjaga rahasia ini." Ujar Sumantri pada Bramantio.


Sumantri lalu berjalan, mendorong dua koper besar menuju mobil jeep milik Bramantio.


Mobilnya terparkir di ujung area parkiran mobil di dalam gedung perkantoran milik Bramantio dan Jafar. 


Bramantio membantu Sumantri memasukkan koper koper ke belakang mobil, setelah beres, cepat Sumantri masuk ke dalam mobil.


Sumantri menyalakan mesin dan segera menjalankan mobil, pergi meninggalkan Bramantio yang berdiri menatap kepergiannya.


Bramantio diam sejenak, dia berfikir, kemudian menghela nafas dan berbalik, dia melangkah kembali menuju ke dalam gedung perkantorannya.


   Di sebuah bukit yang cukup tinggi, terlihat Sumantri dengan susah payah menyeret dua koper besar yang ada di tangannya.


Di bagian luar dari koper koper itu ada batu besar yang sengaja di ikat Sumantri untuk menambah berat beban koper.


Tujuannya agar koper tidak muncul ke atas permukaan air setelah dilemparnya ke dasar laut.


Setelah sampai di pinggir jurang di atas bukit, Sumantri diam berdiri menatap ke bawah, melihat ke arah air.


Lalu Sumantri mendorong koper satu persatu, koper koper itu melayang jatuh masuk ke dalam air lautan.


Sumantri melihat koper koper perlahan lahan tenggelam, dia menunggu sesaat.


Koper koper sudah tidak terlihat, Sumantri lalu berbalik dan kembali ke mobilnya.


Dia naik ke mobil, menyalakan mesin mobil, lalu segera menjalankan mobilnya.


Lalu pergi meninggalkan lokasi itu, lokasi tempat dibuangnya mayat Savitri dan Irmida.


________________


Kita kembali ke Masa sekarang, Sumantri tertunduk, raut wajah merasa bersalah dan berdosa terlihat dalam dirinya.


Sementara sosok pria yang berdiri didepannya menahan geram menatap Sumantri yang bersimpuh di depannya.


Ada air mata di sudut mata sosok pria, dia menahan kesedihan dan tangisnya mendengar cerita Sumantri yang memberitahu tentang kematian ibunya.


Kepalan tangan sosok pria terlihat semakin kuat, sorot matanya tajam menatap Sumantri.


"Saat itu juga, hidupku tidak tenang, setiap malam aku selalu di hantui kejadian pembunuhan itu." Ujar Sumantri.


"Bayangan ibumu dan Savitri terus datang menghantuiku." Ujar Sumantri menyesal.


"Aku selalu bermimpi buruk, aku menjadi gelisah, tidak tenang." Ujar Sumantri.


"Jika aku bertemu Bramantio dan Jafar, aku pasti mengingat bagaimana Jafar membunuh Irmida didepanku." Ujar Sumantri menangis penuh penyesalan.


"Kamu tahu dimana Jafar sekarang?" Tanya sosok pria menatap tajam wajah Sumantri.


"Setelah kejadian itu, Jafar dan Bramantio bersikap wajar seperti biasa." Ujar Sumantri.


"Mereka berdua berpura pura tidak ada yang terjadi, kantor sempat geger, karena Irmida, sekretaris kantor tiba tiba hilang, berhari hari tidak masuk kantor."


"Suaminya pun sempat datang mencari dan bertanya tentang keberadaan istrinya yang tidak pulang berminggu minggu." Ujar Sumantri.


Mendengar itu, semakin terlihat dari sorot matanya, bahwa sosok pria sedang menahan segala amarahnya yang sudah menggebu gebu dalam jiwanya.


"Kenapa aku gak pernah tahu dan bertemu dengan Jafar yang membunuh ibuku ?" Ujar sosok pria menahan geramnya, dia bertanya pada Sumantri.


"Karena dia tidak ada di negara ini, dia sengaja di minta Bramantio untuk mengungsi, bersembunyi ke negara lain." Ujar Sumantri.

__ADS_1


"Itu semua dilakukan Bramantio setelah mengetahui adiknya itu membunuh seorang wanita lagi." Ujar Sumantri.


"Dan kamu tahu kejadiannya ?" Tanya sosok pria menatap tajam Sumantri yang mengangguk lemah.


"Iya, karena lagi lagi, aku yang harus melenyapkan mayat wanita yang diperkosa dan di bunuhnya." Ujar Sumantri.


"Bramantio mengancamku, aku takut, akhirnya melakukan perbuatan hina itu." Sumantri menangis tertunduk dan bersimpuh dihadapan sosok pria.


"Sanusi, Bapakmu tidak sengaja menemukan wanita yang diperkosa dan terluka parah saat sedang berjalan pulang malam itu." Ujar Sumantri lagi.


"Wanita itu merintih kesakitan meminta tolong, Sanusi yang mendengarnya mendekati." Sumantri bercerita.


"Sanusi mengenali wanita itu, anak gadis tetangga dekat rumahnya, Sanusi mencoba memberikan pertolongan." Ujar Sumantri mulai menceritakan kronologi kejadian.


"Saat itu, aku dan Jafar ada di tempat kejadian, kami mengejar wanita yang melarikan diri dengan terluka parah." Ujar Sumantri.


"Saat melihat Sanusi dekat dengan wanita yang sudah lemah tak berdaya karena luka tusukan yang sangat parah, muncul ide gila Jafar." Ujar Sumantri sedih.


"Diam diam Jafar mengambil ponselnya, dia merekam semuanya, saat dimana Sanusi memegang tubuh wanita yang terkapar ditanah." 


"Karena panik melihat kondisi wanita itu, Sanusi tidak sadar jika bajunya berlumuran darah korban." Ujar Sumantri, sosok pria menatap tajam.


"Apa maksudnya mengambil gambar bapakku dengan korbannya?" Tanya sosok pria pada Sumantri.


"Dia bermaksud menjebak Sanusi, dia melaporkan pada polisi, bahwa dia menyaksikan pembunuhan dan pemerkosaan." Ujar Sumantri.


"Dengan menunjukkan bukti video yang sengaja di rekamnya pada polisi." Sosok Pria terdiam mendengarnya.


"Dan aku memperkuat laporannya, aku membenarkan pernyataan Jafar tentang Sanusi membunuh wanita tetangganya itu." Ujar Sumantri.


Sumantri lali menangis dengan rasa penyesalan yang begitu besar dalam dirinya.


Sosok Pria meneteskan air matanya, dia menghela nafasnya, menahan segala amarahnya yang semakin membuncah dalam dirinya.


Dia menatap nanar pada wajah Sumantri yang tertunduk menangis masih bersimpuh di depannya.


"Karena itu, Bapakku dipenjara, dituduh sebagai pembunuh dan pemerkosa ?" Ujar sosok pria pada Sumantri yang mengangguk lemah.


"Kalian biadab, memberikan pernyataan palsu dan menjadikan bapakku sebagai pelaku !" Bentaknya pada Sumantri.


"Apa kamu gak pernah mikir ? bapakku hanya seorang pria miskin, yang cuma kerja sebagai penyapu jalanan ?!" Bentak sosok Pria.


Dia geram menatap Sumantri yang masih tertunduk terdiam didepannya.


"Karena itu, keluarga korban, tetangga kami begitu membenci bapak, hingga tega mengusir dan membakar rumah kami ?!" Ujar sosok Pria penuh amarah.


"Bramantio membayar seorang wanita, warga di kampung tempat kalian tinggal." Ujar Sumantri.


"Dia menyuruh wanita bernama Ningsih untuk memprovokasi semua warga kampung agar mengusir keluarga kalian." Ujar Sumantri.


"Bramantio membayar orang, untuk menghasut semua warga agar membenci Sanusi." Sumantri menjelaskan .


"Karena di kasih uang Bramantio, semua warga bersama sama satu suara menuduh Sanusi sebagai pembunuh dan pemerkosa."


"Karena itu, warga membakar rumah kami ?" Tanya sosok pria menatap lekat wajah Sumantri.


"Semua ide Bramantio, Dia membayar ketua preman bernama Samsul, agar mengerahkan anak buahnya membaka rumah Sanusi." Ujar Sumantri.


"Samsul memprovokasi warga, memulai untuk membakar rumah Sanusi, kemudian Ningsih, wanita bayaran Bramantio ikut membakar."


"Hingga akhirnya semua warga ramai ramai mulai membakar rumah Sanusi." Ujar Sumantri.


Sosok pria semakin geram menahan amarahnya mendengar kenyataan dari mulut Sumantri tentang semua peristiwa yang sudah menimpa dirinya dulu.


"Sebelumnya aku sudah tahu rencana Bramantio dan Jafar menjebak Sanusi." Ujar Sumantri.


"Dan juga aku tahu tentang rencana jahat Bramantio membakar rumah Sanusi."


"Dia ingin keluarga Sanusi mati terbakar hidup hidup." Ujar Sumantri.


"Dia pikir, dengan begitu, maka, kasus pembunuhan yang dilakukan adiknya di tutup karena ditangkapnya Sanusi." Ujar Sumantri.


"Mudah bagi Bramantio memfitnah dan melakukan segala cara, dia yang seorang pejabat terhormat di daerahnya, punya relasi yang sangat banyak." Ujar Sumantri.


"Bramantio berteman baik dengan banyak petinggi petinggi pejabat kepolisian bahkan jaksa untuk memainkan perannya." Ujarnya.


"Dia membayar dan berhasil meyakinkan kepala kepolisian saat itu." Ujar Sumantri.


"Namanya Sutoyo, Bram minta Sutoyo untuk menangkap dan menahan Sanusi sebagai pelaku tunggal pembunuh dan pemerkosa." Ujar Sumantri.


"Sutoyo, yang berteman baik dengannya melakukan dengan baik permintaan Bramantio." Ujarnya lagi.


"Dia juga tau dan menutup mata saat Bramantio membakar habis rumah Sanusi." Ujar Sumantri, dia menjelaskan semua kejadian pada sosok pria.


"Kalian manusia manusia biadab! Kalian lebih biadab dari iblis !" Ujar sosok pria dengan sorot mata tajam penuh amarah pada Sumantri.


"Aku yang mengetahui rencana Bramantio diam diam melaporkan rencana itu pada petugas kepolisian bernama Bastian." Ujar Sumantri.


"Dia teman baikku, polisi jujur saat itu, sekarang dia menjabat sebagai komandan polisi." Ujar Sumantri.


"Dia lebih di kenal dengan julukan Gatot kaca di kepolisian." Ujar Sumantri.


Sosok pria kaget mendengar penjelasan Sumantri, dia menatap lekat wajah Sumantri yang masih bersimpuh di hadapannya.


"Bastian ? Gatot ?!" Ujar sosok pria bertanya pada Sumantri.


"Iya, Bastian datang membawa pasukan dan pemadam kebakaran ke lokasi kebakaran yang aku laporkan padanya." Sumantri cerita lagi.


"Tapi Bastian datang terlambat dan tidak bisa mencegah kebakaran." Ujar Sumantri pada sosok pria.


"Aku dan Bramantio yang ada di lokasi kejadian hanya bisa diam, tak bisa berbuat apapun." Ujarnya lagi sambil menangis.

__ADS_1


"Di dalam hati aku hanya berdoa, agar kamu dan adikmu selamat dari kebakaran itu." Sumantri menangis lagi.


"Aku berdiri diam ditempatku, aku melihatmu keluar dari rumah yang terbakar, menggendong adikmu, mendekatiku, meminta tolong padaku dan Bramantio." Ujarnya.


"Tapi kami pergi begitu saja." Ujar Sumantri sedih.


"Bramantio yang melihat polisi dan petugas pemadam kebakaran datang menyuruhku agar segera pergi dari lokasi itu." Ujar Sumantri penuh penyesalan.


"Dari Bastian aku tahu, dia berhasil menyelamatkan seorang gadis kecil yang terperangkap di reruntuhan rumah terbakar." Ujar Sumantri.


Sumantri terus nyerocos panjang lebar bercerita tanpa ada rasa lelah terus bicara.


"Bastian menemukan gadis kecil yang pingsan dengan luka bakar di bahu dan lengannya dibelakang rumah." Lanjut Sumantri.


"Dia membawanya kerumah sakit, lalu merawatnya, tinggal bersamanya." Ujar Sumantri menjelaskan.


"Sumantri juga yang membawamu dan adikmu ke rumah sakit." Sumantri terus nyerocos.


"Aku sangat sedih mengetahui dari Bastian, adikmu meninggal saat itu, lalu dia juga yang membawamu ke panti asuhan, agar ada yang merawatmu." Ujar Sumantri.


Sumantri menatap sosok pria yang berdiri didepannya menahan amarah yang semakin bergejolak dalam dirinya.


"Gak tahan dengan semua itu, akhirnya aku beranikan diri untuk mengundurkan diri dari perusahaan Bramantio sebagai supirnya." Lanjut Sumantri.


Sosok Pria menghela nafas, dia capek dengar cerita Sumantri yang panjang tak ada akhirnya, tapi karena dia ingin tahu, mau tak mau dia dengarin juga.


"Setelah aku berhenti kerja, aku sempat bersembunyi, berpindah pindah tempat ke daerah daerah lain." Sumantri terus nyerocos.


"Aku takut Bramantio mencari dan membunuhku, karena aku tau semua rahasia dia dan Jafar, adiknya." Ujarnya lagi.


"Cukup ! Aku capek dengar ceritamu !" Bentak Sosok Pria.


"Tunggu, kamu harus tau semuanya!" Ujar Sumantri.


Sosok Pria menghela nafasnya, lalu dia diam menatap tajam wajah Sumantri yang melanjutkan ceritanya.


"Setelah beberapa tahun aman, aku kembali ke kota ini, menikah dan hidup tenang bersama istri dan anakku." Ujarnya.


"Aku lebih tenang walau kerja hanya sebagai pencuci taksi." Ujar Sumantri.


"Itu semua yang bisa aku ceritakan padamu." Ujar Sumantri dengan suara lemah.


"Aku pasrah, aku menyerahkan diriku padamu, aku siap, jika kamu membunuhku sekarang." Ujar Sumantri.


Sumantri menatap sosok pria yang berdiri diam didepannya, Sumantri masih bersimpuh di tanah.


Sosok Pria diam berdiri ditempatnya, sorot matanya menatap tajam wajah Sumantri yang bersimpuh ditanah.


Dia mengepalkan tangannya dengan kuat, ingin memukul Sumantri untuk melampiaskan semua amarah dan dendamnya.


Dia merasa Sumantri juga bertanggung jawab atas kematian ibu dan bapaknya, serta kebakaran rumahnya yang membuat hidupnya menderita.


Sumantri diam menunggu apa yang akan terjadi pada dirinya, sosok pria masih berdiri diam menatap tajam Sumantri.


"Serahkan dirimu ke kantor polisi, mengakulah !" Ujar Sosok Pria.


"Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu yang telah menjadi kaki tangan manusia manusia biadab itu." Ujar Sosok Pria.


Sumantri mengangkat kepalanya, kemudian, Sumantri menatap sosok Pria.


"Aku tidak membunuhmu karena anakmu, aku gak ingin anakmu mengalami penderitaan seperti aku kecil dulu, kehilangan bapaknya." Ujar Sosok Pria pada Sumantri.


"Jadilah pria berani dan bertanggung jawab, serahkan dirimu pada kepolisian, masuklah dalam penjara sebagai penebus dosa dosamu." Ujar sosok Pria.


Sosok Pria lalu berbalik pergi meninggalkan Sumantri begitu saja, dia tidak membunuh Sumantri karena ingat akan anak gadis kecil Sumantri.


Dia hanya meminta Sumantri agar menyerahkan dirinya, mengakui semua perbuatannya 18 tahun lalu.


Sumantri terdiam di tempatnya, masih bersimpuh di tanah, dia berfikir dalam diamnya, tercenung menatap tanah yang ada didepannya.


   Malam itu, di dalam sebuah ruangan yang gelap hanya di sinari lampu lampu pijar berwarna kuning dengan daya rendah sinarnya.


Sosok Pria misterius yang ternyata Yanto sedang berdiri di depan cermin.


Dia menatap lekat wajahnya, terlihat tatapan matanya dingin, memandang jauh ke dalam cermin.


Dia lantas perlahan membuka topi yang dipakainya, melepas wig yang menutupi rambut aslinya, lalu dia melepaskan kaca mata minus yang dipakainya.


Dia memandangi wajahnya di cermin, lalu tangannya melepas kumis tipis yang menempel diatas bibirnya.


Kemudian melepaskan jenggot tebal yang menutupi sebagian wajah dan pipinya.


Setelah semua terlepas dari wajahnya, terlihat di dalam cermin wajah seorang pemuda tampan, pemuda yang tidak lain adalah Gavlin. 


Ternyata selama ini, Gavlin menyamar dengan menggunakan rambut palsu, kumis serta jenggot palsu untuk menutupi penyamarannya.


Gavlin selama ini bermain menjadi dua sosok yang berbeda, sebagian dirinya menjadi sosok pria seniman bernama Yanto, dan satu sisi dirinya berperan sebagai Gavlin.


Dia sengaja membuat dua jati diri dalam dirinya agar tidak ada yang tahu dan mengenalinya.


Dia berbuat demikian karena telah merencanakan pembalasan dendamnya pada orang orang yang sudah membuat hidupnya menderita.


Tak ada yang mengetahui bahwa selama ini, antara sosok Yanto dan sosok Gavlin, adalah satu pria yang sama.


Gavlin berhasil menutupi jati dirinya dengan penyamaran yang sempurna.


Hingga dengan mudah dia masuk dan berada di dekat orang orang yang telah berbuat keburukan pada dirinya di masa lalu.


Terlihat di cermin, Gavlin menatap tajam pada dirinya, dia menyeringai geram.


Terlintas kembali semua perkataan Sumantri yang menceritakan tentang kejadian yang menimpa kedua orang tuanya saat dia masih kecil dulu.

__ADS_1


Mata Gavlin memerah, tatapannya semakin tajam terlihat di cermin, amarahnya semakin bergejolak didalam dadanya saat ini. 


__ADS_2